Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Ketakutan Raka Pada Orang Tuanya


__ADS_3

Sang dokter pun mengangguk, dia kembali memberikan pengertian kepada Opa Jerome mengenai anaknya. Bahkan tanpa di suruh pun, sang dokter akan tetap membantu menolong Samudra bersama dokter lainnya. Karena itu sudah menjadi pekerjaan mereka yang sangat mulia.


Setelah di rasa Opa Jerome mulai mengerti, sang dokter beserta asistennya kembali masuk ke dalam ruangan untuk mengecek kembali ke adaan Samudra yang masih kritis.


Satu sisi Opa Jerome sangat mengkhawatirkan kondisi menantunya, cuman disisi lain dia juga tidak bisa meninggalkan anaknya. Jadi, mau tidak mau dia harus tetap berada di sana untuk berjaga-jaga sambil duduk menunggu kabar selanjutnya dari sang dokter yang menangani anak sematawayangnya.


...*...


...*...


Dzaky dan asistennya langsung meletakkan Bulan sesuai dengan arahan sang dokter, dimana dokter tersebut bersama asistennya langsung menangani Bulan lalu segera memberikan impusan.


Setelah itu, mereka semua di minta untuk keluar ruangan oleh asisten dokter. Supaya sang dokter bisa lebih leluasa lagi untuk memeriksa keadaan Bulan.


Namun, di depan ruangan. Raka selalu saja menangis saat mengetahui Bundanya pun ikut jatuh sakit. Bagaimana hati Raka tidak sakit, kalau dia harus menyaksikan kedua orang tuanya sakit dalam waktu yang bersamaan.


Pasti hatinya sangat hancur, apa lagi anak seusia Raka sudah bisa mengerti tentang segalanya. Rasa ketakutan terlihat jelas dari sorotan mata Raka yang saat ini berada di pelukan Oma Dena.


"Hiks, Bu-bunda maafin Laka. Semua ini pasti gala-gala Laka udah nyakitin Bunda, makannya Bunda sakit 'kan? Maafin Laka Bunda, Laka engga mau Bunda sakit. Laka maunya Bunda selalu sehat. Kalau Bunda sakit, teyus Laka sama siapa hiks ...."

__ADS_1


"Laka bingung halus ngapain, Ayah sakit sekalang Bunda juga sakit. Apa Laka juga halus ikutan sakit? Bial kita sama-sama teyus hiks ...."


Oma Dena yang tidak kuat mendengar tangisan cucunya langsung memeluknya erat sambil menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau bila cucunya pun ikut jatuh sakit, karena saat ini yang menguatkannya untuk tetap sabar adalah sang cucu.


Akan tetapi, Raka tidak berhenti menangis. Dia terus mengoceh apa yang saat ini di rasakan, seakan-akan suara hati Raka terus berteriak lantaran dia tidak mau bila harus merasakan kehilangan lagi. Setelah Raka kehilangan sang Nenek yang selama ini selalu mengurusnya.


"Laka mohon sama Bunda sama Ayah, jangan tinggalin Laka, Laka enggak mau. Pokoknya Laka cuman mau kita sama-sama teyus sampai Laka bisa bahagian Bunda sama Ayah. Apa Bunda sama Ayah lupa, Laka pelnah bilang kalau Laka mau ngajak Ayah sama Bunda ke Mekkah. Kalau Bunda sama Ayah sakit, teyus nanti kalau Laka udah punya uang Laka halus pelgi sama siapa hiks ...."


"Laka enggak mau sendilian, Laka mau sama Bunda sama Ayah. Kemalin Nenek yang ninggalin Laka, masa sekalang Bunda sama Ayah yang mau ninggalin Laka. Laka enggak mau, pokoknya Laka enggak mau hiks ...."


"Laka takut sendilian, Laka juga enggak mau sampai teman-teman Laka nanti bakalan ngejek Laka sama sepelti teman Laka yang olang tuanya tidak ada. Pokoknya sampai kapanpun Laka enggak mau kalau Ayah sama Bunda meninggal, titik! Yang Laka mau sekalang, Bunda sama Ayah sehat-sehat. Laka enggak mau Ayah sama Bunda pelgi. Pokoknya Laka enggak mau, enggak mau, enggak mau hiks ...."


"Kalau nanti Bunda sama Ayah tetap mau ninggalin Laka, pokoknya Laka mau ikut. Laka gapapa kalau halus meninggal, asalkan Laka bisa sama-sama teyus sama Ayah sama Bunda. Laka ikhlas kok, kalena Laka cuman mau Bunda sama Ayah. Laka enggak mau yang lain hiks ...."


Dzaky dari tadi cuman bisa menatap wajah mungil Raka yang sudah sangat sembab dan pucat, tanpa disadari air matanya pun ikut menetes. Sama seperti asistennya, dia merasa sangat sedih bila yang ada diposisi Raka ini anaknya. Maka, dia pun tidak akan kuat melihat bocah sekecil ini harus merasakan yang seharusnya tidak dia rasakan.


Mereka semua harus menyaksikan kesedihan anak sekecil Raka, yang diberikan cobaan yang sangat berat ini. Seharusnya Raka, sama seperti anak-anak lainnya yang bisa bahagia bermain bersama teman-temannya, sekolah, belajar, dan juga mendapatkan kasih sayang yang lebih dari kedua orang tuanya.


Hanya saja, nasib Raka tidak semulus yang lain. Dia harus di hadapi oleh ujian yang diberikan melalui kedua oramg tuanya. Sehingga Raka dipaksa untuk menjadi dewasa diatas usianya.

__ADS_1


Apa lagi mereka semua tahu bagaimana kondisi Samudra saat ini, belum lagi harus di hadapi dengan kondisi Bulan yang langsung drop.mendengar kabar suaminya. Mereka hanya bisa berharap, Raka lebih kuat lagi untuk menghadapi masalah ini. Mereka tidak mau bila Raka pun harus jatuh sakit seperti kedua orang tuanya.


Semua hanya bisa menunggu kabar Bulan dari sang dokter, sambil terus menenangkan Raka. Karena saat ini, pikiran Raka sudah mulai keluar jalur. Mereka berusaha untuk tetap membuat Raka, supaya tidak lagi berpikir negatif mengenai orang tuanya. Mereka harus yakin, bila Bulan dan Samudra pasti akan sembuh dan bisa kembali berkumpul dengan mereka semua.


Setrauma itukah Raka dengan kehilangan? Ya, jelas. Karena setiap hari ketika di sekolah, tanpa sepengetahuan orang tuanya. Raka telah menjadi superhero untuk temannya yang memiliki keluarga tidak lengkap.


Akan tetapi, bila Raka ikut bernasib sama dengannya. Maka, itu bisa membuat mental Raka ikut terguncang. Sebab Raka sudah mulai bisa merasakan bagaimana rasanya di ejek oleh teman-temannya ketika tidak memiliki orang tua yang utuh.


Ya, walaupun Raka masih kecil. Cuman dia telah di didik untuk menjadi pria sejati, agar tidak menjadi anaknyang cengeng, anaknyang manja ataupun anak yang nakal. Sehingga sifat-sifatnya benar-benar sedikit jauh dari anak keusianya.


"Raka sabar ya, Sayang. Oma yakin, Bunda baik-baik aja kok. Raka enggak akan kehilagan salah satu dari mereka, karena Bunda dan Ayah itu sayang banget sama Laka. Jadi, tidak mungkin mereka akan meninggalkan Raka. Raka harus percaya itu, ya Sayang!"


Oma Dena memeluk Raka penuh kasih sayang, walaupun hatinya sangat-sangat hancur ketika harus menyaksikan keadaan anaknya yang sedang kritis. Lalu menantunya jatuh drop, di tambah lagi cucunya yang terus menangis karena dia sangat takut kehilangan kedua orang tuanya.


Lantas apa yang harus Oma Dena lakukan saat ini? Dia benar-benar bingung, rasanya ingin sekali menyerah. Akan tetapi, kembali kuat demi sang cucu.


Hanya satu harapkan mereka saat ini, yaitu mereka sangat-sangat menginginkan kesembuhan untuk Bulan maupun Samudra. Agar Raka bisa kembali menjalani kehidupannya bersama kedua orang tuanya.


Dzaky yang melihat itu, langsung meminta asistennya untuk membelikan minuman serta makanan karena Dzaky tidak mau sampai semua orang yang sudah dia anggap sebagai keluarganya malah menjadi sakit.

__ADS_1


Begitu juga kedua orang tua Dzaky, mereka selalu meminta Dzaky untuk mengabarinya setiap perkembangan disana. Sebab, mereka harus mengurus acara Dzaky yang sempat tertunda akibat musibah yang terjadi pada Samudra.


...***Bersambung***...


__ADS_2