Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Harapan dan Doa


__ADS_3

Disitu Bulan makan dengan perasaan sedikit tenang, sambil mencicil kerjaannya yang terbilang cukup banyak.


Melihat kegigihan Bulan membuat Dzaky di dalam ruangannya merasa sedikit bersalah, akan tetapi dia terlalu gengsi untuk mengatakannya.


Bagi Dzaky ini hanya sekedar atasan dan bawahan, karena dia tidak mau sampai timbul perasaan yang tidak-tidak akibat kebersamaan mereka setiap harinya di kantor.


...*...


...*...


Sore hari, tepatnya jam 5. Dimana Oma Dena dan Opa Faisal langsung berpamitan untuk pulang ke rumah, karena jarak mereka pulang ke rumah membutuhkan waktu kurang lebih 3 sampai 4 jam lamanya.


Namun, apa boleh buat. Raka selalu menahan mereka karena Raka tidak mau merasa kesepian, akibat Bundanya belum pulang kerja.


Saat ini mereka sedang berkumpul di ruang tengah sambil menonton televisi dan sesekali merebahkan tubuhnya. Mereka menunggu celah supaya Raka merasa nyaman terlebih dahulu, barulah mereka bisa meninggalkannya tanpa membuat Raka menangis.


"Raka 'kan anak baik, jadi enggak boleh gitu ya. Sebentar lagi Ayah pulang loh, nanti kalau Ayah tahu Raka tidak mengizinkan Oma sama Opa pulang, pasti Ayah marah."


"Raka tahu 'kan, rumah Oma sama Opa itu jauh banget. Jadi, kalau mereka pulangnya kemaleman takut dijalan ada apa-apa 'kan bahaya. Emangnya Raka mau Oma sama Opa kenapa-kenapa di jalan? Pasti enggak dong, maka dari itu. Raka tidak boleh menjadi anak yang egois ya."


"Nanti lain waktu Oma sama Opa pasti datang lagi ke sini main sama Raka. Mana mungkin Oma sama Opa lupa dengan cucu kesayangannya, yakan Oma, Opa?"


Ibu Dara mencoba perlahan memberikan nasihat pada cucunya untuk tidak bertingkah layaknya anak-anak yang tidak mau mengerti keadaan.


Ya, wajar saja sih. Jika Raka bersikap seperti ini, semua itu karena Raka merasa kesepian ketika Ayahnya dari siang belum pulang ke rumah akibat di sawah ada masalah. Sedangkan Bulan, dia kerja di tempat yang cukup jauh. Sehingga bisa dipastikan sampi rumah bisa diatas jam 7 malam.


Opa Faisal tersenyum melihat cucunya, rasanya hatinya begitu sedih ketika anak seusianya harus menjalani kehidupan yang seperti ini. Seharusnya hidupnya tidak semiris ini, bahkan bisa jauh lebih baik.


Hanya saja, Samudra masih mempertimbangkan semuanya agar kelak ketika kehidupan sudah kembali berputar, tidak sampai membuat mereka maruk akan yang namanya harta.


Ibarat kata, Samudra sedang memberikan keluarga kecilnya pelajaran secara langsung agar lebih memahami hidup. Dimana jika sewaktu-waktu ketika rezeki datang, tidak membuat mereka sampai kehilangan rasa bersyukur atas nikmat yang Allah berikan.

__ADS_1


"Yang di bilang Nenek benar kok, nanti kalau ada waktu lagi Oma sama Opa pasti main ke sini. Pokoknya Raka enggak boleh sedih ya, atau Raka mau main ke rumah Oma cama Opa?"


"Raka bisa tinggal di sana beberapa hari, nah ... nanti kalau mau pulang, Oma cama Opa anterin ke sini lagi, gimana? Siapa tahu Raka mau nemenin Oma di rumah, Oma sendirian loh enggak ada siapa-siapa."


Raka yang awalnya sedang main mobil-mobilan sendirian, kini langsung terdiam dan menoleh ke arah Omanya.


Wajah Oma Dena terlihat begitu sedih, bagaimana tidak. Raka sudah mereka anggap seperti cucu mereka sendiri, yang mana Raka juga memiliki ikatan batin pada Opa dan Omanya.


Lantas kemana anak dari Oma Dena dan Opa Faisal? Apakah mereka tidak memiliki anak? Entahlah, semua itu masih menjadi misteri. Yang jelas saat ini mereka hanya ingin selalu berada di dekat keluarga kecil Samudra.


"Alo Oma kecepian, Oma tinggal di cini aja cama Laka. Pasti Ayah boyehin kok. Tan di cini ada kamal 3, teyus alo Oma cama Opa tinggal di cini anti Laka bobonya cama Nenek aja."


"Ndak apa-apa, tan Nek? Laka mau bobo cama Nenek, bial Oma cama Opa punya kamal. Lagi ula, Laka macih kecil beyum belani bobo cendilian."


Opa Faisal hanya bisa mendengarkan perkataan Raka yang terbilang sangatlah pandai dalam berbicara. Seperti layaknya orang dewasa yang sedang memberikan solusi agar mereka bisa selalu bersama.


Sementara Oma Dena yang merasa gemas langsung memeluk Raka, dan segera membawanya ke dalam dekapannya dengan cukup erat.


"Masa Opa jadi pengangguran, nanti Opa enggak bisa beliin mainan buat Raka lagi dong. Terus nanti kalau Opa enggak kerja, Oma mau makan pakai apa?"


Raka terdiam sejenak, saat mendengar perkataan Opa Faisal. Tingkah lucu dan menggemaskan terlihat jelas, ketika Raka mulai berpikir sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di samping dahi dan matanya melirik kearah atas.


"Hem, gimana ya? Laka halus mikil duyu ya bental!"


"Ahhaa, Laka tahu, Nek. Ya cudah Oma cama Opa boyeh pulang, api anti main lagi ke sini ya. Opa kelja duyu, teyus alo Laka udah becal pokonya Opa, Oma, Nenek, Bunda cama Ayah ndak boyeh kelja lagi. Otey?"


"Jadi, anti Laka udah becal. Biar Laka aja yang kerja, cemuana halus di lumah aja bial ndak capek. Tan anti alo udah becal Laka mau ajak cemuana pelgi ke lumah Allah bial kita cama-cama beldoa di cana."


"Kata Ayah, alo kita beldoa di cana pasti langcung Allah kabulkan. Nah, anti Laka mau minta cupaya kita semuanya cehat teyus, bica bahagia teyus dan Laka mau minta cupaya Laka bica kelja kantolan aya Bunda. Aamin ...."


Semuanya mengaminkan perkataan Raka yang merupakan sebagian doa dan juga harapan dari bocah kecil yang hampir berusia 5 tahun ini.

__ADS_1


Rasanya ingin sekali Opa Faisal megatakan sesuatu pada cucunya itu, cuman dia urungkan lantaran semua itu tidak akan pernah terjadi jika misi yang Samudra lakukan belum berhasil.


Ya, memang tidak mudah bagi Samudra untuk membimbing anak dan istrinya agar mereka bisa menjadi manusia yang selalu mengucapkan rasa bersyukur, atas nikmat serta ujian yang Allah berikan.


Tak lama, ketika mereka sedang asyik berbincang. Samudra pulang dan langsung membersihkan badannya terlebih dahulu. Barulah dia ikut bergabung dengan mereka di ruang tengah.


Kurang lebih sekitar 30 menit, Samudra sudah selesai dengan semuanya. Lalu, Opa Faisal dan juga Oma Dena langsung berpamitan untuk pulang lantaran hari sudah semakin sore.


Begitu juga Samudra, dia harus menjemput istrinya yang 2 jam'an lagi Bulan pulang, karena jam kerja Bulan di mulai dari jam 8 sampai jam 7 malam.


Mereka semua bersalaman, lalu mengantarkan Oma Dena dan Opa Faisal ke depan sampai mereka masuk ke dalam mobilnya. Kemudian mobil itu pun mulai melaju meninggalkan perkampunga.


Setelah itu Raka yang awalnya mau ikut Ayahnya untuk menjemput Bundanya, tetapi tidak jadi karena Samudra memberikan pengertian padanya.


Jika Raka hanya boleh untuk mengantar Bundanya bekerja, tidak dengan menjemputnya. Cukup Raka tunggu di rumah dan menemani Neneknya yang sendirian.


"Ayah jemput Bunda dulu, ya. Raka baik-baik di rumah, jagain Nenek ya. Ingat, Raka anak laki-laki jadi harus bisa menjaga perempuan. Apa lagi Raka punya Nenek dan juga Bunda, jadi Raka harus menjaga mereka dengan samgat baik. Paham?"


"Ciap, Ayah. Ayah uga hati-hati dijalan ya, anti alo ketemu Bunda biyang cama Bunda. Laka udah nungguin Bunda di lumah, anti kita main bayeng."


"Insyaallah nanti Ayah sampaikan, ya sudah Raka mandi dulu ya sama Nenek. Terus Raka makan, nanti temenin Nenek jangan tinggalin Nenek sendirian. Kalau Ayah sama Bunda udah di rumah, kita main bareng sampai tidur. Mau?"


"Yeeeyy, mau Ayah mau. Laka mau main cama Bunda campe bobo, pokoknya Ayah jemput Bundanya angan lama-lama ya. Laka tunggu di lumah, Ayah hati-hati di jalannya angan lupa berdoa ...."


Samudra tersenyum menganggukan kepalanya, lalu bersaliman kepada mertua dan anaknya. Ini lah hebatnya Samudra, hanya dengan sedikit saja memberikan nasihat. Raka suka benar-benar mengerti, seakan-akan cuman dialah yang bisa menasihati Raka dengan penuturan kata yang mudah di pahami.


Tak lupa Samudra juga menitip pesan


pada Raka. Jika memang dia sudah ngantuk, maka sebaiknya Raka tidur lebih awal dan tidak perlu memaksakan kehendak untuk menunggu Bundanya yang tidak tahu sampai rumah jam berapa.


Raka hanya mengangguk perlahan, lalu melihat Ayahnya sudah berjalan mulai menjauhinya. Bahkan suara motornya pun sudah tidak ada.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2