
Setelah beberapa jam berlalu, keadaan sudah semakin larut, Om Faisal beserta Tante Dena langsung berpamitan pada Samudra dan juga Ibu Dara juga Bulan yang masih dalam keadaan tidur.
Seperginya mereka, Samudra menyuruh Ibu Dara untuk beristirahat di sofa agar tidak membuatnya kelelahan seharian harus menemaninya di rumah sakit.
Ibu Dara hanya menganggukan kepalanya, tak lama dia malah tertidur saking lelahnya membuat Samudra tersenyum dan sedikit merasa kasihan terhadap Ibu mertuanya yang rela menemaninya sampai saat ini.
...*...
...*...
1 Minggu berlalu, Bulan baru saja pulang dari rumah sakit. Dia harus pulang ke rumah tanpa membawa sang anak, karena dokter pun belum memperbolehkan untuk pulang. Semua itu demi kesehatan anaknya yang masih belum stabil.
Di rumah, Bulan masih dalam keadaan terdiam tanpa mau mengucapkan satu kata pun. Dia masih merasa bahwa semua ini seperti mimpi buruk untuknya.
"Dek, kamu mau makan?" tanya Samudra duduk tepat di samping istrinya, yang selalu ada diatas kasur.
Bulan cuman menggelengkan kepalanya tanpa mau melihat suaminya, dia memilih tetap terdiam membuat suaminya hanya bisa tersenyum.
"Mau sampai kapan kamu seperti ini, Dek?" tanya Samudra, menatap istrinya menggunakan tatapan sendu.
Bulan tetap terdiam, sampai akhirnya Samudra hanya menggelengkan kepalanya dan mengelus dadanya terus menerus.
"Mas lupa, aku pernah bilang apa ketika aku lahiran? Cuman kenapa Mas malah melakukan ini semua padaku?"
"Jangan bilang, Mas memang tidak mau, kalau aku menjadi seorang Ibu sepenuhnya untuk anak kita. Iya?"
Mendengar perkataan istrinya, Samudra langsung terkejut. Dia mencoba untuk beristigfar atas ucapan istrinya yang sedikit menggores hati kecilnya.
"Astagfirullah, Dek. Kenapa kamu berpikir seperti itu tentang suamimu sendiri? Jika memang Mas tidak mau melihatmu sebagai seorang Ibu, mana mungkin kamu bisa melahirkan seorang putra yang tampan." ucap Samudra.
"Melahirkan, Mas bilang? Itu bukan melahirkan, bukan! Tetapi, ada seorang dokter yang membelah perutku. Paham!" tegas, Bulan. Dia terlihat begitu marah, ketika mengetahui bahwa dia telah melahirkan anak secara sesar.
__ADS_1
Samudra menggelengkan kepalanya kecil, dia tidak menyangka bahwa istrinya bisa semarah ini. Padahal dia tidak tahu, apa yang telah terjadi. Jika bukan karena Samudra, sudah bisa dipastikan bahwa Bulan dan anaknya tidak akan selamat.
Bulan langsung menangis sambil mengalihkan pandangannya dari suaminya. Sementara Samudra yang sudah tidak tahu harus bagaimana lagi, hanya bisa terdiam menatap istrinya yang kembali melamun sambil menangis.
Perlahan Samudra mulai mengutarain permintaan maafnya yang cukup mendalam, hingga tak terasa matanya berkaca-kaca.
"Sebelumnya, Mas minta maaf sama kamu ya. Mas udah ngingkarin perjanjian kita yang sudah kita buat. Sebenarnya Mas terpaksa melakukan itu semua karena saat itu kamu--"
"Stop, Mas! Aku udah enggak mau mendengarkan penjelasanmu lagi. Janji, ya tetap janji, dan Mas sudah mengingkari itu semua!"
"Ingat, Mas. Janji itu adalah hutang, dan semua itu akan ditagih di akhirat kelak!"
Bulan langsung memotong perkataan suaminya, membuat Samudra terdiam untuk beberapa detik. Sampai akhirnya, Bulan kembali berbicara menggunakan nada marahnya.
"Aku mau Mas keluar dari kamar, aku lagi pengen sendiri!" titahnya.
"Tidak, Mas tidak mau meninggalkanmu. Saat ini perasaanmu lagi kurang stabil, Dek. Bahkan Mas juga belum selesai menjelaskan semuanya sama kamu. Jadi please, Mas mohon izinkan Mas menjelaskan semuanya lebih dulu ya. Baru Mas akan keluar dari kamar. Mas janji!"
"Tidak, Mas tidak mau pergi dari--"
"Sudah aku bilang bukan, aku lagi pengen sendiri. Mas ngerti enggak sih, hahh!"
"Aku bilang, pergi ya pergi! Aku tidak mau Mas ada di sini, pokoknya aku minta dengan cepat untuk Mas pergi dari kamar ini, sekarang!"
Emosi Bulan mulai meradang, dia masih tidak bisa terima dengan semua keadaan ini. Apa lagi, sampai detik ini pun Bulan masih belum mendengarkan penjelasan dari suaminya.
Suara yang terdengar melengking, hingga isak tangis Bulan membuat Samudra sudah tidak tega melihatnya.
Belum lagi, jahitan di perut istrinya pun masih sangat basah. Jadi saat ini, pasti Bulan sedang merasakan rasa sakit yang luar biasa, akan tetapi dia bisa menahan semua itu akibat gejolak emosi yang ada di dalam dirinya.
"Aku bilang pergi, Mas. Per-- arrghh hiks ... Pe-perutku!" pekik Bulan sambil memegangi perutnya.
__ADS_1
"Sa-sayang, ka-kamu gapapa? Ki-kita ke rumah sakit aja ya!" ucap Samudra panik, saat melihat wajah kesakitan istrinya.
"Aku enggak akan kenapa-kenapa, selagi Mas mau keluar dari kamar ini, Sekarang!" jawab, Bulan penuh ketegasan sambil diiringi oleh isak tangis serta kesakitan di dalam perutnya.
"Ba-baiklah, Mas keluar ya. Cu-cuman kalau ada apa-apa langsung telepon dan Mas akan segera datang ke kamar tanpa berlama-lama lagi. Mas tinggal ya, Sayang!" ucap Samudra, berat hati.
Dia berdiri, menatap istrinya beberapa detik. Kemudian berjalan perlahan meninggalkan istrinya.
Sementara Bulan, dia masih menangis dan juga menahan rasa sakit di dalam perutnya.
Samudra semakin terlihat idak tega, hingga dia menutup pintu dan berdiri tepat di belakang pintu kamarnya.
"Ma-maafkan Mas, Dek. Mas gagal menjadi suami sekaligus imam di dalam rumah tangga kita. Maaf kalau Mas udah mengingkari janji Mas padamu. Maaf, Dek. Maaf!" ucap Samudra kecil, matanya mulai mengeluarkan air mata.
Ibu Dara yang tidak sengaja melihat keadaan Samudra, langsung bergegas perlahan menaiki anakan tangga. Dimana dia melihat menantunya sedang menangis di depan kamarnya.
"Ada apa, Nak? Apa yang sudah terjadi, sehingga kamu nangis di depan kamarmu sendiri?" tanya Ibu Dara.
Samudra menghapus air matanya perlahan, lalu dia tersenyum menunjukkan wajah yang terlihat baik-baik saja.
"Ehh, I-ibu. A-aku gapapa kok, Ibu tumben naik ke atas. Apa Ibu mau ketemu Bulan?" tanya Samudra, menutupi sakit hatinya.
"Ada apa, Nak? Cerita sama Ibu, apakah Bulan menyalahkanmu atas semua ini?" tanya Ibu Dara, wajah terlihat datarnya.
Samudra terdiam menundukkan kepalanya, setelah beberapa kali Ibu Dara menanyakan kepadanya apakah yang terjadi pada dirinya.
Perlahan Samudra menarik napasnya, kemudian menceritakan secara perlahan bahwa istrinya saat ini sedang salah paham padanya.
Sampai akhirnya Ibu Dara mencoba menenangkan Samudra, lalu menyuruh menantuny untuk beristiraht di kamar tamu lebih dulu. Biar semua ini Ibu Dara yang mencoba menjelaskannya pada anak kesayangan yang sedikit nakal itu.
...***Bersambung***...
__ADS_1