Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Sindiran Serta Gosip


__ADS_3

Betapa kejamnya Dzaky, bukan? Ya itulah dia, Dzaky terlalu mementingkan dirinya sendiri. Baginya waktu adalah uang, jadi dia tidak akan menyia-nyiakan semuanya demi kesuksesannya.


Namun, sedangkan Bulan yang seperti itu. Dzaky malah tidak mempermasalahkannya sehingga di kantor terjadi sedikit senggolan antara Bulan dan karyawan lainnya.


Akan tetapi, setelah semua masalah itu telah di selesaikan kini suasana kantor menjadi kondusif. Meskipun, Bulan masih di pandang tidak suka oleh beberapa karyawan yang menganggap dirinya telah menjadikan Dzaky sebagai simpanannya.


...*...


...*...


Tepat di jam makan siang, Bulan langsung membereskan pekerjaannya kemudian dia pun pergi ke arah lift menuju kantin yang ada di kantor ini.


"Sepertinya aku ingin memakan makanan yang sedikit pedas, supaya moodku bisa kembali naik. Tapi, makan apa ya yang enak?" ucap batin Bulan, baru keluar lift.


Kemudian Bulan berjalan sambil memberikan senyuman kepada karyawan yang berpapasan dengannya, meskipun tatapan mereka masih sangat sinis padanya.


"Huhh, sabar Bulan. Ini adalah ujianmu, lagi pula namanya juga hidup pasti ada aja yang tidak suka padamu. Ingat perkataan suamimu!"


"Dimanapun, kapanpun dan bagaimanapun seseorang menganggap kita. Cukup berikan senyuman manis padanya, walaupun tanggapan mereka tidak baik. Biarkan Allah yang akan membalas baik buruknya seseorang!"


Hati kecil Bulan berbicara, dia selalu mengingat nasihat suaminya ketika pikiran Bulan sudah tidak karuan.


Rasanya Bulan ingin sekali memarahi mereka yang menatapnya tidak suka, cuman Bulan mengurungkan niatnya untuk tetap menjaga kualitasnya bekerja di kantor ini.


Bulan tidak mau jika namanya jelek, hanya karena hasutan se*tan didalam tubuhnya yang selalu berkoar-koar untuk memancing segala emosinya.


Bulan tetap berjalan menuju kantin dengan menghiraukan semua perkataan bahkan tatapan sinis dari setiap karyawan.


Bahkan tidak ada satu pun karyawan yang mau berteman dengannya, sehingga di kantor Bulan hanya fokus untuk menyelesaikan tugasnya dan kembali ke rumah bertemu dengan keluarga kecilnya.

__ADS_1


Sesampainya di kantin, Bulan berjalan kesana-kemari untuk melihat menu yang akan menjadi pilihannya pada siang hari ini.


"Wahh, ada baso. Boleh juga nih, mumpung aku lagi pengen makan yang pedes-pedes. Jadi cocoklah untuk menu makan siang kali ini." ucapan Bulan di dalam hatinya.


"Bu, baso merconnya yang besar 1 ya, pakai mie putih dan bawang gorengnya di banyakin. Jangan lupa es teh manis dan kerupuknya ya, saya tunggu di meja potok sana!" ucap Bulan tersenyum, sambil menunjuk ke arah pojok.


"Siap, Nyonya. Nanti akan saya antar, jika semuanya sudah siap. Mau pakai tetelannya?" balas Ibu penjualnya dengan wajah tersenyum.


"Boleh, Bu. Jadi semuanya berapa ya?" ucap Bulan yang mengeluarkan uang sejumlah Rp. 50.000-,00.


"Jadi, semuanya 48 ribu." cicitnya, yang sudah menerima uang dari Bulan lalu mengembalikan sisanya.


Setelah itu Bulan pun pergi ke arah meja di pojokan yang masih kosong. Jangan salah, di kantin milik kantor Dzaky sangatlah luas. Berbagai makanan pun ada, dari makanan dalam negeri dan juga luar negeri. Jadi tidak akan membuat karyawan menjadi bosan.


Kurang lebih 10 menit, kini pesanan Bulan telah tiba. Awalnya Bulan sedang memainkan ponsel melihat sosial medianya, sekarang tersingkirkan karena ada yang berhasil menyita pandangannya.


"Terima kasih, Bu." balas Bulan, tersenyum. Lalu, Ibu itu pun pergi meninggalkan Bulan yang saat ini sedang meracik basonya sesuai dengan selera makannya.


Ssruuppp!


Bulan mencicipi kuahnya terlebih dahulu, setelah selesai membaca doa makan. Di rasa ada yang kurang, dia segera menambahkan bubuk lada, garam dan penyedap ke dalam mangkuk baso tersebut.


Setelah rasanya sudah cukup ngena di lidahnya, barulah Bulan menuangkan saos, sambal yang cukup banyak. Kemudian kecap serta cuka, agar lebih membuat rasanya gurih.


Perlahan Bulan aduk rata semua itu, hingga asap ngebul dari kuah basonya pun berhasil membuat wajah Bulan keringetan.


"Ssruuppp, arrghh ...."


"Sumpah ini mantep banget. Wah, eggak nyangka sih ini seger habis. Kalau begini mah aku jadi semangat buat kerjanya!"

__ADS_1


Bulan menyeruput kuah baso yang sangat berwarna merah pekat. Hingga terlihat seperti cabai di basoin, bukan baso di cabaiin.



Dengan sangat hati-hati, Bulan mulai memakannya secara perlahan sesekali dia mengusap dahinya yang sedikit berkeringat serta hidungnya yang mulai beler, menggunakan tisu.


Namun, ketika Bulan sedang asyik menikmati makanannyanya. Tiba-tiba saja, tak jauh dari mejanya ada beberapa karyawan yang duduk di kursi dengan 1 meja yang sama sedang menyinyir Bulan.


"Tuh, lihat. Sekretaris kesayangan Tuan Dzaky, selera makannya rendahan banget. Pantesan aja ya, Tuan Dzaky enggak laku. Orang dia udah di jampe-jampe sama istri orang, makannya dari sekian banyaknya wanita single mendekatinya cuman dia yang jadi pemenangnya!"


"Ya, begitulah. Jaman sekarang apa sih yang enggak dilakuin demi mendapatkan sesuatu. Jika jalur lambat tidak mendukung, masih ada jalur dukun bukan? Haha ...."


"Bener banget sih, padahal 'kan Tuan Dzaky tampan, kaya terus juga pintar pula. Kenapa dia mau sama istri orang modelan dia? Terus juga tuh cewek murahan banget, udah punya laki sama anak masih aja kegatelan godain cowok lain. Gua sih amit-amit deh, jangan sampai. Jauh-jauh, huss huss!"


"Yang gua kasihanin ya itu. Lakinya sama anaknya, tiap hari nganter jemput dia jauh-jauh ke kantor dengan niatan dia kerja. Tapi, nyatanya dianya malah bermain gila sama bosnya sendiri. Miris bukan nasib anak serta suaminya?"


"Setuju, jelas-jelas gua pernah liat beberapa kali wajah suami dan anaknya itu ganteng banget loh. Bahkan jika di samakan oleh Tuan Dzaky masih gantengan mereka berdua. Hanya saja, kulit lakinya sedikit coklat."


"Ya, mungkin akibat panas-panasan cari nafkah buat istrinya kali. Ehh, istrinya malah belok sama laki-laki yang lebih mapan. Kasihan banget 'kan tuh laki, kalau boleh sih mending buat gualah. Gua rela dapat duda anak satu. Toh kelihatannya suaminya baik banget, susah loh dapetin suami seperti lakinya Bulan tuh!"


"Ya jelaslah, lakinya udah ganteng, baik, penyang, tanggung jawab. Apa lagi yang harus di cari ya 'kan? Dianya aja kurang bersyukur, dikasih yang enak malah milih yang ribet. Dari pada Tuan Dzaky, ganteng doang tapi akhlaknya masih dibawah suaminya!"


"Maklumlah, susah kalau udah urusan harta mah. Entar lagi juga lakinya bakalan di tinggalin, dan dia akan memilih bersama dengan Tuan Dzaky. Lihat aja endingnya nanti, syukur-syukur ucapan gua salah. Kalau bener mah, gua ketawa aja dah. Kalau dia milih batu kali dari pada batu bara."


Celotehan serta sindiran terus terngiang di telinga Bulan yang masih menikmati makanannya. Rasanya Bulan sudah tidak kuat menahan panas di kupingnya saat ini, ketika mendengar semua kejelekan yang mereka gosipkan.


Namun, apa daya. Bulan tidak mau terpancing oleh mereka, setidaknya Bulan tidak melakukan apapun kepada keluarganya dan niat dia hanya ingin bekerja demi menyekolahan Raka sampai ke pendidikan yang lebih tinggi. Bukan untuk bermain gila pada Bosnya sendiri, seperti yang mereka gosipkan sekarang.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2