
Bulan langsung mengambil alih lele yang ada di piring Raka, dan segera memisahkan tulang belulang agar tidak membuat Raka tersedak tulang yang akan menyakiti tenggorokannya.
"Terima kasih, Bunda." ucap Raka tersenyum.
"Sama-sama, anak Bunda yang tampan. Makan yang banyak ya, habisin. Baru nanti apa yang mau Raka tanyakan, tanyakan sama Bunda dan Ayah. Okay?"
Raka pun menganggukkan kepalanya sambil memasukan satu suapan kedalam mulutnya menggunakan tangan kecilnya sambil mencocol sambal sedikit.
Mereka makan dengan tenang, tanpa berebut dan tanpa berbicara. Sampai semuanya telah selesai, mereka pun duduk sambil menatap Raka yang sedikit ketakutan untuk menanyakan sesuatu yang dikatakan oleh Sabrina.
"Raka Sayang, coba jelasin sama Bunda. Kenapa Raka bisa mengatakan seperti itu pada Bunda, Raka tahu dari siapa, hem?" tanya Bulan sambil mengusap pipi anaknya.
Raka terdiam menatap Bulan, dia takut jika pertanyaannya itu membuat Bulan akan memarahinya. Karena tadi tanpa di sengaja, saat Raka menanyakan hal itu wajah Bulan seperti terkejut dan kesal kepadanya. Maka dari itu, Raka terdiam menundukkan kepalanya sambil memilin-milin bajunya.
Melihat respon Raka seperti itu, Samudra pun langsung turun tangan untuk membawa Raka ke dalam pangkuannya. Supaya dia bisa lebih rileks lagi untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Anak Ayah itu anak yang baik, anak yang pemberani dan juga jujur. Jadi, bisa 'kan Raka kasih tahu Ayah sama Bunda, sebenarnya Raka bisa berpikir seperti itu karena apa? Apa ada yang berbicara seperti itu pada Raka, hem? Katakan, Sayang!"
"Ayah dan Bunda tidak akan marahin Raka kok, 'kan Raka yang nanya sendiri sama Bunda. Jadi, apa yang akan Raka tanyakan kami tidak akan marah. Ayah janji, Bunda juga janji 'kan, Bun?"
Samudra berbicara sangat lembut sambil memeluk Raka dan sedikit menggoyangkan tubuhnya. Bulan yang di tatap oleh Samudra pun langsung mengangguk tersenyum, agar tidak membuat Raka semakin ketakutan.
"Benelan Ayah sama Bunda janji ya, enggak akan malah sama Laka kalau Laka celita?" ucap Raka dengan tatapan polosnya.
"Janji, Sayang." jawab Bulan dan Samudra bersamaan.
__ADS_1
Perlahan Raka menatap kedua orang tuanya, kemudian dia menceritakan pertemuannya dengan Sabrina ketika di sekolah.
Dimana Sabrina mengatakan semua itu, meskipun sempat terpotong karena Bi Edoh keburu datang dan membawa Raka pergi, karena menganggap bahwa Sabrina dan Jefri adalah orang jahat.
Disitulah Bulan dan Samudra menatap satu sama lain dengan tatapan penuh arti. Dari cerita Raka ini, membuat mereka telah mengerti. Jika dalang dari pengancaman itu adalah Sabrina, wanita yang bekerja satu kantor dengan Bulan.
Pantas saja orang itu selalu tahu apa yang terjadi pada Bulan, sampai dia memiliki foto-foto yang cukup mesra antara Bulan dan Dzaky.
Padahal, jelas-jelas semua foto itu terjadi, tidak sengaja. Cuman dimanfaatkan oleh Sabrina untuk membuat Samudra supaya salah paham, dan juga Raka yang akan membenci Bundanya sendiri.
"Gitu Bunda, jadi apa yang di bilang Tante itu benal kalau Bunda pacalan sama atasan Bunda? Tapi, atasan itu apa? Terus pacalan itu apa?"
"Soalnya, Laka dari tadi tuh bingung banget. Kepala Laka juga pusing mikilin itu. Sampai Laka nanya belkali-kali sama Bi Edoh, ehh ... Bi Edoh selalu aja motong-motong ucapan Laka ishh, jadi sebel deh!"
Samudra dan Bulan mulai memberikan jawaban yang membuat Raka agar mengerti. Bahwa apa yang dikatakan Sabrina itu adalah fitnah, kebohongan ataupun karangan.
Awalnya Raka bingung, cuman lama kelamaan Raka paham. Berkat penjelasan Samudra yang mudah untuk di pahami bagi anak seusia Raka.
"Oh jadi pacalan itu hukumnya dosa ya, Ayah? Cuman kenapa Tante itu bilang begitu sama Raka? Bukannya fitnah itu lebih kejam dali orang yang membunuh?" tanya Raka, penasaran.
"Bunda juga tidak tahu, Sayang. Mungkin Tante itu sirik kalau Bunda bisa dapat uang yang lebih banyak dari Tante itu, jadi dia merasa iri dan menjelekkan Bunda. Anggap aja dia itu Nenek lampir yang ada di film itu loh, 'kan Nenek lampir selalu saja jahat. Sama kaya Tante itu, yang mau ngejahatin Bunda." jawab Bulan, langsung mendapatkan gelengan kepala dari Samudra.
"Oh jadi Tante itu ili sama Bunda? Pantes Omnya Danu malahin Tante itu, berarti Tante itu salah ya? Wah, telnyata Laka dibohongin? Huhh, awas aja tuh Nenek lampir kalau ketemu Laka pites-pites kaya kutu bial tahu lasa!" celoteh Raka, kesal.
"Astagfirullah, Sayang-sayang Ayah. Kalian ini ngomong apa sih, enggak boleh begitu. Mau bagaimanapun dia, biarkan saja. Kita cukup doakan saja, supaya Tante itu bisa mendapat hidayah dari Allah agar bisa jauh lebih baik lagi. Jangan malah berpikir seperti itu, biarkan Allah yang membalasnya. Kita sebagai Hambanya hanya bisa bersikap baik kepada siapapun, termasuk orang yang sudah menyakiti kita. Paham?"
__ADS_1
Samudra menasihati Raka dan juga Bulan, agar mereka berdua tidak sampai salah jalan. Apa lagi Samudra tahu betul, bila saat ini Bulan pasti sudah sangat panas, saat mendnegar cerita itu langsung dari anaknya yang bertemu dengan Sabrina.
Jadi, bisa dipastikan betapa kecewanya Bulan saat tahu dalang dibalik semua pengancaman adalah teman satu kantornya yang selama ini tidak suka padanya.
"Tahu nih Bunda, masa ngajalin Laka yang jelek-jelek. 'Kan Laka jadi kena omel Ayah, huhh ... Dasar Bunda ngeselin, wleee ... Haha ...."
Raka meledek Bulan yang lagi terdiam, membuat dia refleks langsung mengelitikinya hingga membuat Raka tertawa sangat keras.
"Ayo, masih mau ngeledek lagi? Masih mau nyalahin Bunda, hem?" ucap Bulan yang terus mengelitiki Raka membuatnya tertawa sampai hampir menangis.
"Haha, ampun Bunda. Ampun, geli haha ...." Raka tertawa di dalam pelukan Samudra yang terus berusaha memegangi Raka agar tidak sampai terbentur ubin.
"Sayang, udah cukup ya. Ini udah malam loh, kasian Raka harus istirahat soalnya besok masih sekolah. Apa lagi kalau nanti tidurnya jadi enggak nyaman, 'kan kasian juga yang ada malah mengigau. Jadi, sekarang lebih baik Raka cuci kaki, tangan bersih-bersih terus pipis baru bobo di temenin sama Bunda dulu ya. Ayah mau ke kamar." ucap Samudra sambil mendudukan Raka dengan benar.
"Huhhh, i-iya Ayah. Laka mau ke kamal mandi dulu, tapi Laka capek ketawa terus hehe ...." ucap Raka, cengengesan.
"Makannya jangan bercanda terus udah malem. Ya udah Raka bersih-bersih istirahatnya di kamar gih. Ayah mau ngurusin kerjaan dulu ya."
Samudra pun berpamitan lalu berjalan menuju kamarnya, sementara Bulan mengajak Raka untuk bersih-bersih sebelum tidur.
Setelah itu, Bulan membacakan dongeng yang Raka minta agar dia bisa tertidur sambil mendengarkan Bulan menceritakan dongeng-dongeng mengenai binatang.
Dirasa Raka sudah cukup pulang tidurnya, Bulan langsung menyelimutinya dan mencium keningnya. Kemudian berjalan perlahan pergi meninggalkan kamar anaknya, menuju kamarnya.
...***Bersambung***...
__ADS_1