Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Rahasia Istri Idaman Dzaky


__ADS_3

Suasana yang ada di kantin telihat begitu sepi, karena masih terngiang-ngiang dengan ucapan Bulan. Wanita lemah lembut, yang selalu terlihat ramah seketika berubah menjadi singa betina yang begitu galak ketika anak serta keluarganya di sentuh orang lain.


Sementara ke-3 karyawan itu pun, terlihat kesal dan langsung pergi meninggalkan kantin. Mereka merasa di permalukan oleh Bulan dengan perlakuan Bulan yang teramat membekas di dalam ingatan mereka.


Sesampainya Bulan dilantai tempat kerjanya, dia segera berlari menuju kamar kamar mandi. Bahkan Bulan menghiraukan semua tatapan aneh karyawan yang menatapnya ketika menangis, saat berpapasan ketika dia berjalan menuju meja kerjanya.


Namun, siapa sangka. Ternyata saat Bulan lari ke arah kamar mandi, ada seseorang yang memperhatikan gerak-geriknya.


"Ada apa dengannya? Kenapa dia berlari sambil menangis seperti itu? Apa dia teringat dengan mendiang Ibunya lagi? Tapi, masa iya. Ini 'kan sudah hampir 2 bulan. Jadi enggak mungkin dia masih begitu sedih."


"Cuman, ya sudahlah bodo amat. Lagian juga ngapain aku mikirin dia, toh dia bukan siapa-siapaku. Mending aku ke Pantry buat minuman, dari pada pusing mikirin bini orang!"


Gumam seorang pria, yang mana itu adalah Dzaky yang baru saja keluar dari ruangannya.


Perlahan kaki Dzaky melangkah menuju Pantry, dimana tidak ada satu OB pun yang berjaga disana. Pantas saja, beberapa kali Dzaky menelepon tidak ada satupun yang mengangkatnya. Jadi, mau tidak mau Dzaky harus turun tangan demi membuat matanya sedikit merasa segar.


"Huhh, beginilah nasib jomblo. Mau ngapa-ngapain pasti sendiri terus, coba aja udah nikah rasanya akan beda. Mau apapun tinggal minta, tidur juga ada yang nemenin jadi tidak akan kesepian."


"Tapi, ya sudahlah. Mungkin Allah belum menakdirkan aku memiliki jodoh untuk saat ini. Yang penting aku harus bisa sukses terlebih dahulu, barulah aku akan menikah dan memiliki anak. Nah, itu baru ide bagus!"


Dzaky berbicara sambil mengambil gelas dan menuangkan kopi bubuk beberapa sendok serta gula, barulah dia memasak air panas sampai mendidih.


Sebenarnya ada air dispenser ataupun tremos, akan tetapi Dzaky tidak mau. Setiap kali dia meminta kopi, airnya harus selalu dimasak. Karena jika tidak, maka Dzaky langsung menolak untuk meminumnya. Seakan-akan lidahnya sudah terbiasa mbedakan mana air yang di masak dan tidak.


Kurang lebih 5 menit, Dzaky duduk memainkan ponselnya sambil menunggu airnya mendidih. Tiba-tiba saja Bulan masuk ke dapur dengan wajah yang sedikit sembab.


"Loh, Tu-tuan Dzaky? Nga-ngapain duduk di sini? Apa Tuan lupa dimana ruangannya? Atau Tuan amnesia?" celetuk Bulan, membuat Dzaky sedikit terkejut dan menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Ckk, berisik. Enggak lihat apa, saya ini lagi nunggu air mendidih buat bikin kopi!" sahut Dzaky, kesal.


"Tumben bikin sendiri, memangnya kemana semua OB di sini?" tanya Bulan.


Kemudian dia berjalan mendekati rak kecil untuk mengambil gelas panjang, lalu membuka kulkas dan mengisikan es batu ke dalamnya.


"Ada apa dengan wajahmu, kenapa terlihat seperti orang habis nangis?" tanya balik Dzaky, berpura-pura tidak tahu.


"Mana ada saya nangis, ini cuman ngantuk aja jadi beberapa kali saya menguap terus air mata juga terus menetes jadinya bengkak gini." jawab Bulan, berbohong sambil menuang sirop serta air dan mengaduknya secara perlahan.


"Oh gitu, kirain masih ke ingat dengan almarhumah Ibumu itu. Jadi kau masih sering mewek," cicitnya memainkan ponsel.


"Dihh, mana bisa begitu. Saya udah mengikhlaskan Ibu saya, jadi saya tidak akan menangis. Jikalau pun saya rindu, ya saya cuman bisa mengirimkan doa saja. Dari pada air mata, akan memberatkan langkah Ibu saya di surga nanti." jawab Bulan yang sudah selesai membuatkan minum untuk dia bawa ke mejanya.


"Ckk, itu kenapa sih airnya enggak mendidih-mendidih. Perasaan udah 10 menit loh. Ya kali cuman masak air segelas aja harus nunggu berjam-jam!" keluh Dzaky kesal saat mendekati dan melihat panci kecil yang berisikan air.


Bulan yang awalnya ingin pergi berjalan meninggalkan dapur sambil membawa minumannya, sekatika terhenti dan berbalik menatap ke arah kompor.


"Ya bagaimana airnya mau mendidik, toh kompornya aja tidak di nyalain. Gimana sih, aneh!" gerutu Bulan, langsung menyalakan kompor tersebut.


Ceklek, ceklek!


Api berkobar membakar pan*tat panci kecil tersebut guna untuk membuat air di dalamnya matang secara merata.


"Lain kali kalau mau masak kopi, lihat kompornya udah nyala apa belum. Jangan malah lihatin wanita bening mulu di tiktok. Mau sampai kiamat ditungguin pun, tuh air enggak akan mendidih. Dasar atasan aneh!"


Bulan melirik ke arah layar ponsel Dzaky yang tertebaran semua video wanita cantik, putih dan juga ****y yang sedang asyik berjoget menunjukkan lekukan tubuh mulusnya.

__ADS_1


Setelah menyadari itu semua, Dzaky segera mematikan layar ponselnya secara spontan. Kemudian menatap Bulan yang sudah berjalan ke arah pintu keluar.


"Hyaakk, kamu tuh salah liat. Itu tadi tidak sengaja kepencet, lagi pula ngapain saya nonton begituan. Enggak bermutu!" sahut Dzaky, dengan suara yang sedikit dia keraskan.


Namun, percuma saja. Bulan tidak mau menggubrisnya, dia malah pergi ke arah mejanya lalu duduk dan menikmati segarnya sirup yang dia buat sambil melanjutkan pekerjaannya.


Meski, rasanya hati Bulan masih teramat sakit. Tetapi, dia tidak mau berlarut-larut memikirkan ucapan mereka semua. Bagi Bulan, selagi suami dan anaknya percaya jika dia hanya bekerja, maka tidak ada yang perlu Bulan khawatirkan.


Selang beberapa menit, Dzaky kembali ke ruangannya sambil membawa gelas yang sudah berisikan kopi. Dimana wajah Dzaky terlihat sedang menahan malu saat Bulan sedikit menatapnya.


"Apa lihat-lihat, hahh? Mau saya siram pakai kopi panas!" ucap Dzaky, kesal.


"Tidak terima kasih, cuman mau mengingatin aja. Lain kali kalau mau mencari jodoh, jangan lewat aplikasi. Ingat, kecantikan wanita berefek tidak bisa dipercaya. Siap tahu fotonya bagus, bersih, putih, mulus kek pan*tat bayi. Eh pas ketemu jadi kaya jalan desa yang gradakan, becek, berlubang, jelek pula."


"Mending cari jodoh yang biasa saja, tetapi berhati emas. Karena penampilan itu bisa di rombak, dan di benahi agar terlihat sedap dipandang mata. Namun, jika akhlak itu yang sangat sulit untuk di rombak kalau bukan karena dirinya sendiri!"


Nasihat Bulan, langsung ngena di dalam hati Dzaky. Rasanya dia sedang di ceramahkan oleh seorang ustadzah yang berkedok wanita menyebalkan.


Akan tetapi, Dzaky yang merasa malu dinasihati oleh Bulan segera membantahnya sambil menunjukkan raut wajah yang begitu kesal.


"Hyaakk, apaan sih. Lagi pula siapa yang cari jodoh, enggak usah sok tahu deh. Mendingan cepat kerjain tuh tugas, dan jangan lupa di meja saya masih ada 5 berkas lagi yang menumpuk!"


Dzaky bergegas pergi meninggalkan Bulan dengan wajah yang sediki merona, kali ini Dzaky benar-benar malu terhadapnya karena rahasia istri idaman yang cantik, mulus, putih, bening dan juga ****y seperti yang ada di branda tiktok diketahui oleh Bulan.


Disitulah Dzaky langsung meraung-raung menggerutuki kebo*dohannya sendiri di dalam ruangan. Akan tetapi akibat rasa kesalnya Dzaky lupa jika kopi yang baru dia buat masih sangat panas hingga membuat bibir serta lidahnya terbakar.


"Hyaakk, si*al! Aku lupa kalau kopi ini masih panas, huhh huhh. Aaaa, bibirku jadi dower 'kan. Bang*kek!" geram Dzaky sangat kesal sambil menatap bibir dan lidahnya yang mati rasa.

__ADS_1


Sementara Bulan malah asyik mengerjakan pekerjaannya sambil minum, tanpa menghiraukan pekerjaannya yang menumpuk di ruangan Dzaky.


...***Bersambung***...


__ADS_2