Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Dua-duanya sama!


__ADS_3

Degh!


Dzaky terdiam di tempat, dalam keadaan masih membelakangi Bulan dan juga asistennya.


Jantung Dzaky spontan berdetak cukup kencang, ketika mendengar kalimat yang Bulan katakan. Dia tidak menyangka kalau Bulan bisa mengatakan semua itu tanpa adanya rasa malu terhadap atasannya sendiri.


Asisten Dzaky pun ikut terdiam ketika melihat Dzaky berbalik lalu menunjukkan reaksi wajah yang cukup merona, menggambarkan jika Dzaky seperti menahan malunya saat Bulan mengatakan tentang madu suaminya. Itu artinya seakan-akan Dzaky ingin dijadikan suami kedua oleh Bulan.


"Ma-maksudmu, ngomong gitu a-apa?" ucap Dzaky terbata-bata, akan tetapi tetap berusaha untuk stay cool.


"Enggak, dahlah aku mau makan. Laper!" ucap Bulan baru saja mau pergi, lagi-lagi Dzaky selalu menahannya menggunakan ancaman.


"Ikut saya atau kalian tidak akan menerima gaji selama 1 bulan penuh!" tegas Dzaky, menatap tajam.


"Loh, kok kalian, Tuan. Saya 'kan ikut Tuan, jadi kalau mau di potong gajian. Tuh, potong saja dia. Orang dia yang tidak mau ikut, kenapa saya jadi ke bawa-bawa!" jawab asistennya, tidak terima.


"Kau ataupun dia, dua-duanya sama!"


"Sama-sama tidak akan mendapatkan gaji, jika salah satu dari kalian tidak akan ada yang ikut. Paham!"

__ADS_1


Dzaky langsung berbalik lalu pergi meninggalkan mereka berdua yang masih terdiam di tempat, bagaikan patung.


"Bodo amat, pokoknya saya ti--"


"Mau ikut dengan berjalan sendiri, atau saya tarik bagaikan seekor sapi yang di cocok hidungnya!" ancam asisten Dzaky penuh penekanan, menatap Bulan.


"Yaakk, kalian tuh samanya. Sama-sama menyebalkan dan pemaksa!" pekik Bulan.


Dia langsung menghentak-hentakkan kedua kakinya secara serentak di lantai, sampai terdengar bunyi suara sepatu pantofel yang cukup keras.


Tanpa mereka berdua sadari, teryata diam-diam Dzaky tersenyum dan terkekeh tanpa suara ketika berhasil membuat Bulan serta asistennya merasa kesal, hingga terpaksa harus mengikutinya.


"Sumpah, baru kali ini aku menemukan atasan seperti mereka berdua, udah songong, ngeselin, pemaksa pula!"


"Aarrghhh, rasanya ingin sekali menjambak rambut mereka yang rapi itu biar rontok semua. Apa lagi ini Bosnya, super duper menyebalkan tingkat dewa. Rasanya ingin sekali aku makan hidup-hidup jika itu halal!"


Bulan berbicara di dalam hatinya dengan perasaan kesal penuh emosi, yang mana kedua tangannya pun ikut refleks ingin mencekram atau menjenggut rambut Dzaky yang tersusun rapi dari belakang.


Asistennya cuman bisa melirik tingkah laku Bulan yang terkesan begitu aneh, membuatnya menggelengkan kepalanya beberapa kali. Asisten itu pun benar-benar tidak habis pikir, jika Dzaky bisa bersikap seperti ini pada Bulan.

__ADS_1


Berbeda sama yang lain, bahkan kepada asisten sendiri saja Dzaky selalu bermalas-malasan untuk mengajaknya makan siang, ataupun meneraktirnya.


Mungkin, jika sampai itu terjadi. Artinya mereka sedang ada meeting di luar kantor, atau bisa jadi asistennya yang menawarkan diri lebih dulu untuk mengajak atasannya makan bersama.


"Huhh, ini sih fixs kalau Tuan Dzaky memang sudah kepincut sama bini orang. Ternyata selama ini Tuan Dzaky, tidak laku itu bukan karena dia gay. Melainkan dia lebih menyukai bini orang dari pada yang single."


"Ja-jangan bilang kalau selera Tuan Dzaky selama ini adalah bini orang? Wahh, ti-tidak bisa di biarkan ini. Aku harus membawanya ke rumah sakit, siapa tahu syaraf otaknya ada yang konslet sehingga dia bisa belok seperti ini."


"Dan, aku pun juga harus berhati-hati. Siapa tahu 'kan kalau Tuan melihat istriku yang cantik, bisa-bisa dia langsung kepincut. Huaaa, tidak, tidak, tidak. Aku tidak akan rela sampai kapan pun, titik!"


Begitulah, suara hati asisten Dzaky. Tak lupa matanya terus melirik ke arah Bulan yang masih merasa kesal. Beberapa kali tangan Bulan selalu ingin mencakar Dzaky, tetapi tidak jadi. Bulan malah mencekram angin lewat yang tidak berasa apapun.


Jangan salah, Bulan sebenarnya juga sangat tahu, kalau tingkahnya tak lepas dari pengawasan asisten pribadi Dzaky yang selalu menatapnya. Akan tetapi, lirikan asisten Dzaky itu masih kalah dengan lirikan mata Bulan yang terlihat seperti kema*tia.


Perlahan tangan kanan Bulan terangkat, lalu jarinya membentuk huruf V yang dia arahkan di kedua bola matanya beberapa kali dengan pergerakan yang cepat.


Asisten Dzaky cuman bisa menelan air liurnya secara kasar, lantaran dia tidak menyangka kalau marahnya Bulan itu lebih ganas dan seram dari atasannya sendiri.


Namun, tanpa Bulan sadari semua tingkahnya bersama asisten itu terbaca oleh Dzaky, saat sudut matanya selalu melihat pergerakan mereka di dalam lift depannya.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2