Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Kabar Buruk


__ADS_3

Etelah itu Samudra menutup ponsel istrinya dengan alasan bahwa dia sedang dipanggil sang dokter, padahal nyatanya Samudra ingin kembali menenangkan hati istrinya yang masih terpurung.


Pelukan Samudra membuat Bulan sangat nyaman, sampai akhirnya dia mengajak istrinya untuk makan lebih dulu, agar mereka tidak sampai jatuh sakit.


Semua itu demi kelancaran kesehatan mereka, karena mereka harus menjaganya benar-benar. Supaya bisa menjaga Ibu Dara 24 jam, lantaran kesehatan mereka berdua sangatlah penting untuk membantu memantau keadaannya agar tidak sampai kecolongan.


...*...


...*...


Hari demi hari telah berlalu, sampai akhirnya kondisi Ibu Dara semakin memburuk hingga perkataan sang dokter berhasil membuat hati Bulan benar-benar hancur tak tersisa.


"Dok, ba-bagaimana keadaan Ibu saya? Di-dia baik-baik aja 'kan? Ibu pasti udah sembuh 'kan, Dok? Iya, 'kan!"


"Ayo, Dok. Katakan padaku, bagaimana kondisi Ibu. Kenapa dia seperti itu? Apa yang terjadi padanya, kenapa Ibu tiba-tiba kejang? Apakah kau salah memberikan obat padanya, iya!"


Emosi di hati Bulan seketika keluar, ketika melihat sang dokter baru keluar dari ruangan ICU dalam keadaan wajah yang begitu lesu.


"Dek, sabar. Kamu tidak boleh seperti ini, lihat kondisimu sekarang, udah benar-benae melemah. Ingat, Dek. Namanya juga dokter, pasti akan melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuan mereka!"


"Tidak ada satupun dokter, yang mungkin berani mencelakakan pasiennya sendiri. Karena bagi mereka pasien itu merupakan nyawanya sendiri, jadi kalau dia gagal maka dokter pun bisa merasakan apa yang kita rasakan."

__ADS_1


"Mas mohon, jangan seperti ini. Pikirkan kondisimu saat ini, Dek. Mas yakin Ibu akan bertahan kok, dia tidak mungkin menyerah. Iya, 'kan Dok?"


Samudra menoleh ke arah sang dokter sambil menahan tubuh istrinya, karena dari tadi Bulan selalu menangis dan memberontak


"Jawab!" teriak Bulan, dia seperti bisa merasakan sesuatu hal buruk telah terjadi pada Ibunya. Apa lagi raut wajah sang dokter seakan-akan mewakilkan semua isi hati Bulan.


"Dek, cukup! Mas bilang cukup ya cukup, Ibu pasti ba---"


"Maafkan saya Tuan, Nyonya. Saya sudah berusaha sekuat tenaga untuk mencoba menyelamatkan Nyonya Dara. Namun, Allah berkata lain. Dan Nyonya Dara telah berpulang ke rahmattullah pukul 19.40 WIB."


Duaarrr!


Bagaikan ribuan petir yang menyambar tubuh Bulan, membuatnya langsung terdiam dengan kondisi tubuh mulai merosot ke bawah.


Disini Samudra dan Bulan benar-benar sangat terpukul atas kepergian orang yang sangat berjasa di dalam rumah tangga mereka. Rasanya berat sekali untuk menerima kenyataan, bahwa Ibu Dara telah tiada.


Namun, apa boleh buat. Semua ini sudah bagian dari takdir Allah yang tidak bisa di hindarkan dan juga di rubah. Sampai seketika tubuh Bulan terjatuh dan pingsan tepat di dalam pelukan suaminya.


"Astagfirullah, Dek. Kamu kenapa, Dek? Ayo bangun Sayang, bangun!"


Samudra menepuk pipi Bulan dalam posisi dia terduduk dan memeluk Bulan sambil terus mengusap wajahnya yang sangat pucat. Lalu, sedetik kemudia n Samudra menatap dokter yang juga terlihat panik.

__ADS_1


"Dok, bagaimana ini? Apakah istri saya baik-baik aja?" tanya Samudra penuh kepanikan.


"Mari, Tuan. Bawa istri anda ke dalam ruangan, biar saya bisa lebih leluasa untuk memeriksanya!" titah sang dokter, yang diangguki oleh Samudra.


Perlahan dia mengangkat istrinya, lalu menaruhnya secara hati-hati. Kemudian Samudra sedikit menjauh dari istrinya agar sang dokter bisa leluasa mengecek kesehatannya istrinya.


Beberapa menit berlalu, dokter itu telah selesai memeriksa kondisi Bulan. Lalu, dia berdiri menjelaskan pada Samudra bagaimana keadaan istrinya.


"Saat ini, kondisi Nyonya Bulan sangatlah lemah Tuan. Dia kekurangan banyak cairan, dan juga jam makannya yang telat membuat asam lambungnya naik cukup tinggi, sehingga Nyonya Bulan mengalami kondisi tubuh yang sangat drop."


"Ditambah dia juga terlihat kelelahan karena sudah hampir 1 bulan ini menjaga Ibunya yang sedang kritis. Jadi, saya sarankan untuk Nyonya Bulan di rawat di rumah sakit untuk beberapa hari sampai asam lambungnya membaik. Jika tidak, saya khawatir itu akan berakibat fatal bagi nyawanya sendiri."


Penjelasan dari sang dokter, cuman bisa membuat Samudra menganggukan kepalanya. Bagi Samudra dia akan mengikuti semua saran darinya selagi itu bisa membuat istrinya kembali pulih.


"Baiklah, Dok. Lakukan yang terbaik untuk kesehatan istri saya, dan jangan lupa tolong urus semua kepulangan jenazah mertua saya." ucap Samudra.


Dokter tersebut mengangguk sedikit tersenyum, sambil memasangkan impusan di bantu oleh asisten pribadinya dan suster lainnya.


Setelah Bulan sudah dipasangkan impusan dengan baik, dokter tersebut segera berpamitan dan pergi dari ruangan untuk mengurus yang lainnya.


Begitu juga Samudra, dia menitipkan Bulan pada salah satu suster agar dia bisa mengecek semua kesiapan almarhum mertuanya.

__ADS_1


Tak lupa Samudra segera memberikan kabar duka cita ini pada Om dan Tantenya, agar mereka bisa langsung datang untuk membawa Raka bertemu dengan Neneknya untuk terakhir kalinya.


...***Bersambung***...


__ADS_2