Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Pergi Sama Simpanan?


__ADS_3

Samudra tidak banyak berbicara, bahkan meminta apapun. Karena ketika dia melihat senyuman lebar terukir dari bibir anak dan istrinya sudah membuat dia sangat bahagia. Jadi, Samudra cuman bisa mengikuti apa yang anak dan istrinya mau.


Di tambah lagi, Bulan membelikan 1 setel pakaian untuk mereka bertiga untuk mereka pakai di kemudian hari.


Disaat mereka sedang asyik menikmati cemilan dan minumannya, tiba-tiba saja ada seseorang yang datang mendekati mereka dengan wajah penuh arti. Yang mana kedatangannya itu, benar-benar mengejutkan mereka bertiga.


"Ehh, Bulan? Wahh, senang sekali bertemu denganmu disini. Wahh, rupanya kamu ke sini sama anak dan suamimu. Aku kirain sama simpanannya, upps. So-sorry, keceplosan. Aduh, maaf ya Mas!" ucap seorang wanita penuh kesengajaannya untuk memancing Samudra.


Seorang wanita itu tidak lain dna tidak bukan, merupakan teman satu kantor Bulan. Dimana wanita itu ialah orang yang pernah Bulan tampar ketika dia telah menghina orang tuanya bersama kedua temannya.


Sabrina, wanita yang senang sekali mengganggu hidup Bulan. Semua itu lantaran dia tidak suka melihat Bulan dekat dengan atasannya, karena semenjak ada Bulan Sabrina tidak bisa lagi mendekati Dzaky.


Berbagai macam cara Sabrina lakukan, tetapi tetap saja. Kehadiran Bulan seperti menjadi sebuah tembok yang menghalangi jalan Sabrina untuk menggapai keinginannya agar bisa berdekatan oleh atasannya.


Sebelum ada Bulan, Sabrinalah yang menggantikan posisi Bulan sebagai sekretaris sementara, sampai Dzaky mendapatkan seseorang yang pantas untuk dijadikan sekretaris andalannya. Dan masuknya Bulan merubah semua rencana yang sudah Sabrina lakukan.


"Pergi sama simpanan? Maksud Tante itu apa, Ayah? Bunda?" tanya Raka, mendongak menatap kedua orang tuanya secara bergantian sambil memegang minumannya.


"Aduh, maafkan Tante ya Sayang. Tante jadi buat kamu bingung. Jadi begini Tante jelasin ya, simpanan itu artinya sebentar lagi kamu akan memiliki dua a---"


"Hentikan ucapanmu itu, Sabrina! Pergilah dari sini, dan jangan mencoba untuk mengotori pikiran anakku dengan perkataanmu yang tidak tahu adap!" tegas Bulan, langsung berdiri tepat di hadapan Sabrina.


"Loh, aku kan cuman membantumu menjelaskan pada anakmu itu loh. Lagi pula masa niat baik di tolak sih, kasian anakmu pasti sekarang sedang bingung. Jadi biarkan aku yang menjelaskannya, kamu cukup diam saja tidak usah mikir jawabannya lagi ya, 'kan?" jawab Sabrina, tersenyum remeh dan tatapan matanya sangatlah penuh arti.


"Cepat pergi dari sini, atau aku akan menyeretmu untuk menjauhi anak dan juga suamiku!" Bulan, menekankan kata-katanya dengan suara yang sangat kecil agar tidak terdengar oleh Raka.


"Bunda, Bunda kenapa sama Tante itu? Bunda belantem ya, 'kan kata Ayah enggak boleh belantem nanti jadi temennya se*tan loh. Emang Bunda sama Tantenya mau, masuk golongan se*tan yang suka bikin olang-olang belantem." sahut Raka, wajahnya benar-benar terlihat begitu polos.


"Ada apa ini, kenapa wanita itu mengatakan tentang simpanan? Apakah istriku memiliki pria lain di belakangku? Jika benar, setega itukah dia padaku dan juga Raka?"

__ADS_1


"Astagfirullah'alazim, tidak mungkin Bulan seperti itu. Dia tidak akan pernah ingin mengecewakan suami dan juga anaknya, pasti wanita itu sedang mencoba untuk menggoyangkan pondasi rumah tangga kami. Sabar Samudra, kamu tidak boleh terpancing."


Samudra yang dari tadi terdiam, sedikit terkejut dengan ucapan Sabrinya yang memang sangat menyentil hatinya.


Bagaimana tidak, sekuat apapun iman seorang suami. Dia akan sedikit goyang, jika mendapatkan bahwa istrinya ada main oleh pria lain dari mulut orang yang cukup mengenal Bulan di kantornya.


Hanya saja, disini Samudra berusah tetap tenang agar tidak membuat suasana semakin memanas. Semua itu karena Samudra melihat ekspresi istrinya yang terbilang sedang menahan emosi di dalam hati kecilnya.


"Ayah, Bunda sama Tante itu kenapa kok kaya malah-malah gitu?" tanya Raka, menatap Ayahnya.


Samudra menoleh dan masang wajah tersenyum sambil mengusap kepala anaknya penuh kasih sayang.


"Tidak, Sayang. Bunda tidak marah kok, Bunda cuman sedang ngobrol saja sama temannya. Jadi, Rak enggak usah khawatir ya." ucap Samudra, menasihatinya.


"Tapi, Ayah---"


"Bunda gapapa kok, Sayang. Tante ini adalah teman Bunda di kantor, lagian Bunda sama Tantenya enggak marahan kok, apa lagi berantem. Ya 'kan, Tante!"


"Oh, jelas dong Sayang. Tante sama Bundamu sedang berbicara tentang---"


"Sabrina!" tekan Bulan, melototkan matanya.


"Sayang!" teriak seorang pria yang berjalan mendekat ke arah mereka.


Dengan cepat Sabrina menoleh ke arah pria yang saat ini telah menjadi kekasihnya kurang lebih 1 Minggu yang lalu. Sabrina terpaksa menjalani hubungan dengan pria yang levelnya di bawah Dzaky, demi alasan tertentu.


"Ckk, ngapain sih dia pakai datang di saat yang enggak tepat begini. Ngeselin banget sumpah, dasar pria kampungan!" gerutu Sabrina di dalam hatinya dengan tatapan kesal.


"Astaga, aku cari-cari kamu kemana tahunya ada disini. Bukannya aku sudah bilang jangan kemana-mana, tunggu disitu aja. Aku 'kansedang belikan minuman yang kamu mau. Ohya, taraa ... Ini minumannya sudah jadi, hehe ...."

__ADS_1


Pria itu menunjukkan kedua minuman di tangannya dengan wajah yang begitu ceria, sementara Bulan melihat penampilan pria itu sedikit terlihat seperti pria yang benar-benar kurang styless.


Masih mending Samudra, walaupun dia orang yang tidak berada tetapi, dia punya styless yang cukup menyedapkan ketika di pandang oleh mata.


"Siapa mereka? Apakah mereka temanmu? Wahh, asyik dong. Kita bisa main di sini bareng-bareng, apa lagi ada anak mereka yang sangat lucu dan juga tampan. Boleh 'kan kami gabung sama kalian?" ucap kekasih Sabrina, sambil tersenyum.


"Jefri!" geram Sabrina, diselimuti senyuman menatap kekasihnya dengan tatapan yang begitu menyeramkan.


"Loh, kenapa Sayang. Kok matamu melotot begitu? Aduh, hati-hati loh nanti copot."


Jefri sedikit bergidik ngeri saat menatap mata Sabriana. Cuman, Sabrina yang kepalang kesal bercampur aduk langsung pergi begitu saja meinggalkan Jefri dengan wajah bingungnya.


"Lahh, kok malah kabur sih. Sayang, tunggu aku!" pekik Jefri, saat melihat Sabrina melangkah cepat.


"Maaf ya, kami tidak jadi gabung dengan kalian. Salam kenal adik tampan, dadah. Permisi!" ucap Jefri kembali dan segera mengejar kekasihnya yang sedang marah.


Bagaimana Sabrina tidak marah, orang Jefri muncul di saat yang tidak tepat. Sudah Sabrina kesal dengan stylessnya, di tambah akibat kedatangan Jefri membuat hancur semua rencana Sabrina yangbingin memanasi suami dan juga anak dari Bulan.


Yang lebih Sabrina kesal lagi, dia pasti akan diejek habis-habisan oleh Bulan di kantor ketika tahu penampilan Jefri yang sangat udik dan juga kampungan.


Apa lagi, kedua teman Sabrina tidak mengetahui semua ini. Lantaran Sabrina tidak mau sampai temannya tahu, jika dia memiliki kekasih seperti Jefri maka bisa menjadi olokan di kantor.


Tahu sendiri, styless Sabrina benar-benar seperti anak pejabat bahkan kecantikannya melebihi Bulan ataupun sekretaris yang berada di perusahaan lainnya.


Jadi pasti akan ada rasa malu yang teramat luar biasa jika Sabrina di sandingkan dengan pria udik dan juga kampungan. Sementara Bulan yang seperti itu, memiliki suami yang sangat tampan walaupun dalam keadaan miskin.


Seperginya Sabrina dan Jefri, Samudra langsung mengajak anak serta istrinya kembali ke rumah akibat hari sudah semakin larut.


Bulan yang melihat wajah suaminya sedikit masam, membuat jantungnya berdetak sedikit cepat. Bulan takut, kalau Samudra akan menjadi salah paham atas ucapan Sabrina.

__ADS_1


Kemudian mereka pun pulang dalam keadaan hening, dimana Raka yang mulai sedikit mengantuk akibat terkena air malam yang begitu menyejukkan. Sementara Samudra terlihat sangat serius menatap jalan dan Bulan yang sedang berusaha membuat jantungnya tenang supaya dia tidak salah dalam menjelaskan segala sesuatunya pada suaminya nanti.


...***Bersambung***...


__ADS_2