Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Keajaiban Luar Biasa


__ADS_3

Namun, jika sudah waktunya mereka harus siap. Mau tidak mau, mereka akan berlajar mengiklaskan semua yang terjadi mulai detik ini. Meskipun berat sekali, akan tetapi mereka tidak mau jika harus memaksakan keadaannya.


Ingat, takdir adalah takdir. Dan kema*tian akan terus menghantui siapapun sesuai sama garis tangannya masing-masing ketika sebelum di lahirkan.


Disaat semua lagi panik karena jam terus berputar akhirnya seseorang datang dengan membawakan kabar gembira untuk keluarga Samudra.


"Tuan, saya sudah menemukan pendonor terbaik untuk Tuan Samudra. Saat ini semua lagi di proses, sebentar lagi Tuan akan segera melakukan operasi yang sangat panjang. Kita doakan saja semoga Tuan Samudra bisa cocok dengan hati pendonor tersebut."


Degh!


Rasa putus asa dan juga keikhlasn mereka ternyata bertimbal balik, disaat semuanya sudah pasrah malah ada keajaiban yang luar biasa.


"Ka-kau serius?" ucap Opa Jerome terkejut.


"Ya, Tuan saya serius. Ini juga berkat Tuan Dzaky. Dialah yang berhasil mencari pendonor untuk Tuan Samudra dengan cepat."


Opa Jerome yang sangat bahagia langsung memeluk orang tersebut, yang tidak lain dan tidak bukan adalah asisten Dzaky.


"Terima kasih banyak." ucap Opa Jerome melepaskan pelukannya.


"Terus dimana Tuanmu itu?" tanya Opa Jerome kembali.


"Tuan lagi ke luar negeri. Dia sedang ada urusan penting buat beberapa hari kedepan. Setidaknya dia telah berhasil menyalamatkan sahabatnya. Jadi dia pasti akan tenang mendengar kabar ni." jawab asistennya, lagi-lagi mendapatkan senyuman dari Opa Jerome.


"Sampaikan rasa terima kasihku pada atasanmu itu, nanti aku akan kirimkan semuanya kepada orang yang sudah menyelamatkan anakku. Kau tinggal berikan saja identitas orang itu padaku."


Asisten Dzaky mengangguk kecil, dan menatap satu persatu keluarga Samudra yang saat ini benar-benar bahagia setelah mendengar kabar baik itu.

__ADS_1


Oma Dena pun langsung memeluk Bulan dan Raka, mereka menangis penuh kebahagiaan. Bahkan tidak menyangka disaat semua mencoba untuk ikhlas, malah Tuhan memberikan jalan untuk membuat mereka kembali bersemangat.


Tak lupa Bulan, Raka dan juga Oma Dena banyak-banyak mengucapkan terima kasih pada asisten Dzaky, agar dia bisa segera menyampaikan pada atasannya itu.


Disaat semuanya sedang terharu, pintu ruangan ICU terbuka bersamaan dengan bangkar Samudra yang di dorong dengan terburu-buru.


Oma Dena yang mau mendekati Samudra langsung di tahah oleh beberapa suster, supaya mereka bisa segera membawa Samudra ke ruang oprasi terlihat dari kondisi Samudra yang semakin menurun.


Semua langsung mengikuti kemana pun Samudra pergi, dimana Opa Jerome membantu Oma Dena mendorong kursi roda menantunya. Apa lagi Raka masih menangis, dia masih belum tenang sebelum mendapatkan kabar bahwa Ayahnya telah selamat dan tidak ada lagi bahaya untuk ke depannya.


...*...


...*...


Kurang lebih sekitar 10 jam lamanya, ruangan operasi masih tertutup rapat. Bahkan lampu pun masih menyala terang, menandakan bila operasi masih berjalan.


Susah payah asisten Dzaky itu memberikan pengertian, akhirnya sedikit demi sedikit mereka pun mulai mengerti dan mencoba untuk mengganjal perutnya walau hanya sesuap dua suap.


Setelah 10 menit, tiba-tiba lampu operasi langsung padam. Pertanda bahwa operasi sudah selesai, semua pun segera mendekati pintu menunggu kabar baik yang mereka katakan.


Ceklek!


Pintu ruangan terbuka bersamaan dengan keluarnya seorang profesor dokter yang menangani khasus besar ini.


"Bagaimana anak saya, Dok?"


"Operasinya berhasil, 'kan?"

__ADS_1


"Ayah pasti sebentar lagi bangun ya, Dok?"


"Suamiku baik-baik aja, 'kan? Dia pasti selamat, pasti. Benar 'kan, Dok?"


Wajah cemas, panik dan penuh kekhawatiran melanda mereka semuanya. Sang profesor pun melepas topi plastiknya sambil tersenyum.


"Syukurlah, sejauh ini operasi Tuan Samudra telah berhasil. Kemungkinan besar 88 persen, donor hati itu bisa bekerja sangat baik. Kita hanya perlu menunggu dan terus mantau perkembangannya untuk beberapa hari ke depan."


"Bila tidak cocok, maka kita harus segera mencari kembali agar bisa mengantikan donor hati yang saat ini. Jadi, mohon untuk bersabar dan teruslah berdoa. Agar ini yang terakhir kalinya Tuan melakukan operasi hati."


"Tuan Samudra akan kami pindahkan beberapa hari di ruangan ICU. Jika sudah sadar maka kami bisa memindahkan ke kamar biasa. Sebelum itu, saya ucapkan selamat kepada semua keluarga yang sudah selalu mendukung pasien. Saya pamit, mau kembali mengurus yang lainnya. Permisi."


Profesor itu pergi meninggalkan ruang operasi bersama asisten khusus. Mereka yang benar-benar bahagia langsung berpelukan satu sama lain. Dimana Oma Dena memeluk suaminya, dan Bulan memeluk Raka.


Tangis bahagia mereka pecah, membuat asisten Dzaky itu pun ikut meneteskan air mata melihat kebahagiaan mereka saat ini.


Tak disangka-sangka, bila Samudra bisa mendapatkan pendonor secepat ini. Seakan-akan membuat mereka sudah berutang budi pada Dzaky.


Seorang suster memanggil Bulan, untuk kembali ke kamarnya karena dia sudah sangat lama berada di luar. Apa pagi sampai detik ini dia belum memeriksakan kandunganya.


Jadi, mau tidak mau Bulan kembali ke kamarnya bersama Raka dan seorang suster. Sementara Oma Dena dan Opa Jerome masih menunggu sampai Samudra di pindahkan kembali ke ruangan ICU.


"Tuan, saya pamit ada urusan yang cukup penting." ucap asisten Dzaky.


"Baiklah, tolong sampaikan kabar baik ini kepada atasanmu. Segeralah kembali, dan temui sahabatnya. Pasti sebentar lagi Samudra akan bangun, dan mencari sahabatnya."


Perkataan Opa Jerome diangguki oleh asisten Dzaky, lalu dia pun pergi meninggalkan rumah sakit menuju suatu tempat untuk mengurus pekerjaan yang belum selesai.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2