
Disitulah Dzaky langsung meraung-raung menggerutuki kebo*dohannya sendiri di dalam ruangan. Akan tetapi akibat rasa kesalnya Dzaky lupa jika kopi yang baru dia buat masih sangat panas hingga membuat bibir serta lidahnya terbakar.
"Hyaakk, si*al! Aku lupa kalau kopi ini masih panas, huhh huhh. Aaaa, bibirku jadi dower 'kan. Bang*kek!" geram Dzaky sangat kesal sambil menatap bibir dan lidahnya yang mati rasa.
Sementara Bulan malah asyik mengerjakan pekerjaannya sambil minum, tanpa menghiraukan pekerjaannya yang menumpuk di ruangan Dzaky.
Hanya berselang kurang lebih 15 menit, asisten Dzaky yang baru saja istirahat sudah kembali dan langsung pergi ke arah ruangan Dzaky.
"Tuan Dzaky, ada di dalam?" tanya asisten itu, menatap Bulan yang sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya.
"Ada Tuan, mau saya--"
"Tidak perlu, saya sendiri saja!" jawabnya cuek.
Setelah itu asisten Dzaky pun langsung mengetuk pintu ruangan atasannya, sampai terdengar suara sahutan dari dalam ruangan.
Perlahan asisten tersebut masuk kedalam ruangan disaat Dzaky sudah memperbolehkannya masuk ke dalam. Tanpa berlama-lama, asisten itu masuk dan kembali menutup pintunya.
"Ada apa?" tanya Dzaky yang masih fokus pada layar laptopnya.
Asisten tersebut, berjalan lalu berdiri di depan meja kerja Dzaky dengan memberikan sedikit penghormatan. Kemudian langsung mengutarakan suatu berita heboh yang dia ketahui kepada atasannya.
"Tuan, sebelumnya saya minta maaf jika saya sedikit terlambat masuk kantor akibat jalanan sedikit macat. Namun, saat saya tiba ke kantor setelah makan siang bersama istri dan anak saya. Tidak sengaja kuping saya merekam perbincangan antar karyawan kalau Bulan habis menampar 3 karyawan sekaligus di kantin. Tepatnya pada jam makan siang tadi."
Degh!
Rasa fokus di dalam diri Dzaky, seketika teralihkan dan segera menoleh serta menatap kearah wajah asistennya dalam keadaan terkejut.
"A-apa kamu bilang tadi? Bu-bulan menampar 3 karyawan sekaligus? Ko-kok bisa? Memangnya Bulan terlibat masalah apa dengan mereka?" tanya Dzaky, penasaran.
__ADS_1
"Entahlah, Tuan saya kurang tahu. Maka dari itu saya langsung ke sini untuk memberitahu Tuan tentang kabar ini, siapa tahu saja Tuan sudah mengetahuinya lebih dulu."
"Menurut saya, kemungkinan besar sekretaris Bulan merasa lebih berkuasa ketika Tuan selalu membelanya. Sehingga dia bersikap seenaknya pada semua karyawan, tanpa rasa takut di pecat oleh Tuan karena dia berpikir bahwa Tuan tidak akan memarahinya."
Penjelasan yang asistenya berikan membuat Dzaky terdiam sejenak, menyaring semua perkataannya untuk menjadi bahan pertimbangannya.
"Saya rasa tidak, dia tidak seperti itu. Bulan adalah wanita yang jauh dari pemikiran jelek itu. Siapa tahu mereka bertiga yang sudah mencari gara-gara padanya, sehingga Bulan harus bersikap kasar seperti berita yang kau dapat hari ini." jawab Dzaky, segera menyangkal semua pikiran jelek dari isi kepalanya mengenai Bulan.
Asisten Dzaky pun semakin ke sini semakin heran, bahwasanya Dzaky tidak pernah sebegininya membela karyawan disaat banyak karyawan lainnya yang membicarakan isu jelek mengenai orang tersebut.
Perlahan asisten itu duduk, dan sedikit memajukan kursinya guna untuk menatap lekat manik mata Dzaky. Sampai akhirnya membuat Dzaky merasa terkejut, dan juga risih di tatap seperti predator.
"Hyakk, udah berani ya kau menatap atasanmu seperti itu! Mau saya potong gajimu bulan ini, hahh!" tegas Dzaky, dengan wajah kesalnya.
Perkataan Dzaky sama sekali tidak di gubris olehnya, malah asisten tersebut semakin menjadi untuk menatap manik mata Dzaky sangat dalam. Hingga 1 perkataan lolos dari bibirnya, dan membuat wajah Dzaky berubah penuh keterkejutan.
Asistennya tisak bermaksud lantang untuk menanyakan hal yang sedikit pribadi ini. Hanya saja dia sudah tidak bisa menutupi kecurigaannya terhadap sikap Dzaky yang semakin tidak karuan.
"Eee, e-enggak. Ma-mana mungkin saya mencintai bini orang. Ja-jangan ngadi-ngadi, sa-saya ini masih waras ya. Jadi kamu jangan sok tahu deh!" sahut Dzaky, berusaha menangkis semua perasaan di dalam hatinya.
Sebenarnya apa yang dikatakan Dzaky nemang benar adanya, hanya saja Dzaky tidak mau jika sampai perasaannya di ketahui oleh siapapun. Cukup dirinya sendiri yang tahu.
Bagi Dzaky, ini adalah perasaan yang salah karena dia mencintai istri orang lain. Hanya saja perasaan tidak bisa di bohongi, jika memang nyatanya Dzaky tidak bisa lepas dari Bulan begitu saja.
"Tuan, saya ini bukan anak kecil yang Tuan bohongi langsung percaya. Dari tatapan, sikap dan juga penuturan kata yang Tuan lontarkan buat Bulan sangat berbeda. Tidak seperti pada karyawan lainnya."
"Jikalau memang benar Tuan memang mencintainya, maka saya bisa memaklumkan kalau Tuan selalu membelanya dan bersikap melebihi seorang karyawan."
"Saya juga akan berusaha membantu Tuan untuk menghilangkan perasaan itu, dengan mencarikan Tuan seorang wanita yang Tuan inginkan. Bagaimana?"
__ADS_1
Asisten Dzaky memberikan usul agar Dzaky bisa sedikit mengesampingkan perasaannya pada Bulan dan menghadirkan wanita yang akan dia jodohkan oleh atasannya itu.
Dzaky sedikit terkejut atas perkataan asistennya yang begitu berani mengatakan itu semua dengan lancang. Hanya karena ingin menjodohkannya Dzaky pada seorang wanita yang nanti akan menjadi pengganti Bulan dihatinya. Dimana Dzaky sendiri pun tidak berpikir sejauh itu, karena bagi Dzaky kesuksesan adalah nomor utama di dalam hidupnya.
"Yakk, dasar asisten enggak ada akhlak! Bisa-bisanya kau lancang ingin menjodohkan saya, kamu kira saya ini tidak laku apa sampai harus di jodohkan!" ucap Dzaky, tidak terima.
"Bu-bukan begitu Tuan. Ma-maksud saya itu, supaya perasaan Tuan tidak lagi nyangkut sama sekretaris Bulan. Kalau perasaan itu semakin Tuan biarkan, yang ada perasaan Tuan malah semakin mendalam."
"Jika sudah begitu, bisa-bisa Tuan di tuduh sebagai perebut istri orang. Memangnya Tuan mau, kalau isu-isu itu kembali muncul dengan menjelekkan nama Tuan?"
"Bahkan kemarin saja ada isu, Tuan ini merupakan simpenan sekretaris Bulan. Lantas kalau sampai ada yang tahu perasaan Tuan ini, apakah tidak akan lebih panjang urusannya?"
Perkataan asisten Dzaky memang ada benarnya juga, karena belum lama ini Dzaky dihadapkan dengan isu yang cukup menggemparkan isi kantornya.
Namun, Dzaky yang berusaha untuk menangkal semua perasaan itu hanya bisa membantah semua perkataan asistennya dengan perasaan kesal.
"Ckkk, dahlah kau jangan sok tahu dengan hidup dan juga dunia percintaan saya. Sekarang lebih baik kau cari informasi yang failed, apa yang terjadi pada Bulan dan ketiga karyawan di sini. Jika sudah, langsung beritahu saya secepatnya. Paham!" tegas Dzaky, segera kembali mengalihkan tatapannya ke layar laptop.
"Baik, Tuan. Saya akan segera mencari tahu apa yang terjadi dengan mereka, tetapi apakah Tuan masih bersedia untuk saya carikan--"
"Sekali lagi kau berbicara seperti itu, maka hari ini adalah hari terakhirmu bekerja menjadi asisten pribadiku!"
Degh!
Mendengar ucapan Dzaky yang penuh keseriusan itu membuat asistennya langsung bergegas untuk meninggalkan ruangan demi keselamatan hidupnya.
Dia tidak mau jikalau Dzaky sampai hilaf memecatnya, maka tamatlah riwayatnya sekarang juga. Bisa-bisa dia akan kehilangan pekerjaannya dan tidak bisa lagi menafkahi keluarganya dengan gaji yang Dzaky berikan setiap bulannya.
...***Bersambung***...
__ADS_1