Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Kakak Mau Lihat Ayah!


__ADS_3

"Hehe ... Maaf, Kakak sayang. Bunda bercanda kok, Bunda cuman lagi seneng aja bisa lihat Ayah. Bisa bertemu Ayah, semoga aja habis bertemu sama kita. Ayah bisa bangun lagi ya. Aamiin Allahhumma Aamiin ...."


Raka langsung menyahuti doa Bulan, kemudian Bulan kembali meneruskan pembicaraannya. Sementara Raka hanya terdiam karena dia sudah banyak berbicara, dan sekarang giliran Raka memberikan Bulan waktu untuk bercerita pada suaminya.


Raka hanya menyimak, mendengarkan dan ikut bahagia ketika Bundanya mencium tangan Ayahnya sambil perlahan berdiri menciup kening suaminya.


Di saat mereka sedang bercerita begitu serunya, tiba-tiba seorang suster datang untuk menjemput mereka kembali ke kamar. Rasanya waktu cepat sekali berlalu, membuat mereka harus menyudahi pertemuan singkat ini.


Berat sekali rasanya jadi Raka dan Bulan untuk meninggalkan Samudra. Cuman mau bagaimana lagi. Ini sudah peraturan rumah sakit, setidaknya Bulan dan Raka sudah bisa bertemu dengan Samudra.


Namun, sebelum mereka pergi. Raka meminat sang suster untuk membantu menggendongnya agar Raka bisa mencium wajah Ayahnya, begitu juga Bulan. Dia berdiri kembali dengan hati-hati, lalu berpamitan serta mencium wajahnya.


Setelah itu, mereka pun keluar dari ruangan Samudra kembali ke kamar Bulan. Dimana Oma Dena dan Opa Jerome sudah menunggu di kamar untuk mengajaknya makan bersama.


"Assalammualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Gimana, Sayang. Udah ketemu Ayah? Terus gimana, seneng?"


Oma Dena tersenyum menatap Raka dan Bulan secara bergantian yang baru saja masuk ke ruangan


"Aaa ... Raka seneng banget Oma, tadi juga Raka bisa cium Ayah cuman di gendong suster hehe ... Semoga aja habis ini Ayah bisa bangun."


Raka langsung berlari memeluk Oma kesayangannya, meskipun dia menyebalkan cuman Raka sangat sayang padanya. Sama seperti almarhum Neneknya.


"Aamiin ...."

__ADS_1


Semuanya langsung mengaminkan harapan serta doa Raka. Karena itu juga harapan mereka, apa lagi sampai detik ini belum ada kabar mengenai pendonor untuk Samudra.


Padahal Dzaky, asistennya dan juga Opa Jerome sudah membuat sayembara itu. Mulai dari media sosial, koran dan juga televisi. Semua berlomba-lomba sedang memberitakan soal itu, membuat media ramai dengan pemberitaan hadiah yang sangat besar.


Namun, tidak ada satu pun yang menghubungi mereka. Hanya ada beberapa orang yang memanfaatkan sayembara itu. Untungnya, semua khasus ini atas bantuan pihak berwajib. Jadi semua itu harus melalui prosedur terlebih dahulu.


Bulan sudah berada diatas bangkarnya, dibantu oleh sang suster. Dan Raka masih berbicara tentang apa saja yang mereka kasih tahu kepada Ayahnya.


Sang suster segera berpamitan, setelah mengetahui Bulan sudah aman berada di tempatnya tanpa merasakan keluhan apapun.


Sehabis itu mereka makan bersama sambil mengobrol sesekali tertawa, ketika melihat tingkah lucu Raka yang sudah mulai posesif kepada Bundanya. Biasanya sang suami yang akan lebih posesif pada istrinya ketika sedang hamil, tetapi ini malah sang anak.


Mungkin karena disini Raka benar-benar berusaha keras agar terlihat untuk menjaga Bunda dan adiknya, selagi sang Ayah masih dalam keadaan koma.


Di saat mereka baru memakan makanannya beberapa suap, sudah di kejutkan dengan kedatangan seorang suster yang terlihat terburu-buru untuk menyampaikan pesan penting kepada keluarga Samudra.


"Permisi Tuan, Nyonya. Maaf mengganggu waktunya, ke datangan saya ke sini ingin memberitahu kepada kalian semua, bahwa kondisi Tuan Samudra sedang tidak baik-baik saja. 2 menit lalu, Tuan mengalami kejang-kejang dan juga hidung serta mulutnya keluar da*rah."


Tuan bisa tetap bertahan atau tidak?"


"Secara melihat kondisi Tuan saat ini benar-benar buruk dan harus segera melakukan transplatasi hati. Jika tidak maka keadaan Tuan Samudra akan semakin memburuk dan bisa menyebabkan kema*tian."


Mendengar kabar menyedihkan itu membuat mereka semua langsung terkejut. Alat makan yang ada di tangannya semua terjatuh serentak, begitu pun Raka. Walau dia masih kecil, akan tetapi mendengar kondisi Ayahnya kembali drop langsung saja menangis sambil berteriak.


"Ayaaaahh!"


"Ma-mas Sa-sam?"

__ADS_1


"A-anakku?"


Wajah mereka terlihat sangat syok, mereka tidak menyangka kalau Samudra akan mengalami drop seperti ini. Padahal beberapa menit lalu, dia baik-baik saja setelah di jenguk oleh anak dan juga istrinya.


Cuman, kenapa sekarang Samudra malah mengalami drop? Apakah penyakit itu sudah semakin parah? Lantas mereka harus menemukan pendonor secepat itu dengan cara apa? Bahkan dari sayembara itu pun belum ada yang rela menjadi pendonor.


Semua orang tahu sangat tahu. Menjadi seorang pendonor itu memiliki resiko yang sangat besar, tidak asal sembarang orang bisa mendonorkan apa yang mereka miliki di dalam tubuhnya.


"Opa, Oma, Bunda! Kakak mau lihat Ayah, Kakak mau ketemu Ayah sekarang. Ayo!"


Raka berteriak dalam keadaan panik sambil menangis menatap semuanya. Rasa khawatir yang sangat mendalam membuat Raka benar-benar takut kehilangan Ayahnya.


"Aku mau i-- arghhh ...."


Bulan memegang perutnya ketika dia merasakan perutnya langsng keram. Inilah yang terjadi, jika Bulan di landa setres yang berlebihan, sehingga janinnya pun ikut menjadi kaget.


"Kamu disini aja ya, Sayang. Jadi anakmu, Mamah sama Papah aja yang lihat keadaan suamimu. Kamu cukup do---"


"Tidak! Bulan mau ikut, pokoknya Bulan mau ikut titik! Mamah tidak bisa menghalangi Bulan, karena Bulan mau ketemu dengan suami Bulan. Bulan tidak mau bila sesuatu hal buruk terjadi padanya, sebab tadi Bulan ke sana sama Raka keadaan Mas Sam baik-baik saja. Terus kenapa sekarang malah menjadi separah ini, hahh!"


"Bukannya di sana ada suster yang menjaga Mas Sam 24 jam. Terus kemana dia? Kenapa Mas Sam bisa seperti itu, atau jangan bilang dia tidak menjaga Mas Sam dengan benar makannya kondisi Mas Sam bisa sampai parah. Yakan!"


Bulan berteriak di sertai air mata yang menetes deras, sambil terus memegangi perutnya yang terasa cukup menyakitkan.


"Nak, Bunda mohon. Kamu harus kuat ya, Sayang. Ayahmu saat ini sedang tidak baik-baik saja. Jadi, please. Bunda mohon kamu tetap kuat di dalam sini, bantu Bunda untuk tetap kuat agar Bunda bisa menyelamatkan Ayahmu." gumam batin Bulan, terus memberikan kekuatan pada anaknya.


Bulan berusaha untuk tetap tenang, dalam kondisi yang panik seperti ini. Disaat Oma Dena serta Opa Jerome sudah pergi bersama Raka, kini hanya tinggal Bulan sendiri bersama suster tadi yang juga ikut menenangkannya.

__ADS_1


Susah payah, Bulan memohon pada suster itu untuk membawanya ke ruangan suaminya. Sampai akhirnya, suster itu pun merasa tidak tega dan mengizinkannya dengan syarat agar Bulan harus tetap tenang. Suster itu kasihan, seandainya terjadi sesuatu hal buruk pada Samudra maka Bulan bisa ada disampingnya untuk menyaksikan semuanya tanpa terlewatkan.


...***Bersambung***...


__ADS_2