
Samudra hanya bisa tersenyum melihat kobaran semangat anaknya yang sangat membara, bagaikan si jago merah yang akan melahap semuanya hingga habis tak tersisa.
Setelah selesai sarapan, Samudra mengantarkan Raka ke rumah Bi Edoh yang tak jauh dari rumahnya. Hanya berjarak 5 rumah dari rumahnya, sehingga ketika berangkat dan pulang sekolah Raka akan bersama dengannya. Sampai Samudra kembali menjemputnya pulang.
...*...
...*...
...Di sekolah TK Ceria Bersamaku...
Saat ini Raka baru saja tiba di sekolah pukul 09.45 WIB. Dia diantar eh Bi Edoh dengan naik angkutan umur, karena jarak rumah dan sekolah hanya sekitar 20 menit lamanya
Semua itu Samudra biasakan, agar Raka tumbuh menjadi anak laki-laki yang mandiri dan tidak tergantung oleh kendaraan yang dia punya.
Selagi masih bisa dijangkau oleh angkutan umum, maka Samudra tidak akan mengantar Raka. Meski, sesekali dia pernah mengantarnya ketika Bi Edoh sedikit sibuk dan akan menyusulnya nanti supaya Raka tidak sampai terlambat ke sekolah.
Ketika Raka masuk ke dalam kelasnya, Bi Edoh hanya bisa menunggu di dekat taman bersama dengan yang lainnya.
Kurang lebih 2 jam lamanya, tiba-tiba bel istirahat pun berbunyi. Semua pelajaran di berhentikan sejenak untuk memberikan waktu kepada semua murid untuk beristirahat.
Namun, di saat Bi Edoh mengobrol dengan pengasuh serta Ibu-ibu lainnya. Tiba-tiba Raka mendekatinya dan berdiri di hadapannya.
"Loh, udah istirahat?" tanya Bi Edoh.
"Bi Edoh, Laka mau jajan itu boleh?" ucap Raka, menyerongkan tubuhnya sambil menunjuk ke arah salah satu gerobak yang mangkal di depan sekolahan.
__ADS_1
Bi Edoh menoleh dan tersenyum menatapnya sambil mengusap pipi Raka. "Boleh, tapi nanti sampai rumah harus makan ya. Kalau enggak makan nanti Bibi di omelin Bunda sama Ayah, terus Raka enggak dikasih uang jajan lagi mau?"
Raka langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat dan membantah semua itu sambil menunjukkan wajah sedihnya.
"Enggak mau, Bibi. Laka mau jajan itu, nanti Laka janji deh. Laka pasti makan setiap pulang sekolah, bial nanti Bibi enggak kena malah Bunda sama Ayah." jawab Raka.
"Uhhh, pinternya. Ya sudah ayo kita jajan, tapi ingat ya. Enggak boleh jajan aneh-aneh dan tidak boleh tidak di makan. Janji?" ucap Bi Edoh, menunjukkan jari kelingkingnya di depan wajah.
"Janji, Bibi Laka yang baik." sahut Raka menautkan jari kelingkingnya yang kecil, sambil terkekeh ketika Bi Edoh mencubit gemas hidungnya karena Raka telah berani menggodanya.
Melihat pemandangan yang begitu manis itu, membuat sebagian pengasuh merasa senang dan sedikit iri. Meskipun gaji mereka lebih besar dari Bi Edoh, tetapi mereka tidak seberuntung Bi Edoh yang mendapatkan anak majikan seperti Raka.
Banyak dari cerita mereka yang Bi Edoh dengarkan tentang keluh kesalnya saat menghadapi betapa nakalnya anak majikannya itu.
Cuman, Bi Edoh hanya bisa menasihatinya lantaran anak kecil memang samgat aktif, jadi semua bagaimana kita yang mengajarkannnya.
Jika kita sabar dan perlahan mencoba untuk membuatnya mengerti, maka dengan sendirinya anak kecil itu akan mengerti.
"Sebentar ya, saya mau ke sana dulu. Nanti kita lanjutkan lagi ngobrolnya." ucap Bi Edoh, tersenyum dan diangguki oleh yang lain sambil menyapa Raka.
Bi Edoh menggadeng tangan Raka, dimana Raka terlihat bahagia saat dia ingin mendapatkan apa yang dia inginkan. Sesampainya di gerobak jajanan yang Raka mau, Bi Edoh langsung menanyakannya.
"Ini berapaan satunya, Pak?" tanyanya sambil menunjuk ke arah jajanan tersebut.
"Seribuan, Mbak. Mau yang mana?" tanyanya balik.
Bi Edoh menatap Raka yang terdiam melihat jajan itu dengan wajah bingungnya. "Kenapa, Sayang? Kok lihatnya begitu?"
"Laka bingung, Bi. Jajanannya banyak banget, Laka pusing mau milih yang mana." jawab Raka, menggaruk kepalanya.
"Hihi ... Tadi aja merengek, katanya mau jajan ini. Bagian udah disini malah bingung mau milih yang mana. Hem, dasar!" ucap Bi Edoh gemas.
__ADS_1
"Heheh, ya maap Bibi. Ya udah Laka mau sosis sama telul gulung itu. Ehh, tapi Laka juga mau naget itu sama yang ono itu, boleh?" ucap Raka sambil menunjuk-nunjuk jajanan tersebut.
"Ya sudah, Pak di campur aja semuanya 2 macam 2 macam aja." sahut Bi Edoh agar tidak membuat pedagangnya kebingungan.
"Woke siap, Mbak." jawabnya penuh semangat.
Raka tersenyum menatap Abang tersebut sedang memasukan jajanannya ke dalam plastik dengan sangat lihai. 10 tusuk telah tersusun rapi di dalam wadah plastik yang cukup besar.
"Ini mau pakai saos atau--"
"Mau, mau. Laka mau pakai saos yang banyak, kalena Laka suka pedes." Laka langsung memotong ucapan Abangnya itu, dengan sangat antusias.
"Ettts, tidak boleh. Laka 'kan masih di sekolah, bagaimana jika nanti perut Raka sakit, terus harus bolak-balik ke kamar mandi. Hayo? Nah, nanti kalau sakit Bi Edoh yang kena marah Bunda sama Ayah. Laka mau?" jawab Bi Edoh, mengingatkan Raka.
"Enggak mau, tapi Laka mau pakai saos Bibi." rengek Raka menunjukkan wajah sedihnya.
"Ya sudah boleh pakai saos, tapi secukupnya aja ya Pak. Jangan banyak-banyak takut nanti kena baju."
Abang itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Lalu memberikan 3 sampai 5 sendok saos yang sedikit encer. Setelah selesai, langsung menaruhnya di plastik dan di kasihkan kepada Raka.
Dimana raut wajah Raka begitu bahagia menerima jajanan tersebut, kemudian Bi Edoh membayar jajanan itu menggunakan uang yang selalu di berikan oleh Samudra untuk uang saku Raka di sekolah setiap harinya.
Berbeda dengan Bulan, yang saat ini sedang fokus menemani Dzaky meeting bersama asisten pribadinya. Banyak karyawan yang memperbincangkan Bulan lantaran mereka menganggap, Bulan merupakan karyawan kesayangan Dzaky.
Semua itu terjadi, saat Bulan hampir 1 bulan tidak masuk kerja akibat mengurus kepergian Ibunya. Akan tetapi, Dzaky tetap mempertahankan Bulan. Berbeda dengan karyawan lainnya yang baru mau mengajukan libur 1 Minggu, malah diberikan pilihan antara izin selama 3 hari atau dipecat untuk selamanya.
Betapa kejamnya Dzaky, bukan? Ya itulah dia, Dzaky terlalu mementingkan dirinya sendiri. Baginya waktu adalah uang, jadi dia tidak akan menyia-nyiakan semuanya demi kesuksesannya.
Namun, sedangkan Bulan yang seperti itu. Dzaky malah tidak mempermasalahkannya sehingga di kantor terjadi sedikit senggolan antara Bulan dan karyawan lainnya.
Akan tetapi, setelah semua masalah itu telah di selesaikan kini suasana kantor menjadi kondusif. Meskipun, Bulan masih di pandang tidak suka oleh beberapa karyawan yang menganggap dirinya telah menjadikan Dzaky sebagai simpanannya.
__ADS_1
...***Bersambung***...