
"Mas ke depan dulu ya, kalau kamu udah selesai membereskan pakaiannya. Lebih baik kamu istirahat, tenangi pikiranmu supaya emosi di dalam dirimu bisa mereda."
"Mas tahu saat ini mungkin kamu lagi capek dengan semua masalah perekonomian kita. Akan tetapi pesan Mas cobalah sedikit saja bersabar, insyaallah suatu saat nanti kita bisa hidup seperti apa yang kamu inginkan."
Samudra berbicara sambil berdiri, lalu dia melangkahkan kedua kakinya mendekati pintu kamar.
Baru saja Samudra mau membuka pintu, tiba-tiba dia kembali mengurungkannya ketika mendengar perkataan istrinya yang sedikit membuatnya mulai terpancing.
"Mas 'kan punya Om dan Tante yang kaya, kenapa Mas tidak minta pekerjaan aja sama mereka? Kenapa harus susah payah seperti ini? Seharusnya Mas juga bisa dong jadi orang kaya lagi sama seperti dulu punya segalanya, cuman kenapa Mas malah memilih diam aja!"
"Apa Om Faisal sama Tante Dena pelit? Sehingga mereka tidak mengizinkanmu bekerja dengannya? Jika benar begitu, seharusnya kamu tidak usah lagi-lagi mengizinkan Raka bertemu sama mereka setiap saat!"
"Ingat, Mas. Kalau mereka bisa pelit masalah pekerjaan, aku pun juga bisa pelit masalah Raka, Mas. Lagi pula dia siapa? Cuman Om dan Tantemu, bukan orang tuamu. Jadi biarkan saja, toh kita juga hidup tidak tergantung sama mereka!"
Samudra yang mendengar itu langsung berbalik dengan pandangan datar, melihat Bulan sedang berada di balik lemari kayu.
Sebenarnya Bulan tidak tahu jika sebelumnya Samudra sempat beberapa kali di tawari, hanya saja dia menolak keras demi dia mau berjuang lebih keras lagi untuk menafkahi keluarganya tanpa bantuan siapa pun.
"Sudah cukup kamu bicara, Bulan! Kali ini kamu sudah sangat-sangat keterlaluan, baru beberapa saat tadi kamu meminta kita untuk pisah dan sekarang kamu malah ingin memisahkan Raka dengan Oma Opanya? Apa kamu tidak pernah melihat betapa bahagianya Raka bertemu mereka?"
"Sampai kamu memisahkan mereka, sama saja kamu telah merenggut kebahagiaan anakmu sendiri. Raka itu anak yang pintar, penurut, baik dan juga ceria. Kebahagiaan dia itu tidak terletak pada harta, melainkan kasih sayang orang terdekatnya. Dia bisa kehilangan mainannya, tetapi dia tidak bisa kehilangan orang yang sangat dia sayangi!"
"Sampai sini, kamu paham? Kebahagiaan itu tidak selamanya tentang harta, jika kamu tidak percaya maka buktikan semuanya sendiri. Nanti kamu akan menemukan jawabannya, meski waktuku terlalu banyak di luar rumah, akan tetapi aku jauh lebih memahami apa yang Raka inginkan dari pada kamu!"
"Silakan kamu pisahkan anakmu dengan Oma Opanya, tapi jangan menyesal jika suatu saat Raka akan menjadi anak pembangkang dan juga tidak lagi nurut denganmu. Atau bisa jadi dia akan membenci Bundanya sendiri, karena kamu sudah merenggut kebahagiaanya!"
Degh!
Mendengar perkataan suaminya, Bulan langsung terdiam mematung. Seegois apapun dia, tetapi jika mendengar kata anak membuat hatinya tersentuh.
__ADS_1
Ya, memang Bulan mau memberikan yang terbaik untuk Raka. Cuman jika caranya itu malah membuat Raka menjadi bersedih, maka dia mengurungkan niatnya untuk memisahkan Raka dengan Oma Opanya.
"Udah Mas mau ke Masjid dulu, lebih baik sekarang kamu istirahat jangan mengerjakan sesuatu yang membuatmu lelah, karena masih ada hari esok. Kalau perlu ambil wudhu, terus shalat sunnah supaya pikiranmu menjadi tenang. Mas tidak mau sampai Ibu mendengar perdebatan ini, kasihan dia. Sudah seharusnya Ibu istirahat dan selalu bahagia, bukan malah jatuh sakit karena memikirkan permasalahan kita."
"Ya sudah, Mas pamit. Pintunya kunci saja, Mas pulang habis subuhan. Assalammualikum,"
"Wa-waalaikumsalam."
Samudra pergi dalam keadaan wajah yang sedikit di tekuk, meski dia sedikit kesal dengan tingkah istrinya. Akan tetapi, Samudra masih menjulurkan tangannya untuk disambut oleh Bulan sebelum dia pergi.
Setelah itu Samudra keluar dari kamarnya lalu berjalan menuju ruang tengah, disaat Samudra mau membuka pintu utama tiba-tiba dia mendengar teriakan yang sangat nyaring.
"Ayahh!"
Raka berlari, ketika baru saja dari kamar mandi bersama dengan Neneknya, tak sengaja melihat Samudra berjalan kearah pintu keluar rumah.
Ibu Dara mengangguk sambil tersenyum saat cucunya yang sangat pendek itu, dengan polosnya segera menatapnya meminta persetujuan darinya.
Samudra yang sudah berbalik, refleks langsung menyamaratakan tinggi anaknya sambil memegang kedua pundaknya.
Beberapa detik mereka saling pandang memandang, sampai akhirnya Samudra menjelaskan sesuatu yang membuat anaknya mengerti.
"Ayah mau izin ke Masjid dulu ya, boleh?" ucap Samudra, tersenyum.
"Hem, ndak boyeh!"
"Ayah halus bobo cama Bunda, alo anti Ayah pelgi-pelgi kacian Bunda cendilian di kamal. Tan Laka agi bobo cama Nenek, maca nanti Bunda bobo cendili. Pokokna ndak boyeh, no no no!"
Raka menggeleng-gelengkan kepalanya karena dia tidak mau jika Bundanya merasa kesepian. Apa lagi Raka biasanya selalu menemaninya tidur bersama Samudra, akan tetapi untuk malam ini Raka memilih tidur bersama Neneknya.
__ADS_1
Otomatis jika Samudra pergi, maka Bulan akan sendirian. Sementara Raka tidak bisa melihat Bundanya bersedih, setiap hari.
Tanpa sepengetahuan Samudra, Raka yang masih usia 4 tahun itu sudah peka terhadap perasaan orang. Jadi ketika tadi dia sedang jalan-jalan bersama dengan Bundanya, ada beberapa tetangga yang mengolok mereka.
Disitulah Raka tahu kalau Bundanya sangat sedih saat diejek oleh beberapa tetangga yang tukang gosip, jadi itu alasan kenapa Raka memilih tidur bersama Neneknya, supaya Ayahnya bisa berduaan sama Bundanya yang sedang bersedih.
"Loh kok, Raka begitu ngomongnya. Itu tidak baik, Sayang. Jika ada orang yang mau pergi ke Masjid seharusnya Raka mendukungnya, bukan melarangnya karena itu merupakan perbuatan yang baik. Kecuali, orang itu akan pergi jalan-jalan yang tidak ada manfaatnya baru Raka boleh memarahinya."
Samudra berusaha membuat anaknya mengerti dengan bahasa-bahasa yang mudah di pahami oleh anak seusianya. Ya walaupun usia Raka masih 4 tahun lebih, ternyata dia memiliki pemikiran yang tidak di sangka-sangka bisa lebih dewasa dari usianya.
"Ya Ayah, Laka tahu. Api ...." Raka menghentikan perkataannya saat dia kembali mengingat bahwa Bulan melarangnya, untuk menceritakan kejadian tadi pada Ayahnya.
"Tapi, apa Sayang? Katakan sama Ayah, apa yang Raka ketahui hem? Ingat bukan, Ayah selalu bilang. Kalau ada masalah kita harus saling berbagi, supaya kepala Raka tidak pusing memikirkan apa yang seharusnya tidak perlu Raka pikirkan."
Samudra bisa memnbaca pikiran anaknya, meski usianya masih sangat kecil. Cuman Raka adalah anak yang luar biasa, pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan dari Ayahnya sampai-sampai dia harus melarangnya untuk pergi.
"Raka, ayo Sayang. Katakan ada apa, hem? Raka tidak biasanya loh melarang Ayah ke Masjid, jadi bisakah Raka bercerita sedikit saja sama Ayah apa yang ada di pikiran Raka sekarang?"
"Tapi, sebelum Raka cerita kita duduk di sana yuk. Kaki Ayah pegel nih, masa iya Ayah harus begini mulu nanti bisa-bisa Ayah tingginya kebalap lagi sama Raka hihi ...."
Samudra tertawa kecil membuat Raka pun ikut tertawa, itulah mereka ketika sedang dilanda masalah mereka akan murung sejenak dan kembali tertawa meski masalah itu belum sepenuhnya selesai.
Kemudian Raka dan Samudra bergandengan sambil berjalan ke arah ruang tengah. Dimana Samudea dan Raka duduk berdua diatas karpet bulu, sementara Ibu Dara dia meminta izin untuk kembali ke kamar karena dia mau meminum obatnya sebelum tidur.
Ibu Dara sebenarnya udah tahu apa yang akan Raka katakan, karena sebelumnya Raka sudah menceritakannya sehingga membuat Ibu Dara paham kenapa Samudra memilih untuk malam-malam pergi ke Masjid.
Perlahan Raka mulai menceritakan kejadian tersebut dengan versi anak-anak pada umumnya, disini bukan karena Raka anak tukang ngadu ya. Melainkan Raka tidak mau melihat Bundanya selalu bersedih, jadi dia meminta tolong pada Ayahnya untuk menghibur Bundanya.
...***Bersambung***...
__ADS_1