
Etts, jangan salah. Saat Dzaky sudah meminta maaf kepada Opa Jemore, asisten itu langsung kembali membuka suara yang berhasil membungkam mulut Dzaky dan Opa Jerome.
Mereka berdua langsung terkejut dan tetap berusaha untuk mendengarkan saran dari asisten itu yang cukup panjang. Sampai akhirnya mereka menyetujuinya dan siapa sangka. Dzaky serta Opa Jerome malah meminta maaf padanya.
Lantas saran atau solusi apakah yang di bicarakan oleh asisten Dzaky? Kenapa dia bisa merubah keadaan secepat itu, sampai berhasil membuat atasannya menjadi bangga. Tak lupa disertai pula dengan permintaan maaf yang jarang sekali dia dengar dari mulut atasannya sendiri.
"Tunggu, Tuan. Sebelumnya saya minta maaf jika saya lancang memotong pembicaraan kalian. Apa yang Tuan Jerome katakan itu salah, sebenarnya solusi yang saya berikan belum sepenuhnya saya sampaikan. Itu baru setengah dari solusi yang akan saya ajukan ini, jadi di mohon untuk Tuan mendengarkan semuanya terlebih dulu. Terima kasih!"
Dzaki dan Opa Jerome memberikan ruang agar asisten itu berbicara seperti apa yang ada dipikirannya saat ini. Mereka mencoba untuk memberikan kesempatan padanya, agar bisa menjelaskan apa yang dia maksud tadi.
"Jadi begini Tuan, bila kita menunggu antrian itu pasti akan memakan waktu yang sangat lama. Sebab, diantrian nomor 100 saja sampai detik ini belum menemukan pendonor. Bahkan ada beberapa pasien yang pergi lebih dulu, sebelum mendapatkan pendonor."
"Untuk itu, saran saya. Bagaimana jika kita bekerja sama dengan seorang profesor dokter dan juga pihak berwajib. Bila kita akan melakukan sayembara untuk seseorang yang bersedia menjadi pendonor bagi Tuan Samudra."
"Sayembara itu akan kita umumkan di media televisi, maupun sosial media dan juga koran-koran di seluruh dunia. Dengan begitu kita bisa lebih mudah untuk menemukan orang yang cocok untuk Tuan Samudra."
"Tuan tidak perlu takut bila apa yang kita lakukan ini ilegal atau melanggar hukum, lantaran sebelum melakukannya kita harus meminta izin lebih dulu pada pihak berwajib dan kita meminta bantuan para ahli profesor dokter agar bisa mendampingi kita. Bagaimana?"
Penjelasan dari asisten Dzaky, benar-benar sangat berbobot. Inilah saran yang dari tadi mereka tunggu-tunggu, tetapi tidak sampai di pikiran Dzaky maupun Opa Jerome.
Disitu Opa Jerome langsung mengucapkan terima kasih padanya, karena dia sudah memberikan usul yang sangat bagus demi kesehatan Samudra.
"Terima kasih, atas saranmu yang sangat berguna ini. Untuk yang tadi, saya mau minta maaf bila perkataan saya sudah menyakitimu. Sehingga membuat hatimu kurang nyaman." ucap Opa Jerome.
"Tidak apa-apa, Tuan. Saya bisa memaklumkannya, karena bila saya ada di posisi Tuan pun saya akan bersikap sama." jawab asisten itu, sambil tersenyum penuh hormat.
"Terus ini bagaimana, Om? Kira-kira sayembara apa yang akan Om berikan pada pendonor tersebut? Aku harap Om bisa memikirkan semuanya, dimana sayembara itu pantas di dapatkan oleh si pendonor setelah dia berhasil menyelamatkan hidup Samudra."
"Jujur, bukan karena aku ingin menasihati Om yang lebih tua. Cuman aku, tidak mau bila nanti akan ada berita miring tentang Samudra ataupun keluarga Om sendiri. Pasti Om tahulah apa yang aku maksud ini."
Opa Jerome menatap Dzaky beberapa detik, kemudian kembali menatap ke arah pintu ICU sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Om tahu, apa yang harus Om lakukan. Om akan berusaha adil kepada siapapun maka dari itu Om akan memberikan sayembara berupa uang serta pendidikan."
"Bila orang itu masih single ataupun sendiri, maka Om akan memberikan uang sebesar 1 Triliun beserta 1 cabang saham kecil. Akan tetapi, jika orang yang jadi pendonor itu juga memiliki anak. Maka Om akan memberikan uang serta menyekolahkan anaknya sampai dia lulus S3. Bagaimana, menurut kalian?"
__ADS_1
Degh!
Wajah Dzaky dan asistennya menjadi tercenga, hingga mulut mereka terbuka lebar sambil menatap wajah Opa Jerom yang sangat serius. Tak hanya itu, jantung mereka pun rasanya ingin melompat keluar meninggalkan tempatnya.
Semua itu sama sekali di luar dugaan Dzaky dan asistennya, karena mereka pun tidak akan menyangka bila Opa Jerome akan memberikan sayembara sebesar itu.
Awalnya mereka berdua berpikir bila Opa Jerome hanya akan memberikan uang sekitar 5 sampai 10 miliar saja. Bahkan itu sudah lebih dari cukup, sebanarnya.
Namun, kali ini benar-benar akan masuk sayembara yang sangat populer di seluruh dunia. Atau bisa-bisa menggemparkan dunia dengan pemberitaan mengenai pendonor.
Tidak hanya itu, si pendonor pun akan menjadi kaya secara mendadak tanpa harus susah payah lagi bekerja dibawah terik matahari atupun derasnya hujan.
Hadiah yang dianjurkan oleh Opa Jerome, berhasil menggiurkan Dzaky dan juga asistennya. Akan tetapi, mereka langsung tersadar. Jika mereka masih ingin berumur panjang dan juga sehat tanpa penyakit serta tidak mau meninggal dunia dalam waktu yang sangat dekat.
"O-om ti-tidak salah? Sa-satu triliun dan sa-saham?" tanya Dzaky, hampir saja mengeluarkan air liur.
"Kenapa? Apa segitu kurang? Baiklah, aku akan menambahkannya menjadi 5 miliar, bagaimana?" ucap Opa Jerom, yang lagi-lagi membuat mereka terkejut.
Apa lagi asisten Dzaky, dia menyemburkan minumannya tepat di wajah atasannya tanpa rasa bersalah ketika mendengar semua itu.
Byyuurrr!
"Kau kira, kau dukun apa? Apa-apa main sembar-sembur sembar-sembur aja. Hahh!"
Wajah Dzaky langsung berubah menjadi merah di penuhi dengan kekesalan yang teramat mendalam. Baru kali ini asistennya bersikap buruk padanya hanya karena perkataan Opa Jerome.
"Ma-maafkan sa-saya, Tuan. Sa-saya tidak sengaja, ketika saya lagi minum. Tiba-tiba Tuan Jerome mengatakan seperti itu, membuat saya menjadi syok. Sekali lagi maafkan saya, Tuan. Maaf!"
Asisten itu berusaha untuk meminta maaf pada Dzaky atas kelancangannya yang sudah menyembur wajah atasannya.
Dzaky yang tak terima di sembur oleh asistennya itu, langsung melontarkan kata-kata yang memicu perdebatan diantara keduanya. Begitu juga asistennya, dia terus membela diri bahwa dia tidak sengaja dan tidak ada niatan untuk menyemburnya.
Sampai akhirnya suara mereka terdengar sampai ke dalam ruangan ICU, membuat sang suster langsung menegur mereka dan dia berusaha mencoba untuk melerai mereka, sayangnya tidak mempan.
Opa Jerome yang sudah jengah melihat sikap Tom End Jerry dihadapannya ini, mau tidak mau harus turun tangan. Padahal dia sendiri pun lagi pusing memikirkan keadaan anaknya yang terbaring lemah.
__ADS_1
"Kalian berdua itu bisa diam enggak sih. Saya ini pusing dengar ribut-ributan terus. Bukannya kasih pendapat, ini malah ber---"
"Semua ini, gara-gara kau!"
Dzaky dan asistennya sangat kompak memotong perkataan Opa Jerome, lalu menatapnya dengan sangat tajam penuh amarah diserta bentakan yang cukup tegas.
Degh!
Selang beberapa detik, mereka berdua pun segera menyadari kesalahannya karena sudah membentak orang tua. Kemudian Dzaky menatap asistennya, begitu juga asistennya yang menatap Dzaky. Tatapan mereka benar-benar terlihat dipenuhi rasa ketakutan yang cukup membuat tubuhnya bergetar.
"Apa yang kalian katakan barusan? Gara-gara saya?"
Suara bariton Opa Jerome terdengar sangat berat, yang mana menunjukkan bahwa emosi di dalam tubuhnya sudah mulai naik.
"E-enggak, Om. I-itu di-dia yang bi-bilang, a-aku enggak!" ucap Dzaky, membela dirinya sendiri.
"Ti-tidak, Tuan. Se-semua i-ini karena Tuan Dzaky, di-dia yang salah. Sa-saya pa-pamit dulu, a-ada urusan. Pe-permisi!"
Asisten itu pun segera bergegas berlari meninggalkan rumah sakit untukenghi dari amukan dari Opa Jerome. Sehingga, kini hanya tinggal Dzaky yang menjadi santapan raja hutan yang lagi meraung.
"Kau!!" ucap Opa Jerome penuh penekanan.
Tililit, tililit, tililit!
Dzaky bersuara mengikuti nada telepon dengan bertingkah pura-pura, lalu langsung menaruh ponselnya di telinga.
[Ha-halllo ... Iya, Mah. Ada apa? Oh, Dzaky di suruh pulang. Okay, Dzaky pulang sekarang!]
Opa Jerome melihat Dzaky salah tingkah akibat gugup, penuh ketakutan membuat dia tertawa di dalam hatinya. Bagaimana tidak lucu, orang Opa Jerome melihat layar ponsel Dzaky itu walpaper dirinya sendiri bukan panggilan seperti yang dia katakan.
"Om, Dza-Dzaky di suruh pu-pulang sa-sama Mamah. Dza-dzaky pamit, as-assalammuaikum!"
Bleeessss!
Dzaky berlari kencang meninggalkan Opa Jerome, hingga selepas perginya Dzaky membuat Opa Jerome tertawa cukup kencang sampai memegangi perutnya.
__ADS_1
Dimana Opa Jerome kembali terkena teguran dari sang suster..Setelah itu sang suster pun pergi, dan lagi-lagi menyisakan tawa kecil saat Opa Jerome membayangkan kegugupan di wajah Dzaky dan asistennya.
...***Bersambung***...