Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Nasihat Samudra


__ADS_3

Bulan menangis sesegukan, dengan suara teriakan yang cukup kencang mewakilkan isi hatinya ketika dia tidak lagi melihat kedua orang tuanya.


Sampai seketika seseorang berdiri tepat di depan Bulan, lalu dia berjongkok sambil tersenyum dan menjulurkan telapak tangannya.


Perlahan Bulan mengangkat kepalanya, dan menatap lekat manik mata indah itu dengan tatapan yang sangat mendalam.


"Mas Sam? Ka-kamu kenapa ada di sini?" tanya Bulan dengan suara yang sedikit terisak.


"Pulang, yuk. Kasihan anak kita, di sudah menunggu kamu loh. Sekarang biarkan Ibu dan Ayah bahagia disini, sementara kamu harus bahagia bersama kami. Ingat, kamu sudah punya suami dan juga anak. Jadi kamu tidak perlu merasa sendiri, karena aku akan selalu ada di sampingmu dan akan tetap menggenggam tanganmu dalam keadaan apa pun."


Samudra berbicara dengan suara yang sangat lembut, penuh senyuman. Tatapannya benar-benar berhasil membuat Bulan mulai menghilangkan rasa sedihnya. Lalu, tangannya pun terangkat untuk menggenggam tangan Samudra yang saat ini masih menjulur di hadapannya.


"Terima kasih, Mas. Bulan sangat bersyukur karena Bulan punya suami yang begitu baik, serta anak yang shaleh." jawab Bulan dengan wajah yang mulai tersenyum, menatap manik mata suaminya.


"Mas juga mau berterima kasih karena kamu sudah mau bersama Mas yang penuh dengan kekurangan ini. Meskipun, Mas belum bisa membahagiakan kamu dan anak kita. Cuman, Mas akan selalu berusaha untuk terus berjuang supaya kita bisa hidup dijalan yang Allah ridho'i."


"Kebahagiaanmu dan anak kita itu, merupakan tanggung jawabnku. Jadi, aku tidak akan pernah menyerah untuk terus mengukir senyuman di wajah kalian. Apapun yang terjadi kedepannya, kita akan selalu bersama, baik dunia maupun akhirat kelak."


"Bismillah, Sayang. Kamu wanita hebat dan kuat, jadi bangkitlah, kita hadapi semuanya bersama. Ingat, masih ada anak kita yang membutuhkanmu, biarkan Ibu bahagia bersama Ayah disini."


"Sekarang waktunya kita pulang, ya!"


Bulan tersenyum, menganggukkan kepalanya sambil berusaha berdiri dibantu oleh suaminya. Kemudian mereka pergi dengan suasana hati Bulan yang mulai membaik.

__ADS_1


...***Flasback Off***...


Kurang lebih 2 jam, Bulan beristirahat kini dia langsung terbangun dan menangis ketika teringat bahwa Ibunya sudah tiada lagi


"I-ibu?" panggil Bulan, lalu menoleh ke arah Samudra yang duduk di kursi tunggal tepat disampingnya.


"Ma-mas Ibu dimana? I-ibu baik-baik aja, 'kan? Ibu pasti udah sehat, 'kan? Dia tidak mungkin meninggalkan aku, 'kan?


"Aku tahu Ibu, Mas. Dia pasti akan selalu nemenin kita, bahkan dia tidak akan rela menghancurkan cita-cita cucu kesayangannya sendiri. Ibu tidak akan tega melakukan itu, karena aku kenal Ibu orangnya seperti apa!"


"Mas, kenapa diam? Jawab aku, Mas. Aku tahu kok ini cuman mimpi, karena Ibuku masih ada. Ibu akan tetap selalu bersamaku, sesuai dengan janjinya!"


"Dia tidak mungkin mengikarinya, ini hanyalah bunga tidur. Iya, 'kan? Ini hanya bunga tidur hihi ...."


Tanpa berkata apapun Samudra memeluk erat membawa Bulan ke dadanya. Dimana tangannya mengusap punggung lengannya serta mengecup pucuk kepala Bulan penuh kasih sayang.


"Sabar ya, Sayang. Sekarang Ibu sudah tenang, dia tidak lagi merasakan sakit kok." ucap.Samudra, lembut.


"Hiks, Mas. Kenapa Ibu ninggalin aku, apa Ibu sudah tidak sayang lagi. Kenapa sih, disaat aku sedang berusaha membahagiakan orang yang aku sayang, Ibu malah pergi. Kenapa, Mas. Kenapa hiks ...."


Bulan memukul kecil dada suaminya dipenuhi perasaan kesal dan kecewa yang teramat mendalam. Dia tidak menyangka jika Ibunya itu memang sudah tiada, sampai akhirnya Samudra menasihati istrinya saat emosi Bulan sudah mulai mereda.


"Sayang, dengar baik-baik ya. Ibu itu bukan tidak sayang sama kamu, malahan Ibu sayang banget loh. Mungkin Ibu meninggalkanmu supaya Ibu bisa melihatmu lebih kuat lagi, lebih mandiri agar kelak kamu bisa tumbuh menjadi wanita yang tegar dan juga hebat."

__ADS_1


"Ibu pergi bukanlah keinginannya, akan tetapi semua ini sudah garis tangan Allah yang tidak bisa kita hindarkan. Justru Allah itu mengambil Ibu karena dia sayang sama Ibu, agar Ibu tidak lagi merasakan sakit ketika berada di dunia ini."


"Mas tahu, kehilangan orang yang kita sayang itu sangatlah berat. Cuman mau bagaimana, kita sebagai Hambanya hanya bisa ikhlas dan bersabar untuk menerima takdir yang Allah berikan."


"Sekarang bukan saatnya lagi kita sedih-sedihan seperti ini, lebih baik kita berdoa supaya kepergian Ibu bisa diterima di sisi-Nya, diampuni dosanya dan dilapangkan kuburnya. Aamin Allahhuma Aamin ...."


"Yang terpenting, sekarang Ibu sudah bahagia karena Ibu sudah bertemu oleh Ayahmu di surga. Jadi, kamu tidak boleh terlihat lemah seperti ini,"


"Ingat, Sayang. Kalau nanti Raka lihat Bundanya selemah ini, pasti dia akan tambah sedih. Kamu tahu 'kan, bagaimana Raka sangat menyayangi Neneknya, jadi ketika dia melihat Neneknya sudah terbalut oleh kain putih pasti dia akan sangat sedih."


"Disitulah tugas kita sebagai kedua orang tua harus lebih tegar, agar Raka juga tidak terlalu berlarut-larut menangisi kepergian Neneknya yang teramat dia sayang."


Nasihat demi nasihat yang Samudra berikan membuat Bulan mengerti, apa yang dikatakan oleh suaminya memang benar.


Saat ini Bulan sangat rapuh, tetapi bagaimana keesokan harinya ketika Raka melihat Neneknya sudah tiada? Pasti Raka akan sangat terpukul, apa lagi setiap hari Raka selalu bermain bersama Neneknya tanpa rasa lelah.


...*...


...*...


Tak terasa sudah hampir pukul 01.30 pagi, mereka berbicara satu sama lain untuk membahas mengenai semua persiapan keesokan harinya untuk memakamkan Ibu Dara. Hingga membuat rasa ngantuk diantara mereka.


Perlahan Bulan tertidur didalam pelukan suaminya tanpa mau melepaskannya. Sampai akhirnya Samudra ikut memejamkan matanya sambil terus memeluk istrinya, lalu tertidur di satu bangkar yang cukup luas.

__ADS_1


...***Bersambung***...


__ADS_2