
Disini Jefri sangat bingung, dia tidak tahu harus bagaimana lagi menyikapi sikap Sabrina yang sangat liar ini.
Ada rasa bimbang dan juga keraguan yang membuat Jefri gelisah antara dia harus meneruskan hubungan ini atau menyudahinya. Lalu memilih wanita lain yang lebih baik dari Sabrina, cuman Jefri kembali berpikir bahwa dia harus sedikit lagi lebih bersabar. Siapa tahu Sabrina bisa berubah menjadi lebih baik lagi dari hari ini.
Mereka pergi meninggalkan sekolah itu menuju rumah Kakanya Jefri, dimana Jefri lagi ada urusan sambil berniat ingin memperkenalkan Sabrina kepada keluarga Kakaknya.
Setelah Raka sudah kembali di samping Bi Edoh sambil memakan jajanannya. Bi Edoh yang penasaran dengan sepasang kekasih itu, langsung menanyakan pada Raka dengan pertanyaan yang mudah untuk di mengerti.
"Raka, Sayang. Tadi itu siapa? Apa Raka kenal sama Om dan Tante itu?" tanya Bi Edoh sambil mengelap pipi Raka yang belepotan saus abis makan cilok.
"Tante itu temennya Bunda di kantol, Bi. Kalau Om itu, Omnya Danu. Tanya aja sama Susnya Danu kalau Bibi enggak pelcaya." ucap Raka, menatap Bi Edoh sekilas.
Bi Edoh yang kurang percaya langsung menanyakan pada suster yang mengasuh Danu, dari situlah Bi Edoh merasa tidak khawatir lagi. Bi Edoh cuman takut jika sesuatu hal buruk terjadi pada Raka, karena itu merupakn tanggung jawabnya.
"Bi udah abis, ini uang kembaliannya. Raka mau minum," cicitnya sambil memberikan uang kembaliannya.
Bi Edoh memberikan botol minum yang selalu dia bawa setiap hari Raka sekolah, setelah minum. Raka langsung ikut gabung dengan teman-temannya yang sedang bermain di taman.
Kurang lebih 10 menit, Raka dan teman-temannya kembali memasuki kelasnya masing-masing. Dimana Bi Edoh sama sekali tidak tahu apa yang Sabrina katakan pada Raka, begitu juga Raka. Dia sedikit lupa karena terlalu asyik bermain.
Sampai jam pulang tiba, Raka pulang sambil bergandengan dengan Bi Edoh. Tak lupa Raka pun kembali membeli jajanan sambil pulang dan menaiki angkot menuju rumahnya.
Tepatnya dii dalam angkot, Bi Edoh sedang menatap ke arah depan sesekali melihat Raka yang asyik makan jajanannya. Tiba-tiba saja pertanyaan Raka itu berhasil membuatnya terkejut.
"Bi, pacalan itu apa?" tanya Raka menatap Bi Edoh, yang membuat penumpang lainnya pun ikut menoleh.
"Husst, Raka enggak boleh ngomong gitu. Itu omongan orang dewasa loh," balas Bi Edoh, syok.
"Ya 'kan, Raka enggak tahu. Soalnya Tante itu bilang katanya Bu---"
"Kiri, Bang. Kiri!" ucap Bi Edoh saat sudah sampain tujuannya.
"Ayo, Sayang!" ucap Bi Edoh kembali, sambil sedikit mengendong Raka dan kembali menurunkannya. Lalu, Bi Edoh membayar ongkos dan kembali menggandeng tangan Raka berjalan memasuki gang.
"Raka 'kan masih kecil, jadi enggak boleh ngomong begitu lagi ya. Memangnya Raka tahu pacaran itu dari siapa?" tanya Bi Edoh, penasaran.
"Dari Tante yang tadi ketemu Raka itu, dia bilang---"
__ADS_1
"Hem, ya sudah jangan di dengerin ya. Mereka kan sudah besar, Raka masih kecil. Jadi enggak boleh ngomong pacaran-pacaran lagi, itu enggak baik loh."
"Raka tahu tidak, pacaran itu adalah perbuatan dosa yang di larang oleh Allah. Biarin aja Tante itu mau ngomong apa, Raka enggak usah dengerin. Anggap aja angin lalu, sekarang Raka mendingan fokus aja sama pekerjaan sekolah. Apa lagi tadi Bu guru ngasih PR, 'kan?"
Sepanjang jalan Bi Edoh mencoba untuk mengalihkan pikiran Raka, ya walaupun Raka sedikit kesal karena perkataannya sekalu di potong.
Namun, lama kelamaan Raka pun mulai terbawa suasana dan menceritakan apa yang dia pelajari di dalam kelas bersama teman-temannya dan PR apa yang di berikan guru pada semua muridnya.
Kurang lebih 10 menit, akhirnya Raka sampai di rumah Bi Edoh. Dia langsung bersih-bersih dan mengganti pakaian biasa, yang sudah di siapkan setiap hari oleh Bulan ketika Samudra mengantarkan Raka ke Bi Edoh.
Setelah itu, Raka pun menonton televisi sambil makan bersama dengan suami Bi Edoh. Mereka terlihat sangat akrab, layaknya keluarga.
Apa lagi Bi Edoh dan suaminya memang sangat menyukai Raka, bagi mereka Raka adalah anak yang baik. Jadi, mereka sangat beruntung bisa mengasuh Raka sampai perasaan sayang itu timbul untuk Raka.
...*...
...*...
Hari ini Bulan kerja dengan cukup santai dia tidak lagi di uber-uber waktu untuk mengerjakan semua pekerjaan. Bahkan Bulan juga tidak lagi mendapat ucapan jelek tentangnya dan juga Dzaky, dari mulut Sabrina.
Disaat main pun, Raka beberapa kali kepikiran dengan perkataan Sabrina. Akan tetapi, mau bagaimana lagi. Setiap kali Raka mau nanya, Bi Edoh selalu melarangnya untuk tahu semua itu, baginya kata-kata itu tidak pantas untuk anak seusia Raka.
Dari situlah Raka cuman bisa terdiam, dia memendam rasa keingintahuannya terhadap ucapan Sabrina. Sampai sore hari Samudra menjemput Raka untuk pulang, Raka masih terdiam sebab dia belum lama bangun dari tidur siangnya.
Samudra membawa Raka pulang beserta barang-barangnya, lalu memandikannya dan memberikannya makan. Setelah itu barulah mereka kembali jalan-jalan sore sekalian menjemput Bulan.
...*...
...*...
Kurang lebih jam 9 malam, mereka bertiga baru saja sampai di rumah dan langsung bersih-bersih. Setelah itu mereka kembali makan bersama karena tadi Bulan membeli pecel lele di pinggir jalan.
Hanya saja, saat semuanya lagi asyik menikmati pecel lele yang lezat itu. Dengan polosnya Raka langsung mengatakan sesuatu, yang berhasil membuat kedua orang tuanya tersendak.
"Bunda sebenalnya, Bunda itu kelja apa pacalan?"
Degh!
__ADS_1
Uhukk, uhukk, uhukk ...
Bulan dan Samudra pun langsung mengambil air minumnya untuk mengurangi rasa sakit di tenggorokannya.
"Ma-maafin Laka, udah buat Bunda sama Ayah keselek." ucap Raka, wajahnya terlihat sedih atas kesalahannya yang sebenarnya bukan salahnya juga.
Cuman yang jadi pertanyaan Bulan dan Samudra, kenapa bisa anak sekecil Raka mengatakan hal yang jauh dari pikiran anak kecil yang sebenarnya.
Samudra dan Bulan langsung menatap Raka, yang saat ini menatap mereka dengan tatapan sendu. Seakan-akan mereka sedang mencari tahu, apakah ini pertanyaan murni dari Raka, ataukah ada yang mencoba untuk mengecoh pikiran anak kecil seperti Raka. Entahlah, mereka benar-benar bingung bercampur syok.
"Raka tahu---"
"Udah gapapa, Sayang. Jangan di bahas dulu, kita habisain makannya. Baru nanti kita jelasin pelan-pelan sama Raka. Ingat dia masih kecil, jadi jangan sampai menekannya. Paham 'kan maksudku?"
Samudra mencoba untuk menahan istrinya, saat Bulan ingin sekali menanyakan bagaimana Raka bisa tahu semua itu dan bagaimana semua itu bisa sampai pada Raka. Pasti ada yang tidak beres dengan semua ini, membuat Bulan kembali mengingat ancaman tersebut.
"Ja-jangan bilang semua ini ulah orang itu? Bagaimana dia tau tentang Raka? Apakah orang itu orang terdekatku? Karena semua yang aku lakukan dia selalu saja tahu, tanpa mengikutiku. Mencurigakan!" gumam batin Bulan.
"Sayang ...." panggil Samudra lembut, saat melihat istrinya terdiam cukup lama.
"Eh iya, Mas. Ada apa?" jawab Bulan, sedikit terkejut.
"Makan dulu abisin, nanti baru kita bicarakan." ucap Samudra, tersenyum.
"Iya, Mas. Ya sudah, sini Sayang. Bunda pinggirin dulu ya tulangnya. Biar Raka gampang makannya."
Bulan langsung mengambil alih lele yang ada di piring Raka, dan segera memisahkan tulang belulang agar tidak membuat Raka tersedak tulang yang akan menyakiti tenggorokannya.
"Terima kasih, Bunda." ucap Raka tersenyum.
"Sama-sama, anak Bunda yang tampan. Makan yang banyak ya, habisin. Baru nanti apa yang mau Raka tanyakan, tanyakan sama Bunda dan Ayah. Okay?"
Raka pun menganggukkan kepalanya sambil memasukan satu suapan kedalam mulutnya menggunakan tangan kecilnya sambil mencocol sambal sedikit.
Mereka makan dengan tenang, tanpa berebut dan tanpa berbicara. Sampai semuanya telah selesai, mereka pun duduk sambil menatap Raka yang sedikit ketakutan untuk menanyakan sesuatu yang dikatakan oleh Sabrina.
...***Bersambung***...
__ADS_1