
Bulan berusaha untuk tetap tenang, dalam kondisi yang panik seperti ini. Disaat Oma Dena serta Opa Jerome sudah pergi bersama Raka, kini hanya tinggal Bulan sendiri bersama suster tadi yang juga ikut menenangkannya.
Susah payah, Bulan memohon pada suster itu untuk membawanya ke ruangan suaminya. Sampai akhirnya, suster itu pun merasa tidak tega dan mengizinkannya dengan syarat agar Bulan harus tetap tenang. Suster itu kasihan, seandainya terjadi sesuatu hal buruk pada Samudra maka Bulan bisa ada disampingnya untuk menyaksikan semuanya tanpa terlewatkan.
...*...
...*...
Sesampainya di depan ruangan Samudra, mereka hanya bisa menunggu dokter yang akan keluar untuk memberitahukan bagaimana keadaan Samudra saat ini.
"Mah, gimana Mas Sam?" tanya Bulan yang baru sampai bersama sang suster.
"Ya ampun, Sayang. Kenapa kamu keluar kamar, perutmu ini lagi sakit loh. Jadi, please jangan buat Mamah tambah khawatir." ucap Oma Dena, wajahnya terlihat begitu cemas.
"Insyaallah Bulan gapapa, Mah. Perut Bulan juga sudah tidak terlalu sakit. Yang terpenting saat ini keadaan Mas Sam." jawab Bulan, yang sudah tidak bisa terbantahkan.
Sang suster pun langsung masuk ke dalam ruangan tak lupa Oma Dena menitipkan pesan, supaya dokter yang ada di dalam berusaha lebih ekstra menolong anaknya.
"Bunda, Ayah hiks ...."
Raka langsung memeluk Bundanya disaat dia sudah tidak tahu harus bersikap apa lagi. Sekuat-kuatnya Raka ataupun yang lain, maka akan ada titik lemahnya di saat mereka harus menyaksikan keadaan Samudra saat ini.
"Sabar ya, Sayang. Bunda tahu Kakak takut kehilangan Ayah, Bunda juga sama. Bahkan Opa dan Oma juga, jadi Kakak harus kuat ya. Ingat, Kakak 'kan obat buat Bunda. Jadi, jangan sedih lagi hiks ...."
Rasanya sakit sekali ketika Bulan harus mendengar tangisan yang menyayat hati dari putranya. Bulan bisa merasakan betapa hancurnya Raka, disaat dia harus menghadapi ujian ini.
Bulan tidak akan kuat kalau harus kehilangan suaminya, karena dia sangat butuh kehadiran sosok Samudra yang akan selalu menemaninya di saat kehamilan anak keduanya.
"Pah, anak kita gimana nasibnya hiks ... Apakah tidak ada satu orang pun yang bisa membantu kita, padahal kita sudah memberikan hadiah yang sangat besar. Akan tetapi kenapa tidak ada orang yang bersedia untuk menjadi pendonor. Kenapa, Pah? Kenapa!"
Opa Jerome langsung memeluk istrinya sambil berdiri, lalu mencoba memberikan lenhgertian kepadanya. Meski, dia sendiri pun tidak tahu harus berbuat apa lagi.
__ADS_1
Akhirnya disaat semuanya lagi bertanya-tanya di selimuti kegelisahan di dalam hatinya, saat mereka memikirkan kondisi Samudra seperti apa. Salah satu dokter keluar dari ruang ICU.
Wajah sang dokter sangat mengerikan, sebab adanya kesedihan yang mendalam terlihat dari sorotan matanya.
"Dok, bagaimana putraku?"
"Ayah Raka, baik-baik aja 'kan, Dok?"
"Dok, suami saya kenapa bisa begini? Ada apa dengan kondisinya, bukannya tadi dia baik-baik aja?"
"Cepat katakan dokter!"
Terlihat jelas di raut wajah keluarga Samudra, jika mereka sangat-sangat menunggu informasi mengenai kondisi Samudra saat ini.
"Tuan, Nyonya. Sepertinya waktu kita sudah tidak akan lama lagi, dalam waktu kurang lebih 24 jam ini kita tidak menerima donor. Maka sudah dipastikan kalau Tuan Samudra akan pergi meninggalkan kita untuk selamanya."
Degh!
Sang dokter kembali berpamitan dan langsung menjalankan tugasnya kembali, berjaga-jaga bila kondisi Samudra semakin drop.
"Pah, Mah. Ba-bagaimana ini? A-aku ingin mendaftar jadi pendonor untuk Sam. Aku tidak mau kehilangannya, tolong bawa aku ke dokter yang memeriksa Mamah dan Papah waktu itu."
"Kakak juga mau ikut, Kakak mau jadi pendonor buat Ayah. Biar Ayah bisa kembali lagi sama kita, Kakak enggak mau kehilangan Ayah. Kakak mau Ayah bangun, titik!"
Bulan dan Raka meraung kepada Oma serta Opa Jerome yang masih sangat syok saat tahu kondisi anaknya separah itu. Akan tetapi, mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
Percuma mereka punya uang banyak kalau tidak bisa menolong anaknya. Sampai tangisan Raka mulai sesegukan, membuat Oma Dena langsung berjongkok untuk menyamakan Raka yang duduk di pangkuan Bulan.
"Sayang, dengerin Bunda ya. Kakak ini masih sangat kecil, dokter tidak mungkin tega mengambil jantung anak kecil. Apa lagi anaknya semenggemaskan ini, jadi Kakak tidak bisa menjadi pendonor."
"Dan untuk kamu, cantik. Saat ini kamu sedang hamil, kondisi fisikmu juga lemah. Dokter tidak akan mengambil tindakan gegabah, karena menjadi pendonor itu prosesnya cukup lama. Apa lagi kamu lagi hamil, itu akan membahayakan nyawa kalian berdua. Jadi, please jangan buat Oma menjadi khawatir ya."
__ADS_1
Oma Dena berusaha untuk membuat Bulan dan Raka untuk tetap bisa mengerti. Kalau menjadi pendonor tidak segampang yang merek katakan. Sementara Opa Jerome lagsung menghubungi asisten Dzaky, tetapi tidak diangkat.
Setelah itu menelpon yang lainnya untuk meminta tolong, sekalian live streaming agar bisa segera menemukan pendonor.
Kondisi Bulan yang mulai tidak stabil kembali membuat perutnya keram, Raka yang mendengar suara rintihan dari Bundanya. Langsung meminta Omanya untuk membawa Bulan ke kamarnya. Sementara Opa Jerome lagi sibuk menghubungi semua orang.
Awalnya Bulan menolak keras, cuman saat dia kembali mengingat bayinya. Hatinya langsung luluh, dan mengikuti Ibu mertuanya
...*...
...*...
Semalaman Opa Jerome tidak bisa tidur sebab dia harus mencari siapapun pendonor hati tercepat, maka dia akan mendapatkan hadiah sayembara 2 kali lipat.
Semua itu dikarena waktu yang terus berjalan begitu cepat, sehingga waktu yang tersisa hanyalah tinggal 5 jam lagi. Cepat bukan? Ya, itulah pergantian waktu.
Opa Jerome udah benar-benar pasrah, dia sudah tidak tahu harus bagaimana lagi mencari semua itu. Jika saja hatinya cocok, maka di saat itu juga dia akan mendonorkannya tanpa peduli tentang kesehatannya sendiri.
"Pah, Mah. Apakah sudah ada kabar?" tanya Bulan yang juga tidaj tidur bisa tidur nyanyak. Berbeda sama Raka, dia masih tertidur pulas akibat kecapean menangisi Ayahnya.
Opa Jerome dan Oma Dena pun menggelengkan kepalanya, mereka sangat terlihat frustasi. Mata bengkak, wajah lesu, dan juga napsu makan hilang. Semuanya itu seakan-akan tidak menjadi prioritas mereka jika bukan mengenai nyawa anaknya.
Apakah mereka semua harus menyerah secepat ini pada keadaan yang semakin mepet? Apakah Mereka bisa menemukan pendonor dalam waktu singkat? Lantas, tidak adakah cara lain untuk mempertahankannya?
Entahlah, semua benar-benar menguras perasaan dan juga mental mereka semuanya. Haruskah mereka mengiklaskan kepergian Samudra, ketika dia belum bisa mendapatkan pendonor?
Semua kembali lagi kepada takdir hidup Samudra, karena mereka hanya bisa berusaha untuk menolongnya.
Namun, jika sudah waktunya mereka harus siap. Mau tidak mau, mereka akan berlajar mengiklaskan semua yang terjadi mulai detik ini. Meskipun berat sekali, akan tetapi mereka tidak mau jika harus memaksakan keadaannya.
Ingat, takdir adalah takdir. Dan kema*tian akan terus menghantui siapapun sesuai sama garis tangannya masing-masing ketika sebelum di lahirkan.
__ADS_1
...***Bersambung***...