
Celotehan serta sindiran terus terngiang di telinga Bulan yang masih menikmati makanannya. Rasanya Bulan sudah tidak kuat menahan panas di kupingnya saat ini, ketika mendengar semua kejelekan yang mereka gosipkan.
Namun, apa daya. Bulan tidak mau terpancing oleh mereka, setidaknya Bulan tidak melakukan apapun kepada keluarganya dan niat dia hanya ingin bekerja demi menyekolahan Raka sampai ke pendidikan yang lebih tinggi. Bukan untuk bermain gila pada Bosnya sendiri, seperti yang mereka gosipkan sekarang.
Hanya saja, semakin Bulan diamkan semakin mereka menjadi-jadi untuk terus membully Bulan dan menjelekan namanya sampai beberapa karyawan lainnya mendengar dan ikut menjulitinnya.
"Aduh, kenapa rasa kuah basonya begini? Perasaan tadi bibirku sudah dower akibat kepedesan, tapi kenapa rasanya jadi berubah manis?"
"Ahha, aku tahu. Pasti semua ini karena ucapan tetangga sebelah jauh lebih pedas dari kuah baso ini. Makannya basonya jadi minder, akibat rasa pedasnya terkalah 'kan dengan pedasnya perkataan orang yang tidak bisa di saring!"
Bulan melirik mereka semua dengan sedikit tajam, tak lupa untuk membalas semua perkataan mereka menggunakan ucapan yang cukup menyentuh.
Sampai-sampai mereka langsung terdiam kesal. Padahal dari sekian banyaknya perkataan karyawan yang menjelekan Bulan, cuman beberapa kalimat yang Bulan berikan seperti berhasil menyentil hati mereka hingga terlihat begitu marah.
"Maksud lu apaan ngomong begitu, hahh! Lu nyindir kita semua?" tegas salah satu karyawan sambil berdiri menatap Bulan yang masih menikmati baso merconnya.
"Maaf ya, saya tidak menyindir. Lagi pula saya cuman lagi membandingkan antara pedasnya baso sama ringannya mulut tetangga. Kenapa kalian malah merasa tersindir? Memangnya kalian tetanggaku? Bukan, 'kan? Jadi ya sudah, jangan marah-marah biasa aja!" cicit Bulan, nadanya sedikit cuek.
Ke-3 karyawan itu yang mulai kesal atas ucapan Bulan, segera berdiri dan langsung bergegas mendekati Bulan yang berada tidak jauh dari mereka. Hanya sekitar 5 langkah, mereka sudah berdiri di samping Bulan yang masih makan.
"Lu kira gua anak kecil yang bisa lu bohongin! Jelas-jelas gua denger lu nyindir kita, bahkan dari kalimat yang lu ucapkan itu lu selalu menatap kami dengan tatapan sinis. Jadi, apa itu maksudnya kalau bukan menyindir, hahh!"
Brakk!
Salah satu karyawan menggebrak meja Bulan cukup keras hingga membuat kuah baso menjadi tumbah.
"Ya ampun, sayang banget kuahnya tumpah. Padahal ini enak banget, tidak pedas dan tidak menyakitkan lambung. Dari pada ucapan tetangga sebelah, tidak berisi tetapi menyakitkan hati."
Lagi-lagi, Bulan menyindir mereka bertiga sambil mengelap meja tersebut, supaya terlihat bersih ketika di pandang.
__ADS_1
"Wah, sumpah ini orang mulutnya belum pernah makan bangku sekolah kali ya. Dari tadi sekalinya ngomong nyelekit banget, asli!" tegas karyawan 1, dengan tatapan emosi serta salah satu tangan berada di pinggang.
"Maklumin ajalah, mungkin dulu orang tuanya salah dalam mendidik anaknya. Sehingga, dia tumbuh menjadi wanita yang memiliki akhlak buruk!" sahut, karyawan 2.
"Hem, bisa jadi tuh. Pantas saja dia suka belok, jangan-jangan Ibunya juga punya 2 suami lagi?" sindir karyawan 3.
"Wah, bisa jadi tuh. Hahah ...." Mereka bertiga tertawa cukup puas, menyindir Bulan hingga membuat wajahnya memerah.
Awalnya Bulan masih terlihat sabar, memendam segala emosi di dalam hatinya. Akan tetapi, apa lagi yang harus dia tahan? Saat mereka bertiga berhasil menyeret mendiang kedua orang tuanya, ke dalam permasalahan yang sama sekali tidak mereka perbuat.
Disini hati seorang anak terguncang, karena seburuk apapun seorang anak dan seburuk apapun orang tuanya. Yang namanya anak, tidak akan pernah terima jika kedua orang tuanya di senggol serta dijelek-jelekan seperti ini.
Tangan Bulan mengepal cukup kuat ketika mendengar tawa ke-3 karyawan itu seakan-akan telah menggoreskan luka, begitu panjang di dalam hatinya yang teramat menyakitkan.
Rasa sesak Bulan rasakan, sampai napasnya mulai tidak beraturan. Ditambah lagi tatapan matanya benar-benar sangat merah menahan gejolak amarah yang sedari tadi dia tahan.
Tanpa menunggu lama lagi, Bulan berdiri lalu menatap mereka bertiga dengan sudut bibir tersenyum miring ketika melihat mereka masih tertawa.
Plaaak!
"Arrghh, ssttt ..." karyawan 1 memegang pipinya dengan tatapan marah.
"Berani-beraninya lu nampar teman gua, hahh!" geram karyawan 2.
Plaaak!
Lagi-lagi Bulan memberikan tamparan pada karyawan 2 secara enteng dan tidak merasa bersalah.
"Hyaakk, sia*lan!" pekik karyawan 2, memegang pipinya.
__ADS_1
"Wahh, ini orang minta di kasih pelajaran sumpah! Gua enggak terima teman-teman gua di giniin, dasar wanita murahan!" sahut karyawan 3 yang sudah tidak terkontrol, tetapi malah terkena imbasnya pula.
Bulan tidak segan-segan memberikan 3 tamparan kepada mereka secara adil, dengan tujuan untuk memberikan efek jera, supaya mereka tidak lagi berani menghinanya kedua orang tuanya.
"Gimana? Sakit? Perih? Marah? Benci? Silakan! Saya tidak peduli, dari tadi kalian menjelekan saya dan keluarga saya. Tapi, saya masih terdiam memantau sejauh mana kalian sadar dengan apa yang kalian ucapkan!"
"Cuman, lama kelamaan kalian malah tidak bisa dibaikin. Perkataan kalian itu sangatlah busuk, bahkan lebih busuk dari baunya sampah yang menumpuk dijalan!"
"Sumpah, saya baru tahu jika umur tidak menjafikan patokan kedewasaan seseorang. Sekarang lihatlah ke diri kalian sendiri, sudah tua kelakuan masih kaya anak masih dibawah umur yang selalu menyangkut pautkan semuanya dengan orang tua!"
"Asalkan kalian tahu aja ya, saya tidak masalah beribu-ribu kali kalian menghina saya sampai mulut kalian berbusa membicarakan kalau saya ini wanita murahan dan sebagainya. Saya tidak peduli!"
"Bagi saya, selagi saya tidak melakukan apapun yang kalian ucapkan buat apa saya marah, toh suami dan anak saya mereka tahu apa saja yang saya lakukan selama bekerja disini!"
"Hanya saja, saya tidak terima. Kalian menjelekkan mendiang kedua orang tua saya, seenak jidat kalian sendiri tanpa kalian memikirkan bagaimana perasaan saya di sini!"
"Bagaimana kalau kalian berada di posisi saya, apakah kalian terima saya menjelekan kedua orang tua kalian? Tidak, 'kan. Jadi, saya mohon stop membully dan stop mencari gara-gara di kantor, jika kalian mau bekerja dengan nyaman."
"Kita itu disini sama-sama mencari rezeki, kalau pun kalian tidak suka sama saya. Itu tidak masalah, semua berhak punya pendapatnya masing-masing. Tapi, sekali lagi tolong, tolong dan tolong banget. Jangan pernah sentuh dan membicarakan tentang mendiang kedua orang tua saya ataupun suami serta anak saya. Paham kalian!"
"Jika semua itu masih terulang kembali terdengar di telinga saya, maka jangan salah 'kan saya. Kalau kalian akan melihat sisi lain dari Bulan yang kalian lihat saat ini!"
Perkataan Bulan yang begitu mendalam, di penuhi dengan suara lantang dan tegas. Berhasil menyita perhatia semua orang yang ada di kantin, untuk menyimak dan ada pula beberapa yang memvideokannya. Lalu, menaruhnya di akun media sosial mereka guna untuk menambah view followers akunnya.
Bulan langsung pergi begitu saja dengan raut wajah yang sangat merah, hingga air matanya menetes tanpa isakan.
Suasana yang ada di kantin telihat begitu sepi, karena masih terngiang-ngiang dengan ucapan Bulan. Wanita lemah lembut, yang selalu terlihat ramah seketika berubah menjadi singa betina yang begitu galak ketika anak serta keluarganya di sentuh orang lain.
Sementara ke-3 karyawan itu pun, terlihat kesal dan langsung pergi meninggalkan kantin. Mereka merasa di permalukan oleh Bulan dengan perlakuan Bulan yang teramat membekas di dalam ingatan mereka.
__ADS_1
Sesampainya Bulan dilantai tempat kerjanya, dia segera berlari menuju kamar kamar mandi. Bahkan Bulan menghiraukan semua tatapan aneh karyawan yang menatapnya ketika menangis, saat berpapasan ketika dia berjalan menuju meja kerjanya.
...***Bersambung***...