
Setelah selesai mengambil kue, Raka dan Dzaky kembali kemejanya bersama Bulan serta Samudra. Mereka yang melihat Raka makan secara lahap, benar-benar membuatnya bahagia. Apa lagi Dzaky, dia sudah mulai menyayangi Raka seperti keponakannya sendiri.
Namun, di saat mereka sedang tersenyum melihat tingkah lucu Raka. Tiba-tiba saja sepasang suami-istri berjalan mendekati meja mereka, kemudian langsung nyapanya dengan wajah yang sangat bahagia. Berbeda dengan mereka semua yang malah terkesan sangat terkejut dengan pertemuan kali ini.
"Ya ampun, cucuku? Huaa, kita ketemu disini. Oma kangen banget sama kamu, Sayang. Tadi niatnya habis dari acara ini, Oma sama Opa mau ke rumah. Ehh, kita malah bertemu di sini hihi ...."
Oma dan Opa? Yaps, mereka adalah Tante serta Om dari Samudra yang juga di undang oleh Dzaky. Sebab mereka memiliki ikatan persaudaraan yang berawal dari bisnis. Apa lagi Dzaky sangat mengenal keluarga Samudra. Jadi, tidak mungkin dia melupakannya.
"Huaa ... Oma, Opa? Laka kangen banget!" ucap Raka yang langsung memeluk Omanya, lalu bergantian sama Opanya.
"Loh Tante, Om. Kalian di sini juga?" ucap Bulan, bingung.
"Heheh, ya. Kami di undang oleh Dzaky. Ohya, selamat ya Dzaky. Semoga sukses terus, sehat dan panjang umur. Maaf kami telat, soalnya tadi macet banget. Maklum, jalanan semakin hari semakin padat aja." ucap Oma Dena, tersenyum sambil menyapa Dzaky untuk memberikan selamat.
"Selamat juga ya, Nak Dzaky. Om doain semoga kamu bisa menjadi orang yang sukses dan juga karirmu bisa ada dimana-mana. Aamin, pokoknya sehat selalu serta hidup bahagia. Dan jangan lupa, semoga bisa segera mendapatkan jodoh hehe ...."
Opa Jerome memang sering kali menggoda Dzaky. Lantaran sampai detik ini usianya sudah kepala 3, tetapi Dzaky belum juga mendapatkan jodoh yang terbaik.
"Ma-makasih, Om. Makasih Tante atas doanya. Si-silakan duduk!" ucap Dzaky mentapa syok ke arah keluarga kecil Samudra.
Oma Dena dan Opa Jerome pun langsung duduk di dekat Raka, sedangkan Dzaky duduk bergeser di dekat Samudra.
"Se-sepertinya ada yang aneh dengan mereka?" gumam Dzaky di dalam hatinya, ketika mendengar panggilan Bulan kepada mereka.
"Oma enggak nyangka akan ketemu Raka disini, nanti Raka mau 'kan nginep di rumah Oma sama Opa lagi. Oma kangen tidur sama Raka tahu, masa Raka enggak kangen sih." ucap Oma Dena, menunjukkan raut wajah sedihnya.
"Opa juga kangen, kasih makan ikan di kolam sama Raka. Ayo nginep lagi ya di rumah Opa, nanti Opa ajarin berenang kaya waktu itu." sahut Opa Jerome.
"Laka kangen sama Oma sama Opa juga, tapi kalau Laka nginep. Nginepnya sama Bunda sama Ayah 'kan? Kalau Bunda sama Ayah ikut, Laka mau. Tapi, kalau enggak. Laka di lumah aja sama Bunda sama Ayah, Laka enggak mau jauh-jauh nanti Laka nangis lagi."
Raka menjawab pertanyaan Oma dan Omanya sambil mengingat kejadian, ketika dia di titipkan oleh orang tuanya kepada keluarga Samudra tepat di saat Neneknya sedang sakit, sampai meninggal dunia.
__ADS_1
"Loh kok gitu sih, Oma sedih nih denger Raka ngomong gitu. Memangnya Raka enggak sayang lagi sama Oma?" sahutnya, memasang wajah cemberut.
"Laka sayang, sayang sama semuanya. Cuman Laka ndak mau jauh-jauh sama Bunda sama Ayah. Kalau Oma mau Laka nginep, Oma halus bujuk Bunda sama Ayah bial meleka juga mau nginep. Jadi nanti kita bisa tambah selu mainnya deh hehe ...."
Oma Dena pun menatap ke arah Bulan, dimana dia seperti meminta permohonan agar mereka mau luangin waktu menginap di rumahnya. Sementara Samudra, terlihat sekali sangat was-was ketika melihat wajah Dzaky yang semakin berubah.
"Kalau Raka mau nginep di rumah Oma, boleh aja. Tapi, nunggu Bunda libur dulu ya. Paling hari Sabtu sama Minggu bisanya, gapapa 'kan?" ucap Bulan tersenyum, membuat Raka bersorak bahagia bersama Omanya.
"Yeeeyy, Laka mau nginep di lumah Oma sama Opa yang besal banget hihi ...."
"Makasih ya, Lan. Kamu sudah ngertiin Tante, nanti kalau mau nginap bilang aja, biar di jemput sama supir ke rumah ya."
"Sama-sama, Tante. Tenang aja, nanti Bulan kabarin ya 'kan, Mas?"
Bulan menatap suaminya yang hanya bisa tersenyum kecut, ketika dia harus menjawab pertanyaan istrinya dengan anggukan kepala.
"Se-sebentar, Om dan Tante? Apa maksudnya ini? Bukannya mereka ini orang tuamu, Sam? Terus kenapa istrimu malah memanggilnya dengan sebutan seperti itu?"
Perkataan Dzaky berhasil membuat semuanya terkejut, serasa tubuh mereka seakan di sengat oleh listrik tegangan tinggi. Bahkan Samudra pun, sudah menduga semua ini akan terjadi.
Maka dari itu, dia sudah tidak bisa apa-apa lagi untuk menahan Dzaky. Ketika semua kejadian ini benar-benar terjadi sangat cepat, tanpa adanya pemberitahuan terlebih dahulu.
Lagi-lagi Bulan kembali dibuat syok saat mendengar semua pertanyaan yang keluar dari mulut Dzaky. Padahal jelas-jelas itu adalah Tante dan Omnya Samudra. Lantas apa maksudnya, Dzaky malah mengatakan kalau itu adalah orang tua Samudra? Bagaimana mungkin Dzaky bisa lebih tahu semuanya dari pada Bulan, yang selaku istrinya sendiri.
Entahlah, semua ini mengacaukan misi Samudra yang tinggal sedikit lagi menjadi finis. Cuman, Allah memiliki jalan lain, dan membongkar semuanya hingga membuat Bulan menjadi salah paham.
Sampai akhirnya masalah kembali muncul, yang mana Bulan langsung berdiri menatap Samudra dengan tatapan penuh kekecewaan.
"Apa maksud dari ucapan Tuan Dzaky, Mas? Kenapa Mas tega sekali membohongiku? Mas bilang mereka adalah Tante dan juga Om dari keluarga Mamahmu, terus kenapa Tuan Dzaky malah mengatakan kalau mereka adalah orang tuamu?"
"Mana yang benar ini, Mas? Kamu atau Tuan Dzaky? Jika memang apa yang di katakan Tuan Dzaky adalah kenyataan, itu tandanya kamu sudah tega membohongiku dan juga mendiang Ibuku. Kamu benar-benar jahat, Mas! Kamu jahat!"
__ADS_1
"Ayo, Sayang. Sekarang Raka ikut Bunda pulang ya, biarkan Ayah di sini!"
Bulan berbicara dengan penuh isak tangis, yang mana Samudra berusaha untuk menahannya. Bagitu juga Oma Dena dan Opa Jerome, mereka pun ikut menahan Bulan.
Namun, tidak bisa. Bulan malah mengambil Raka, dan menggandengnya lalu menariknya pergi meninggalkan acara tersebut.
"Bunda, Bunda kenapa? Itu Ayah manggil-manggil kita, Bunda. Laka enggak mau pelgi, Laka mau sama Bunda sama Ayah. Laka enggak mau ninggalin Ayah!" pekik Raka ketika tubuh mungilnya di tarik perlahan oleh Bulan.
"Cukup, Raka! Selama ini Ayah udah membohongi kita, sebenernya Oma dan Opa yang Raka panggil itu adalah orang tua dari Ayah. Itu bukan Om dan Tante, Ayah. Raka paham 'kan apa yang Bunda katakan sekarang?"
Bulan berusaha untuk membuat anaknya mengerti, bila selama ini mereka itu di bohongi oleh Samudra. Cuman, namanya anak seusia Raka. Dia masih belum mengerti cara bicara orang dewasa yang memusingkan kepalanya.
"Raka, tunggu Ayah!"
"Sayang, aku mohon dengerin penjelasanku dulu. Aku tidak bermak-- arrghh ...."
"Sam!"
Dzaky berteriak bersama dengan kedua orang tua Samudra, saat melihat Samudra berlari dan terjatuh ketika dia merasakan dadanya terasa begitu sakit.
Mendengar teriakan itu membuat Raka yang kembali berlari bersama Bulan langsung berhenti, saat dia menoleh melihat Ayahnya terjatuh di lantai sambil tangan satunya memegang dada dan yang satunya lagi seperti ingin menggapai tangan Raka.
"Ayah!"
"Bunda, Ayah jatuh! Ayo kita tolongin Ayah, Laka kasian sama Ayah. Laka mohon, Bun. Laka mohon ayo kita ke Ayah. Bunda enggak boleh jahat sama Ayah, hiks ...."
Tangis Raka pecah melihat keadaan Ayahnya yang sudah terbaring lemah. Tanpa menunggu jawaban dari Bulan, Raka berusaha keras melepaskan tangannya. Kemudian dia berlari sekencang mungkin untuk menolong sang Ayah.
"Ma-mas, Sam!"
Bulan meneteskan air matanya menatap suaminya dengan rasa bersalah. Tanpa memikirkan masalah yang tadi, Bulan pun segera berlari mendekati suaminya yang sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk bisa mengejarnya.
__ADS_1
...***Bersambung***...