Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Bunda Sudah Bangun?


__ADS_3

Puluhan tahun mereka hidup bersama mengarungi derasnya kehidupan pernikahan, baru ini mereka di berikan ujian yang sangat dahsyat. Rasanya ingin sekali menyerah, tetapi mereka tidak bisa. Ingin berjuang, mereka pun bingung bagaimana caranya. Sebab mencari pendonor hati tidak semudah ketika mencari donor da*rah.


Itu pun donor da*rah juga masih termasuk susah bila ada pasien yang memiliki darah cukup langka. Sama seperti donor lainnya, karena yang namanya donor itu tidak bisa di dapatkan secara cepat. Harus melalui prosedur yang ada, dan prosesnya pun cukup memakan waktu.


...*...


...*...


5 menit berlalu, Raka kembali bercerita kepada Bulan mengenai kebahagiannya. Raka tidak menyangkan, bahwa dia akan segera mempunyai adik.


"Bunda tahu enggak, Laka itu sebenelnya seneng banget bisa punya Dedek sama kaya teman Laka. Cuman Laka sedih, disaat Laka punya Dedek, Ayah malah sakit. Jadi, Laka bingung. Laka halus senang atau sedih."


"Kalau Bunda sendili gimana? Bunda seneng apa sedih punya Dedek? Kalau Bunda seneng, Laka ikut seneng. Tapi, kalau Bunda sedih. Laka pun sedih.


"Cuman Bunda tenang aja, Laka ingat pesan doktel cantik tadi. Katanya Laka halus jadi anak yang kuat, supaya Bunda sama Ayah juga kuat. Kalau Lakanya cengeng, nanti Bunda tambah cengeng."


"Laka enggak mau kalau Dedek di dalam peyut Bunda kenapa-kenapa. Soalnya doktel cantik juga bilang, kalau Bunda sedih teyus nanti Laka bisa kehilangan Dedek, Laka enggak mau. Laka mau Dedek sehat-sehat teyus di peyut Bunda. Jadi, Bunda enggak boleh sedih-sedih ya. Janji?"


Raka terus memancing Bulan agar dia bisa segera bangun dari tidurnya yang sudah cukup lama, semua itu arahan dari sang dokter. Berbeda sama Samudra, mereka semua belum bisa menengok.


Semua itu dikarenakan keadaan Samudra masih belum stabil. Kemungkinan besok barulah mereka bisa menjenguknya satu persatu, kecuali Raka yang terbilang masih kecil dan di bawah umur.


Namun, bila mereka berusaha meminta izin sekali dua kali agar Raka bisa melihat Ayahnya, kemungkinan bisa. Cuman, waktunya tidak akan bisa selama orang dewasa.


Oma Dena dan Opa Jerome mendengar semua celoteh cucunya benar-benar terharu. Anak seusia Raka harus dituntut menjadi orang dewasa yang harus ikhlas menghadapi ujian, dan juga bisa menjadi sumber kekuatan bagi kedua orang tuanya.


Rasanya hati mereka begitu tersentuh, sampai tak terasa air mata Oma Dena menetes secara perlahan dan langsung di hapus sambil kembali tersenyum.


Oma Dena duduk di sofa panjang, lalu melipat kedua tangan di dada dan pandangan lurus ke arah depan menatap Raka yang duduk di kursi tunggal samping bangkar menantunya. Sementara Opa Jerome, dia duduk dalam posisi menyandar dan tersenyum.


Selang beberapa menit, Raka mulai memegangi tangan Bulan. Kemudian tiba-tiba dia merasa aneh, ketika merasakan adanya pergerakan dari tangan Bundanya.


Mata Raka mulai melotot melihat serta merasakan tangan mungilnya mulai di genggam. Raka langsung reflek menatap wajah Bundanya sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


"Bu-bunda? Bunda udah bangun?" ucap Raka, wajahnya terlihat begitu sumringah ketika melihat Bulan mulai mengerjap-ngerjapkan matanya.


Dengan langkah cepat, Oma Dena serta Opa Jerome pun yang mendengar cucunya memanggil Bundanya. Segera bergegas mendekatinya, menatap wajah menantunya. Mereka tersenyum melihat bila menantunya sudah mulai tersadar.


"Alhamdulilah, Bunda sudah bangun. Laka senang Bunda udah bangun, telima kasih ya Allah."


Raka langsung mengusap wajahnya menggunakan kedua tangan mungilnya, setelah dia mengucapkan terima kasih karena doanya sudah di kabulkan.


"Alhamdulillah ...." ucap Opa Jerome dan Oma Dena secara bersamaan, ketika mata Bulan sudah terbuka secara perlahan.


"A-aku di-dimana ini? Ke-kenapa aku ada di rumah sakit? Bu-bukannya tadi aku lagi ada di acara pesta milik Tuan Dza---"


Degh!


Jantung Bulan terhenti untuk beberapa detik, kemudian kembali bekerja sangat cepat saat dia mulai mengingat kejadian demi kejadian.


Air mata tak sengaja menetes di sudut mata Bulan, setelah dia sudah teringat semuanya tentang penyakit suami tercinta.


"Bunda enggak mimpi kok, Ayah memang lagi sakit. Sekalang Ayah ada di luangan yang banyak alat-alat gitu. Teyus juga Laka dengel dali doktel kalau Ayah harus dapetin apa itu tadi namanya. Hem? Akhh ... Dodol hati. Nah iya itu!"


Lagi-lagi kosa kata yang Raka lontarkan berhasil membuat Bulan menjadi bingung menatapnya. Sementara Oma Dena pun terkejut, sebab beberapa kali dia membenahi cuman Raka selalu saja fokus pada pendiriannya.


"Dodol hati? Ma-maksudnya?" tanya Bulan, menatap mertuanya secara bergantian.


Seakan-akan dia sedang meminta jawaban dari mereka, karena Bulan tahu. Anaknya yang menggemaskan ini, masih polos dan belum mengerti tentang semuanya.


"Maksud Raka, donor hati. Suamimu terkena kerusakan hati, sehingga hatinya tidak bisa berfungsi dengan normal dan harus segera mendapatkan pendonor, bila tidak. Maka ...."


Opa Jerome menghentikan ucapannya, dia tidak tega untuk mengatakannya. Apa lagi dia sangat tahu bila saat ini kondisi Bulan sangatlah lemah.


Jika dia mengatakannya sekarang, sudah pasti itu akan membuat Bulan sangat syok dan menjadi kepikiran. Itulah yang akan membahayakan anak yang ada di dalam kandungannya.


"Bila tidak apa, Pah? Mas Samudra baik-baik aja 'kan? Katakan sama Bulan, Mah, Pah. Ada apa sebenarnya? Bulan bingung, sumpah!"

__ADS_1


Bulan langsung menolah-noleh ke arah anaknya dan juga mertuanya secara bergantian. Dia benar-benar khawatir sama suaminya. Tanpa mereka tahu, ternyata bat penenang yang dokter berikan sedikit membuat Bulan lupa akan kejadian yang tadi terjadi sebelum dia pingsan.


"Eee, a-anu. Eee, i-itu."


"Aduh, Mah. Papah bingung gimana jelasin sama Bulan, Mamah aja yang ngomong. Papah takut!"


Opa Jerome menatap istrinya, matanya benar-benar tidak tega melihat keadaan menantunya. Dia takut, jika salah ngomong itu akan berakibat fatal bagi kesehatannya.


"Pah, ada apa ini? Mah?"


"Raka, apa Raka tahu Ayah kenapa? Terus Ayah kenapa tidak ada di sini? Kemana Ayah?"


Tidak mendapatkan jawaban dari kedua mertuanya, Bulan langsung mengambil alih meminta jawaban pada anaknya. Sebab, Bulan tahu bila Raka pasti akan mengatakannya karena dia anak yang sangat polos dan tidak mungkin akan membohonginya.


"Ayah lagi sakit Bunda, tadi pas di acala Om Dzaky. Bunda sama Ayah belantem, teyus Bunda talik tangan Laka. Kita pelgi dali Ayah, ehh ... Ayah malah jatuh teyus Ayah batuk dan belda*lah. Jadinya di bawa ke lumah sakit. Pas doktel kelual, doktel bilang Ayah halus dapetin dodol hati biyar Ayah sembuh. Kalau enggak, nanti Ayah ...."


Raka pun terdiam, di juga tidak kuat mengatakan kata-kata yang sangat dia benci. Dimana Raka harus berbicara mengenai nyawa sang Ayah.


"Nanti Ayah kenapa, Sayang. Coba ngomong sama Bunda, jelasin yang bener. Bunda bingung, dari tadi Raka sama Opa itu selalu menjelaskannya setengah-setengah. Kenapa enggak langsung aja sih!"


Bulan mengoceh dan nada terdengar sangat kesal, tatapan matanya pun mulai berubah merah di penuhi air mata yang terus mengalir deras.


Sebenarnya Bulan sudah mengetahui bagaimana keadaan suaminya, hanya saja dia berusaha untuk tidak mengingatnya. Bulan berharap bila itu hanyalah sebuah mimpi, bukanlah kenyataannya.


"Raka!" ucap Bulan sedikit membentak dan berhasil membuat Raka terkejut.


"A-ayah bi-bisa meninggal Bunda, Laka enggak mau sampai Ayah pelgi kya Nenek. Laka enggak mau, pokoknya Lak enggak mau. Makannya sekalang Laka mau bantuin Opa cali dodol hati buat Ayah hiks ...."


Duaaarrr!


Hati Bulan sangat hancur mendengar penjelasan anaknya. Ibarat gelas kaca yang jatuh, cuman akan meninggalkan serpihan kaca yang berserakan, tanpa tahu bagaimana caranya kembali menyusun pecahan tersebut.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2