
Bulan menuang perlahan mie tersebut ke dalam mangkok, lalu kembali menaruh panci di tas kompor dan mengangkat mangkok tersebut untuk menaruhnya diatas piring, agar tidak terlalu panas ketika Bulan membawa ke meja kerjanya.
Entah mengapa, setelah di berikan nasihat itu Bulan tidak terlalu menggubrisnya. Baginya jika dia makan di meja kerjanya, maka itu bisa membuatnya sedikit meringankan pekerjannya. Jadi, Bulan bisa makan sambil bekerja agar semua berkas-berkasnya bisa terselesaikan tepat pada waktunya, tanpa memikirkan efek sampingnya ketika bertemu dengan Dzaky.
Bulan duduk di atas mejanya, lalu mulai menyeruput kuah yang masih terbilang panas dan juga uap dari Indomie yang ngebul dimana-mana.
"Srrupph, akhhh ... Hem, enak banget. Siang-siang makan yang pedes-pedes begini, sayangnya aku lupa enggak membawa kerupuk. Coba aja kalau ada pasti tambah nikmat."
"Lagian juga memangnya apa yang salah dengan Indomie ini? Perasaan semua orang pasti menyukainya, tetapi kenapa kata Mbak OB itu bilang Tuan Dzaky seperti memiliki trauma. Soalnya ketika melihat orang yang sedang makan Indomie dia langsung marah, ada apa ya?"
"Aishh, apaan sih Bulan. Ngapain juga kamu mikirin tentang orang lain, lebih baik fokus kerjakan tugasmu biar cepat selesai terus pulang. Pasti saat ini Raka sangat kesepian tanpa aku, cuman semoga aja dia enggak rewel sama Ibu."
"Kasian juga kalau Ibu harus mengurus Raka sendirian, tanpa Mas Sam dan juga aku. Tahu sendiri Raka, kalau sekalinya nangis pasti dia akan lama berhentinya. Jadi, aku harap Raka tidak seperti apa yang ada di pikiranku saat ini."
Bulan makan sambil bergumam sangat kecil, bahkan nyaris tak terdengar. Lalu, matanya sesekali melihat ke arah komputer dan jarinya pun kembali bermain di atas keybord untuk mencicil pekerjaannya agar bisa selesai tepat waktu.
Suapan pertama, kedua dan seterusnya masih sangat aman. Akan tetapi, ketika suapan yang kesekian kalinya mau masuk ke dalam mulut. Tiba-tiba garpu yang berada ditangan langsung terlepas dan jatuh ke dalam mangkok begitu saja.
"Yakk, ap---"
Bulan terkejut, saat menoleh menatap seseorang yang saat ini telah berdiri di hadapannya sambil mentap tajam. Lagi-lagi Bulan melihat wajah Dzaky yang sangat datar tanpa ekspresi apapun berhasil membuat jantungnya hampir saja berhenti
"Tu-tuan Dzaky? Tu-tuan kok su-sudah balik ke kantor? Bu-bukannya Tuan ada meeting di luar sekalian makan siang? Cu-cuman kenapa Tuan jam segini sudah kembali, bukan seharsnya Tuan kembali sekitar jam 1 atau setengah 2?"
Bulan terkejut bukan main, dia bergegas berdiri dan menatap seseorang yang beberapa menit lalu dia bicarakan. Sudah hampir beberapa kali dalam sehari, Bulan selalu lmencari gara-gara hingga membuat Dzaky benar-benar marah.
Dzaky yang sudah emosi, langsung merampas mangkuk serta piring yang berisikan mie rebus tersebut yang masih cukup penuh dan melemparnya ke lntai.
Prangg!
Semua hancur berantakan diatas lantai tanpa tersisa sedikitpun. Mie yang sangat menggiurkan menjadi tidak lagi sedap di pandang oleh mata, membuat Bulan sedikit kaget.
__ADS_1
Mangkuk, piring semua pecah menjadi beberapa bagian. Dzaky hanya bisa menatap Indomie itu penuh kebencian, sampai akhirnya Bulan berusaha tenang.
Dia mencoba untuk bersikap seolah-olah dia tidak tahu apa-apa, ataupun alasan dibalik marahnya Dzaky pada Indomie tersebut.
"Tu-tuan, a-ada apa ini? Ke-kenapa makananku di buang be-begitu saja. Apa Tuan lupa? Membuang makanan itu tidak sopan, mau suka atau enggak. Setidaknya kita tetap harus memakannya dan bersyukur!"
"Saya ini orang miskin, Tuan. Untuk membeli mie saja harus mengutang sana-sini ataupun kerja serabutan, supaya bisa makan dengan lauk seadabya setiap harinya. Maka dari itu, tepat di jam istirahat saya tidak ke kantin akibat saja tidak memiliki uang yang banyak untuk membelinya. Tidak seperti yang lain, bisa membeli apapun yang dia sukai!"
"Sengaja saya membawa semua ini dari rumah agar saya tidak akan membeli makanan dari luar. Karena bagi saya makan dengan menu sederhana sudah membuat perut menjadi kenyang seharian!"
"Namun, apa daya.Tuan telah mebghancurkan makan siang saya seperti ini! Kalau udah begini, apa yang bisa saya makan!"
Nada Bulan terdengar begitu gemetar dan juga sedikit meninggi, semua itu Bulan lakukan untuk menghindari amukan singa yang lebih ganas.
"Apa kamu tidak tahu peraturan di kantor ini, hahh!"
"Saya tidak masalah kamu mau makan mie apa kek, lauk apa kek, dan sebagainya. Saya tidak peduli, asalkan jangan Indomie. Paham!"
Emosi yang ada di dalam diri Dzaky, benar-benar terlihat begitu menyeramkan. Bulan tidak bisa lagi untuk berkata apa-apa, dia langsung menundukkan kepalanya sambil menangis.
Ternyata memang benar apa yang dikatakan OB tersebut, jika Dzaky akan sangat marah kalau dia mengetahui salah satu karyawannya melanggar peraturannya.
Disini, lagi-lagi Bulan tidak mau mencari gara-gara ketika dia sudah mengerti, bagaimana marahanya Dzaky ketika karyawannya melakukan kesalahan.
Padahal ini hanya perkata Indomie, Dzaky rela ingin memecat karyawannya tanpa berpikir panjang. Apa lagi jika kelak, Bulan kembali melakukan kesalahan. Apakah itu adalah peringatan terakhir yang akan di berikan Dzaky?
Entahlah, ini yang terakhir Bulan melakukan kecerobohan. Dia sudah tidak mau lagi memiliki masalah dengan Dzaky, lantaran Bulan sangat membutuhkan pekerjaan ini.
Sampai akhirnya ancaman dari Dzaky benar-benar keluar, membuat Bulan sudah tidak bisa apa-apa lagi. Dia hanya terus menunduk dan menangis selama Dzaky belum kembali ke ruangannya.
"Sekali lagi saya tahu, kamu melakukan kesalahan, melanggar apa yang sudah di tentutan. Maka, tidak segan-segan saya akan memecatmu secara tidak terhormat!"
__ADS_1
Brak!
Dzaky langsung masuk ke dalam ruangannya sambil membanting pintu dengan kencang, membuat Bulan terlonjak kaget menatap pintu yang sudah tertutup.
"Lain kali jika memang Nyonya masih mau bekerja di sini, tolonglah jaga kepercayaan Tuan. Ikuti apa yang dia mau, meski Tuan seperti itu dia memiliki hati yang cukup baik."
"Hanya saja ada sesuatu yang membuatnya bisa sampai di titik ini, untuk itu saya sarankan jangan pernah mencari gara-gara dengannya kalau Nyonya mau aman bekerja disini!"
Asisten Dzaky berbicara dengan nada datarnya, lalu meninggalkan Bulan di tempat dalam keadaan Bulan yang masih sangat syok. Dia tidak menyangka hanya perkara kecil saja bisa sampai membuat Bulan hampir saja di pecat.
Bulan menghapus air matanya, lalu dia mengambil pecahan beling tersebut secara perlahan. Sampai-sampai tidak sengaja jari telunjuknya terkena pecahan tersebut, dan mengeluarkan cairan merah.
Dzaky yang dari tadi kesal, marah masih tetap memantau Bulan hingga dia menelpon OB untuk segera membersihkan semua itu sekalian mengobati luka yang ada di tangan Bulan.
Bulan terkejut dengan semua itu, ternyata walaupun Dzaky marah dia masih memiliki hati yang baik seperti apa yang dikatakan asistennya sendiri.
Setelah semuanya bersih, Bulan kembali bekerja dalam keadaan perut yang belum terasa kenyang, karena dia baru memakan beberapa suap.
Tanpa di sangka ada sedikit rasa kasihan di dalam hati Dzaky ketika dia membuang makanan lucknut itu, sampai membuat Bulan tidak bisa memanjakan perutnya.
Dzaky segera menelpon asistennya supaya dia memesankan makanan untuk Bulan sebagai pengganti makanan yang sudah dia buang.
Dan benar saja hanya beberapa menit, Bulan menerima makanan yang cukup banyak serta minuman dari salah satu OB.
Bahkan asisten Dzaky pun keluar hanya untuk memberitahukannya jika itu semua atas perintah Dzaky, jadi mau tidak mau Bulan hanya menerimanya saja. Dia takut kalau sampai di tolak, maka Dzaky akan semakin murka padanya.
Disitu Bulan makan dengan perasaan sedikit tenang, sambil mencicil kerjaannya yang terbilang cukup banyak.
Melihat kegigihan Bulan membuat Dzaky di dalam ruangannya merasa sedikit bersalah, akan tetapi dia terlalu gengsi untuk mengatakannya.
Bagi Dzaky ini hanya sekedar atasan dan bawahan, karena dia tidak mau sampai timbul perasaan yang tidak-tidak akibat kebersamaan mereka setiap harinya di kantor.
__ADS_1
...***Bersambung***...