Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Kesehatan Samudra


__ADS_3

Bulan tertidur sambil tersenyum, setelah dia kembali bisa merasakan kebahagiaan yang sempat tertunda. Akan tetapi, yang jadi pertanyaan Samudra. Siapa orang yang sudah menjadi pendonor hati ubtuknya? Pertanyaan itu selalu ternhiang di pikirannya, membuat Samudra semakin penasaran.


Kembali lagi, Samudra akan menanyakan setelah Dzaky pulang dari luar negeri, agar bisa mengetahui identitas orang itu secara detail. Setelah itu, Samudra kembali memejamkan matanya di rasa hari masih sangat larut. Dengan harapan besok pagi dia bisa jauh lebih putih dan juga sehat.


...*...


...*...


1 Minggu telah berlalu, keadaan Samudra pun mulai membaik. Bahkan hari ini juga dia sudah di perbolehkan keluar dari rumah sakit.


Bulan dan Raka merasa sangat senang atas kesehatan Samudra yang semakin ada kemajuan, sehingga membuat mereka tak henti-hentinya selalu tersenyum lebar.


Saat ini Samudra sedang duduk di pinggir bangkar dengan kaki menjulang ke bawah, sambil menunggu Bulan yang lagi mengurus berkas kepulangannya.


Sementara Oma Dena dan Opa Jeremo tidak bisa hadir untuk menjemput Samudra. Dia hanya mengirimkan supir keluarga untuk menjemput mereka dan membawanya ke rumah kediaman keluarga Samudra.


"Ayah, hari ini kita jadi pulang?" tanya Raka, menatap wajah Ayahnya.


"Jadi, dong. 'Kan Ayah udah sehat, masa mau tidur di rumah sakit mulu." sahut Samudra, tersenyum.

__ADS_1


"Ya, jangan dong. Pokoknya Ayah itu harus selalu sehat, biar nanti kita bisa main bareng-bareng sama Dedek."


Raka tersenyum lebar karena merasa senang, bisa melihat Ayahnya kembali terbangun dari tidur panjangnya serta sudah benar-benar di nyatakan sehat.


Hanya saja, Samudra harus rawat jalan selama kurang lebih 2 tahun lamanya. Supaya dokter juga bisa melihat serta memastikan apakah donor hati yang di terima Samudra cocok atau tidak.


Samudra masih tidak percaya, jika dia telah berhasil melewati semua penyakit berbahaya ini. Itu juga berkat pertolongan dari seseorang yang telah memberikan organ tubuhnya demi menyelamatkannya.


Tak lama datanglah seorang pria berjas, yang tidak lain dan tidak bukan adalah asisten Dzaky. Dia selalu mengontrol kondisi Samudra sampai tuntas, karena ini salah satu tugas yang di berikan oleh Dzaky langsung kepadanya.


Pintu terbuka bersamaan dengan masuknya asisten Dzaky. "Permisi, assalammualaikum ...."


"Waalaikumsalam, Om. Loh Om sendiria? Kemana Om Dzaky, apa dia belum pulang? Kok lama banget sih?" tanya Raka, bingung.


"Iya, Om Dzakynya lagi sibuk. Nanti ya kalau sudah tidak sibuk lagi." jawab asistennya sambil mengelus kepala Raka.


"Salam buat Om Dzaky ya, Om. Bilang kalau sekarang Raka udah punya Dedek. Jadi, nanti Om Dzaky bisa main sama Raka sama Dedek juga. Terus Om Dzakynya juga jangan lama-lama pulangnya ya, soalnya Raka udah kangen banget ini."


Suara menggemasan Raka membuat asisten itu terkekeh kecil sambil terus mengelus kepalanya, lalu dia menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Samudra yang melihat kedekatan anaknya dengan sahabatannya pun menjadi senang. Samudra tahu, pasti Raka sangat menginginkan memiliki Paman ataupun Tante, hanya saja kedua orang tuanya tidak memiliki saudara kandung.


Bulan dan Samudra adalah anak tunggal. Jadi wajar saja bila Raka, Bulan serta Samudra merasa sangat bahagia setelah hadirnya anak mereka yang kedua. Sehingga tidak sampai membuat Raka merasakan apa yang mereka rasakan.


Sebenarnya menjadi anak tunggal itu ada enaknya dan juga tidak. Jika enaknya yaitu ketika mereka di manja oleh kedua orang tuanya dan bisa membeli apa pun sepuasnya tanpa harus berbagi.


Namun, tidak enaknya yaitu ketika mereka harus melihat teman-temannya yang asyik bermain maupun bercanda bersama saudaranya. Sementara anak tunggal harus gigit jari karena dia hanya bisa main seorang diri atau bersama teman lainnya.


"Bagaimana kabar, Tuan? Apakah sudah mendingan?" tanya asisten itu menatap Samudra.


"Alhamdulillah baik kok, ini lagi nunggu istri saya yang masi ngurus berkas kepulangan. Habis itu kita mau pulang ke rumah kediaman keluarga Dirgantara." jawab Samudra.


"Syukurlah, saya senang mendengarnya. Pasti Tuan Dzaky juga senang lihat Tuan yang sudah sehat begini. Semoga saja ke depannya semakin pulih dan bisa beraktifitas seperti biasanya. Aamin ...."


Asisten tersebut merasa begitu lega, ketika mendengar semakin ke sini keadaan Samudra semakin membaik tanpa merasakan rasa sakit seperti biasanya.


"Aamiin, terimakasih banyak. Selama ini kamu dan Dzaky sudah membantu saya sama keluarga, sekali lagi terimakasih. Kalau nanti Dzaky sudah pulang, cepat kabari aku."


Asisten Dzaky cuman tersenyum sambil mengangguk, lalu dia kembali di hadapkan dengan pertanyaan yang membuatnya terkejut.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2