
Bagaimana tidak kesal coba, Bulan saja yang awalnya makan dengan cara cantik. Seketika berubah layaknya orang yang sedang mencabik-cabik musuhnya.
Namun, tak berhenti dari situ. Bulan masih melupakan kotak kedua yang berdiam diri di dalam paper bag tersebut. Saat Bulan mengingat, masih ada yang tertinggal. Rasanya Bulan sangat malas sekali untuk membukanya.
Cuman mau bagaimana lagi, dia juga penasaran sama isinya. Jadi, mau tidak mau. Suka tidak suka, Bulan tetap harus membukanya meskipun wajah terlihat sangat kesal.
Dan, ketika kotak terakhir di buka. Betapa terkejutnya Bulan saat melihat isi dari dalam paper bag itu yang ternyata adalah sebuah ponsel canggih.
Ponsel dengan merek ternama berhasil mencuci kedua mata Bulan hingga membuat tubuhnya melemas dan terduduk di kursinya.
Bulan tidak menyangka, jika bonus yang dibilang oleh asisten Dzaky itu adalah bonus yang melebihi gaji Bulan berkali-kali lipat.
Pantas saja, asisten itu menyindirnya lantaran Bulan akan mendapatkan hadiah semahal ini yang bisa menguras kantong siapapun.
Ponsel dengan harga kurang lebih 40 juta ini, jika di samakan maka Bulan bisa mendapatkan 1 motor yang cukup canggih.
Namun, karena ini pemberian Bulan hanya bisa menerimanya meskipun, dia harus mengklarifikasi setelah Dzaky datang ke kantor nanti siang. Di dalam pikiran Bulan, dia hanya bisa berpikir positif sesuai dengan perkataan asisten Dzaky.
Jika ini merupakan bonus dia selama satu bulan ini telah menyelesaikan beberapa kontrak yang cukup sulit di kerjakan. Sebab tidak semua karyawan bisa mengerjakan banyaknya kontrak dalam waktu kurang lebih 1 bulan.
Perasaan senang dan juga bahagia kini menyelimuti hati Bulan, akan tetapi dia tidak mau terlalu senang terlebih dahulu. Karena dibalik hadiah ini ada pekerjaan yang menumpuk, harus dia selesaikan sebelum waktunya tiba.
Jadi, perlahan Bulan kembali menaruh semuanya di dalam paper bag. Kemudian dia ke ruangan asisten Dzaky untuk meminta izin mengambil berkas di dalam ruangan Dzaky, lantaran di ruangan Dzaky kosong.
Bulan tidak mau ada kesalahan apapun kalau sampai dia nyelonong masuk tanpa seizin asistennya terlebih dahulu.
Setelah berkas berhasil dia ambil, lalu Bulan perlahan mengambil 1 gelas sirup yang menyegarkan tenggorokannya dari Pantry. Kemudian, kembali melanjutkan pekerjaannya sambil memakan roti yang sudah di berikan oleh atasannya untuk sarapan.
Beginilah Bulan setiap harinya, dia tidak pernah sarapan. Akan tetapi, dia selalu membuatkan menu masakan simpel untuk anak dan juga suaminya dirumah.
__ADS_1
Masalah dirinya itu hal yang gampang, dia bisa membeli di luar. Yang terpenting saat dia meninggalkan rumah, Bulan tidak sampai melantarkan suami dan juga anaknya kesayangannya.
...*...
...*...
Tepat jam makan siang, Samudra yang sedang asyik menemani karyawannya bekerja. Tiba-tiba saja dadanya terasa sangat sakit, cuman Samudra tidak menunjukkan rasa itu.
Dia lebih cenderung memasang wajah tersenyum, sambil mengusap dadanya dan berdoa di dalam hatinya.
"Ada apa ini dengan dadaku, kenapa rasanya sesak sekali? Semiga saja tidak ada sesuatu hal yang buruk sedang terjadi. Aku serahkan padamu ya Rabb, tolong jaga semua keluargaku dari apapun yang membahayakan, karena Hamba tidak tahu perasaan apa yang saat ini sedang Hamba rasakan."
"Cuman, semua kembali pada kuasa-Mu. Engkaulah yang mampu mendatangkan mara bahaya dan Engkau pula yang mampu menghilangkan mara bahaya tersebut. Semoga saja tidak ada apa-apa, dan apa yang Hamba rasakan ini hanya sekedar perasaan biasa. Aamin Allahhuma Aamin ...."
Samudra mengelus dadanya beberapa kali, sambil membacakan surah-surah pendek agar bisa lebih membuat hatinya tenang kembali.
Dan, benar saja. Hanya beberapa menit, hati Samudra kembali damai hingga membuat perasaan itu pun mulai menghilang.
Setelah itu, Samudra pun berpamitan kepada karyawannya untuk pulang sebentar guna beristirahat, menunaikan ibadah serta makan siang. Saat semuanya sudah selesai maka, dia akan kembali lagi seperti biasanya yang Samudra lakukan.
Berbeda sama di kantor, Bulan pergi ke kantin untuk makan siang seorang diri. Ya, walaupun ada beberapa yang menyapanya, tetapi banyak juga yang menjauhi dirinya akibat sikap Dzaky yang lebih kepilih kasih.
Selepas makan siang, Bulan kembali ke meja kerjanya berpapasan dengan Dzaky yang baru saja tiba dengan wajah datarnya.
"Siang, Tuan." sapa Bulan, berdiri di dekat mejanya dan sedikit memberikan penghormatan seperti biasanya, itupun kalau keadaan Dzaky tidak membuat Bulan kesal.
"Hem ...." jawab Dzaky dengan deheman. Ketika Dzaky mau melangkah masuk ke ruangannya, tiba-tiba Bulan malah menahannya.
"Tunggu, Tuan. Boleh saya berbicara sebentar, 5 menit saja. Please!" pintanya sambil memohon.
"Hem ...." lagi-lagi Dzaky hanya berdehem, kemudian masuk ke dalam ruangannya.
__ADS_1
Kesal sih, cuman mau bagaimana lagi. Semenyebalkan apapun Dzaky, dia tetap atasan Bulan yang haris di hormati.
Jadi, kalau Bulan mau awet bekerja disini maka dia harus menyetok kesabaran yang penuh untuk menghadapi atasan seperti Dzaky.
Bulan mengikuti Dzaky dari arah belakang sambil menutup pintu. Lalu, Dzaky duduk santai di sofa panjang dalam keadaan stay cool. Sementara Bulan masih berdiri tepat di hadapan Dzaky.
"Ada apa?" ucap Dzaky, cuek.
"Tuan tidak salah minum obat 'kan? Tidak biasanya Tuan cuek seperti ini, bahkan cara berbicaranya pun kaya orang lagi ngirit kuota." jawab Bulan, bingung.
"Terus? Masalah buat dirimu? Tidak 'kan, jadi cepatlah berbicara. Saya tidak punya banyak waktu!" sahut Dzaky sambil menatap arlojinya di tangan kiri.
"Huhh, sabar Bulan, sabar. Aku rasa dia kebanyakan makan es batu, jadi sikapnya dingin banget." gumam Bulan di dalam hatinya.
"Ekhem, jadi begini Tuan ... Ehh, tapi saya enggak di suruh duduk dulu gitu? Masa iya, saya ngomong sambil berdiri. Capek kali Tuan!" ucap Bulan, mengeluh.
"Cepat katakan apa tujuanmu ke sini atau keluar dari ruanganku, sekarang!" cicit Dzaky, menekankan semua kalimatnya dengan wajah datar.
"I-iya, Tuan. Sabar, saya inget-inget dulu, soalnya lupa." ucap Bulan, sedikit ketakutan.
"Sumpah, ini orang sakit kayanya dah. Dateng ke kantor sikapnya berubah parah, jangan bilang dia lagi banyak masalah? Akhh, dahlah biarin aja. Yang penting aku ucapin terima kasih aja, atas semua hadiah bonus yang dia berikan. Supaya kesannya, agar aku tidak kesalahan dan tidak tahu terima kasih. Karena 'kan kita tidak tahu isi hati orang seperti apa. Jadi--"
"Ekhem, kau sudah membuang waktu kurang lebih 4 menit. Sisa waktumu hanya 1 menit!" ucap Dzaky memotong suara hati Bulan.
Degh!
Bulan terkejut bukan main, apa yang dia bilang tadi benar-benar di jadikan patokan waktu untuk dia berbicara pada Dzaky. Padahal itu hanya sekedar basa-basi belaka, agar Dzaky mau memberikan sedikit waktu padanya.
"Hyaaa, jangan Tuan. Baiklah aku akan ngomong sekarang!"
Bulan segera mengutarakan perasaan terima kasihnya kepada Dzaky karena dia sudah memberikan apresiasi padanya. Mungkin, Bulan tidak bisa membalasnya dan hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kebahagiaan serta kesuksesan Dzaky kedepannya.
__ADS_1
Namun, disaat Bulan sedang berbicara. Tiba-tiba saja Dzaky memotong perkataan Bulan, hingga membuatnya melongo tak percaya. Bahkan wajahnya terlihat sangat panik, sampai dia tidak tahu harus menjawab apa lagi.
...***Bersambung***...