Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Kebahagiaan Dzaky Di Sisa Hidupnya


__ADS_3

Disitu terjadilah sebuah kecelakaan hebat yang beritanya masuk ke media sosial, atau liputan televisi. Identitas semua di rahasiakan setelah asisten Dzaky, setelah dia mendapat kabar dari pihak rumah sakit jika atasannya mengalami kecelakaan.


Orang yang pertama kali menemui Dzaky di rumah sakit adalah asistennya. Kemudian tak lama kedua orang tua Dzaky pun datang dalam keadaan penuh kekhawatiran.


"Bagaimana keadaan anakku?"


"Astaga, Dzaky. Kamu kenapa, Nak? Kamu kenapa bisa seperti ini? Sudah Mommy katakan bukan, jangan pergi, jangan pergi dan jangan pergi. Kenapa kamu batu, hahh!"


"Mommy udah bilang, semalam itu Mommy mimpi buruk tentang kamu. Jadi, Mommy selalu menahan serta melarangmu. Akan tetapi, kenapa kamu tidak pernah mendengar Mommy. Sekarang lihatlah, kondisimu benar-benar sangat mengerikan bukan?"


Tya, yang merupkan Mommy dari Dzaky pun menangis sesegukan sambil melihat kondisi anaknya yang sangat mengenaskan. Tubuh Dzaky semua di penuhi dengan perban yang berwarna putih, kini telah menjadi merah.


Alat-alat semua terpasang rapi di tubuh Dzaky, mulai dari kaki, dada bahkan hidung serta tangannya. Perlahan Tya mulai memeluk tubuh Dzaky, dia masih memberikan kelonggaran agar tidak membuat anaknya merasa kesakitan.


Dipo, selaku Daddy dari Dzaky pun tidak kuasa menahan kesedihan melihat anaknya yang terbujur kaku di atas bangkar. Untuk mengalihkan air matanya, dia langsung menanyakan pada asisten Dzaky bagaimana semua ini bisa terjadi.


Lalu, dia mulai menjelaskannya semua kronologi yang di sampaikan oleh pihak kepolisian yang masih mengurus khasus tersebut. Dimana ternyata supir Bus yang di tumpangi, mengalami ngantuk akibat perjalanan jauh.

__ADS_1


Supir tersebut hanya mengalami luka yang tidak berat, sampai akhirnya dia sudah di tahan oleh pihak kepolisian setelah tersadar. Dia cuman mengalami patah tulang di kaki sebelah kanannya, selebihnya tidak ada luka yang jauh lebih parah dari Dzaky.


Bahkan supir taksi yang di tumpngi Dzaky telah meninggal di tempat akibat terjepit badan mobil yang benar-benar hancur.


Mendengar semua kejadian itu, tubuh Tya langsung melemas dan di tangkap oleh suaminya. Dipo berusaha keras mendudukan istrinya serta selalu menguatkannya, walau hatinya lebih hancur dari Tya.


Satu air mata lolos, membuat Tya langsung memeluk suaminya. Di ruangan itu benar-benar pecah tangisan Tya, Dipo dan juga asisten Dzaky.


Tak lama dari situ, Dzaky tersadar. Dia mencoba untuk berbicara pada mereka semua, yang membuat mereka langsung mengerubunginya. Mereka begitu senang, saat Dzaky bisa membuka matanya walau dalam keadaan napas tersenggal-senggal.


"Dad, Mom. Ji-jika aku ti-tidak ada lagi di du-dunia ini, ka-kalian ti-tidak perlu me-menangisiku. Ka-karena ha-hatiku a-akan se-selalu hidup di raga Sa-samudra."


"Apa kamu sudah gila, hahh? Lihat kondisimu saja masih terbaring lemah, kamu sudah mengatakan semua itu. Dasar anak tidak tahu diri!" ucap Dipo, mulai emosi.


Namun, Dzaky paham. Dibalik semua yang kedua orang tuanya katakan itu adalah bukti sekeras apapun mereka. Mereka tetap sangat mencintai anaknya sendiri, walau banyak perselisihan antaran mereka.


Dzaky tersenyum, kembali mengatakan apa yang seharusnya dia katakan sebelum terlambat.

__ADS_1


"Te-terima kasih, kalian sudah me-menyayangiku se-sebesar ini. Ba-baru kali ini a-aku melihat se-seorang pria yang tangguh, tegas dan juga kuat. Se-sekarang me-menangis ka-karena me-melihat ko-kondisiku di si-sisa akhir hi-hidupku."


"Ma-maafkan Da-dzaky ya-yang sudah me-membuat kalian ke-kesal, ke-kecewa. Dza-dzaky se-selalu me-mencari ga-gara-gara agar Dza-dzaky tahu, bahwa kalian ap-apakah sa-sayang sama Dzaky a-atau tidak."


"Se-sekarang Dzaky sudah me-menemukan jawabannya. Dza-dzaky senang, bisa me-melihat ta-tangisan ka-kalian yang membuatku sangat ba-bahagia. Se-sekali la-lagi ma-maaf ji-jika Dzaky ti-tidak bisa bertahan, se-semua itu karena Dzaky ti-tidak kuat la-lagi me-menahan se-semua ini."


Tya dan Dipo berkali-kali menggelengkan kepalanya sambil menangis, mereka tidak kuat lagi mendengar perkataan anaknya yang sangat melantur.


Begitu juga asisten Dzaky, dia pun ikut menangis melihat kondisi atasannya yang seakan-akan ingin meninggalkan mereka semua.


Tya memeluk suaminya begitu erat sambil memukul dadanya, terlihat sekali kalau mereka benar-benar sangat menderita mendengar perkataan anak satu-satunya.


"Se-sebelum aku pergi, bo-bolehkah a-aku me-meminta ka-kasian se-sesuatu? A-anggaplah, pe-permintaan ini u-untuk ya-yang terakhir kalinya a-agar aku bisa pe-pergi dengan tenang."


"Tidak! Anakku tidak akan pergi meninggalkanku, sampai kapanpun!" teriak Tya di dalam pelukan suaminya.


"Cukup, Nak. Cukup! Hati Daddy sakit banget ketika mendengar perkataanmu itu. Please, Sayang. Jangan berbicara seolah-olah kamu akan meninggalkan kami!" ucap Dipo, menangis.

__ADS_1


Kata-kata Dipo membuat Dzaky mengukirkan senyuman lebar sambil meneteskan air matanya. Baru kali ini dia mendengar Dipo berbicara selembut itu kepadanya, jauh dari sikatnya yang selama ini Dzaky kenal.


...***Bersambung***...


__ADS_2