
"Haha, ya ya ndak Bunda. Laka belain Bunda aja, api lepas duyu. Peyut Laka cakit nih, tenggolokan Laka haus uga huhh ...."
"Haus? Ya udah, kita beli minum dulu yuk!"
Bulan menyudahi aksinya, lalu dia mengajak anaknya untuk mencarikannya air minum agar bisa mengobati tenggorokan Raka yang sangat kering.
Namun, siapa sangka. Disaat Bulan sedang duduk menemani Raka minum, tiba-tiba dia mendapatkan 1 panggilan yang membuat wajahnya terlihat begitu khawatir, cemas dan juga sedikit panik.
"Apa, Mas? Ibu sakit? Kok bisa? Terus udah dibawa berobat ke Bidan?" tanya Bulan saat mendengar kabar dari suaminya.
"Syukur deh kalau Ibu udah dibawa ke sana, ya sudah Mas. Gapapa kalau Mas enggak bisa menjemput Bulan sama Raka, nanti Bulan cari kendaraan disini aja buat pulang ke rumah. Kalau udah nemu atau belum, Bulan akan kabarin Mas lagi."
"Udah Mas tenang aja, insyaallah Bulan sama Raka akan baik-baik aja disini. Yang penting Bulan titip Ibu dulu ya Mas, habis ini Bulan pulang."
"Ya, Mas. Waalaikumsalam."
Bulan mematikan ponselnya ketika suaminya sudah selesai berbicara, sementara Raka hanya bisa duduk sambil menikmati minumannya yang terasa menyegarkan di tenggorokannya.
"Bunda, ciapa yang nelpon. Apa itu Ayah?" tanya Raka sambil minum, melirik ke arah Bundanya.
"Ya, sayang itu Ayah. Tadi Ayah kasih tahu Bunda, katanya Ayah enggak bisa jemput kita pulang. Jadi, kita berdua aja gapapa, 'kan? Nanti Bunda cari kendaraan buat pulang ke rumah." jawab Bulan sambil tersenyum, meskipun pikiannya begitu mengkhawatirkan tentang kondisi Ibunya.
"Loh, tadi butannya Ayah yang biyang mau jemput. Teyus kenapa Ayah ndak jadi? Apa Ayah macih cibuk kelja?" tanya Raka, kembali.
Bulan mengelus kepala anaknya dengan mengukirkan senyuman cukup lebar. "Ayah enggak sibuk kok, mana mungkin Ayah kerja sampai jam segini?"
"Teyus, kenapa Ayah ndak mau jemput kita?" Raka terus melontarkan pertanyaan, sampai dia mendapatkan jawaban yang pasti dari Bundanya.
Awalnya Bulan enggan mau bercerita tentang kondisi Ibunya saat ini, karena itu pasti akan membuat Raka menjadi sedih. Cuman mau bagaimana lagi, mau tidak mau Bulan harus menjawab serta membuat Raka supaya bisa lebih tenang lagi.
"Bun, kenapa diam aja? Laka nanya loh!" ucap Raka, cemberut dengan tatapan yang sangat serius.
"Hem, gini loh Sayang. Ayah tadi nelpon ngabarin Bunda, kalau Nenek lagi sakit. Terus Ayah juga bilang kalau Nenek udah dibawa berobat, jadi Nenek baru aja istirahat. Mau tidak mau Ayah harus jagain Nenek. Makannya Ayah tidak bisa menjemput kita." ucap Bulan dengan suara lembutnya sambil mengusap pipi Raka secara perlahan.
__ADS_1
"Nenek cakit, Bunda? Teyus Nenek ndak papah tan? Kata dolter apa? Ya udah ayo Bun, kita puyang cekalang. Laka takut alo Nenek cakit teyus Nenek butuh Laka buat nemenin Nenek bobo, gimana?"
Raka langsung turun dari tempat duduk dalam keadaan begitu panik, sehingga membuat Bulan segera menahannya dan kembali mendudukannya di kursi.
Perlahan Bulan mulai memberikan penjelasan pada putra kesayangannya itu, kalau Neneknya baik-baik saja. Dari situ Raka berusaha untuk tetap tenang sambil menghabiskan minumannya, begitu juga Bulan.
Mereka minum dengan tenang, meski hati dan pikirannya melayang terbang kemana-mana saat memikirkan kondisi Ibu Dara. Setelah semuanya habis dan mereka pun mulai terlihat kembali ceria.
Bulan mengajak Raka untuk pulang, tak lupa dia memberikan lauk berupa ayam enak yang Raka suka untuk bekal mereka di rumah.
Di saat semuanya sudah beres, serta makanan juga sudah berada di dalam tas tentengan yang Bulan bawa.
Mereka pun pergi keluar dari Mall, lalu mencari kendaraan entah itu ojek, gojek, grab atau yang lainnya, asalkan mereka bisa kembali ke rumah dengan selamat.
Akan tetapi, di dekat Mall sana tidak ada satu kendaraan yang mau mengntar Bulan dan Raka pulang. Semua itu, karena mereka tahu.
Jika jalan ke arah desa dimana Bulan tinggal, jalanannya masih ada sebaikan yang rusak terus juga sepi dan lampu penerangan pun tidak seterang ketika berada dipinggir kota seperti ini.
Bulan udah benar-benar putus asa, apa lagi saat ini jam sudah menunjukkan pukul setengah 8. Bahkan mata Raka pun mulai mengantuk, tapi apa boleh di buat.
"Biar saya aja yang mengantar kalian pulang, kebetulan satu arah!"
Bulan yang terkejut mendengar suara itu, langsung berbalik dan menatap seseorang yang sedang berdiri tegak di hadapannya.
"Om Aky?"
"Tuan Dzaky? Kenapa Tuan masih berada disini? Bukannya setengah jam yang lalu, Tuan sudah pulang? Terus kenapa Tuan ada disini?"
Dzaky terdiam mematung, lantaran dia tidak tahu harus menjawab apa lagi. Jujur, kalau boleh Dzaky mengatakan dia pasti akan mengatakan bahwa dia hanya berpura-pura untuk pulang.
Padahal nyatanya, Dzaky selalu memantau pergerakan mereka dari jarak jauh, meskipun tidak terlalu jauh. Akan tetapi, dia masih bisa mendengar percakapan antara Bulan dan Raka walau sedikit samar.
"Mam*pus, kau Dzaky! Gimana ini, kau mau jawab apa, hahh? Enggak mungkin 'kan, kalau jujur aku mengikuti mereka. Pasti itu akan semakin membuat wanita itu besar kepala, apa lagi dia udah punya laki. Yang ada di akan curiga dan bisa menebak jika aku sudah mulai menaruh hati padanya."
__ADS_1
"Tapi, gimana arrghh ... Aku bingung! Kenapa juga aku harus memiliki perasaan sama bini orang sih. Kaya enggak ada wanita lain aja!"
"*Jelas-jelas banyak wanita masih single yang menumpuk di dunia ini, aku cuman tinggal pilih aja selesai. Cuman, kenapa damage dari istri orang lebih menggoda dari pada yang single?"
"Aaargghh, tidak bisa! Pokoknya cukup sampai disini aja perasaan itu. Tidak boleh berlarut, alu takut merusak rumah tangga orang lain! Cukup niatku, saat ini hanya ingin membantu Raka bukan untuk mengincar Bundanya*!"
Dzaky mengatakan semua unek-uneknya di dalam hati kecilnya, sampai dia melupakan ekspresi wajahnya yang terlihat sangat berbeda dari yang Bulan lihat.
"Kenapa wajahnya seperti itu, Tuan? Saat ini Tuan ti-tidak sedang modus dengan saya, 'kan?"
Satu pertanyaan dari Bulan berhasil menyadarkan Dzaky dari lamunannya, lalu Dzaky langsung membantah semua itu dengan wajah yang sedikit merona.
"A-apa kau bilang tadi, hahh? Mo-modus?"
"Hyaakk, enak saja! Kau kira saya ini pria apaan, hahh!"
"Di sini saya hanya kasihan dengan anakmu, lihat saja matanya sudah sangat ngantuk akibat kecapean. Jadi saya hanya berniat ingin memberikan bantuan padanya, kalau tidak ada Raka pun saya ogah kali membantu wanita seperti dirimu!"
"Cuman, kalau kamu menolak tawaran dari saya. Ya sudah, saya juga tidak keberatan kok. Toh, saya menawarkan tumpangan juga, karena kita searah. Soalnya saya mau menginap di kantor, karena ada berkas yang harus saya selesaikan untuk besok pagi."
Dzaky berusaha keras menahan rasa malunya, tetapi Bulan hanya bisa terdiam. Bulan ingin sekali menolak tawaran itu, karena dia takut jika suaminya tahu pasti akan menjadi salah paham.
Namun, apa daya. Raka selalu menarik-narik baju Bulan untuk memintanya segera pulang, karena Raka sudah tidak kuat lagi untuk menahan rasa ngantuknya.
Bulan yang kasihan pada anaknya, segera menggendong Raka. Hanya dengan hitungan detik, Raka tertidur cukup pulas di dalam dekapannya.
"Seriusan enggak mau ikut saya? Ya su--"
"Baiklah aku ikut, tapi jangan besar kepala. Semua ini aku lakukan demi Raka, aku kasian jika dia berada di luar kelamaan seperti ini akan membuat tubuh kecilnya terserang penyakit."
"Apa lagi, dia baru sembuh dan keluar dari rumah sakit 1 bulan lalu akibat terkena DBD. Jadi aku tidak mau, semua itu terulang kembali!"
Dzaky mendengarkan setiap curhatan hati seorang Ibu yang tidak ingin anaknya sampai merasakan sakit, merasa sedikit kasihan. Cuman kembali lagi, dari perkataan Bulan seakan-akan dia tahu jalan pikiran Dzaky saat ini.
__ADS_1
...***Bersambung***...