
Perlahan sang dokter berdiri menatap Oma Dena yang dari tadi selalu penasaran sama kondisi kandungan menantunya. Karena, Oma Dena sangat tahu jika tidak semudah itu untuk membuat Raka mengerti sama keadaan saat ini.
Hanya Samudralah yang bisa membuat Raka mengerti oleh semuanya, sama halnya seperti Bulan. Terkadang dia juga bisa membuat Raka mengerti, tetapi terkadang dia pula suka gagal untuk memberikan pengertian sesuai dengan bahasa anak kecil.
"Dok, bagaimana dengan kandungannya apakah baik-baik aja?" tanya Oma Dena, menatap penuh keseriusan.
"Sejauh ini semuanya baik-baik saja, Nyonya. Ibu dan anak yang ada di dalam kandungannya juga sehat, hanya saja Nyonya Bulan harus istirahat total karena kandungannya cukup lemah. Bila dipaksakan, itu akan berakibat fatal untuk janinnya yang masih rentan keguguran, lantaran usia kandungan Nyonya Bulan baru memasuki 3 Minggu lebih."
Sang dokter tersenyum menatap Oma Dena. Ya walaupun belum sepenuhnya keadaan Bulan di nyatakan sehat, tetapi itu malah semakin membuat Oma Dena merasa takut. Apa lagi dalam keadaan seperti ini, tidak mungkin kalau Bulan tidak kelelahan ataupun setres.
Namanya juga seorang istri, pasti dia akan memikirkan tentang keluarganya lebih dulu barulah dirinya. Cuman, Oma Dena sedikit pusing. Dia tidak ngerti, bagaimana caranya membuat Bulan supaya mengerti kalau dia harus mengutakan anak yang saat ini ada didalam kandungannya
Jika untuk masalah Samudra, semua lagi di pikirkan bersama bagaimana baiknya. Bahkan Dzaky pun serta asistennya sedang berusaha menghubungi rumah sakit dalam negeri ataupun luar negeri, hanya sekedar mencarikan donor hati untuk Samudra.
"Lalu, bagaimana dengan kondisi menantuku sendiri?" tanya Oma Dena, kembali.
"Untuk Nyonya Bulan sendiri, saya sudah memberikan obat untuk dia lebih panjang lagi beristirahatnya. Tenang saja, itu aman bagi kandungannya."
"Kemungkinan besar, 3 atau 5 jam lagi dia akan tersadar. Sebisa mungkin saya meminta pada kalian semua untuk memberikan pengertia pada Nyonya Bulan, agar dia bisa menjaga anak yang ada di dalam kandunganya."
"Ya, memang saya tahu semua ini berat. Apa lagi Nyonya Bulan mengandung disaat yang kurang tepat, cuman mau bagaimana lagi. Ini sudah takdir yang Allah berikan, jadi kalian harus bisa memberikan semangat padanya. Terutama Raka, ya Sayang."
Dokter tersebut mencubit kecil pipi Raka sambil menundukkan kepalanya. Dimana Raka harus sedikit mendongak untuk menatap wajah dokter cantik itu.
"Raka harus bisa jaga Bunda dan juga adik, selama Ayah masih sakit. Pokonya Raka harus semangatin Bunda terus sampai Bunda bisa tersenyum lagi ya, lakukan semua itu demi adik Raka. Memangnya Raka mau bila ada sesuatu hal buruk terjadi sama adik, hem?"
Raka langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, karena dia tidak mau kalau ada sesuatu hal buruk terjadi pada adik atau kedua orang tuanya. Termaksud orang-orang yang Raka sayangi.
__ADS_1
"Nah, maka dari itu. Dokter minta, Raka jaga Bunda sesuai sama janji Raka tadi ya. Raka harus kuat, Raka harus bisa jadi superhero buat Bunda dan juga adik. Jika nanti Ayah sembuh, pasti Ayah bangga banget sama Raka. Jadi, Raka tidak boleh cengeng. Okay?"
"Okay, Doktel. Telima kasih doktel udah nyemangatin Laka. Laka janji, Laka akan jaga Ayah, Bunda dan juga Adik. Kalena Laka sayang sama mereka semua. Laka juga sayang sama doktel, kalena dokter udah nolongin Bunda. Telima kasih."
Dokter itu pun tersenyum lebar, lalu menganggukan kepalanya melihat Raka sudah bisa tersenyum. Meski, baru sedikit setidaknya Raka tidak menangis seperti tadi.
Setelah itu sang dokter pun berpamitan untuk pergi mengecek pasien lainnya, sementara Bulan akan segera di pindahkan di kamar yang lebih nyaman lagi.
Kurang lebih 30 menit, kini Raka dan Oma Dena sudah berada di dalam kamar Bulan yang baru. Mereka duduk di dekat bangkar Bulan sambil menatap wajah Bulan yang sangat pucat.
Sementara Dzaky dan asistennya, mereka pergi ke ruangan ICU dikarenakan Samudra sudah di pindahkan ke ruangan khusus.
...*...
...*...
...Di depan ruangan ICU....
Apa lagi sang dokter sudah mengatakan bahwa, dia tidak bisa memastikan berapa lama lagi Samudra bisa bertahan tanpa adanya donor hati.
Jadi, mau tidak mau. Bagaimana pun caranya mereka harus tetap semangat berusaha mencari pendonor sampai ke ujung dunia.
"Semua rumah sakit di dunia ini sudah saya kirimkan email, serta beberapa prosefor dokter pun sudah berhasil saya hubungi. Mereka juga siap untuk membantu kita, saat mereka telah menemukan donor yang cocok. Cuman kendalanya hanya satu, Tuan."
Dzaky dan Opa Jerome langsung menoleh menatap asisten itu yang saat ini duduk di sebelah Dzaky dengan tatapan berbeda.
__ADS_1
"Apa?" tanya Dzaky.
"Semua itu harus melalui antrian dan yang saya ketahui saat ini antrian pendonor sangatlah panjang. Bahkan nama Tuan Samudra baru terdaftar di urutan nomor ke 10522. Maka dari itu, kita tidak bisa mengandalkannya. Lebih baik kita cari sendiri, saya yakin pasti ada yang bersedia kok."
Apa yang dikatakan asisten Dzaky memang benar adanya. Cuman yang membuat mereka tidak habis pikir, kenapa bisa asisten Dzaky semudah itu mengatakannya tanpa memikirkannya lebih dulu.
Pada akhirnya, ucapannya itu sedikit memancing emosional yang ada di dalam diri Opa Jerome yang sekarang sedang dilanda kebingungan.
"Bagaimana mungkin kita bisa melakukannya sendiri, itu sama saja dengan perbuatan ilegal! Bahkan kita mau cari kemana pendonor hati, hahh?"
"Tidak akan ada manusia di muka bumi ini yang akan mau mendonorkan hatinya ketika dia masih hidup. Semua pendonor itu kebanyakan di lakukan ketika orangnya sudah meninggal dunia, kemudian semasa dia masih hidup dia sudah bersedia kalau organ tubuhnya di berikan pada orang yang lebih membutuhkan. Paham, kau!"
"Sumpah, asistenmu ini membuat darah tinggiku kumat, Dzaky! Tolong suruh dia diam, bila dia sama sekali tidak memberikan solusi! Bukannya menolong anakku, dia malah ingin menjebloskanku ke dalam penjara. Dasar tidak berguna!"
Asisten Dzaky hanya menatap sinis ke arah Opa Jerome, sebenarnya dia belum selesai menjelaskan semua usul yang dia sedang pikirkan saat ini.
Namun, Opa Jerome yang salah pengertian langsung saja menolak mentah-mentang semua ide yang dia berikan padanya.
Sementara Dzaky menatap tajam ke arah asistennya sendiri, karena baru kali ini asisten pribadinya melakukan kesalahan besar tentang memberikan solusi.
Padahal selama ini Dzaky selalu mengandalkannya untuk membantunya mencarikan solusi atas semua masalahnya. Entah mengapa, kali ini Dzaky benar-benar di buat jengkel dengan sikapnya.
Disaat keadaan genting seperti ini dia malah memberikan solusi yang lebih menyesatkan, dan membuat Dzaky langsung meminta maaf pada Opa Jerome atas kesalahan asistennya dalam hal berbicara ataupun memberikan solusi.
Etts, jangan salah. Saat Dzaky sudah meminta maaf kepada Opa Jemore, asisten itu langsung kembali membuka suara yang berhasil membungkam mulut Dzaky dan Opa Jerome.
Mereka berdua langsung terkejut dan tetap berusaha untuk mendengarkan saran dari asisten itu yang cukup panjang. Sampai akhirnya mereka menyetujuinya dan siapa sangka. Dzaky serta Opa Jerome malah meminta maaf padanya.
__ADS_1
Lantas saran atau solusi apakah yang di bicarakan oleh asisten Dzaky? Kenapa dia bisa merubah keadaan secepat itu, sampai berhasil membuat atasannya menjadi bangga. Tak lupa disertai pula dengan permintaan maaf yang jarang sekali dia dengar dari mulut atasannya sendiri.
...***Bersambung***...