
Sementara pria itu kembali meneruskan urusannya, lantaran dia kesini hanya untuk sekedar menengoki karyawannya yang terkena musibah. Setelah itu, dia akan kembali ke kota dengan perasaan bahagia bercampur senang.
Semua ini akibat dari sekian lamanya dia berpisah, kini sudah kembali menemukan sahabat terbaiknya yang selama ini hilang tanpa kabar apapun.
...*...
...*...
1 bulan berlalu, Raka dan Ibu Dara sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah. Mereka kembali menikmati kebersamaan satu sama lain.
Sampai akhirnya mereka kembali di berikan ujian ketika kebun yang Samudra miliki, sedikit mengalami masalah akibat di selimuti hama setelah musim hujan mulai menghilang.
"Mas, mau sampai kapan kita begini? Mau makan enak aja kita enggak bisa, lihat aja Raka. Dia mau makan 1 potong ayam pun tidak bisa, dia cuman bisa makan pakai tahu dan juga kecap. Selebihnya kita? Kit hanya makan dengan sayur yang di tanam, itu pun kalau ada. Kalau tidak ya kita makan pakai tempe, tahu, atahupun garam."
"Kalau keadaan kita begini terus aku juga capek, Mas. Aku mau lihat Raka tuh bahagia, bisa makan enak dan lain sebagainya. Cuman, kalo gini terus lebih baik kita pisah aja, Mas. Jujur, aku enggak kuat dan aku lelah. Mendingan kita ambil jalan sendiri, aku juga masih bisa menghidupkan dan juga ngurusin Ibu sama Raka sendiri kok."
Perkataan Bulan berhasil membuat Raka tersedak ketika sedang minum, sementara Ibu Dara membolakan matanya saat mendengar ucapan anaknya.
"Loh, Bunda mau temana kok ngajak Laka cama Nenek doang. Ayah ndak Bunda ajak?" tanya Raka dengan wajah polosnya.
"Astagfirullah, Bulan! Kamu ngomong apa sih, dia itu suamimu. Kamu enggak boleh seperti itu. Ingat, sampai kapan pun yang namanya berumah tangga enggak akan pernah lepas dari ujian yang Allah berikan. Bahkan orang yang sudah meninggal dunia pun dia tetap akan di berikan ujian, tetapi melalui sebuah siksaan dari semua kesalahan yang sudah dia lakuin." sahut Ibu Dara, penuh nasihat.
"Ya mau gimana lagi, Bu. Cuman itu jalan satu-satunya untuk kita, toh Mas Sam juga tidak memperbolehkan aku untuk bekerja. Gimana caranya aku bisa membahagiakan anakku, bahkan semakin lama Raka semakin tumbuh besar, Bu. Dia butuh pendidikan yang bagus dan juga makanan yang bergizi agar kelak dia bisa membuatku bangga atas kesuksesannya."
Penjelasan Bulan membuat Ibu Dara menggelengkan kepalanya, dia tidak mengerti apa lagi yang harus dia lakuin untuk membuat anaknya mengerti. Jika apa yang dikatakan bukanlah sebuah solusi yang baik bagi rumah tangga mereka.
__ADS_1
Sementara Raka hanya bisa melihat, mendengar serta melanjutkan makannya tanpa mengerti apa yang Bulan katakan bersama Neneknya.
Samudra yang mendengar itu pun hanya bisa menatap istrinya yang saat ini sedang kesal, karena sudah beberapa kali dia meminta izin cuman Samudra belum ada jawaban. Apakah dia akan mengizinkannya ataupun tidak.
"Udah, Bu. Saat ini Bulan lagi kesal, biarkan saja. Lebih baik kita selesaikan makannya terlebih dahulu. Kasian Raka, dia masih kecil loh. Seharusnya dia belum boleh mendengar perkataan orang dewasa seperti kita. Jadi makan dulu habiskan, nanti kita ngobrol lagi."
Samudra menatap semuanya sambil tersenyum, lalu melanjutkan makannya sambil sedikit mengobrol bersama anaknya untuk mengalihkan pikirannya.
Beberapa menit, akhirnya mereka telah selesai makan malam bersama. Dimana, Raka langsung di ajak bermain dengan Neneknya. Sementara Bulan dan Samudra pergi ke arah kamarnya untuk menyelesaikan urusannya yang sempat tertunda.
...*...
...*...
"Kalau kamu mau marah sama Mas, marahlah sepuasmu gapapa. Mas akan terima dengan ikhlas kok, asalkan Mas mohon jangan pernah mengatakan hal negatif di depan Ibu ataupun anak kita. Cukup kita yang tahu semua masalah yang ada di rumah tangga kita."
"Ingat, Dek. Raka masih kecil, jangan pernah patahkan harapan dia untuk bisa membahagiakan kedua orang tuanya yang sempurna ini. Jika kita berpisah, bagaimana nasib Raka ke depannya? Semua impian yang dia lagi ingin wujudkan semuanya akan berakhir sia-sia. Kamu mau?"
Samudra menatao istrinya dengan wajah begitu serius, sementara Bulan terlihat sangat kesal dan juga jengah atas sikap suaminya yang kurang tegas.
"Ya, terus aku harus bagaimana, Mas? Beberapa kali aku meminta izin untuk bekerja Mas tidak memberikan jawaban sampai detik ini, bagian aku berbicara seperti itu Mas langsung mengaitkan dengan kebahagiaan Raka. Semua aja tentang Raka, terus gimana dengan kebahagiaanku?"
"Astgafirullah, Dek. Istigfar, Sayang. Istigfar, Mas tidak pernah berpikir seperti itu ya. Kebahagian kalian semua itu adalah kebahagiaan Mas, jadi sampai kapanpun Mas akan berusaha buat kalian bahagia. Tidak membedakan karena semua itu sama, Sayang."
"Sebenarnya aku itu malas berdebat terus denganmu, Mas. Aku cuman ingin melihat Raka tumbuh menjadi anak yang membahagiakan, justru dari itu makannya aku mau membantu Mas buat mencari tambahan buat biaya Raka. Aku lakukan semua ini demi Raka, Mas. Bukan buat diriku sendiri, aku juga enggak akan aneh-aneh. Aku janji, Mas. Aku mohon izinkan aku kerja ya."
__ADS_1
Bulan berusaha untuk merayu suaminya sambil menyandarkan kepalanya kepada Samudra, dimana dia mencoba dan terus mencoba agar suaminya akan memberikan izin padanya dengan alasan bahwa Bulan bisa sedikit meringankan bebannya.
Samudra terdiam sejenak, sambil mengusap air mata istrinya ketika dia menangis karena menyampaikan isi unek-unek di dalam hatinya. Pada akhirnya Samudra menggantikan posisi tangannya dan merangkul istrinya sambil mencium kepalanya.
"Baiklah, Mas izinkan kamu kerja. Tapi, ada syaratnya!" ucap Samudra, membuat Bulan langsung tersenyum menatap ke arah wajahnya dengan mata berkaca-kaca.
"Sya-syarat? Kenapa harus pakai syarat, Mas?" tanya Bulan, bingung.
"Ya, kalau kamu mau kerja ya harus terima syarat itu. Kalau tidak, Mas tidak akan mengizinkanmu." jawab Samudra, membuat Bulan langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak, aku mau kerja Mas. Jadi apa syaratnya, insyaallah aku akan turuti selagi itu demi kebaikan kita."
"Hem, baiklah. Mas cuman minta, meskipun nanti kamu kerja tolong sempetin waktumu untuk bermain sama Raka. Jangan sampai Raka merasa kesepian, ataupun kekurangan kasih sayang. Terus juga kamu harus bisa jaga dirimu sendiri, Mas tidak mau hal buruk terjadi padamu dan Mas juga tidak mau kehilanganmu."
"Ingat, Dek. Selagi pintumu tertutup tidak ada satu tamupun yang bisa masuk. Cuman jika pintu itu memiliki celah, maka seorang tamu tak di undang pun bisa hadir untuk mengacaukan rumah tangga kita. Sampai sini paham 'kan maksud, Mas."
Bulan menganggukan kepalanya, lalu dia tersenyum. Bulan sangat tahu jika suaminya ini sangat takut akan kehilangannya, sehingga dia seperti memberikan kode yang mudah Bulan pahami.
Disaat wajah Samudra sedang serius, Bulan dengan jahilnya langsung mencium bibir Samudra dengan sangat lembut. Sedangkan suaminya refleks tersenyum, dan sedikit terkejut.
Bulan yang awalnya kesal, sedih sekarang sudah jauh lebih membaik. Dia malah terkekeh melihat wajah suaminya yang mulai tergoda dengannya, sampai akhirnya mereka kembali menikmati malam yang panjang bersama tanpa gangguan siapapun.
Apa lagi saat ini jam masih menunjukkan pukul 8 malam, sementara Raka datang ke kamar setelah mereka sudah selesai melakukan permainan panasnya. Jadi, tidak lagi membuat Bulan dan Samudra harus menahan sesuatu yang nanggung.
...***Bersambung***...
__ADS_1