
Raka menatap kedua orang tuanya, lalu Oma dan Opanya. Seakan-akan meminta persetujuan, sebab mau bagaimana pun Raka masih ingat dengan pesan kedua orang tuanya.
Jika ada yang tidak dia kenal, sebaiknya jangan mendekat. Itu akan membahayakan nyawanya sendiri. Lantas apakah Raka akan memeluk mereka? Atau Raka akan menolak, karena dia belum mengenalnya?
Namun, saat Raka melihat wajah Tya dan juga Dipo yang dari tadi sudah berjongkok di hadapannya. Membuat hati Raka tersentuh dan langsung memeluk mereka berdua secara bersamaan.
Di situ Dipo dan Tya seperti mendapatkan suasana baru. Mungkin hati mereka memang sangat kosong atas kehilangan anak satu-satunya, akan tetapi Tuhan malah menggantikannya dengan yang lebih dari ini.
"Terimakasih, Sayang. Grandma senang banget punya cucu kaya Raka, lain kali kita main bareng ya. Raka mau 'kan?" ucap Tya sambil melepaskan pelukannya.
"Grandma sama Grandpa jangan nangis lagi ya, Raka janji. Seminggu sekali kita akan main bareng, 'kan Raka nanti mau tinggal sama Oma dan Opa. Jadi nanti Grandma sama Grandpa harus main ya ke rumah setiap hari libur. Terus nanti kita jalan-jalan bareng deh, pasti seru."
"Dan, satu lagi. Pokoknya Grandma sama Grandpa tidak boleh sedih lagi. Meskipun Om Dzaky sudah tidak ada, sekarang Oma punya Raka, punya Ayah, punya Bunda, punya semuanya. Jadi, Grandma sama Grandpa jangan merasa sendirian lagi ya. Oke?"
Perkataan Raka benar-benar berhasil menggantikan kekosongan hati mereka. Sehingga mereka beberapa kali memeluk Raka dan juga menciumnya. Sampai akhirnya mereka pun tertawa melihat kegemasan kedua orang tua Dzaky kepada Raka.
Suasana yang awalnya di penuhi isak tangis, kini telah menjadi canda dan tawa. Bahkan tanpa mereka semua sadari, Dzaky yang sudah berada di alam yang berbeda pun ikut tersenyum.
Dzaky menyaksikan kedua orang tuanya sekarang tidak lagi merasakan kesepian, karena semua itu sudah di lengkapi oleh keluarga kecil Samudra. Dimana mereka telah menerima kedua orang tua Dzaky, menjadi bagian keluarganya.
Setelah itu, mereka pun berjongkok untuk mendoakan Dzaky agar bisa pergi dengan damai dan juga tenang. Tidak lupa siraman air mawar serta bunga kini telah menyelimuti makam Dzaky.
__ADS_1
Walaupun Dzaky telah tiada, tetap hatinya akan selalu hidup selama Samudra masih bernapas. Selesai mendoakan makam Dzaky, mereka semua pun pergi kembali ke rumahnya masing-masing.
Samudra yang merasakan dadanya terasa sakit, harus kembali ke rumah sakit untuk memeriksakannya. Sebab dia masih dalam penyembuhan yang belum sepenuhnya total.
...*...
...*...
...*...
Bulan demi bulan terus berganti, sampai akhirnya tidak terasa kehamilan Bulan sudah semakin membesar. Hanya dengan hitungan hari, dia akan melahirkan anak keduanya.
Bahkan kondisi Samudra pun sudah semakin membaik, dia juga telah memutuskan untuk tinggal bersama kedua orang tuanya selamanya. Supaya bisa menembus kekosongan kedua orang tuanya yang telah bertahun-tahun hidup berdua, tanpa adanya Samudra.
Sehingga, mereka bisa bertahan hidup mencari pekerjaan yang layak untuk 2 sampai 3 tahun ke depannya.
Semua itu Samudra lakukan karena dia harus meneruskan Perusahaan keluarganya. Di usia Opa Jerome yang sudah tidak muda lagi, dia tidak layak mengurus bisnis yang terbilang sangat memusingkan.
Seharusnya Opa Jerome sudah beristirahat di rumah sejak usianya menginjak 50 tahu, tanpa perlu memikirkan keadaan Perusahaan.
Maka dari itu, Samudra yang telah di nyatakan sembuh kurang lebih 90 persen. Dia sudah mulai kembali menginjakkan kaki ke duniaperbisnisan di bantu oleh rekan-rekan kerja lainnya.
__ADS_1
Kini, saatnya mereka semua hanya bisa menunggu kelhiran anak ataupun cucu kedua yang sebentar lagi akan menunjukkan wujudnya.
Apakah kelak, Bulan akan melahirkan anak perempuan? Atau dia harus kembali melahirkan anak laki-laki? Itulah yang masih menjadi rahasia saat ini.
*
*
*
3 hari telah berlalu, Samudra sedang sibuk-sibuknya mengurus proyek yang terbilang sangat besar. Akan tetapi, dia malah mendapatkan kabar mengenai Bulan yang sebentar lagi akan melahirkan.
Keluarga Samudra dan keluarga Dzaky, serta Raka. Semua sudah berkumpul di rumah sakit untuk menemani Bulan, hanya tinggal Samudra yang belum datang.
Tanpa memikirkan soal pekerjaan, Samudra langsung meminta asistennya untuk mengurus semuanya selama dia harus menemani istrinya di rumah sakit.
Untung saja kolega besar yang saat ini ingin mengadakan meeting penting bisa mengerti situasi kegelisaan Samudra. Jika tidak, kemungkina besar Perusahaan keluarga Samudra tidak akan bisa mendapatkan peluang kesempatan yang sagat besar ini untuk kedua kalinya.
Samudra langsung mengendarai mobilnya dengan sangat cepat menuju rumah sakit yang jaraknya kurang lebih setengah jam dari Perusahaan.
Wajah tegang, khawatir dan juga gelisah mulai menyelimuti Samudra. Entah mengapa Samudra harus mengusahakan bagaimana caranya di saat seperti ini, dia harus berada di samping istrinya.
__ADS_1
Saat sudah sampai di rumah sakit, Samudra terus berlari menuju ruangan persalinan yang sudah di beritahu oleh keluarganya.
...***Bersambung***...