Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Pindah Ke Rumah Baru


__ADS_3

Sementara Bulan, dia pergi ke kamar mandi untuk membereskan perlengkapan mandi Raka yang masih berantakan.


Sebenarnya ada perasaan khawatir, takut dan juga sedih di dalam hati Bulan. Cuman mau bagaimana lagi, dia marah pun tidak akan bisa mengembalikan keadaan.


Jadi mau tidak mau untuk saat ini Bulan hanya bisa menuruti suami dan juga Ibunya sendiri, karena kalaupun dia debat itu tidak akan mempan. Ibarat kata 2 vs1 pasti akan berat rasanya, saat Ibunya malah membela menantunya sendiri dari pada anaknya.


...*...


...*...


Hari demi hari telah berlalu, hingga bulan pun sudah berganti. Sampai akhirnya Bulan dan Samudra telah pindah di rumah mereka yang baru kurang lebih selama 2 minggu ini.



Rumah yang terlihat kecil penuh kesederhanaan ini menjadi pilihan Samudra, meski dia hanya bisa membeli rumah kecil ini. Akan tetapi dia bisa membuat anak, istri serta mertuanya nyaman tinggal di rumah yang tidak terlalu kecil.


Untuk saat ini kehidupan mereka berjalan sewajarnya, karena Samudra masih ada tabungan untuk beberapa bulan kedepan. Sehingga kehidupan mereka masih tetap aman sampai detik ini.


Samudra pun sudah mulai untuk pergi ke sawahnya dengan menggunakan motor metic yang tidak terlalu mewah, cuman masih bisa dia gunakan kemanapun dia pergi dengan surat yang lengkap.




Sawah yang terletak di dekat bukit dengan luas kurang lebih1 hektar adalah sawah milik Samudra. Semua itu bisa di beli menggunakan uang hasil penjualan rumah, dan juga mobil.


1 Minggu sudah Samudra mulai bekerja menanami sawahnya dengan bibit padi yang saat ini sudah mulai tumbuh.


Rasanya sangat senang saat hasil tanaman pertamanya berjalan mulus tanpa kendala. Harapan Samudra, dia hanya ingin hasil panennya nanti bisa menghasilkan pundi-pundi rezeki yang lebih, agar kelak dia bisa membantu warga di kampung yang sangat membutuhkan pekerjaan untuk menjadikannya pekerja.


"Huhh, panasnya hari ini. Cuman tak apa, semua demi mencari rezeki untuk membahagikan istri, mertua dan juga anakku yang semakin hari semakin pintar saja hehe ...."

__ADS_1


"Alhamdulilah, terima kasih ya Allah atas semua nikmat dan rezekimu hari ini. Semoga Hamba bisa menjadi salah satu umat-Mu yang tidak lupa akan bersyukur apapun rezeki yang Engkau berikan. Aamin, bismillah. Semangat, Sam. Semangat!"


Samudra berbicara kecil untuk menyemangati dirinya sambil duduk selonjoran di tanah merah yang terlihat becek. Tak lupa tangannya pun mulai mengipasi tubuhnya menggunakan topi kerucut yang di anyam dari sebuah bambu.



Disaat Samudra sedang beristirahat, tiba-tiba teman sepetaninya yang usianya lebih tua darinya memanggil Samudra dari tengah sawah sambil melambai-lambaikan tangannya.


"Nak, Sam. Sini gabung sama kami, kita makan bersama. Ayo sini, cepat!" titah orang tersebut.


Samudra menoleh dan segera berdiri, lalu dia mendekati pria tua itu karena suaranya sangatlah jauh.


Setelah mendekat ke arah mereka, Samudra terkejut karena mereka malah mengajaknya untuk makan bersama.


Awalnya Samudra sempat menolak karena tidak enak, lalu beralasan pulang ke rumah untuk makan siang. Akan tetapi, dia malah dipaksa oleh semua teman petaninya.


Mau tidak mau, Samudra tidak bisa menolak rezeki yang dia dapatkan hari ini. Akhirnya mereka semua makan bersama di dalam saung secara lesehan beralasan piring daun pisang.


Sementara di rumah sederhana, Bulan sedang merasa cemas akibat suaminya tak kunjung pulang ke rumah tepat di jam makan siang.


[Assalammualaikum, Mas. Kamu dimana? Kenapa belum pulang? Bukannya ini sudah jam makan siang?]


[Waalaikumsalam, Dek. Maaf ya, Mas lupa. Ini Mas baru aja kelar makan tadi bareng-bareng sama yang lain. Salami maaf Mas buat Ibu ya, kalian makan saja yang banyak. Mas mau lanjut kerja dulu ini, sebelum hujan turun.]


[Ya sudah, Mas. Nanti cepatlah pulang sebelum hujan turun, aku enggak mau Mas nanti hujan-hujanan terus sakit ya.]


[Siap, Sayang. Makasih ya, ya sudah Mas tutup dulu teleponnya. Asaalammuaikum,]


[Waalaikumsalam!]


Samudra menutup ponselnya, lalu dia kembali meneruskan pekerjaannya untuk memberikan pupuk pada tanamannya sendiri.

__ADS_1


1 hektar, di urus sendirian merupakan pekerjaan yang sangatlah melelahkan. Akan tetapi, dia tetap berusaha semangat untuk terus berjuang meski banyak petani lainnya yang merasa sangat iri dengan semangat Samudra yang super duper besar.


Sampai akhirnya, Bulan dan Ibu Dara pun makan berdua saja sambil melihat kepintaran Raka yang saat ini sedang gemas-gemasnya.


"Aduh, aduh cucuk Nenek gemes banget ya. Huhh, Nenek enggak sabar deh mau ajak kamu jalan-jalan hehe ...." ucap Ibu Dara di sela makannya.


"Sabar ya, Nek. Tunggu aku beberapa bulan lagi, nanti kalau aku udah bisa jalan. Jangan lupa ajak aku jalan pagi ya." sahut Bulan dengan nada layaknya seorng anak kecil.


"Hehe, siap cucuku yang tampan. uluhh-uluhh udah kaya seorang Pangeran aja ini hihi ...."


Ibu Dara terlihat begitu gemas ketika cucu pertamanya berhasil membuatnya tidak mau berjauhan dengannya. Kemudian mereka melanjutkan makannya terlebih dahulu dan barulah bermain bersama Raka.



Raka yang saat ini sudah berusia kurang lebih 2 bulan, sudah mulai bisa merengek dan sedang belajar untuk tengkurep.


Meskipun hidupnya sudah tidak seenak dulu, tetapi mereka terlihat begitu bahagia. Tidak seperti apa yang ada di bayangan Bulan saat ini.


Bulan dan Ibu Dara tertawa kecil melihat tingkah lucu Raka yang semakin hari semakin menggemaskan. Sampai akhirnya Samudra pulang dalam keadaan yang masih kotor dengan tanah sawah yang masih menempel di tubuhnya.


"Assalammualaikum, Dek!"


Samudra mengetuk pintu samping, karena dia selalu masuk rumah melalui pintu samping ketika baru pulang dari sawah. Sehingga bisa langsung membersihkan tubuhnya, tanpa harus mengotori rumah yang susah susah payah di bersihkan oleh istrinya.


Namun, jika hanya dari luar saja Samudra akan masuk melalui pintu utama karena keadaannya tidak ke kotor saat dia pulang dari sawah.


Bulan yang mendengar itu langsung menyahuti dan berjalan untuk membukakan pintu samping buat suaminya, sekaligus membuatkan minuman untuknya.


Sementara Raka di jagain oleh Ibu Dara di ruang tengah dalam keadaan mereka tiduran di atas karpet bulu yang nyaman untuknya.


Samudra yang sudah dibukakan pintu oleh istrinya segra bersalaman dan langsung pergi ke kamar mandi untuk segera membersihkan tubuhnya. Tak lupa dia pun langsung melaksanakan shalat Ashar, yang belum dia lakukan saat di sawah.

__ADS_1


Meski sawah tempatnya terbilang seperti itu, akan tetapi banyak petani yang tidak meninggalkan shalat 5 waktunya. Salah satunya adalah Samudra, dia selalu melaksanakan shalat dimanapun berada selagi tempat itu nyaman untuknya agar tidak meninggalkan shalatnya.


...***Bersambung***...


__ADS_2