Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Harapan Bulan


__ADS_3

"Tuh 'kan, Opa sama Oma aja setuju. Bunda juga dong, please ...."


"Hem, baiklah. Kakak boleh nyuapin Bunda, tapi dikit-dikit ya. Soalnya mulut Bunda masih pahit dan juga sedikit mual."


"Oke, Kakak janji pelan-pelan. Tapi, Bunda juga harus makan yang banyak biar Dedeknya kenyang enggak kelaperan lagi."


Buna cuman bisa menganggukan kepalanya sambil membaca doa makan, lalu perlahan mulai membuka mulutnya menerima suapan bubur dari tangan Raka.


Sesekali, Oma Dena membantu Raka untuk memotong lauknya yang sedikit keras. Tak lupa, Opa Jerome pun mengabadikan momen indah itu untuk kenang-kenangannya yang akan di lihatkan oleh Samudra ketika dia sadar nanti. Dengan tujuan agar Samudra bisa lebih semangat lagi, untuk istri dan juga anak-anaknya.


...*...


...*...


Hari sudah semakin larut malam, Raka pun sudah tertidur di atas bangkar, tepat di sebelah kanan Bulan. Wajah tenang itu berhasil membuat Bulan tersenyum ketika dia terus memandangi sumber kekuatannya saat ini.


"Sehat-sehat ya, Sayang. Maafkan Bunda, bila Bunda belum bisa memberikan yang terbaik buat Kakak. Pokoknya Bunda berdoa, semoga kelak Kakak bisa hidup jauh lebih bahagia dari pada saat ini. Kakak juga harus bisa menjadi Kakak yang baik buat Dede, supaya nanti kalau ada yang jahati Dedek Kakak bisa membelanya selagi itu benar."


Bulan tersenyum menatap wajah anaknya, sambil mengusap pipinya penuh kasih sayang. Meski hatinya tersenyum melihat anaknya, tetapi berbeda sama pikirannya yang selalu memikirkan kondisi Samudra.


"Mas, bagaimana kabarmu? Aku kangen banget, kapan kamu bisa bangun lagi, Sayang. Apa kamu tidak mau mendengar berita bahagia ini, kalau aku sekarang sedang hamil anak kita yang ke-2 loh."


"Waktu itu kamu pernah bilang, jika aku memakan sosismu. Maka, aku akan merasa kenyang selama 9 bulan. Dan, sekarang? Ya, aku benar-benar kenyang. Kenyang karena saat ini ada malaikat kecil kita yang hadir di dalam perutku. Dan kamu tahu, Mas. Jagoan kita sekarang sudah sangat lancar berbicara, dia tidak cadel lagi. Sungguh, aku senang banget."

__ADS_1


"Namun, jika kehadiran malaikat kecil kita itu sebagai penggantimu. Lebih baik, dia tidak hadir sama sekali. Aku ikhlas, karena bagiku kamulah yang penting di dalam hidupku. Jika aku harus memilih anak yang ada di dalam perutku atau dirimu, maka aku akan tetap memilihmu."


"Bila aku memilih anak, maka aku harus siap kalau nanti sewaktu-waktu aku di cuekin, di duakan ataupun di tinggal. Semakin umurku menua, anak-anakku semakin tumbuh dewasa, sehingga dia bisa memilih kehidupan masing-masing."


"Satu persatu anakku akan meninggalkanku dan mengutamakan keluarganya. Berbeda sama dirimu, karena kamu adalah pasangan hidup dan ma*tiku. Jadi sampai kapanpun kamu tetap akan menemani masa tuaku, bukan meninggalkanku seperti anak-anak kita kelak."


"Makannya, untuk itu aku sangat berharap kalau kamu bisa segera kembali tersadar dan juga bangun dari tidur pulasmu. Semua itu, lantaran aku tidak mau menjalani hidup yang cukup berat ini sendirian. Jadi, aku sangat-sangat membutuhkanmu, Mas.!"


Air mata Bulan kembali menetes ketika dia mengingat suaminya. Rasanya bulan ingin sekali menggantikan posisinya. Apa lagi Opa Jerome dan juga Oma Dena sedang mencoba untuk menjalani prosedur, agar mereka bisa mendonorkan hatinya pada sang anak.


Awalnya, Bulan ingin ikut mendaftar tetapi langsung di larang oleh mertuanya. Dokter pun menganjurkan jika yang jadi pendonor hati Samudra, sebaiknya bukanlah dari pihak keluarga. Semua itu demi keamanan mereka semua, di tambah kondisi si pendonor pun harus benar-benar sehat, tanpa adanya satu penyakit pun. Sebab menjadi pendonor tidak semudah apa yang di bayangkan.


Disaat Bulan sedang melamun menatap langit-langit, terdengar suara pintu yang telah terbuka membuat Bulan langsung segera menghapus air matanya secara cepat.


Setelah itu Bulan tersenyum menoleh ke arah pintu. Dimana dia berusaha keras agar terlihat baik-baik saja, untuk menyembunyikan apa yang dia rasakan saat ini.


Wajah mereka terlihat sedikit lesu dan juga kantung matanya mulai bengkak, sudah pasti mereka sangat kelelahan menangis hampir seharian ini.


"Udah selesai jenguk Mas Samnya? Terus gimana kabarnya, Mah? Pah? Apakah ada perkembangan?" ucap Bulan, menatap penuh keseriusan.


Opa Jerome duduk di sofa panjang dalam kondisi sedikit kelelahan habis mengurus semua berkas anak dan menantunya. Sementara Oma Dena, dia duduk di kursi tunggal dekat bangkar menantunya.


"Ya, masih sama. Belum ada perkembangan, setidaknya kondisinya sudah stabil. Kita hanya perlu menunggu pendonornya aja, Mamah berharap sih semoga secepatnya. Mamah tidak tega melihat Samudra seperti ini." ucapnya, suaranya sudah mulai melemah.

__ADS_1


"Niatnya Bulan ingin menanyakan sesuatu sama Mamah, cuman melihat kondisi Mamah yang kecapean gini Bulan jadi tidak tega. Mamah sama Papah istirahat aja, kalau mau pulang. Gapapa, pulang aja. Insyaallah Bulan bisa menjaga Raka disini." jawab Bulan.


"Mau nanya apa, hem? Tentang Samudra?" sahut Oma Dena sambil mengusap kepala Raka perlahan.


"Ya, itu. Cuman lain waktu aja, Mah. Mamah istirahat aja sama Papah, nanti kita bisa bicarakan lagi." Bulan tersenyum kecil menatap mertuanya.


"Ya sudah kamu istirahat ya, Mamah sama


Papah istirahat di ruang depan aja. Tadi juga Mamah sudah menyuruh ART buat membawakan baju kami, besok pagi. Kalau untuk Raka, besok ya Mamah belikan soalnya tadi tidak sempat."


"Tidak perlu, Mah. Kasian Mamah repot-repot membelikan baju, sedangkan Raka di rumah banyak baju kok."


"Udah gapapa, kamu istirahat aja. Kita sambung besok ya obrolannya. Kamu harus banyak istirahat jangan banyak pikiran, ingat sekarang perutmu sudah ada isinya. Jadi jangan sampai kamu menyakitinya, paham?"


"Ya, Mah. Insyaallah Bulan sehat kok, tapi besok Mamah tolong izinkan sama dokter ya. Bulan ingin sekali bertemu sama Mas Sam. Bulan mohon, sebentar aja."


"Baiklah, nanti Mamah coba ya. Ya udah kamu istirahat dulu, kita sambung besok."


Oma Dena mengusap kepala cucunya, lalu mencium kening Raka dan juga Bulan secara bergantian. Setelah itu dia berjalan meninggalkan kamar Bulan, menuju ruang depan bersama Opa Jerome.


Mereka perlahan mulai beristirahat karena tubuh, pikiran dan juga mental sudah terkuras habis ketika mereka harus menerima ujian sebesar ini.


Sama halnya seperti Bulan, dia mencoba untuk beristirahat sambil memeluk Raka. Meski, pikirannya selalu ke suaminya. Hanya saja dia kembali memikirkan nasib anaknya. Jika Bulan setres, maka itu akan berakibat fatal untuk sang anak.

__ADS_1


Mau tidak mau, bisa tidak bisa. Bulan harus tetap beristirahat agar dia bisa segera pulih, dan bisa selalu ada di dekat suaminya walau hanya dari jarak yang cukup jauh.


...***Bersambung***...


__ADS_2