
Tililit, tililit, tililit!
Dzaky bersuara mengikuti nada telepon dengan bertingkah pura-pura, lalu langsung menaruh ponselnya di telinga.
[Ha-halllo ... Iya, Mah. Ada apa? Oh, Dzaky di suruh pulang. Okay, Dzaky pulang sekarang!]
Opa Jerome melihat Dzaky salah tingkah akibat gugup, penuh ketakutan membuat dia tertawa di dalam hatinya. Bagaimana tidak lucu, orang Opa Jerome melihat layar ponsel Dzaky itu walpaper dirinya sendiri bukan panggilan seperti yang dia katakan.
"Om, Dza-Dzaky di suruh pu-pulang sa-sama Mamah. Dza-dzaky pamit, as-assalammuaikum!"
Bleeessss!
Dzaky berlari kencang meninggalkan Opa Jerome, hingga selepas perginya Dzaky membuat Opa Jerome tertawa cukup kencang sampai memegangi perutnya.
Dimana Opa Jerome kembali terkena teguran dari sang suster..Setelah itu sang suster pun pergi, dan lagi-lagi menyisakan tawa kecil saat Opa Jerome membayangkan kegugupan di wajah Dzaky dan asistennya.
...*...
...*...
Tepat pukul 7 malam. Raka, Oma Dena dan Opa Jerome baru saja selesai makan malam di kamar Bulan. Kini, mereka pun terdiam sambil terus memantau keadaan Bulan yang masih setia dengan tidurnya.
"Oma, Opa. Laka mau ke bunda dulu ya, Laka mau nemenin Bunda. Kasian Bunda, kalau bobonya enggak di temenin." ucap Raka, menatap mereka secara bergantian.
"Iya, Sayang. Jangan lupa ajak Bunda ngobrol ya, biar Bunda cepat bangun." jawab Oma Dena, langsung diangguki oleh cucunya.
Perlahan Raka bangkit dari sofa panjang, lalu berjalan mendekati bangkar Bulan dan duduk sambil tersenyum menatap wajah Bundanya.
"Bunda, Laka seneng deh sekalang Laka udah punya Dedek. Ayah juga pasti seneng dengel Laka mau punya Dedek, tapi kasian Ayah. Ayah masih bobo, enggak tahu kapan bangunnya. Cuman kata Oma sama Opa, Ayah pasti bangun asalkan Ayah bisa mendapatkan apa tadi ya?"
Raka mengetuk-ngetukkan jarinya di dagu, layaknya orang yang sedang berpikir keras.
"Hem, apa itu namanya Laka lupa. Ahaa, Laka inget. Kalau enggak salah namanya itu do ... Do ... Dodol. Nah iya, dodol hati gitu. Cuman, nyalinya susah. Jadi, Laka halus bantuin Opa nyali dodol hati. Tapi, kemana ya Laka bingung."
__ADS_1
Ucapan Raka pada Bundanya, benar-benar begitu menghibur Opa dan juga Omanya. Dari tadi mereka cuman bisa terdiam memikirkan keadaan anaknya sampai lupa tertawa.
Namun, segala kelucuan cucunya berhasil sedikit mengurangi kesedihan di wajah mereka. Sehingga mereka bisa kembali tersenyum dan tertawa.
"Astaga, cucuku. Bisa-bisanya donor dibilang dodol dong, ada-ada aja haha ...." ucap Oma Dena tertawa bersama suaminya.
"Cucuku tersayang, namanya yang benar itu donor hati, bukan dodol hati. Paham, ganteng?"
"Andaikan Ayahmu itu benar -benar bisa sembuh karena dodol, Opa langsung otw belikan dodol sepabrik-pabriknya enggak nanggung-nanggung. Mau dodol garut, dodol cina, atau dodol-dodolan pun Opa beli langsung. Yang penting, Ayahmu bisa kembali sembuh lagi.
Oma Dena dan Opa Jerome kembali tertawa bersama melihat kelucuan cucunya yang telah berhasil mencuci perutnya.
Semua rasa putus asa yang hampir menguras mental mereka, seketika langsung menghilang berkat Raka. Seakan Raka ini bagaikan charger yang bisa mengechas baterai mereka sampai mereka bisa kembali full.
Mendengar Opa Jerome sama Oma Dena tertawa, membuat Raka menjadi bingung. Padahal tidak ada yang lucu, tetapi kenapa mereka tertawa? Itulah yang membuat Raka sedikit kesal, disaat dia ingin bercerita kepada Bundanya. Opa dan Omanya malah mengacaukan semuanya.
"Ishh, Opa, Oma. Kenapa ketawa sih, emangnya ada yang lucu, apa?" ucap Laka, kesal. Dimana kedua pipinya mulai mengembung dengan tatapan menggemaskan.
"Ya iya, 'kan tadi Laka bilangnya dodol. Benalalti bener dong? Teyus kenapa malah pada ketawa?"
Laka terlihat semakin kesal, sudah jelas dia salah tetapi masih saja ngeyel. Inilah sifat Bulan yang menurun ke Raka, jadi tidak hanya Samudra yang sangat mirip dengan Raka. Melainkan Bulan pun tetap ada, hanya saja kebanting dengan Samudra yang selalu mengajari Raka tentang kebaikan.
"Donor, Sayang. Donor, bukan dodol!"
"Ya, dodol 'kan?"
"Donor!"
"Oh, Donol. Donol hati, sama dodol hati apa bedanya?"
"Beda cucuku, Sayang. Donor hati itu organ tubuh kita yang ada di dalam yang akan kita sumbangin kepada orang yang di butuhkan. Nah, kalau dodol itu makanan yang rasanya manis, lengket dan juga enak. Paham?"
"Oh, gitu toh. Jadi namanya bukan donol, tapi dodol gitu?"
__ADS_1
Oma Dena langsung menggaruk kepalanya akibat gatal, rasanya dia ingin sekali mencekik batang leher cucunya. Sebab, beberapa kali sudah dia ajari, tetap saja pada pendiriannya.
Namun, kembali lagi. Begitu-begitu juga, Raka adalah cucu kesayangannya yang sangat menggemaskan dan sedikit menyebalkan.
"Cucumu, Pah." ucap Oma Dena, frustasi menghadapi cucunya.
"Bagian kaya gini aja cucuku, bagian lagi ponter aja cucumu. Dasar egois!" sahut Opa Jerome, kesal.
"Bodo, suka-suka akulah. Ingat undang-undang wanita, pasal 1. Wanita selalu benar!" cicit Oma Dena, tak mu di kalahkan.
"Ingat undang-undang pria, pasal 1. Bila Wanita selalu benar, maka solusinya adalah mengalah!"
Perkataan Opa Jerome kembali membuat Oma Dena tertawa, baru kali ini dia melihat suaminya bisa menyainginya. Biasanya Opa Jerome selalu terdiam, tanpa berani berkata apapun.
Sementara Raka, dia yang tidak mengerti pembicaraan Opa serta Omanya langsung saja kembali menatap Bundanya, dengan segala ke ngeyelannya yang menganggap bila Samudra membutuhkan dodol hati, bukan donor hati.
Setelah selesai dengan perdebatannya Oma Dena kembali menatap wajah suaminya. Kemudian menanyakan mengenai keadaan anaknya
"Pah, bagaimana kondisi Samudra? Dokter bilang apa aja? Terus langkah apa yang harus kita ambil buat menyelamatkan anak kita, Pah?" tanya Oma Dena, sedikit berbisik agar tidak terdengar oleh cucunya.
"Ya sama seperti apa yang dokter katakan sebelumnya, Mah. Kita harus segera mencari pendonor untuk Samudra, jika tidak ataupun terlambat. Ya, kita harus bisa ikhlasin semua kepergiannya."
Tatapan Opa Jerome kepada istrinya terlihat sangat sendu, matanya pun mulai memerah ketika dia menahan rasa sakit di dalam hatinya.
Ya, walaupun Opa Jerome jarang sekali menunjukkan air matanya di depan keluarga. Tetapi, tidak menutup kemungkinan bila Oma Dena bisa merasakan betapa hancurnya hati seorang Ayah saat ini.
Terlihat sekali dari tatapan suaminya, kalau dia benar-benar bingung. Ini baru pertama kalinya Oma Dena menyaksikan suaminya sefrustasi ini, demi mengahadapi masalah yang sangat sulit di dalam hidup mereka.
Puluhan tahun mereka hidup bersama mengarungi derasnya kehidupan pernikahan, baru ini mereka di berikan ujian yang sangat dahsyat. Rasanya ingin sekali menyerah, tetapi mereka tidak bisa. Ingin berjuang, mereka pun bingung bagaimana caranya. Sebab mencari pendonor hati tidak semudah ketika mencari donor da*rah.
Itu pun donor da*rah juga masih termasuk susah bila ada pasien yang memiliki darah cukup langka. Sama seperti donor lainnya, karena yang namanya donor itu tidak bisa di dapatkan secara cepat. Harus melalui prosedur yang ada, dan prosesnya pun cukup memakn waktu.
...***Bersambung***...
__ADS_1