Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Menolak Undangan Spesial


__ADS_3

Ya, benar saja. Saat Samudra sudah berhasil membuka semua pakaian istrinya, semakin membuat gejolak ha*srat di dalam tubuhny semakin meningkat.


Sehingga, dia langsung memberikan sentuhan demi sentuhan kepada tubuh istrinya dengan lembut dan juga nikmat.


Kurang lebih 1 jam lamanya mereka melakukan pemanasan satu sama lain, sampai akhirnya kini saatnya Bulan menikmati betapa lezatnya sosis suaminya ditambah bonus 2 telus dan sedikit mayones.


Apakah setelah melakukan hubungan ini, Bulan akan merasakan kenyang selama 9 bulanan? Ataukah Samudra harus lebih ekstra lagi untuk membuat istrinya kenyang? Supaya kelak mereka bisa memberikan hadiah terindah kepada Raka, agar dia bisa menjadi seorang Kakak.


...*...


...*...


1 Bulan berlalu, keadaan rumah tangan Bulan dan Samudra semakin romantis. Sampai akhirnya Bulan mendapatkan undangan khusus dari Dzaky untuk menghadiri acara ulang tahunnya, bersama dengan rekan bisnis lainnya.


Hanya saja, Bulan menjadi bingung. Haruskah dia datang ke acara Dzaky, ataukah dia ikut dengan suaminya yang ingin mengajaknya ke suatu tempat.


Itulah, yang membuat Bulan menjadi bimbang. Dia hanya bisa terdiam melamun ketika Dzaky memberikan sebuah hadiah undangan khusus untuknya.


Dzaky yang melihat Bulan terdiam di hadapannya, menjadi bingung. Dia tidak tahu ada pikiran apa di dalam isi kepala Bulan, sampai dia termenung seperti saat ini.


"Ekhem, ada apa? Kenapa setelah aku memberikan undangan itu, wajahmu terlihat murung seperti itu? Jangan bilang kamu tidak sudi datang ke acara itu, hanya karena saya selalu membuatmu kesal?"


Pikiran-pikiran negatif itu langsung bermunculan di dalam kepala Dzaky. Membuat Bulan yang mendengarkannya menjadi terkejut dengan apa yang barusan Dzaky katakan.


"Astagfirullah, Tuan! Mana mungkin saya berpikir sejauh itu, lagi pula sekesal-kesalnya saya sama Tuan. Akan tetapi, saya masih tahu diri. Tidak mungkin saya menolak undangan spesial itu, cuman karena sikap Tuan yang menyebalkan."

__ADS_1


Bulan menjawab pertanyaan Dzaky dengan wajah sedikit syok dan juga bercampur kesal. Bulan tidak menyangka Dzaky bisa berpikir seperti itu padanya, walaupun memang benar adanya bila Dzaky adalah atasan yang paling menyebalkan.


"Lantas kenapa kamu diam? Kenapa tidak kamu terima undangan saya? Atau kamu mau nerima ketika saya memberikan undangan itu, beserta tanda permohonan agar kamu bersedia datang ke acara saya, gitu?" sahut Dzaky yang segera di bantah oleh Bulan secara terang-terangan.


"Cukup, Tuan. Bisa enggak sih, kalau mikir itu jangan jauh-jauh. Saya tahu Tuan itu memang menyebalkan, sangat menyebalkan. Cuman, saya bingung. Kalau saya terima undangan Tuan, bagaimana dengan suami dan anak say---"


"Ya diajaklah, susah banget. Toh disitu 'kan tidak ada larangan mau ajak suami kek, anak kek, ataupun pasangan sekaligus. Toh disini bukan hanya kamu yang di undang, ada asisten saya, manager, HRD semua saya undang di bagian staf terpenting aja. Termasuk kolega bisnis saya. Jadi enggak usah ke PD'an kalau di undangan itu hanya ada kamu dan saya. Paham!"


Dzaky berbicara seenak udelnya sendiri, tanpa melihat ekspresi Bulan yang saat ini sedang menahan emosi. Sebab perkataannya langsung di potong tanpa mau mendengarkannya terlebih dahulu.


"Astagfirullah'alazim Lailahaillah Muhammadar'rassullah, Allahhu Akbar!" pekik Bulan, kesabarannya setipis tisu yang di belah menjadi dua.


"Aamin ...." jawab Dzaky, cuek.


"Tuan tuh benar-benar ya, ampun dah! Tuan tahu tidak, saya itu belum selesai ngomong!" sahut Bulan, membolakan matanya.


Bulan hanya bisa menggelengkan kepalanya, ketika dia melihat respon Dzaky yang sudah benar-benar kelewatan. Seharusnya dia meminta maaf padanya, karena sudah memotong pembicaraannya. Akan tetapi, Dzaky malah memilih untuk masa bodo dan kembali mendengarkan apa yang ingin Bulan sampaikan.


"Huhh, sabar Bulan, sabar. Ingat! Yang kau hadapi saat ini bukan manusia, tapi dedemit. Jadi, tolong banyakin sabarnya dan kurangin emosimu. Mengerti!" gumam batin Bulan, berusaha untuk lebih menetralkan desiran da*rah yang mulai mendidih.


"Ekhem, jadi begini Tuan. Tolong dengerin baik-baik, jangan di potong kalau saya belum selesai berbicara. paham!" ucap Bulan, menatap datar ke arah Dzaky.


"Hem ...." sahut Dzaky, sesekali melirik Bulan dengan tatapan malas.


Bulan menarik napasnya secara perlahan, lalu mengusap dadanya bertujuan agar gejolak emosi di dirinya tidak meluap.

__ADS_1


Setelah dirasa udah tenang, Bulan langsung menjelaskan semuanya kepada Dzaky panjang kali lebar yang membuat Dzaky awalnya santai menjadi sangat serius.


"Jadi gini, Tuan. Sebelum Tuan memberikan undangan ini pada saya, semalam suami saya sudah mengajak saya lebih dulu untuk pergi ke suatu tempat. Entah itu tempat apa saya juga tidak tahu, yang jelas dia bilang itu acara penting. Ya, mau tidak mau saya harus tetap ikut bersama suami saya."


"Untuk itu, saya mau minta maaf bila saya tidak bisa menghadiri acara penting Tuan kali ini. Cuman, insyaallah lain waktu saya akan datang dan memperkenalkan Tuan pada suami serta anak saya yang lucu itu."


"Sekali lagi maaf, Tuan. Saya tidak bisa menghadiri acara itu, dan terima kasih atas undangannya. Kalau begitu saya pamit, mau melanjutkan pekerjaan saya terlebih dahulu karena masih banyak berkas yang harus saya urus. Permisi, assalammuaikum ...."


Bulan pun tersenyum setelah dia sudah menjelaskan semuanya kepada Dzaky. Dimana Dzaky hanya terdiam, melihat Bulan sudah hilang bersamaan dengan pintu ruangan yang tertutup rapat.


"Di-dia bilang apa barusan? Di-dia mau pergi ke su-suatu tempat bersama suaminya?"


"Ma-mau ngapain mereka pergi berdua? Jangan bilang mereka berencana mau honeymoon?"


"Kalau memang benar, kenapa hati ini rasanya sakit banget. Baru kali ini gua ngerasain sakit hati tanpa harus memilikinya, apa ini yang dinamakan cinta bertepuk sebelah tangan?"


"Hyaakk, apaan sih Dzaky, Dzaky! Lu tuh kenapa sih, setiap kali Bulan membicarakan tentang suaminya hati lu langsung aja kek di iris-iris."


"Makannya 'kan udah gua bilangin, jangan pernah naruh hati sama bini orang. Batu banget sih lu kalau di bilangin, ngeyel aja. Lihat sekarang, sakit 'kan? Perih 'kan? Terus gimana nanti, ketika lu tahu wajah suaminya? Behh, bisa langsung pingsan kali. Apa lagi banyak yang bilang suami Bulan itu tampan, meskipun kulitnya sawo matang. Bila di bandingin sama gua, apa masih tampanan gua?"


"Aaarrghhh ... Stop, stop, stop! Please, Dzaky. Wake up! Lu tuh harusnya sadar woi, sadar! Mau sampai kapanpun lu enggak pernah bisa miliki Bulan. Jadi, please! Move on dari dia, cari wanita yang lu mau. Jangan pernah lagi berharap kalau dia bisa jadi milik lu!"


"Ingat! Lu itu anak laki-laki, harga diri lu jauh lebih tinggi dari pada cinta. Jadi, stop menjadi laki-laki lemah! Jangan sampai harga diri lu terlihat rendah dimata orang, hanya karena lu terlalu terobsesi untuk memiliki wanita yang sama sekali bukan milik lu, paham!"


Peperangan antara hati dan juga pikiran membuat Dzaky tidak karuan. Satu sisi dia masih mengharapkan kalau Bulan bisa menjadi miliknya, tetapi disisi satunya lagi Dzaky terus berusaha keras untuk melupakannya.

__ADS_1


Namun, tetap saja Dzaky tidak bisa keluar dari perangkap cintanya sendiri. Sebelum dia benar-benar menemukan seorang wanita pengganti Bulan, yang bisa membuatnya nyaman melebihi dia nyaman kepada Bulan.


...***Bersambung***...


__ADS_2