
Perlahan tangan kanan Bulan terangkat, lalu jarinya membentuk huruf V yang dia arahkan di kedua bola matanya beberapa kali dengan pergerakan yang cepat.
Asisten Dzaky cuman bisa menelan air liurnya secara kasar, lantaran dia tidak menyangka kalau marahnya Bulan itu lebih ganas dan seram dari atasannya sendiri.
Namun, tanpa Bulan sadari semua tingkahnya bersama asisten itu terbaca oleh Dzaky, saat sudut matanya selalu melihat pergerakan mereka di dalam lift depannya.
"Ekhem, beraninya cuman di belakang. Bagian dari depan aja cengengesan, dasar wanita!" sindir Dzaky, yang masih setia menatap ponselnya.
Mendengar suara Dzaky membuat Bulan langsung terdiam, dia berpura-pura untuk membetulkan hijabnya yang masih rapi.
Selang beberapa menit tak lama pintu lift terbuka, membuat mereka segera keluar berjalan ke arah pintu keluar.
Ada banyak pasang mata yang melihat ke arah Bulan, mereka menatap tidak suka jikalau Bulan berjalan sambil berdekatan dengan Dzaky. Itu membuat mereka semakin iri karena Bulan merupakan karyawan kesayangan Dzaky.
Ya, walaupun mereka tidak suka. Mereka pun tidak berani membantah, sebab mereka masih sayang banget pada pekerjaannya, dan tidak ingin menjadi pengangguran.
Saat ini Bulan dan juga Dzaky sudah berada di dalam mobil asistennya. Yang mana, Dzaky duduk di belakang dan Bulan di depan bersama asisten Dzaky yang sedang mengemudikan mobilnya.
"Tuan, kita mau makan siang di Restoran mana?" tanya asistennya sambil melihat Dzaky dari kaca spion di atas kepalanya.
"Kau, ada spil Restoran yang enak di sini?" ucap Dzaky, melirik ke arah Bulan.
"Saya kurang tahu Tuan, karena kita biasanya makan di Restoran pinggir kota. Sekalian meeting sama klien di luar kantor, jika tidak mungkin kita hanya memesan makanan dari luar." jawab asistennya dengan sangat percaya diri.
"Ckk, bukan kau. Tapi dia!" ucap Dzaky, menekankan kalimatnya sambil melirik ke arah Bulan.
Asistennya melihat arah lirikan Dzaky kepada Bulan dari kaca spion atas, membuat dia langsung mengalah. Dia kira, Dzaky sedang bertanya padanya.
Namun, nyatanya Dzaky malah bertanya pada wanita yang sedari tadi terdiam dengan wajah kesalnya sambil melipat kedua tangan dan menatap ke arah kaca sebelah kiri.
"Suutt, suutt ... Eheyy, kau ditanyain Tuan Dzaky tuh. Bukannya di jawab malah diem aja, mau gajimu di potong!" ucap asisten Dzaky, sedikit berbisik kecil.
__ADS_1
Dzaky yang sedang duduk santai sedikit kesal melihat tingkah Bulan yang begitu menyebalkan, sudah jelas-jelas dia bertanya padanya. Akan tetapi, Bulan malah diam aja tanpa bersuara sedikitpun.
Bulan perpelahan menoleh kearah Dzaky, menunjukan wajah cueknya, dan berkata. "Tuan nanya saya? Perasaan Tuan tadi panggilnya kau, bukan nama. Jadi itu bisa untuk siapapun 'kan?"
"Berbeda jika Tuan memanggil seseorang dengan namanya. Baru orang yang dipanggil itu akan menjawab pertanyaan tersebut. Sampai sini paham, Tuan Dzaky yang terhormat!"
Bulan kembali ke posisi awalnya yang duduk dalam keadaan kesal. Sementara asisten Dzaky yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya, karena cuman Bulan yang berani melakukan ini pada Dzaky.
"Ckkk, yayaya. Saya salah, saya minta maaf!" ucap Dzaky berhasil membuat asistennya terkejut dan langsung mengerem mobilnya secara mendadak.
Ciiiitttt!
Bugh!
Arrrghh ...
Dzaky yang sedang duduk menyantai seketika kepalanya terbentur oleh kursi yang ada di depannya cukup keras, sehingga membuatnya memekik keras sambil memegangi dahinya.
"Aarrghh, dasar asisten si*alan. Bisa-bisanya kau berniat ingin mencelakakan atasanmu sendiri, punya nyali berapa, hahh!" pekik Dzaky, kesal.
"Hyakkk, amit-amit dah 7 turunan. Jangan sampai, jangan sampai!"
Bulan berbicara dengan nada sangat kesal menatap tajam ke arah asisten Dzaky, sambil mengetuk-ngetukkan tangannya ke arah dasbor berulang kali.
Sementar asisten itu hanya terdiam mematung, terlihat jelas kalau dia begitu syok ketika mendengar perkataan Dzaky yang sangat langka.
"Masih mending lupa ingatan, bagaimana jika gegar otak, hahh? Kau mau tanggung jawab, jika saya harus menghadapi kema*tian lebih cepat!"
Dzaky langsung memarahi asistennya sambil melirik Bulan, suara bariton itu berhasil membuat asistennya tersadar dan sedikit penuh ketakutan.
"Ma-maaf Tuan, sa-saya tidak sengaja. Sa-saya cuman terkejut ketika mendengar secara langsung, kalau seorang CEO dari Perusahaan terkenal pertama kalinya mengatakan permintaan maafnya pada seseorang tanpa merasa gengsi seperti biasanya."
__ADS_1
"Yang saya tahu, selama ini Tuan tipe pria yang sangat gengsi untuk mengatakan maaf kepada siapa pun orang. Bagi Tuan, semua yang Tuan lakukan adalah benar. Jadi, Tuan tidaj sedikitpun merasa salah. Walaupun salah Tuan tetap akan masa bodo, karena bagi Tuan itulah yang benar."
Degh!
Perkataan asisten itu mampu membuat Dzaky terdiam mematung dalam keadaan wajah yang mulai memerah. Sedangkan Bulan, dia yang baru saja menyadari itu semua pun terkejut. Dia tidak menyangka, kalau Dzaky menurunkan gengsinya hanya demi meminta maaf padanya.
"Se-seriusan tadi Tuan Dzaky meminta maaf padaku? Jika benar, itu tandanya momen yang sangat langka, bukan? Astagfirullah, kenapa hatiku malah merasa senang. Seakan-akan aku telah berhasil menaklukkannya, huaa ... Tidak, tidak, tidak, aku tidak boleh seperti ini!"
"Ingat, dirumah ada suami dan juga anakmu yang masih kecil. Jadi, jangan buat mereka kecewa karena kepercayaannya kamu khianati. Paham!"
Bulan berbicara di dalam hatinya sambil menangkis semua pikiran serta perasaan yang tidak karuan. Kemudian Dzakynyang sudah ke palang bingung dan sangat malu, segera menyuruh asistennya kembali melajukan mobilnya menuju Restoran biasa
"Cepat jalan, jangan buang-buang waktu! Jika perutku sudah sakit, maka akan aku pastikan biaya rumah sakitku akan kau tanggung ke umur hidupmu!"
Degh!
Lagi dan lagi, Dzaky terus mengancam asisten itu dengan tujuan supaya dia segera menjalankan mobilnya agar suasana tidak semakin cangung.
Tanpa berlama-lama lagi, asisten itu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dalam kondisi di sunyi tanpa sedikitpun terdengar suara obrolan.
30 menit berlalu, akhirnya mereka sampai dan langsung turun dari mobil memasuki Resto tersebut.
Perlahan kedua kaki mereka langkah mencari tempat ternyaman untuk mereka bertiga. Asisten Dzaky, menemukan tempat yang sangat nyaman dan tidak terlalu ramai oleh pengunjung. Dimana tempat itu berada di sudut sebelah kanan benar-benar di pojokan.
Mereka duduk berhadapan di meja bundar, rasanya Bulan benar-benar sangat canggung ketikan harus di hadapkan oleh 2 pria tampan sekaligus.
Asisten itu mengangkat salah satu tangannya guna memanggil pelayan untuk membawakan menu makanan yang akan mereka pilih.
Dzaky memilih lebih dulu, kemudian asistennya yang disamakan dengan pesenan atasannya. Lalu, saat Bulan melihat menu tersebut dengan harga yang mahal, rasanya dia ingin sekali meninggalkan tempat itu cuman sayang. Tidak bisa, karena jika dia kabur maka gajinya tidak akan selamat.
__ADS_1
Bulan yang bingung memilik menu apa, langsung menyamakan semuanya pada Dzaky dan juga asistennya. Tak lupa Dzaky meminta sebuah cake rasa coklat untuk pencuci mulut mereka, agar bisa lebih memanjakan lidahnya dengan makanan yang manis-manis.
...***Bersambung***...