Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Raka Menabrak Sesuatu


__ADS_3

"Ya sudah, ayo masuk. Ingat ya, Raka harus gandeng tangan Bunda enggak boleh di lepas dan juga Raka enggak boleh jauh-jauh dari Bunda. Paham?"


"Raka tahu 'kan, Mall ini sangat besar. Jadi akan banyak pengunjung didalamnya, Bunda enggak mau sampai Raka lepasin tangan Bunda. Terus nanti Raka hilang, Raka enggak bisa ketemu Bunda Ayah gimana? Raka mau?"


Raka langsung menggelengkan kepalanya, dia tidak mau sampai hal buruk itu terjadi. Sampai akhirnya tangan Raka memegang erat tangan Bundanya yang membuat Bulan pun tersenyum.


"Laka ndak mau, Bunda. Laka mau pegang tangan Bunda teyus, pokokna Laka ndak mau kehilangan Bunda. Bunda uga jangan lepacin tangan Laka ya, janji!"


"Janji, Sayang. Mana mungkin Bunda ngelepasin tangan Raka, hem? Yang ada Bunda akan selalu menjaga Raka, jadi Raka tenang aja ya."


"Otey, makacih Bunda. Ya udah ayo macuk Bunda!"


Bulan menganggukan kepalanya, lalu mereka perlahan melangkahkan kakinya sambil bergandengan tangan memasuki Mall tersebut.


Wajah keduanya benar-benar sangat ceria, ketika ruangan megah itu terlihat sangatlah indah di pandang oleh mata. Dimana suhu ruangan benar-benar sangat dingin dan menyejukkan, membuat Laka merasakan nyaman berada di sana.


Aroma wangi khas Mall membuat Raka tidak menyangka, kalau dia bisa berada di tempat semewah ini. Padahal dia selalu mendapatkan ejekan dari temannya yang mengatakan, bahwa dia tidak akan pernah bisa datang ke temoat sepeti ini.


Namun, Allahhualam. Semua itu di luar ekspetasi Raka. Yang pada akhirnya dia bisa datang ke tempat seindah ini dengan hasil kerja keras Bundanya, yang bekerja dari pagi ketemu malam.


"Wahh, Bunda. Mallnya bagus banget ya. Anti kapan-kapan agi, kita ke cini boyeh 'kan?" tanya Raka mendongak ke atas menatap wajah Bulan sambil berjalan.


"Iya, Sayang. Insyaallah nanti kita ke sini lagi ya, tapi ke cininya bareng-bareng sama Nenek dan juga Ayah. Asalkan Raka tidak nangis kalau Bunda tinggal kerja. Janji?" sahut Bulan tersenyum, mengusap pipi anaknya.


"Janji, Bunda. Laka tan anak kuat, jadi Laka ndak boyeh cengeng. Apa agi Laka mau acuk cekolah, mayu dong alo Laka nangis aya anak kecil," jawab Raka, dengan wajah polosnya.


"Uhh tututu, ternyata anak Bunda udah besar ya. Jadi tambah sayang deh. Ohya, nanti 'kan kita mau naik tangga yang jalan itu. Raka mau digendong apa mau--"


"Ndak, Laka mau jalan cendili Bunda. Laka udah becal loh, teyus uga Laka udah beyat tahu, maca Laka mau di gendong cih. Hump!"


Laka mengembungkan kedua pipinya dengan sangat kesal, membuat Bulan terkekeh melihat tingkah lucu anaknya. Sesekali ada beberapa pengunjung yang ikut tersenyum, saat melihat tingkah lucu Raka kepada Bundanya.


Tak lama mereka menaiki ekskalator menuju lantai 4, dimana tempat permainan berada. Perlahan, Bulan mengajarkan Raka agar dia bisa menaikinya secara benar. Meski beberapa kali salah, dan hampir terjatuh tetapi Bulan selalu sigap untuk menjaga buah hatinya.


Pada akhirnya mereka telah sampai di lantai 4, mata Raka langsung disajikan dengan pemandangan yang sangat menggiurkan.

__ADS_1


Ada banyak permainan yang membuat Raka benar-benar ingin mencoba semuanya tanpa terlewatkan. Ini kali pertama bagi Raka bisa melihat semua permainan ada di satu lantai yang sangat luas.


Dan benar saja, Bulan langsung mengajak Raka untuk membeli sebuah kartu time zone dengan isi saldo yang penuh.


Semua itu bertujuan supaya Raka bisa mencoba semua permainan yang dia inginkan. Sementara Bulan, akan tetap mengawasi setiap gerak-gerik Raka yang sedang menikmati permainan dari jarak kurang lebih 1 meter.


"Huhh, senangnya aku bisa melihat anakku tersenyum lebar seperti itu. Kapan ya Sayang, kita bisa seperti ini terus. Sebenarnya Bunda udah capek, menjalani kehidupan yang sulit ini."


"Namun, apa boleh buat. Bunda hanya bisa bersabar, setidaknya Bunda tidak lagi melihatmu hanya bisa makan dengan lauk tahu ataupun telur karena, sekarang Bunda sudah bisa membuatmu makan makanan yang mengandung protein tinggi. Supaya kelak, kamu bisa menjadi anak yang kuat, hebat dan juga berprestasi. Aamin ya rabbal'alamin."


Bulan berbicara di dalam hatinya sambil tersenyum dan sesekali melambaikan tangannya pada Raka yang saat ini sedang menaiki kereta api dengan wajah senangnya.


Hampir 2 jam lamanya Raka bermain tanpa rasa lelah, membuat Bulan langsung menghentikannya. Apa lagi jam sudah menunjukkan pukul 1 siang, jadi Bulan mengajak Raka untuk makan terlebih dahulu barulah kembali meneruskan permainannya.


"Raka, Sayang. Udahan dulu yuk mainnya. Ini udah siang, kita makan dulu ya istirahat. Nanti main lagi, kasian cacing di perut Raka udah pada demo minta makan loh." ucap Bulan, dengan nada lembutnya supaya Raka mengerti.


"Peyut Laka lapel cih, Bunda. Cuman anti alo Laka makan teyus kita ndak kecini lagi gimana, Laka ndak mau. Coalna macih ada satu dua tiga---"


"Ssstt, nanti di teruskan mainnya sekarang makan dulu ya. Bunda enggak mau pulang dari sini Raka sakit, nanti bisa-bisa Ayah marah terus enggak bolehin Raka ke sini lagi. Mau? Raka tahu 'kan kalau Ayah udah marah seperti apa, hem?"


"Cepelti cinga arwwghh arwwghh ... Haha ...."


Ya, tahu sendiri. Samudra itu tipekal pria yang jarang sekali marah, cuman kalau sudah marah maka wajahnya akan terlihat sangat menyeramkan dari pada seekor singa jantan.


Bulan menggandeng tangan Raka, lalu berjalan sambil bercanda menuju salah satu tempat makan yang selalu ada di dalam Mall, yaitu KFC.



Sesampainya di tempat tersebut, tiba-tiba Raka mengatakan sesuatu yang membuat Bulan sedikit kebingungan.


"Bun, Laka mau pipis." ucap Raka dengan suara pelannya.


"Aduh, tadi Raka enggak bilang pas kita lewatin toilet. Coba, ayo kita tanya dulu sama Mbaknya dimana kamar mandinya." ucap Bulan dengan wajah paniknya.


"Permisi, Mbak. Kamar mandi di sebelah mana ya?" tanya Bulan.

__ADS_1


"Oh disitu, Mbak. Mbaknya lurus aja mentok, nanti belok kanan." jawabnya sambil mengunjukkan arah.


"Terima kasih ya, Mbak. Ay-- astaga, Raka. Ya Allah, Nak. Kamu ini jangan lari-lari, nanti jatuh loh!"


Bulan memekik keras ketika Raka melepaskan tangannya dan langsung berlari, semua itu karena Raka sudah tidak kuat lagi menahan air kecilnya sendiri.


"Huuaa, Bunda. Laka ndak kuat, anti Laka ngompol gimana tan mal--"


Bugh!


"Aduhh ...."


"Astagfirullah, Raka!"


Raka yang tidak melihat ke arah depan, langsung terjatuh ketika menabrak sesuatu di hadapannya yang sangat keras.


"Kamu, gapapa, Dek? Sini saya bantu!" ucap seorang pria dengan wajah sedikit bersalah.


"Maaf ya, kalau saya sudak membuatmu terjatuh. Apa ada yang sakit?" tanyanya kembali.


Raka berdiri di hadapannya sambil menatap wajah pria itu, yang tidak asing di dalam ingatan Raka.


"Ya ampun, Sayang. Kamu gapapa? Apa ada yang sakit? Luka? Atau kepala Raka sakit? Makannya, baru tadi Bunda bilang jangan lari, 'kan udah jatuh aja."


Bulan langsung mengecek keadaan Raka untuk melihat apakah tubuhnya ada luka ataupun tidak, setelah itu Bulan meminta maaf pada pria tersebut yang tidak sengaja di tabrak oleh Raka.


"Tuan, maafkan anak saya. Dia tidak sengaja menabrak Tuan, soalnya dia sedang kebelet pi--. Loh, Tu-tuan Dzaky?"


Bulan berdiri setelah mengatakan perminta maafnya, lalu menatap pria itu dengan wajah yang sangat terkejut. Bagaimana tidak, saat ini Bulan malah melihat Dzaky selaku atasannya di kantor.


"Kamu lagi? Kenapa sih, enggak di kantor enggak di sini. Selalu saja ketemu kamu terus, bosen saya lihatnya!" ucap Dzaky, ketus.


"Hehh, Tuan. Saya juga tidak mau kali ketemu atasan menyebalkan seperti Tuan. Untung aja ini di luar kantor jadi saya bisa mengeluarkan unek-unek saya, kalau di kantor saya pasti akan banyak diam karena Tuan selalu mengancam saya. Dan akan memecat saya jika saya berani mebantah ataupun melakukan kesalahan!"


Bulan memarahi Dzaky dengan wajah yang cukup menggemaskan, rasanya Dzaky ingin sekali mencubit pipi Bulan. Akan tetapi, dia sadar bahwa Bulan milik orang lain.

__ADS_1


Raka yang tidak kuat lagi menahan sesuatu di dalam tubuhnya langsung menarik Bundanya untuk masuk ke dalam kamar mandi. Sehingga perdebatan mereka pun terhenti, Dzaky pun langsung pergi meninggalkan toilet dengan wajah kesalnya.


...***Bersambung***...


__ADS_2