Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Penjelasan Bulan Tentang Dzaky


__ADS_3

Seperginya Sabrina dan Jefri, Samudra langsung mengajak anak serta istrinya kembali ke rumah akibat hari sudah semakin larut.


Bulan yang melihat wajah suaminya sedikit masam, membuat jantungnya berdetak sedikit cepat. Bulan takut, kalau Samudra akan menjadi salah paham atas ucapan Sabrina.


Kemudian mereka pun pulang dalam keadaan hening, dimana Raka yang mulai sedikit mengantuk akibat terkena air malam yang begitu menyejukkan.


Sementara Samudra terlihat sangat serius menatap jalan dan Bulan yang sedang berusaha membuat jantungnya tenang supaya dia tidak salah dalam menjelaskan segala sesuatunya pada suaminya nanti.


Setibanya di halaman rumah, Bulan pergi untuk membukakan pintu terlebih dahulu. Setelah itu, Samudra perlahan memasukan motornya ke dalam rumah lantaran tidak ada garasi di samping rumah.


Semua demi tidak membuat Raka terbangun dari tidurnya di dalam dekapan tangan kanan Samudra. Saat motor sudah terpakir rapi, sedikit demi sedikit Samudra menurunkan kakinya lalu menggendong Raka ke dalam pelukannya untuk membawa Raka ke kamarnya sendiri.


Perlahan Samudra meletakan Raka, kemudian Bulan mencoba untuk membenarkan posisi Raka dan mencopot sepatu yang Raka pakai secara hati-hati agar tidak membangunkan Raka.


Samudra yang sudah selesai dengan tugasnya, sedikit merenggangkan badannya akibat tangannya cukup pegal menahan tubuh Raka yang tertidur di depannya.


"Mas tinggal ya, mau langsung bersih-bersih dulu." ucap Samudra yang diangguki oleh istrinya.


Mata Bulan pun tak henti-hentinya selalu melihat kepergian suaminya, rasanya dia tidak tenang ketika belum menjelaskan tentang perkataan Sabrina yang sedikit menggemparkan.


Di rasa Raka sudah cukup aman dan tertidur sangat pulas, Bulan pun segera pergi ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya sambil bersih-bersih.


Kurang lebih 15 menit, Bulan sudah duduk tepat di samping Samudra sambil berselonjor menyandar di sandaran kasurnya.


Samudra masih terdiam menatap ponselnya, sementara Bulan sedikit ragu untuk membuka suara pertama kali pada suaminya.


Sampai seketika mereka malah membuka suara satu sama lain secara kompak, dengan menatap satu sama lain.


"Mas, aku mau ngomong!"


"Dek, Mas mau ngomong!"


Perkataan yang serentak itu, membuat keduanya terdiam saling menatap untuk beberapa detik. Dan membuat Samudra langsung mengalihkan tatapannya.


"Ya sudah, kamu dulu. Mau ngomong apa?"

__ADS_1


"Mas, dulu aja. Aku dengerin, baru nanti aku."


"Kamu dulu aja, Mas yang dengerin."


"Mas dulu aja, aku belakangan."


"Kamu aja."


"Mas aja."


"Huhh, baiklah. Mas duluan."


"Jangan deh, aku duluan aja."


"Mas aja, nanti baru kamu."


"Ishh, aku dulu. Baru Mas."


"Ya udah, yayaya. Kamu duluan, mau ngomong apa?"


"Astagfirullah'alazim, Dek, Dek. Kamu ini kenapa toh? Dari tadi kok ngebalikin aja. Bagian Mas mau duluan di larang, Mas belakangan di larang. Maumu tuh apa? Coba, ngomong!"


"E-eee ... A-aku, e-enggak jadi deh. A-aku takut Mas marah."


"Mas enggak marah, Sayang. Coba katakan, kamu mau ngomong apa hem?"


"Enggak mau, buktinya tadi aja Mas langsung istigfar terus nadanya kesel gitu. Bagaimana aku mau ngomong. Pasti yang ada Mas tambah marah sama aku."


"Enggak, Sayang. Mas janji, Mas enggak akan marah kok. Sekarang mau ngomong apa, hem?"


Samudra memegang tangan istrinya dan sedikit mengelusnya menggunakan Ibu jarinya sambil tersenyum menatapnya.


Meski, Rasanya Samudra ingin sekali menanyakan maksud dari ucapan Sabrina itu. Cuman, dia mengurungkan niatannya agar membuat Bulan sendirilah yang akan menjelaskannya padanya, bertujuan supaya melatih keberanian Bulan untuk menyelesaikan masalahnya.


Terlihat dari sorotan mata Bulan kalau dia sedikit takut jika Samudra sampai salah paham dengan penjelasannya.

__ADS_1


Namun, dengan segenap keberanian yang Samudra berikan padanya akhirnya Bulan perlahan mulai mencoba menjelaskan semuanya.


"Ma-mas, a-apa yang dikatakan Sabrina itu tidak benar. Dia hanya salah paham padaku, sama seperti karyawan lainnya. Sebelumnya aku minta maaf, karena aku tidak pernah menceritakan apa yang sudah terjadi padaku selama di kantor."


"Sabrina merupakan salah satu teman kerjaku yang dulu pernah menjadi sekretaris Tuan Dzaky, akan tetapi Tuan Dzaky tidak mempertahankannya lantaran sikapnya yang membuat Tuan Dzaky seperti merasa tidak suka. Karena dia selalu berusaha untuk menggoda Tuan Dzaky dengan gerakan tubuhnya yang seakan merayunya."


"Dari situlah, Sabrina tersaingi olehku karena dia merasa Tuan Dzaky selalu berpihak padaku. Apa lagi ketika meninggalnya Ibu waktu itu, aku hampir 1 bulan tidak masuk kantor. Disitulah terjadi berdebatan dan juga demo karyawan kepada Tuan Dzaky. Mereka merasa Tuan Dzaky seperti menyespesialkan aku dari pada yang lain."


"Semua itu karena ketika mereka meminta izin selama 1 Minggu saja, Tuan Dzaky malah ingin memecatnya. Sementara aku, Tuan Dzaky sama sekai tidak memberiku peringatan ataupun memecatku secara tidak hormat. Seakan-akan Tuan mempertahankanku karena kinerjaku cukup bagus, cekatan dan juga mudah untuk diandalkan."


"Sampai akhirnya, Tuan Dzaky langsung melakukan meeting terbuka secara luas di halaman kantor. Dia mencoba menjelaskan segala macem, dan membuat karyawan menjadi mengerti. Meskipun mereka malah membenciku, tetapi aku tidak masalah. Niatku hanya untuk bekerja, mungkin ini adalah rezekiku jadi aku tidak mau berburuk sangka pada Tuan Dzaky."


"Jadi, Mas jangan salah paham lagi ya. Aku dan Tuan Dzaky tidak ada apa-apa, sumpah demi Allah Mas. Aku disana hanya bekerja dan menyelesaikan tugasku supaya bisa cepat pulang bermain dengan kalian. Aku mohon percaya sama aku Mas, aku janji. Aku tidak akan macam-macam, karena aku sangat mencintaimu."


"Kamu adalah suamiku, yang begitu sempurna. Jadi aku tidak akan menyia-nyiakanmu, sampai kapanpun itu. Walaupun aku sering kali marah dengan keadaan kita ini, cuman aku tidak mau berpisah denganmu. Bagiku, kamu dan Raka adalah hartaku apa lagi Ibu telah tiada. Aku sudah tidak mau merasakan kehilangan lagi, cukup Ibu yang terakhir. Maka dari itu, aku mau kita selalu bahagia sampai ajal menjemput kita."


Bulan menjelaskan semua yang tidak Samudra ketahui, sehingga membuat suaminya hanya terdiam mendengarkan semua cerita yang istrinya sampaikan.


Cukup terkejut sih, ketika Samudra selama ini menganggap bahwa istrinya baik-baik saja saat berada di kantor. Akan tetapi, nyatanya dia salah besar. Istrinya berusaha menahan dan menyembunyikan semua permasalahan yang besar itu kepadanya supaya tidak membuatnya khawatir.


Ya, walaupun Samudra sudah menduga itu akan terjadi, cuman karena sikap istrinya yang baik-baik saja saat di rumah. Tidak membuat Samudra mencurigainya, malah Samudra bersyukur jikalau istrinya masih bisa bekerja di kantor tersebut.


Bulan memeluk suaminya dari samping cukup erat, sambil meneteskan air matanya. Bulan benar-benar tidak mau lagi merasakan kehilangan orang yang sangat dia cintai, karena kalau itu terjadi bisa dipastikan bahwa Bulan tidak akan baik-baik saja.


Namun, Samudra hanya bisa tersenyum mencium istrinya sambil merebahkan tubuh mereka untuk beristirahat.


Ketika Bulan mulai tenang dan memejamkan matanya, Samudra malah terdiam melamun dalam keadaan memeluk istrinya.


Entah apa yang Samudra pikirkan saat ini, dia terlihat begitu bingung, takut dan juga khawatir jika apa yang ada di dalam pikirannya benar-benar terjadi. Karena Samudra sangat paham, dari semua cerita yang Bulan katakan itu membuat Samudra sedikit percaya, jika ada sesuatu yang mengganjal di dalam sikap atasan Bulan pada istrinya itu.


Kecurigaan dan juga rasa penasaran mulai muncul membuat Samudra melek sepanjang malam untuk selalu berjaga agar apa yang dia pikirakan tidak sampai terjadi.


Berulang kali Samudra beristigfar sampai perasaannya mulai tenang, barulah tepat di jam 3 dini hari, dia mulai memejamkan matanya dan tertidur bersama istrinya yang sudah lebih dulu bermimpi.


...***Bersambung***...

__ADS_1


__ADS_2