
"Sudahlah, sekarang lebih baik aku fokus bekerja. Aku mau pekerjaan ini selesai lebih cepat, agar aku bisa pulang ke rumah dan bermain dengan Raka. Kasihan Raka, dia selalu merasa kesepian semenjak Neneknya tiada. Jadi, aku harus sering-sering pulang cepat agar bisa menghibur Raka agar dia tidak bosan dan juga suntuk ketika menghadapi kedua orang tuanya yang sibuk bekeja."
Bulan berbicara di dalam hatinya sambil sesekali di melihat ke arah ponselnya. Dimana tepat di layar kuncinya terdapat foto mereka bertiga sedang tersenyum penuh kebahagia.
...*...
...*...
Beberapa jam kemudian, Bulan sudah selesai dengan semua tugasnya. Bahkan tepat pukul 16.35 sore dia sudah diperbolehkan pulang terlebih dulu, karena sudah tidak ada pekerjaan yang harus Bulan kerjakan.
Dzaky pun tidak bisa menahannya, lantaran jam pulang kantor karyawan lainnya memang pukul 5 sore. Hanya saja bagian orang-orang terpenting yang da di kantor harus pulang lebih lambat, yaitu jam 7 malam dari karyawan biasanya.
Hari ini Bulan yang pulang lebih cepat, sehingga tidak meminta suaminya untuk menjemputnya. Bulan lakukan ini bertujuan agar dia bisa memberikan kejutan, kepada suami dan anaknya kalau dia bisa pulang lebih awal dari biasanya.
Bulan sudah berada di jalan menggunakan gojek yang dia pesan melalui aplikasi menuju rumahnya. Untungnya jalanan tidak terlalu ramai, meski jam pulang kerja.
Di tambah lagi tukang gojeknya pun sangat tahu tentang jalan-jalan tikus. Jadi Bulan bisa segera sampai di rumah, tanpa harus menghabiskan waktu yang cukup banyak.
Betapa bahagianya Bulan saat pertama kali dia bisa menyelesaikan semua tugasnya dengan cepat, diluar dari dugaannya. Tak lupa Bulan malah memberikan kabar pada suaminya jika dia akan pulang lebih larut lagi, karena ada pekerjaan yang mengharuskannya lembur.
Dengan begitu, Samudra tidak akan menjemput Bulan diatas jam 7 malam. Semua itu Bulan lakukan demi memberikan kejutan pada Raka, apa lagi dia masih terlalu kecil kalau harus di bawa jalan jauh di malam hari.
Sesuai dengan perjanjian Bulan dan Samudra, bahwa Samudra boleh menjemput Bulan saat jam kerjanya stabil. Akan tetapi, kalau berantakan maka Bulan tidak menganjurkan untuk Samudra menjemputnya. Lebih baik dia pulang menggunakan gojek, dari pada membuat anaknya jatuh sakit.
Tahu sendiri, bukan? Kalau sekarang Raka sudah tidak ada lagi yang menjaganya, kalau pun dibawa itu malah membuat kondisi Raka rentan akan penyakit. Jadi, mau tidak mau Samudra hanya bisa menurutinya.
Tepat pukul 18.05, Bulan baru saja sampai di depan halaman rumah dan langsung turun dari atas motor, kemudian memberikan uang untuk membayar ongkosnya.
"Ini, Mas ongkosnya." ucap Bulan menjulurkan sejumlah uang padanya.
__ADS_1
"Terima kasih, Mbak. Saya hitung dulu ya." ucapnya sambil sedikit menganggukan kepalanya.
"Loh ini kebanyakan, Mbak." ucapnya lagi, ketika setelah menghitung uang yang diberikan Bulan malah lebih 10 ribu.
"Gapapa, Mas. Buat beli roko, ya sudah saya mau bersih-bersih dulu sudah adzan maghrib. Sekali lagi terima kasih ya, Mas." ucap Bulan tersenyum.
"Alhamdulillah, terima kasih kembali, Mbak. Semoga berkah selalu dan dimudahkan segala rezekinya. Aamin ...." ucapnya sambil mengusap wajah menggunakan kedua telapak tangannya.
"Aamin, terima kasih doanya, Mas. Mari!" Bulan pun berjalan meninggalkan gojek itu, untuk segera menemui anak kesayangannya.
Adzan maghrib baru saja berkumandang, bersamaan dengan ketukan suara pintu. Dimana Samudra sama Raka baru saja ingin mengambil air wudhu dan ingin menunaikan ibadah shalat maghrib sudah dihalangi oleh seseorang yang datang mengetuk pintu.
Tok, tok, tok!
"Ayah, itu siapa? Maghlib-maghrib ke lumah, apa dia enggak shalat?" ucap Raka, bingung.
"Ayah kurang tahu, Sayang. Coba kita lihat dulu ya sebentar, baru kota shalat." jawab Samudra diangguki oleh Raka.
Yang mana ketika pintu terbuka, Samudra muncul bersama Raka yang saat ini berada di belakangnya. Kemudian Bulan muncul mengucapkan salam sambil tersenyum.
"Assalammualaikum, ganteng-gantengnya Bunda hehe ...." ucap Bulan, wajah sangat senangnya ketika melihat anak dan suaminya terkejut bukan main.
"Bu-bunda?" ucap Raka melongo tak percaya, kalau yang dia lihat saat ini adalah Bundanya.
"Astagfirullah, aku kira siapa. Kamu ini ngagetin orang saja, untung enggak jantungan. Ohya, katanya lembur kok sekarang udah pulang?" ucap Samudra, sedikit syok.
Bulan hanya bisa cengengesan sambil salim sama suami dan juga anaknya, yang mana Raka langsung memeluk kaki Bundanya begitu erat.
"Huaaa, Bunda. Laka seneng deh, Bunda udah pulang. Laka kila Bunda pulang malem lagi, teyus kita enggak bisa jalan-jalan. Padahal hali ini Laka udah bilang 'kan, kata Bi Edoh di lapangan dekat jalan laya ada pasal malam lame banget."
__ADS_1
"Cuman, Ayah bilang Bunda pulangnya malem soalnya lembul. Ya udah Laka cuman bisa sabal aja, yang penting Bunda pulang ke lumah dengan selamat."
"Tadinya Laka gapapa, enggak jadi ke pacal malam kalena kata Ayah, Bunda lagi sibuk kelja. Ehh Ayah bilang lagi, katanya pelgi beldua aja sama Ayah, teyus Laka bilang emang Bunda gapapa Ayah, Bunda enggak malah kalau enggak diajak. Ehh, Ayah jawab gapapa, Ayah udah bilang sama Bunda gitu."
"Ehhh, sekalang Bunda malah udah pulang. Ishhh sebel deh, Bunda bohongin Raka. Dosa tahu!"
Celoteh Raka panjang kali lebar membuat Bulan hanya bisa tertawa saat anaknya memeluknya sekilas dan melepaskannya, lalu Raka melipat kedua tangan di dada serta membuang mukanya ke arah samping.
Bulan pun terkekeh, kemudian berjongkok di hadapan Raka, dan menarik perlahan kedua tangan Raka. "Uhh, tututu Sayangnya Bunda ngambek. Tuh 'kan, ishh nongol deh wajah jeleknya si ganteng Bunda ini hihi ...."
"Cini, cini peyuk dulu sayang. Hem, Sayang Bunda. Maafin Bunda ya, Bunda enggak mau bohongin Raka. Bunda cuman mau kasih Raka kejutan aja kalau Bunda bisa pulang lebih awal dan kita bisa jalan-jalan sepuasnya. Yeeeyy!"
Bulan berusaha membujuk Raka dengan segenap rayuan, hingga membuat Raka pun terkekeh di dalam pelukannya. Sementara Samudra hanya bisa tersenyum sambil mengusap kepala anaknya penuh kasih sayang.
"Udah yuk, kita shalat maghrib dulu. Kamu bersih-bersih terus kita shalat berjama'ah. Nanti Raka yang komat ya, bisa?" ucap Samudra membuat mereka pun menyudahi pelukannya dan masuk ke dalam rumah.
"Bisa dong, Ayah. 'Kan Laka udah besal, masa enggak bisa komat. Adzan pun Laka bisa, tapi enggak bisa panjag-panjang soalnya bengek napasnya hehe ...." jawab Raka berhasil membuat kedua orang tuanya tertawa.
Bulan pun menggandeng tangan Raka masuk ke dalam rumah, sedangkan Samudra menutup pintunya. Lalu, Bulan bergegas untuj membersihkan badannya yang masih lengket barulah dia ikut shalat berjama'ah.
Waktu shalat maghrib dan isya sangatlah dekat, sehingga setelah selesai shalat maghrib, mereka pun berhenti sejenak dan kembali menunaikan shalat isya. Barulah bersiap-siap untuk pergi ke pasar malam.
Kurang lebih jam 19. 40 malam, mereka sudah rapi dan segera bergegas pergi menuju pasar malam menggunakan motor.
Jarak antara rumah dan pasar malam kurang lebih sekitar 20 menit, karena pasar malam terletak di dekat jalan raya angkutan umum.
Sepanjang jalan, Raka selalu bersenandung ria bernyanyi bersama Ayahnya sambil tertawa. Sedangkan Bulan, dia hanya bisa tersenyum memeluk suaminya dan sesekali menjaili anaknya.
Malam hari ini wajah mereka bertiga terlihat begitu bahagia, apa lagi Raka. Dia benar-benar antusias bisa pergi ke pasar malam bersama kedua orang tuanya.
__ADS_1
...***Bersambung***...