Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Perlakukan Pekerja Layaknya Manusia


__ADS_3

"Hyaaa, jangan Tuan. Baiklah aku akan ngomong sekarang!"


Bulan segera mengutarakan perasaan terima kasihnya kepada Dzaky karena dia sudah memberikan apresiasi padanya. Mungkin, Bulan tidak bisa membalasnya dan hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kebahagiaan serta kesuksesan Dzaky kedepannya.


Namun, disaat Bulan sedang berbicara. Tiba-tiba saja Dzaky memotong perkataan Bulan, hingga membuatnya melongo tak percaya. Bahkan wajahnya terlihat sangat panik, sampai dia tidak tahu harus menjawab apa lagi.


"Dimana berkas itu, apakah sudah selesai? Kalau sudah kau boleh ambil semuanya, dan jika tidak. Maka kembalikan!" ucap Dzaky, yang langsung membuat Bulan ketar-ketir akibat baru setengah berkas yang baru selesai.


"Ma-maaf, Tuan. Se-semuanya belum selesai, baru beberapa berkas saja. Apakah tidak ada waktu tambahan sampai pulang kerja gitu?" sahut Bulan, menunjukkan wajah bingungnya.


"Tidak, saya sudah bilang bukan di dalam isi surat tersebut. Kalau--"


"Baiklah, tidak masalah Tuan. Saya akan mengembalikan semuanya, sekarang. Tapi, maaf untuk rotinya, Tuan bisa potong dari gaji saya aja. Sebentar!"


Bulan pergi dari ruangan Dzaky, untuk mengambil paper bag yang sudah Dzaky berikan. Setelah itu dia kembalikan di atas meja tepat di depan Dzaky.


"Lebih baik saya mengembalikan hadiah pemberian Tuan, dari pada saya menjadi gila atas pekerjaan yang di buru-buru. Saya masih ingin sehat, Tuan. Jadi tolong perlakukan pekerja layaknya manusia, bukan budak. Terima kasih!"


Bulan pergi begitu saja dengan wajah yang sangat kecewa, bukan berarti karena hadiah tersebut. Melainkan dari cara Dzaky yang seakan-akan ingin memporsil semua tenaga Bulan, hanya demi kepentingannya sendiri.


Padahal dari beberapa berkas tersebut, memiliki jangka waktu yang lama. Jika di kesimpulan, berkasi yang saat ini Bulan kerjakan merupakan berkas yang akan di bahas Minggu depan, bukan hari ini ataupun besok.


Jadi, Bulan tak masalah tidak mendapatkan hadiah itu. Yang terpenting dia bisa selalu sehat, agar tidak sampai merepotkan atau menyusahkan suami serta anaknya.


Selepas perginya Bulan, Dzaky langsung terdiam beberapa detik kemudian berteriak di dalam hatinya sambil menunjukkan ekspresi orang kesal.


"Ada apa sih sama gua, kenapa gua bertingkah seolah-olah gua ini Mafia sih!"


"Niat gua memberikan ini, karena gua tidak tega melihat dia sedih karena ponselnya hancur akibat ulah gua yang mengagetkannya. Cuman, kenapa gua malah begini sih, arrrghhh ... Si*al!"

__ADS_1


"Semua ini gara-gara gua ketemu dia sama suaminya dijalan, mana mesra banget lagi. Aaarrghh, kenapa sih sama hati nj*iirr. Bisa-bisanya gua cemburu sama bini orang, ada apa sih Dzaky, Dzaky!"


"Bod*doh kali kau ini, kek enggak ada wanita lain aja sih. Cemburu malah sama bini orang, dasar pekok!"


"Kalau udah begini gimana, hahh? Pasti Bulan marah, apa lagi hadiah dari gua di tolak. Hyaaa, dasar bo*doh, bo*doh, bo*doh!"


"Pokoknya apapun yang terjadi, gua harus bisa bujuk dia. Supaya hadiah yang gua kasih ini tidak sampai di tolak untuk kedua kalinya!"


"Stop, cemburu sama bini orang. Dan stop, memiliki perasaan sama istri orang. Sekarang waktunya gua harus bangkit, cari wanita yang benar-benar bisa gua jadikan pasangan. Supaya gua enggak akan kepikiran Bulan lagi, cukup sampai sini perasaan gua sama Bulan!"


"Jangan sampai gua menghancurkan rumah tangga orang, ingat Dzaky. Lu tuh pria tampan, kaya dan juga pintar. Pasti banyak wanita yang mau sama lu, tinggal pilih aja selelsai. Ya, kali masa gua udah di sekolahin tinggi-tinggi malah jadi pebinor. Enggak etis dong, yang ada harga diri gua jatuh. Iya!"


Dzaky berbicara pada dirinya sendiri dengan nada kesal, sambil menjambak-jambak rambutnya sendiri. Sebenarnya Dzaky bersikap cuek hanya sekedar ingin menjauhi Bulan.


Semua itu karena tidak sengaja ketika Dzaky pulang dia bertemu dengan Bulan dan Samudra serta Raka yang berada di jalan saat pulang ke rumah. Sayangnya, dia tidak bisa melihat wajah suaminya cuman terpokus pada sikap Bulan yang sangat mesra dengan suaminya.


Awalnya Dzaky menuliskan surat itu, sekedar bercanda agar tidak membuat Bulan terbang tinggi hanya sekedar hadiah seperti itu.


Dari situlah Dzaky, kesal. Kenapa bisa perasaan itu terbawa olehnya, padahal Dzaky berharap rasa cemburu itu bisa hilang keesokan paginya. Cuman siapa sangka, saat melihat wajah Bulan. Lagi-lagi dia mengingkat kejadian itu yang membuat hatinya kembali memanas.


Hanya berselang kurang lebih 3 jam, akhirnya Bulan bisa mengerjakan semua berkas yang tersisa dan langsung dia bawa ke ruangan Dzaky.


Tok, tok, tok!


"Permisi, Tuan. Saya mau mengantar berkas!" ucap Bulan sedikit cuek.


"Ya, masuk!" sahut Dzaky yang emosinya sudah mulai stabil.


"Maaf terlambat, ini semua berkas sudah saya bereskan. Apa ada lagi yang harus saya kerjakan hari ini?" tanya Bulan, sambil meletakan beberapa berkas di atas meja kerja Dzaky.

__ADS_1


"Duduk, saya mau berbicara!" titah Dzaky, menatap kursi di hadapannya.


"Maaf, Tuan. Pekerjaan saya masih banyak, jika tidak ada yang penting lebih baik saya per--"


"Saya bilang duduk, ya duduk. Ngeyel banget sih jadi orang!" ujar Dzaky, kesal.


Bulan pun duduk tanpa berbicara, terlihat jelas wajahnya terlihat begitu kesal atas kejadian beberapa jam yang lalu.


"Sebelumnya saja mau minta maaf sudah membuatmu kesal, saat ini saya lagi banyak masalah jadi pikiran saya terbagi-bagi. Untuk itu maaf, kalau kesannya saya sudah melampiaskan semuanya padamu."


"Cuman jujur, ini hadiah untukmu. Saya ikhlas memberikannya sebagai permintaan maaf saya karena sudah membuat ponselmu rusak. Jadi, saya mohon terima ini. Jangan buat saya sedih saat kamu menolak semua ini untuk ke dua kalinya."


"Please, saya mohon. Anggap saja ini hadiah karena kamu sudah bekerja keras, dan juga sebagai permintaan maaf saya. Saya mohon!"


Dzaky mendekati paper bag itu ke arah Bulan membuatnya terdiam, menatap paper bag tersebut sesekali menatap Dzaky.


"Jika dibilang kesal, ya saya kesal. Hanya saja, saya tidak mau memperpanjang urusan karena saya tahu Tuan atasan saya dan saya bawahan. Jadi, apapun itu saya harus menghormati Tuan."


"Namun, saya mohon. Tolong pekerjaan semua karyawan seperti layaknya manusia. Bukan robot ataupun budak, apa lagi Negara kita sudah merdeka. Jadi, jangan sampai sebagai atasan malah menjajah bawahannya sendiri!"


Bulan menjelaskan sesuatu yang sangat mengena di hati Dzaky, bahkan matanya pun sedikit berkaca-kaca.


Selama ini memang dia bersikap seenak jidatnya sendiri kepada karyawannya. Hingga yang ada dipikiran dia hanya kesuksesannya tanpa memikirkan nasip karyawannya sendiri.


Dari situlah mereka ngobrol satu sama lain dari hati ke hati, tanpa adanya emosi. Sampai akhirnya mereka kembali berbaikan, dan Bulan pun menerima hadiah itu sebagai hasil kerja kerasnya selama ini.


Kemudian, Bulan pamit untuk mengerjakan pekerjaannya yang masih menumpuk di layar komputer.


Sementara Dzaky, dia hanya bisa tersenyum menatap kepergian Bulan. Rasanya hatinya begitu tentram dan juga tenang saat Bulan sudah memaafkannya. Tidak segelisah tadi, ketika mengetahui jika Bulan sangat marah padanya atau Dzaky sedikit takut jika Bulan akan membencinya.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2