
Tak terasa sudah hampir pukul 01.30 pagi, mereka berbicara satu sama lain untuk membahas mengenai semua persiapan keesokan harinya untuk memakamkan Ibu Dara. Hingga membuat rasa ngantuk diantara mereka.
Perlahan Bulan tertidur didalam pelukan suaminya tanpa mau melepaskannya. Sampai akhirnya Samudra ikut memejamkan matanya sambil terus memeluk istrinya, lalu tertidur di satu bangkar yang cukup luas.
Keesokan hari, tepatnya pukul 10 pagi. Samudra dan Bulan sudah tiba 2 jam yang lalu, dia hanya menunggu kedatangan anaknya yang beberapa hari ikut bersama Opa dan Omanya.
Semua persiapan sudah dilakukan, hanya tinggal menunggu kedatangan anak mereka untuk melihat sang Nenek yang terakhir kalinya. Setelah itu baru akan di shalatkan dan kemudian di makamkan dengan layak sesuai dengan ajaram Islam.
Tak selang beberapa menit, sebuah mobil mewah baru saja sampai membuat Samudra bergegas menjemput Raka dan menggendongnya.
"Ayah, emangna benel alo Nenek udah puyang ke lumah Allah yang di culga?" tanya Raka, matanya berkaca-kaca.
"Iya, Sayang. Nenek sudah bertemu dengan Kakek di surga, makannya sekarang Ayah mau Raka mencium dan memeluk Nenek untuk terakhir kalinya. Supaya Nenek bisa pergi dengan perasaan bahagia, anggap saja itu sebagai bukti Raka sangat menyayangi Nenek."
Cium dan pelukan dari Raka itu, merupakan suatu hadiah yang sangat indah bagi Nenek. Jadi, Raka mau kan berikan hadiah terakhir buat Nenek?"
Samudra tersenyum dengan wajah yang sedikit sayu, sambil tangannya mengusap wajah lembut anaknya yang sedikit sembab. Bagaimana tidak, hampir semalaman Raka menangis hanya karena dia ingin bertemu sang Nenek
"Ja-jadi yang dibiyang cama Oma, Opa itu benel, Ayah? Belalti Nenek udah ndak bica main cama Laka lagi? Itu altinya Laka cendilian dong, Laka ndak bica bobo lagi cama Nenek. Iya, Ayah?"
__ADS_1
"Asrrghh Laka ndak mau hiks ... Laka cayang cama Nenek, Laka kila ini cuman mimpi kalena Laka cemayen di mimpiin cama Nenek. Wajah Nenek cantik banget, wangi teyus pakai baju putih api di camping Nenek ada cowok gitu."
"Laka ndak kenal ciapa olang itu, api Laka aya pelnah liyat, dimana ya, hem? Arrghh, ndak tahu lupa. Cuman Nenek biyang. Laka halus jadi anak yang pintel ya, Laka ndak boyeh nakal. Nenek titip Bunda cama Laka ya, pokokna Laka halus jadi cowok yang dewasa ndak boyeh cengeng. Teyus Nenek biyang mau pelgi duyu ya, campai ketemu lagi. Gitu, Ayah."
"Aaa, hiks ... Laka mau ketemu Nenek, Laka ndak mau Nenek pelgi. Laka cayang cama Nenek, pokokna Nenek halus cama Laka. Anti tan Laka mau ajak Nenek jalan-jalan, alo Nenek ndak ada teyus gimana? Hiks ...."
Raka menangis meraung di pelukan Samudra yang membuat sebagian orang merasa sedih. Semua itu karena banyak yang tahu bagaimana kedekatan antara Raka dan mendingan Neneknya.
Begitu juga Om dan Tante Samudra, mereka juga ikut bersedih atas kabar dukq yang cukup menggetarkan hati. Dimana Tante Dena memeluk Bulan dan menguatkan dia agar tidak berlarut-larut didalam kesedihannya.
Bulan hanya bisa tersenyum, meski air matanya beberapa kali masih menetes. Ya walaupun tidak separah saat Bulan belum bisa menerima kenyataan dan mengikhlaskan kepergian Ibunya.
"Anak Bunda yang sholeh, harus kuat ya. Nenek sudah bahagia bersama Kakek di surga. Jadi, Raka harus bisa tunjukkan kalau Raka ini adalah cucu Nenek yang paling kuat dan tidak cengeng. Bisa?"
Raka hanya mengangguk dengan air mata yang masih menetes sambil terisak. Setelah itu Bulan menyudahi pembicaraannya, dan membawa mereka masuk ke dalam untuk menemui mendiang Ibu Dara yang sudah terbalut dengan kain putih yang sangat bersih.
Pertama kali Raka melihat Neneknya terbujur kaku, dengan wajah pucat tersenyum dengan pakaian serba putih membuat dia tak percaya.
Matanya kembali berkaca-kaca saat dia tidak tega melihat hidung Neneknya di tutup oleh kapas. Sehingga Raka langsung menatap Ayahnya yang masih menggendongnya dan Bulan yang berada di sampingnya.
__ADS_1
"Ayah, Bunda. Kalau hidung Nenek di tutup cepelti itu kacian, nanti Nenek ndak bica napas loh. Teyus kenapa baju Nenek cepelti lontong begitu? Kenapa Nenek ndak pakai baju yang biaca Nenek pakai, tan itu bagus. Apa agi baju Nenek cuka ada gambal bunga-bungana, api napa cekarang jadi putih ndak ada gambalna?"
"Apa baju Nenek cemuanya udah ndak muat agi, jadi Nenek pakai baju itu. Teyus, kenapa bentuknya aya lontong yang celing Nenek buat? Apa kalena Nenenk cuka lontong, jadi Nenek beli baju itu?"
Kalimat-kalimat polos yang Raka ucapkan membuat sebagian orang merasa tersenyum melihatb sikap lucunya. Akan tetapi, ada pula yang merasa kasihan, ketika anak kecil seperti Raka harus menyaksikan kema*tian Neneknya sendiri, dengan wajah polosnya.
Perlahan Samudra menjelaskan sedikit pengertian agar Raka tidak salah paham sama apa yang dia lihat saat ini. Kemudian Samudra duduk dan menurunkan Raka, dimana Raka langsung menatap wajah Neneknya untuk terakhir kalinya tanpa adanya rasa ketakutan sedikitpun.
"Nenek mayah ya cama Laka, kalena Laka puyangna lama? Maapin Laka ya, Nek. Laka cayang cama Nenek, Laka ndak mau Nenek pelgi. Api Ayah biyang, Alo Laka cedih ndak bica ikhlasin Nenek nanti Allah akan cikca Nenek. Jadi, Laka halus ikhlas Laka ndak papa Nenek pelgi, acalkan Nenek pelginya ke lumah Allah di culga ya ndak boyeh di nelaka."
"Alo anti Nenek calah jalan teyus macuk nelaka, Nenek ndak boyeh cedih ya. Laka akan jemput Nenek dan ajak Nenek pelgi ke curga Allah yang sangat indah. Laka janji cama Nenek, Laka ndak akan jadi cucu yang nakal cengeng lagi."
"Laka uga akan jagain Bunda cama Ayah campai Laka becal nanti. Nenek baik-baik di lumah Allah ya, jangan lupa Nenek makan cama minum obat ya. Biar Nenenk ndak cakit-cakit lagi di cana. Laka cayang Nenek, muuach!"
Ciuman pendarat di kening mendiang Ibu Dara dengan sangat indah, dihiasi eh pelukan hangat dari cucu kesayangannya membuat Bulan tidak kuat melihat keromantisan itu.
Namun, Samudra tetap harus menguatkan keluarganya. Walau dia pun tidak kuat melihat anak seusia Raka bisa menjad pria yang begitu hebat, lebih dari dirinya sendiri.
...***Bersambung***...
__ADS_1