Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Mengabadikan Momen Indah


__ADS_3

Kurang lebih jam 19. 40 malam, mereka sudah rapi dan segera bergegas pergi menuju pasar malam menggunakan motor.


Jarak antara rumah dan pasar malam kurang lebih sekitar 20 menit, karena pasar malam terletak di dekat jalan raya angkutan umum.


Sepanjang jalan, Raka selalu bersenandung ria bernyanyi bersama Ayahnya sambil tertawa. Sedangkan Bulan, dia hanya bisa tersenyum memeluk suaminya dan sesekali menjaili anaknya.


Malam hari ini wajah mereka bertiga terlihat begitu bahagia, apa lagi Raka. Dia benar-benar antusias bisa pergi ke pasar malam bersama kedua orang tuanya.


Tak lama, mereka sampai di pasar malam dengan suasana yang sangat ramai. Terdapat banyak wahaya permainan yang begitu seru, musik-musik yang saling bertabrakan dengan suara bas yang menggetarkan jantung, sampai banyak sekali berbagai penjual jajanan yang negitu menggoda lidah.




Pasar malam ini memang merupkn pasar malam terbesar yang mereka kunjungi setiap bulannya, akibat pasar malam diadakan di lapangan yang sangat lebar. Biasanya hanya ada beberapa wahana, dan tidak sebegitu banyaknya penjual jajanan seperti ini.


Akan tetapi, ini berbeda. Semua wahana benar-benar ada disini, sampai membuat banyak pengunjung dari desa ke desa berbondong-bondong datang ke sini, hanya untuk melihat indahnya lampu warna-warni di wahana yang menyala terang.


Raka dan Bulan yang melihat pemandangan itu, benar-benar takjub karena wanaha yang mereka lihat itu jauh lebih besar dari wahana yang biasa mereka kunjungi.


Kini, Samudra sedang memakirkan motornya di tengah keramaian. Setelah selesai mereka bertiga pun berjalan sambil bergandengan tangan satu sama lain, dimana Raka berada di tengah-tengah menggenggam tangan kedua orang tuanya.


"Wahh, Bunda, Ayah. Disini ramai banget ya, Laka seneng deh bisa ke sini. Ini pasal malam yang lebih selu dari biasanya." ucap Raka, sedikit mengencangkan suaranya karena berlawanan dengan musik yang cukup keras.


"Ya, benar. Mungkin ini pasar malam yang sangat kumplit dari biasanya ya, Mas. Lihat saja banyak permainan yang seru disini. Terus Raka mau naik apa, hem?" tanya Bulan, menoleh ke arah anaknya.


"Hem, naik apa ya. Laka bingung, nih. Apa Laka naik kuda-kudaan dulu ya Bunda. Boleh?" ucap Raka, menatap kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Boleh, tapi Ayah enggak naik ya. Kalau mau Raka sama Bunda aja, Ayah jagain di bawah." jawab Samudra.


"Bunda enggak ikut akhh, nanti Bunda pusing mabok lagi bahaya. Bisa-bisa muntah, gimana. Masa baru datang udah pulang lagi sih." sahut Bulan, langsung membantah itu semua.


"Ya udah deh, Laka naik cendili aja. Bunda sama Ayah, jangan ninggalin Laka ya." ucap Raka dengan raut wajah yang sangat sedih.


"Uhh, tayang. Ya enggak dong, masa iya Bunda sama Ayah ninggalin Raka sih." cicit Bulan, sambil mencubit kecil dagu anaknya.


"Oke, tapi nanti Bunda fotoin Laka ya pas Laka naik kuda. Siapa tahu kalau udah besal Laka bisa naik kudu benelan 'kan asyik, hehe ...."


"Siap, Bosku. Ya sudah Bunda belikan tiketnya dulu ya, Raka tunggu dulu disini sama Ayah." ucap Bulan, langsung pergi ke sebelah kiri untuk membeli tiket dengan harga 5 ribu perorang.


Saat tiket itu sudah dia dapatkan, Bulan segera pergi dan memberikan tiket tersebut kepada Abang yang berjaga di dekat wahana.


Ketika tiket itu di sobek menjadi beberapa bagian, Raka pun langsung di naikan di kuda pilihannya yang cukup besar, gagah dan juga tampan oleh penjaganya.


"Bunda, foto Laka ya!" teriak Raka membuat Bulan memberikan jempolnya, pertanda dia setuju.


"Sayang, gimana kalau kita foto bertiga sebelum wahananya dimulai. Hitung-hitung buat ngisi album keluarga kita yang masih kosong." ucap Samudra.


"Boleh tuh, Mas. Ya sudah Mas izin dulu gih sama Abangnya itu kalau boleh kita mendekat ke Raka buat foto." jawab Bulan, penuh semangat.


"Ya sudah, sebentar ya. Mas izin dulu." Samudra pergi memeinta izin pada Abangnya, yang tidak jauh dari mereka.


Untungnya Samudra langsung mendapatkan izin, jadi dia tidak harus bersusah payah untuk mengutarakan keinginannya. Tanpa menunggu lama, Samudra dan Bulan segera mendekat ke arah Raka yang membuatnya sedikit terkejut.


"Loh, Bunda, Ayah. Kenapa ke sini? Kalian mau--"

__ADS_1


Cekrek!


"Hyaaa, Bunda! Laka belum gaya loh, main foto-foto aja. Jelek 'kan!" celetuk Raka kesal, saat wajhnya terlihat jelek di kamera.


"Hihihi, lucu banget sih mukanya. Aakhhh, gemas. Ayo kita foto lagi, sebelum wahananya dimulai." titah Bulan.


Mereka bertiga mengabadikan momen dengan beberapa foto menggunakan gaya berbeda-beda. Sampai, wahana itu mau di mulai Samudra dan Bulan turun dari atas sambil melambaikan tangannya ketika permainan mulai berjalan memutar secara perlahan.


Kurang lebih 5 menit, Raka selesai bermain kuda-kudaan. Sekarang waktunya Raka main permainan yang lain. Mulai dari kereta-keretaan, memancing, ngelukis, dan sebaginya. Sehingga di permainan detik-detik terakhir, Raka bermain bersama kedua orang tuanya.


Dimana Raka bermain lempar panah, tembakan, bahkan melempar ring agar mendapatkan hadiah. Hanya saja mereka kebanyakan tertawa sampi membuat Raka hanya mendapatkan sebuah minuman teh pucuk yang berukuran sedang.


Disini Raka tidak merasa kesal lantaran dia kalah, malah Raka merasa bahagia bisa tertawa bersama dengan kedua orang tuanya secara lepas.


Tak lupa Raka juga meminta kedua orang tuanya untuk menemani Raka bermain kora-kora, rumah hantu dan juga kincir angin atau bisa di sebut dengan bianglala.


Semua itu Bulan lakukan demi melihat anaknya bahagia, meskipun sering kali Samudra menggenggam erat tangan Bulan karena dia tahu kalau Bulan sangat takut dengan semua itu.


Untungnya ada suami siaga, sehingga tidak membuat Bulan merasa ketakutan yang benar-benar tidak bisa di kontrol. Sementara Raka, sama sekali tidak takut dengan semua itu. Malah Raka terlihat begitu enjoy untuk menikmati setiap wahana yang dia mainkan.


Sampai akhirnya, mereka semua sudah lelah langsung mencari tempat duduk untuk beristirahat sambil menikmati segarnya es yang saat ini berada di genggaman tangan mereka masing-masing.


Eiits, jangan salah. Walaupun Bulan takut dengan beberapa wahana yang dia naiki, kalau soal jajanan Bulan nomor 1 untuk memborong berbagai cemilan. Sama seperti Raka, mereka menikmati makanan yang sangat enak sesuai demgan lidah mereka.


Samudra tidak banyak berbicara, bahkan meminta apapun. Karena ketika dia melihat senyuman lebar terukir dari bibir anak dan istrinya sudah membuat dia sangat bahagia. Jadi, Samudra cuman bisa mengikuti apa yang anak dan istrinya mau.


Di tambah lagi, Bulan membelikan 1 setel pakaian untuk mereka bertiga untuk mereka pakai di kemudian hari.

__ADS_1


Disaat mereka sedang asyik menikmati cemilan dan minumannya, tiba-tiba saja ada seseorang yang datang mendekati mereka dengan wajah penuh arti. Yang mana kedatangannya itu, benar-benar mengejutkan mereka bertiga.


...***Bersambung***...


__ADS_2