
Kata-kata Dipo membuat Dzaky mengukirkan senyuman lebar sambil meneteskan air matanya. Baru kali ini dia mendengar Dipo berbicara selembut itu kepadanya, jauh dari sikatnya yang selama ini Dzaky kenal.
Tiba-tiba kondisi Dzaky semakin drop, hingga emmbuat napasnya terbata-bata. Semua orang menjadi panik, dimana asisten Dzaky memanggil sang dokter dengan cara berlari. Sementara Dipo memencet tombol merah kecil yang akan bisa langsung memanggil para dokter.
Namun, di sisa-sisa napas. Dzaky mengatakan sesuatu yang sangat menusuk hati kedua orang tuanya.
"Mo-mom, Da-dad. Ji-jika ka-kalian ma-mau Dza-dzaky ba-bahagia, tu-turuti satu pe-permintaan Dzaky u-untuk terakhir ka-kalinya."
"To-tolong be-berikan ha-hati Dza-dzaky ya-yang sehat ini ke-kepada Sa-samudra. Dza-dzaky mo-mohon, Dza-dzaky ti-tidak a-akan bisa te-tenang bi-bila ka-kalian ti-tidak ma-mau menuruti pe-permintaan i-ini."
"Hahh, hahh ... Dza-dzaky mo-mohon Dad, Mom. Dza-dzaky su-sudah ti-tidak kuat la-lagi, to-tolong ka-kabulkan pe-permintaan Dza-dzaky se-sebelum Dza-dzaky bi-bisa be-beristirahat de-dengan tenang."
Napas Dzaky semakin terdengar melengking, pertanda bila Dzaky memang sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakit yang tidak bisa dia jelaskan.
Seorang dokter yang datang berusaha memeriksa Dzaky, tetapi mereka pun bingung. Sebab, detak jantung Dzaky semakin melemah.
Tya terus menolak itu semua, dia berharap anaknya akan tetap bersamanya. Berbeda sama Dipo, tatapan Dzaky seakan mentrasfer rasa sakit yang anaknya rasakan. Bahkan dia mencoba untuk memegang kakinya, dan itu terasa sangat dingin melebihi es batu.
Artinya, Dzaky memang sudah tidak bisa lagi di pertahankan. Jalan satu-satunya, Dipo mulai menangkis semua kehancuran di dalam dirinya untuk menuruti permintaan anaknya. Meskipun, rasanya sangat berat, tetapi Dipo berusaha untuk tetap menjalaninya seikhlas mungkin.
"Bagaimana jika hatimu tidak cocok pada sahabatmu itu?" ucap Dipo, berusaha tegar di hadapan anaknya yang terus meringis kesakitan.
"Apa-apaan ini, hahh? Kau mau menukar nyawa anakmu dengan dia? Iya!" pekik Tya, tidak terima.
__ADS_1
"Sayang, dengarkan aku. Dzaky sudah tidak bisa lagi bertahan, dia sudah benar-benar kesakitan. Kalau kita seperti ini, itu malah akan membuat dia bertambah kesakitan!"
"Tap--"
Belum selesai Tya mengatakan apa yang ingin dia katakan, tangannya langsung di tarik oleh suaminya untuk memegang kaki Dzaky. Dimana dia merasakan aura yang sangat berbeda dari anaknya.
Runtuhlah harapan Tya sebagai seorang Ibu yang sudah mengandungnya selama 9 bulan lamanya dan membesarkannya sampai detik ini. Seharusnya Dzaky yang melihat dia pergi lebih dulu, bukan malah dia yang melihat anaknya pergi di umur yang masih terbilang muda.
"Da-dad, Mo-mommy. Dza-dzaky sudah ti-tidak kuat lagi. Ka-kalian ja-jangan khawatir, ha-hati Dzaky sa-sangat cocok u-untuk Sa-samudra, se-sebab Dzaky su-sudah melewati se-semua tes tersebut. Ja-jadi Dzaky mohon, ka-kabulkan pe-permintaan i-ini se-sebagai tanda ba-bahwa ka-kalian sangat me-mencintai Dza-dzaky."
Napas Dzaky sudah benar-benar tidak karuan, seakan-akan nyawanya tinggal di batas dada sampai keatas kepalanya. Dengan berat hati kedua orang tuanya mengabulkan permintaan Dzaky.
Tepat di saat itu juga, Dzaky menarik napasnya sangat panjang sambil memejamkan kedua matanya bersamaan dengan suara pedekteksi jantung yang berbunyi begitu nyaring.
Tya langsung memeluk anaknya bersama Dipo untuk terakhir kalinya. Mereka pun mencium seluruh wajah anaknya tanpa tersisa sedikitpun termasuk tangan dan juga kakinya.
Begitu juga asisten Dzaky, dia pun merasa sangat kehilangan dan memeluk atasannya itu dengan sangat berat.
Hingga pada akhirnya Dzaky di makamkan di pemakanan tanpa sepengetahuan siapapun. Semua demi menjaga rahasia yang akan di sampaikan oleh kedua orang tua Dzaky pada Samudra di saat yang tepat.
Walau rasanya berat, mereka masih memikirkan kesehatan Samudra. Disitulah Samudra menangis tanpa henti, dia tidak menyangka sahabatnya memiliki hati seindah itu yang saat ini berada di dalam hatinya.
"Hati yang menyimpan semua kebaikan itu, akan aku jaga sampai kapan pun. Meski ragamu sudah tidak ada, tetapi hatimu masih hidup bersamaku. Terimakasih sahabat, kamu telah banyak berjasa atas kehidupanku. Aku berjanji, aku akan menganggap kedua orang tuamu adalah orang tuaku juga. Aku janji!"
__ADS_1
"Aku akan merawat mereka sebagaimana anak yang merawat orang tuanya di hari tua. Maka, dengan segenap hati. Aku minta izin untuk memanggil kedua orang tuamu dengan sebutan Mommy dan Daddy, sama seperti dirimu yang memangil mereka dengan panggilan indah itu."
Tya dan Dipo tidak menyangka bila Samudra yang mereka anggap akan meninggalkan mereka, setelah mendapatkan hati anaknya. Ternyata salah, Samudra bangkit lalu memeluk mereka satu persatu layaknya pelukan anak yang sangat merindukan kedua orang tuanya.
Hingga panggilan indah itu terdengar di telinga mereka, tangis semua pun benar-benar pecah. Bulan juga mencium tangan Dipo, lalu memeluk Tya layaknya orang tuanya sendiri.
Namun ada lagi yang lebih mengharukan yaitu panggilan Raka untuk kedua orang tua Dzaky. Mereka pun terkejut, anak seusia Raka bisa memutuskan semua itu tanpa dikasih tahu oleh kedua orang tuanya.
Semua benar-benar salut, mereka bangga oleh didikan Samudra hang ternyata sangat berguna dalam kehidupan Raka.
"Jika Ibu sama Ayahnya Om Dzaky adalah orang tua Ayah Raka. Berarti mulai sekarang Raka harus manggil kalian dengan sebutan apa ya?"
"Ahaa, Grandma dan Grandpa aja ya. Kalau sama-sama Oma dan Opa, nanti Raka ke tuker, pusing jadinya."
Raka menunjukkan wajah polosnya, sambil.berbicara dengan nada yang sangat menyentuh hati semuanya.
"Bo-boleh Grandma meluk Raka?" ucap Tya, langsung menyamakan tinggi Raka sambil meneteskan air mata kebahagiaan.
Raka menatap kedua orang tuanya, lalu Oma dan Opanya. Seakan-akan meminta persetujuan, sebab mau bagaimana pun Raka masih ingat dengan pesan kedua orang tuanya.
Jika ada yang tidak dia kenal, sebaiknya jangan mendekat. Itu akan membahayakan nyawanya sendiri. Lantas apakah Raka akan memeluk mereka? Atau Raka akan menolak, karena dia belum mengenalnya?
...***Bersambung***...
__ADS_1