Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Kejujuran Bulan


__ADS_3

Wajah Bulan seketika berubah menjadi tegang, dia bingung. Apa udah saatnya dia menceritakan semua itu, atau dia harus kembali menyembunyikannya? Sumpah, Bulan benar-benar bingung.


Dia berada di ambang ke dilemaan yang cukup berat. Satu sisi Bulan ingin sekali menceritakan soal pengancaman itu pada suaminya, cuman satu sisi lagi. Dia takut jika suaminya akan marah padanya, karena Bulan tidak sengaja melakukan semua itu pada atasannya.


Beberapa menit Bulan terdiam, membuat Samudra yang sedari tadi memperhatikan. Malah semakin percaya, kalau ada sesuatu yang sedang istrinya sembunyikan. Semua itu, terbukti dari cara Bulan yang seperti memberikan kode tertentu padanya.


"Ada apa? Kenapa diam aja? Jangan bilang kamu lagi menyembunyikan sesuatu dariku, Dek?" ucap Samudra, penasaran.


"Aaa, e-enggak kok, Mas hehe ... A-aku ga-gapapa, e-enggak ada juga yang di-di sembunyiin kok." jawab Bulan cengengesan untuk menutupi kegugupannya.


"Mas kenal kamu sudah sangat lama, jadi Mas tahu betul kalau kamu terlihat gugup seperti ini. Artinya, kamu sedang menyembunyikan sesuatu ya 'kan? Jawab jujur, Dek. Mas tidak mau ada kebohongan diantara kita." ucap Samudra penuh ke seriusan.


"Isshh, Mas ini apaan sih. Aku gapapa, kok. Lagi pula enggak ada yang harus di sembu---"


Ting!


Ponsel baru Bulan pun berbunyi, dimana ada satu notif pesan masuk. Bulan langsung menghentikan ucapannya dan membuka isi pesan tersebut.


[Hai, cantik. Bagaimana kabarnya? Uppss, maaf ya aku ganggu waktumu dengan suamimu. Cuman, kasian ya suamimu. Pasti dia sangat memuji dirimu, tetapi dia tidak tahu bagaimana sikapmu di belakangnya.]

__ADS_1


[Ohya, aku dengar-dengar kamu habis mendapatkan ponsel baru ya dari selingkuhanmu itu. Ihhh serem deh, makin gila aja hubungan kalian ya. Aku sih takut, bagaimana nanti perasaan suamimu ketika tahu kalau istrinya ada main sama atasannya. Pasti rasanya sakit banget deh, apa lagi saat dia melihat foto ini.]


Bulan membaca isi pesan tersebut dengan mata membola besar, lalu dia melihat kembali foto yang dikirim oleh orang itu. Dimana Bulan menyuapini Dzaky yang fotonya sedikit di blurb olehnya.


Samudra yang tidak sengaja ikut melihat isi pesan tersebut, langsung tanpa basa-basi mengambil ponsel itu dan melihatnya lebih detail lagi.


"Mas!" ucap Bulan, terkejut.


"Ini foto apaan, Dek? Kenapa disini posisimu sedang menyuapini seorang pria? Terus siapa dia? Apa dia ini atasanmu? Lantas, kenapa kamu malah menyuapini dia. Apa maksudnya ini, Dek? Katakan!"


Samudra terlihat begitu emosi ketika dia berhasil mengetahui apa yang Bulan sembunyikan, langsung dari pesan orang yang berniat ingin menghancurkan rumah tangga mereka.


"Ma-mas, te-tenang dulu ya. Bulan bisa ceritakan semuanya, asalkan Mas jangan marah-marah dulu. Bulan janji, Bulan akan menceritakan semuanya tanpa ada lagi kebohongan atau apapun yang Bulan sembunyikan. Tapi, Bulan mohon. Mas sabar dulu, Mas tenang. Kita bicarakan semuanya baik-baik ya, Mas cuman salah paham atas apa yang Mas lihat saat ini."


"Nah, maka dari itu aku mau menjelaskan. Jadi Mas dengerin baik-baik ya. Pada waktu itu ...."


Bulan langsung menjelaskan semua yang sudah terjadi di dalam foto itu dengan penuh kehati-hatian. Bulan takut, jika salah sedikit saja sudah bisa di pastikan Samudra akan semakin menjadi salah paham padanya.


Samudra berusaha untuk meredam gejolak emosi di dalam dirinya, setelah dia melihat foto istrinya sedang bermesraan dengan pria lain.

__ADS_1


Bulan menceritakan semua yang terjadi sesuai dengan apa yang memang terjadi di antara mereka. Tatapan mata Bulan benar-benar sangat takut, ketika melihat wajah lain dari suaminya.


Ya, siapa sih yang tidak cemburu ketika menyaksikan pasangannya bermesraan dengan pria lain? Pastilah ada perasaan kesal, marah dan juga emosi. Cuman, beruntungnya Bulan. Dia mendapat seorang suami yang masih bisa mengontrol diri dari amarah yang ada di dalam dirinya sendiri. Sehingga, Bulan bisa menjelaskan sesuka hatinya sampai akhir cerita.


"Ja-jadi kurang lebih begitu ceritanya, Mas. Aku mohon jangan marah, aku tahu aku salah dalam hal itu. Cuman aku takut, jika aku jujur Mas akan semakin marah. Satu sisi aku pengen mengatakan semua ini tapi, satu sisi lain aku tidak bisa mengatakannya.


Apa lagi ancaman itu selalu membuatku takut. Takut akan kehilangan semua yang sudah aku miliki saat ini. Jika aku harus memilih, lebih baik aku keluar dari kantor itu dan kembali bersama kaian dari pada aku harus kehilangan salah satu dari kalian. Aku tidak mau, Mas. Tidak hiks ...."


Bulan menangis sesegukan di depan Samudra, membuatnya langsung mendekapnya dan memberikan pelukan hangat.


"Maafkan, aku ya, Dek. Aku sudah terlalu kasar padamu, bahkan aku seperti menekanmu untuk bisa jujur padaku apa yang sebenarnya terjadi."


"Namun, dari semua penjelasanmu aku paham. Aku juga ngerti itu tidak kejadian spontan. Cuman, tidak menutup kemungkinan kalau aku memang sedikit cemburu, bahkan hatiku sedikit sakit. Tapi, gapapa. Setidaknya kamu sudah jujur sama aku, itu sudah jauh lebih baik. Aku hargai semua kejujuranmu itu, dan aku juga tidak akan marah asalkan kamu jangan megulanginya kembali."


"Untuk ancaman itu biarkan saja, dia mau seperti apa pada keluarga kita. Cukup kita doakan saja, supaya dia cepat sadar. Dan jikalau memang dia sudah bertindak jauh lebih dari ini, barulah kita bawa semua ini ke pihak yang berwajib."


"Sekarang kamu tenang ya, lebih baik kita ambil wudhu terus kita shalat sunnah biar hati dan pikiran kita semuanya tenang sebelum tidur. Serta kita bisa meminta perlindungan sama Allah, agar rumah tangga kita bisa baik-baik aja dan di jauhi oleh orang-orang jahat yang berniat untuk merusaknya. Aamin Allahhuma Aamin ...."


Samudra menasihati Bulan, dengan penuturan kata yang sangat halus. Sebab, Samudra tidak mau membuat Bulan semakin bersedih atas kesalahan yang dia lakukan.

__ADS_1


Tak berlangsung lama, tangis Bulan mulai mereda. Mereka pun segera pergi ke kamar mandi secara bergantian untuk mengambil wudhu, dan melaksanakan shalat malam dengan tujuan agar hati serta pikiran mereka yang sedang kacau bisa jauh lebih tenang lagi.


...***Bersambung***...


__ADS_2