Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Menyambut Keluarga Kecil Samudra


__ADS_3

Asisten Dzaky cuman tersenyum sambil mengangguk, lalu dia kembali di hadapkan dengan pertanyaan yang membuatnya terkejut.


"Apa hari ini saya bisa menemui seseorang yang sudah mendonorkan hatinya?" tanya Samudra, wajahnya begitu serius menatapnya.


"Eee ... gi-gimana ya. Eee, a-anu Tuan. I-itu---"


"Katakan dengan jelas, saya tidak suka berbelit-belit. Apa orang itu sudah meninggal dunia atau masih hidup?" tanya Samudra lagi. Kali ini wajahnya malah berubah sangat datar, artinya Samudra benar-benar ingin bertemu sama orang tersebut


"I-iya, Tuan. Dia sudah meninggal dunia karena kecelakaan." jawabnya, menunduk.


"Dari mana Dzaky bisa bertemu orang itu? Apa dia mengenalnya?" ucap Samudra, penasaran.


"Ya-ya, di-dia kenal banget Tuan. Maka dari itu, sebelum meninggal dunia dia menitipkan pesan untuk mendonorkan organ dalamnya yang masih berfungsi dengan baik kepada orang yang sangat membutuhkan." jelasnya, kembali menatap Samudra.


"Innalilahi wainnalilali roji'un. Baiklah, saya mau datang ke makamnya. Tolong antarkan saya ke sana!" titah Samudra yang sudah tidak sabar.


"Lebih baik Tuan istirahat dulu, apa lagi hari ini Tuan baru di bolehkan pulang. Jadi, besok atau lusa baru saya akan mengantarkan Tuan. Fokuslah dulu sama kese---"


"Baiklah, hari ini saya kembali ke rumah. Besok pagi kamu jemput saya di rumah kedua oramg tua saya, tidak ada lagi alasan. Saya mau bertemu dengannya secepat mungkin, paham?"


Asisten Dzaky hanya bisa menganggukan kepala dengan berat hati. Dia tidak tahu harus menjawab apa, sebab dia juga sebenarnya belum siap untuk mengantarkannya ke pemakanan. Supaya Samudra bisa bertemu dan mengetahui siapa orang yang sudah sangat berjasa untuk menyelamatkan hidupnya.


Bulan yang baru saja selesai mengurus berkas, segera kembali ke ruangan Samudra. Dimana dia menemukan asisten Dzaky sedang berbicara bersama suaminya.

__ADS_1


"Udah, Mas. Sekarang kita pulang dulu, pasti Mamah sudah nunggu di rumah. Besok kita bicarakan lagi soal ini, setidaknya sampai kondisimu benar-benar sehat dulu." ucap Bulan, berdiri di samping suaminya.


Samudra hanya menganggukan kepalanya, lalu asisten itu pun pamit untuk pergi karena ada kerjaan yang harus dia urus.


Tak lupa dia juga sudah berjanji kapanpun Samudra siap, maka dia akan mengantarkannya bertemu seseorang yang sudah mendonorkan hatinya.


Bulan kembali mengecek semua barang agar tidak sampai ada yang ketinggalan. Setelah itu supir Samudra datang dan segera membantu mendorong kursi roda Samudra.


Sementara Bulan, mendorong koper yang lumayan gede, sambil menggandeng tangan Raka. Dimana Raka sangat senang saat dia akan kembali ke rumah Oma dan Opanya. Meskipun Raka belum mengerti kisah sebenarnya, tetapi dia bahagia bisa tinggal beberapa hari di rumah besar itu sampai Samudra benar-benar pulih.


45 menit telah berjalan, akhirnya mereka sampai di halaman rumah kediaman Dirgantara yang sangat luas dan juga mewah.


Mereka turun secara perlahan, lalu berjalan ke arah pintu utama. Ketika pintu di buka, mereka di kejutkan dengan sebuah bunyi konfeti yang meledak diatas.


Serpihan kertas warna-warni berterbangan diatas menyambyt kedatangan keluarga kecil Samudra, bersamaan dengan terdengarnya suara teriakan yang mengejutkan.


"Selamat datang di rumah kediaman keluarga Dirgantara, silakan masuk Nyonya Samudra, Tuan Samudra dan juga Tuan kecil Kakak Raka serta Baby yang belum lahir hehe ...."


"Selamat datang di rumah sederhana ini, semoga kalian bahagia."


Sambutan dari Oma Dena dan Opa Jerome membuat mereka tersenyum lebar. Sedikitpun mereka tidak pernah membayangkan akan di berikan sambutan seindah ini.


Pantas saja bila Oma Dena dan Opa Jerome tidak bisa menjemput kepulangan Samudra. Sebab, mereka sedang merencakan semua ini untuk memberikan sambutan kecil. Padahal mereka belum tahu apakah keluarga kecil Samudra ini akan memilih tinggal bersama mereka atau tetap berada di Desa.

__ADS_1


"Aaaa ... Bagus banget, Kakak suka. Terimakasih Oma, Opa. Kakak sayang kalian!"


Raka berlari memeluk Oma Dena, lalu bergantian memeluk Opa Jerome. Tak lupa di susul oleh Bulan dan Samudra. Setelah itu mereka pun berjalan ke ruang keluarga untuk berbincang-bincang sambil menyemil.


Raka terlihat tidak bisa diam, saking dia senangnya bisa tinggal di rumah sebesar ini. Sampai akhirnya obrolan serius telah di mulai.


"Apa kalian mau tinggal disini bareng Mamah sama Papah selamanya?" tanya Oma Dena, menatap Bulan dan Samudra bergantian.


Mereka berdua membalas tatapan Oma Dena sambil melirik Raka yang sedang lompat-lompat kegirangan, melihat film kesukaannya di setel di layar yang sangat lebar.


"Kalau Bulan ngikut Mas Sam aja, Mah. Mau tinggal dimana pun Bulan tidak masalah, asalkan Bulan bisa selalu ada di samping Mas Sam dan Raka." jawab Bulan mengusap lengan suaminya dan tersenyum.


"Kakak mau tinggal disini, Ayah. Kita kumpul.bareng Oma sama Opa biar Kakak enggak kesepian lagi kalau Bunda kerja, Ayah kerja. Masa Kakak sama Bi Edoh mulu sih, bosen tahu sekolah, makan, tidur begitu mulu. Bisa-bisa Kakak gendut, huhh ... Menyebalkan!"


Raka yang tidak sengaja mendengar percakapan mereka langsung berdiri di hadapan Ayahnya sambil melipat kedua tangannya. Dia begitu kesal, kalau sampai mereka harus kembali ke Desa.


"Tuh, anakmu saja mau tinggal disini. Lahian Papah sama Mamah udah lama hidup berdua, masa kamu enggak kasian. Apa kamu belum bisa maafkan kesalahan kami?" tanya Opa Jerome, diangguki Oma Dena.


Samudra bingung harus menjawab apa, sebab banyak yang harus dia pikirkan. Akan tetapi pasca oprasi membuat Samudra tidak bisa banyak berpikir. Akhirnya dia meminta Bulan untuk mengantarkannya ke kamar karena dadanya sudah mulai terasa tidak enak.


Mau tidak mau, obrolan mereka harus tertunda dari pada Samudra kembali jatuh sakit. Itu akan membuat mereka semakin ketakutan untuk mencari donor hati berikutnya.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2