
"Sekarang kamu tenang ya, lebih baik kita ambil wudhu terus kita shalat sunnah biar hati dan pikiran kita semuanya tenang sebelum tidur. Serta kita bisa meminta perlindungan sama Allah, agar rumah tangga kita bisa baik-baik aja dan di jauhi oleh orang-orang jahat yang berniat untuk merusaknya. Aamin Allahhuma Aamin ...."
Samudra menasihati Bulan, dengan penuturan kata yang sangat halus. Sebab, Samudra tidak mau membuat Bulan semakin bersedih atas kesalahan yang dia lakukan.
Tak berlangsung lama, tangis Bulan mulai mereda. Mereka pun segera pergi ke kamar mandi secara bergantian untuk mengambil wudhu, dan melaksanakan shalat malam dengan tujuan agar hati serta pikiran mereka yang sedang kacau bisa jauh lebih tenang lagi.
...*...
...*...
Pagi hari seperti biasanya, setelah shalat subuh. Bulan langsung menyiapkan sarapan ala kadarnyay untuk suami dan juga anaknya, setelah selesai dia langsung mandi dan bersiap-siap.
Di rasa semuanya telah selesai dan Raka pun sudah bangun serta semangat mengantar Bundanya. Tanpa berlama-lama lagi, mereka berangkat menikmati sejuk serta dinginnya udara di pagi hari.
Setibanya Bulan di depan kantormya, dia langsung salim serta mencium wajah anaknya dengan sangat gemas, membuat Raka selalu ungunbnyaertawa cekikikan. Tak lupa, Samudra mencium kening sebagai semangat untuknya.
Kemudian, Bulan berjalan pergi menjauhi mereka sambil melambaikan tangannya. Lalu, merek pun pergi meninggalkan kantor Bulan kembali ke rumah.
Di pertengah jalan, Samudra merasakan hatinya kembali sesak tidak karuan. Raka yang merasa kurang nyaman dengan cara Ayahnya membawa kendaraan, langsung menoleh dan mendongak sambil menunjukkan wajah penuh kekhawatiran.
__ADS_1
"Ayah, kenapa bawa motolnya miling-miling nanti jatuh loh. Ayah hati-hati itu ada belokan!" ucap Raka dengan nada ketakutan.
Samudra susah payah berusaha untuk mengendalikan motornya. Pada akhirnya dia langsung meminggirkan motornya dan berhenti sejenak.
Samudra tidak mungkin memaksakan semua itu, karena bisa membahayakan nyawanya dan juga Raka. Dia sangat takut, bila Raka kembali merasakan trauma seperti pada waktu itu ketika dia dan Bulan hampir saja tertabrak oleh Dzaky.
Akan tetapi, mau tidak mau. Samudra cuman bisa terdiam memegangi dadanya sambil menarik napasnya berulang kalo secara perlahan sampai napasnya kembali normal, dan tidak sesakit pas awal.
"Ayah? Ayang gapapa, 'kan? Ayang sakit ya? Kita ke doktel aja, yuk!"
Raka mendongakkan wajahnya menatap wajah Ayahnya yang saat ini sedang memejamkan kedua matanya, sekedar untuk mencoba menetralkan rasa sakitnya.
Namun, setelah mendengar perkataan anaknya. Samudra pun membuka matanya dan menurunkan tanganya yang ada di dada sambil tersenyum mengacak-acak rambut anaknya.
"Laka enggak apa-apa, Ayah. Laka cuman kaget aja, soalnya Ayah bawa motolnya kaya bukan biasanya. Jadi, Laka terkejut deh. Tapi, Ayah benelan gapapa? Kalau Ayah sakit kita ke lumah sakit aja yok, supaya Ayah bisa cepat-cepet dikasih obat ya." ucap Raka menunjukkan wajah polosnya.
"Tidak perlu, Sayang. Ayah baik-baik aja kok, lebih baik sekarang kita kembali meneruskan perjalan pulang ke rumah habis itu Raka bisa langsung bersiap-siap untuk beristeruhagvkn. Okay?" ucap Samudra, tersenyum menatap Raka.
"Benelan Ayah gapapa? Apa Ayah telpon Bun---"
__ADS_1
Samudra yang mendengar ucapan anaknya, hanya bisa tersenyum menggelengkan kepalanya dengan secara cepat.
"Tidak perlu, Sayang. Pokoknya Ayah minta sama Raka kalau kejadian ini jangan sampai terdengar di telinga Bunda ya. Ayah tidak mau membuat Bunda menjadi khawatir, nanti bisa-bisa Ayah malah membuat Bunda menjadi tidak fokus bekerja. Sampai sini Raka paham 'kan?"
Raka menganggukan kepalanya antusias ketika sedikit mengerti, apa yang Ayahnya sampaikan padanya.
"Ya, Ayah. Tapi, Ayah udah enggak sakit lagi 'kan dadanya? Kalau sakit--"
"Tidak, Sayang. Ayah udah baik-baik aja, sekarang kita pulang ya. Doain aja suapaya kita bisa sampai rumah dalam keadaan selamat." sambung Samudra, memotong perkataan anknya yang selalu di ulang-ulang kembali.
"Aamin, ya sudah ayo Ayah kita pulang. Semoga aja Bi Edoh enggak kelamaan nunggu Laka ya hehe ...."
Raka cengengesan membuat Samudra pun ikut tersenyum, lalu perlahan dia kembali menghidupkan mesin motornya dan mereka pergi meninggalkan tempat tersebut.
...*...
...*...
Kurang lebih 2 jam, Samudra dan Raka sampai di halaman rumah. Tanpa harus membuang waktu banyak. Segera mungkin Samudra memandikan Raka, lalu memakaikan seragam.
__ADS_1
Setelah itu, Samudra menyuapini Raka yang sedang memainkan games di dalam ponselnya. Selang beberapa menit semuanya sudah aman terkendali. Samudra segera mengantar Raka ke rumah Bi Edoh yang sudah menunggunya 5 menit yang lalu.
...***Bersambung***...