
"Hehh, Tuan. Saya juga tidak mau kali ketemu atasan menyebalkan seperti Tuan. Untung aja ini di luar kantor jadi saya bisa mengeluarkan unek-unek saya, kalau di kantor saya pasti akan banyak diam karena Tuan selalu mengancam saya. Dan akan memecat saya jika saya berani mebantah ataupun melakukan kesalahan!"
Bulan memarahi Dzaky dengan wajah yang cukup menggemaskan, rasanya Dzaky ingin sekali mencubit pipi Bulan. Akan tetapi, dia sadar bahwa Bulan milik orang lain.
Raka yang tidak kuat lagi menahan sesuatu di dalam tubuhnya, langsung menarik Bundanya untuk masuk ke dalam kamar mandi. Sehingga perdebatan mereka pun terhenti, Dzaky pun langsung pergi meninggalkan toilet dengan wajah kesalnya.
Beberapa menit kemudian, akhirnya Raka sudah selesai dengan buang air kecilnya. Rasanya dia begitu lega ketika sesuatu yang di tahan dari tadi sudah tersalurkan.
"Lain kali Raka enggak boleh begitu lagi ya, gimana kalau tadi Raka menabrak seseorang yang lagi membawa makanan ataupun air panas, hem? Bahaya, bukan?"
Raka menganggukan kepalanya, ketika Bulan sedang menasihatinya. Lalu, Bulan mendudukan Raka di pinggir wastafel sambil mencuci kedua tangan Raka.
"Ya, Bunda. Laka minta maap ya, Laka udah buyat Bunda mayah. Laka janji, Laka ndak lali-lalian agi, tadi Laka uman kebeyet aja. Alo Laka tahan anti yang ada Laka ngompol, mayu dong. Maca Laka udah gede pipis di telana."
Raka menjawab setiap perkataan Bundanya penuh dengan kepolosan, sedangkan Bulan hanya bisa menatapnya sebentar dan kembali mengelap tangan mungil sang anak menggunakan tisu.
"Ya Bunda tahu, Sayang. Tapi, lain kali harus lebih hati-hati lagi ya. Boleh buru-buru, cuman enggak boleh sambil berlari."
"Bunda cumam takut kalau Pangeran kecil Bunda yang tampan ini, sampai kenapa-kenapa. Paham 'kan, Sayang. Hem?
Bulan mencolek hidung Raka, lalu menempelkan dahinya di dahi anaknya sambil mencubit kedua pipi anaknya.
"Hihi, maap ya Bunda. Aduhh, duhh ... Awsshh, ishh Bunda cakit tahu. Hump, Bunda jahat. Maca pipi Laka di ubit-ubit, emangna Laka ini adonan kue ubit."
Raka terlihat kesal, ketika Bundanya selalu saja mencubiti tubuhnya saat lagi gemas dengan tingkah lakunya.
"Uhhh, tututu sayangnya Bunda. Muuachh."
Bunda mencium pipi Raka, lalu menurunkannya secara perlahan. Dimana Raka masih dalam keadaan cemberut, saat dia merasa bahwa Bundanya selalu memperlakukannya layaknya anak kecil. Sampai beberapa orang yang ada di sana melihat ke arahnya sambil tersenyum.
"Udah dong jangan cemberut lagi, sekarang kita makan ayam enak aja mau? Nanti Raka boleh nambah sepuasnya, gimana?" ucap Bulan, berhasil membuat Raka tersenyum dan wajahnya berseri-seri.
"Waahh, Bu-bunda celius kita mau makan ayam enyak? Yeeeyy, Laka mau 2 boyeh?" jawab Raka, penuh kebahagiaan sambil melompat dan menunjukkan keemparlt jarinya. Dimana 2 jari di tangan kanan, dan 2 jari di tangan kiri.
"Ini namanya 4, Sayang. Kalau 2 itu cukup tangan ini aja, yang ininya enggak usah di tunjukkan. Pahankan?"
__ADS_1
Bulan menurunkan tangan kiri Raka, sambil mengajarkan Raka bagaimana cara menghitung angk menggunkan jari dengan baik dan benar.
"Ehh, hehe ... Maap Bunda, Laka calah. Ya udah ayo, Bun. Kita makan enyak, api jangan lupa beliin ayam enyak uga bukan Ayah cama Nenek ya. Otey?"
Bunda menganggukan kepalanya, sambil mencubit kecil pipi anaknya. "Siap, Bos kecilku. Cuman beli buat Ayah sama Neneknya nanti aja ya, pas mau pulang. Sekarang kita makan dulu aja, setuju?"
"Setuju, yeeey ... Akhilna Laka makan ayam enyak lagi, holee hihi ...."
Sorakan Raka berhasil membuat sebagian orang yang melihatnya ikut tertawa, tidak semua anak seusia Raka bisa bersikap semanis ini. Meski, ada beberapa orang yang menganggapnya norak, tetapi Bulan tidak menggubrisnya.
Dia tetap saja berjalan sambil menggandeng tangan anaknya, menuju meja depan lalu memesan beberap paket untuk mereka makan di tempat.
Dimana Bulan mesan 2 paket jumbo, 2 kentang goreng, dan 2 es krim rasa coklat. Mereka menunggu di tempat antrian untuk mengambil sebuah nampan yang sudah berisikan pesanan mereka.
"Pesanan nomor 112, silakan ke meja nomor 3!" teriak Mbaknya, membuat Bulan mendekati meja tersebut.
Bulan tersenyum sambil memberikan selembar kertas kecil yang menunjukkan bon yang dia bayar sebelumnya. Mbaknya pun mengecek semua pesanan Bulan dengan sangat teliti.
"2 paket jumbo, 2 kentang dan juga 2 es krim. Silakan, Bu. Selamat menikmati!" ucap Mbaknya, sambil tersenyum.
Sementara Raka, dia berjalan sambil memegangi baju Bulan akibat Raka takut kalau dia kehilangan Bundanya di tempat yang ramai seperti ini.
"Bunda, tempat duduknya penuh cemua. Teyus kita duduk dimana dong?" tanya Raka mendongak ke atas menatap Bundanya.
"Hem, dimana ya? Bunda juga bingung. Coba kita cari di atas yuk, siapa tahu di atas masih ada yang kosong."
Raka menganggukkan kepalanya, lalu mereka melangkahkan kedua kakinya menaiki tangga dengan sangat hati-hati.
Saat sampai diatas, semua meja telah terisi penuh oleh pengunjung yang sedang menikmati makanannya.
Hanya ada satu meja yang kosong, itu pun tempatnya sudah di tempati oleh seorang pria.
"Bunda itu ada kulsi yang kocong, api ada om itu?" tunjuk Raka, membuat Bulan melihat ke arahnya. Dimana seorang pria duduk sambil membelakanginya.
"Ya sudah, kita makan di sana aja ya. Nanti Bunda minta izin sama Om itu buat berbagi tempat. Yuk, kita ke sana!"
__ADS_1
Raka mengangguk lalu berjalan bersama dengan Bundanya. Mereka berhenti tepat di samping belakang pria itu, kemudian Bulan langsung meminta izin supaya dia mau berbagi tempat padanya.
"Permisi, Tuan. Bolehkah saya dan anak saya bergabung disini? Soalnya di lantai bawah dan disini semua meja pada penuh. Hanya meja Tuan yang masih muat untuk kami berdua. Apakah boleh kami makan disini?" ucap Bulan, nadanya terdengar sangat lembut.
"Boleh, Nyonya silakan. Sebentar lagi juga saya akan-- astaga. Kamu lagi, kamu terus, kamu mulu!"
"Ckkk, kenapa sih kamu tuh selalu ngikutin saya terus? Enggak bosen emangnya? Udah di kantor, disini. Kenapa enggak sekalian aja satu rumah biar ketemu terus-terusan!"
Degh!
Mendengar perkataan pria itu berhasil membuat kedua mata Bulan membola besar. Dia benar-benar terkejut sama apa yang di bilang oleh atasannya, siapa lagi jika bukan Dzaky.
Sementara Dzaky, dia menyadari atas kebod*dohannya sendiri karena telah mengatakan sesuatu yang sangat memalukan.
"Mam*pus, mam*pus kau Dzaky, Dzaky! Mulut susah banget sih buat di kondisikan. Kalau udah begini, gimana? Malu sendiri 'kan!"
"Aarrghh, apaan sih ini mulut. Kenapa asal jeplak aja, pasti saat ini dia sedang berpikir yang aneh-aneh tentangku, huaaa tidak, tidak tidak!"
"*Jangan sampai kau menyukai seseorang yang bukan milikmu, Dzaky!"
"Ingat, Bulan sudah memiliki suami dan juga anak. Jadi, hilangkan semua perasaan itu. Jangan sampai kau meghancurkan hubungan mereka ataupun menjadi orang ketiga diantara mereka*!"
Dzaky mengoceh didalam hati kecilnya ketika dia menyadari apa yang dia ucapkan, merupakan perkataan yang sangat memalukan.
Rasanya Dzaky seperti tidak bisa mengontrol perasaannya sendiri, sehingga mulutnya mewakilkan apa yang di rasakan saat ini.
Bulan masih terdiam, mencoba untuk mencerna apa yang Dzaky katakan beberapa menit yang lalu. Akan tetapi, Bulan langsung tersadar ketika Raka menarik bajunya.
"Bunda, ayo duduk. Laka udah lapel tahu, ishh ... Udah ya ngobolnya, anti Laka kebuyu pingsan mau?" celetuk Raka dalam keadaan kesal, membuat Bulan segera menaruh nampan itu diatas meja.
Setelah itu dia mengangkat Raka dan mendudukannya di kursi depan Dzaky. Kemudian Bulan pun ikut duduk sambil menata makanan di depan Raka untuk memudahkannya mengambil makanannya sendiri.
Sementara Dzaky dia berusaha mengalihkan pandangannya untuk menghindari Bulan, lantaran wajahnya saat ini benar-benar sudah sangat malu dan juga merona.
Sampai akhirnya suasana menjadi canggung, dimana mereka bertiga makan dengan keadaan terdiam. Bulan dan Dzaky hanya mendengar celotehan Raka saja yang tidak mau diam.
__ADS_1
...***Bersambung***...