
Selama ini memang dia bersikap seenak jidatnya sendiri kepada karyawannya. Hingga yang ada dipikiran dia hanya kesuksesannya tanpa memikirkan nasip karyawannya sendiri.
Dari situlah mereka ngobrol satu sama lain dari hati ke hati, tanpa adanya emosi. Sampai akhirnya mereka kembali berbaikan, dan Bulan pun menerima hadiah itu sebagai hasil kerja kerasnya selama ini.
Kemudian, Bulan pamit untuk mengerjakan pekerjaannya yang masih menumpuk di layar komputer.
Sementara Dzaky, dia hanya bisa tersenyum menatap kepergian Bulan. Rasanya hatinya begitu tentram dan juga tenang saat Bulan sudah memaafkannya. Tidak segelisah tadi, ketika mengetahui jika Bulan sangat marah padanya atau Dzaky sedikit takut jika Bulan akan membencinya.
...*...
...*...
Malam hari, Bulan yang baru saja sampai dirumah. Dia langsung bersih-bersih, lalu main sebentar dengan Raka sampai tertidur. Barulah Bulan pergi ke kamarnya untuk menemani Samudra yang sedang duduk selonjoran di atas ranjang sambil memainkan ponselnya.
Namun, ketika Bulan baru saja duduk dan mengambil ponsel barunya di tas. Tiba-tiba saja Samudra menoleh dan menatap penuh keterkejutan dengan merek ponsel ternama yang berada di tangan istrinya.
"Dek, ponsel siapa itu? Kok bisa ada di kamu?" tanya Samudra, menatap bingung.
"Ya ampun, aku lupa belum bilang sama kamu ya, Mas. Aduh, maaf ya, Mas. Ini ponsel pemberian dari atasanku, karena kamu tahu 'kan penyebab rusaknya ponselku itu gara-gara dia juga."
"Nah, terus dia merasa bersalah dan akhirnya dia memberikan ponsel ini padaku untuk tanda permintaan maaf dan juga bonus dari pekerjaan yang sudah aku selesaikan dalam waktu kurang lebih 1 bulan ini."
"Dia baik banget ya, Mas. Ya, walaupun dia atasan yang menyebalkan. Akan tetapi, benar katamu, Mas. Kalau orang yang terlihat menyebalkan ataupun jahat, tidak menutup kemungkinan kalau dia juga punya hati yang baik. Beruntung deh, aku punya atasan seperti dia. Cuman aku enggak mau terlalu muji dia, takut besar kepala. Mas tahu sendiri, dia tuh orangnya seper---"
__ADS_1
Ketika Bulan sedang asyik-asyiknya bercerita mengenai hadiah dari Dzaky, tiba-tiba Samudra memotongnya begitu saja dengan respon yang cukup berbeda dari biasanya.
"Kok aneh ya, biasanya atasan kalau mau ngasih bonus itu pasti ketika karyawannya sedang gajian. Cuman kenapa kali ini caranya berbeda?"
"Setahuku ya, pada waktu aku masih kerja di kantor sepertimu. Maka, seorang atasan akan memberikan bonus bersamaan dengan gaji. Dan itu tidak berupa barang seperti ini, apa lagi aku tahu banget merek ponsel yang dia berikan bukan ponsel biasa. Harganya pun sama aja kaya kamu membeli satu buah motor yang kualitas bagus."
"Jadi, tidak mungkin dong. Seorang atasan memberikan hadiah semahal ini kepada karyawan yang baru saja bekerja, hanya karena dia merasa bersalah. Kalau memang benar dia merasa bersalah, maka dia akan menggantikan dengan uang yang sama dengan harga nominal ponselmu, bukan melebihi harga ponselmu yang berkali-kali lipat."
Degh!
Perkataan Samudra kali ini benar-benar di luar dugaan Bulan, dia tidak menyangka jika respon Samudra akan di luar ekspetasi seperti ini.
Bulan mengira, kalau Samudra akan memuji atasannya sama seperti yang dia lakukan biasanya ketika Bulan selalu mengeluh tentang Dzaky.
"Ada apa sama dirimu, Mas. Kenapa tanggapanmu seolah-olah kamu sedang menaruh curiga pada atasanku? Bukannya selama aku mengeluh tentangnya, kamu selalu membela dia? Cuman kenapa sekarang responnya malah jadi bertolak belakang?"
"Sebenarnya ada apa denganmu, Mas? Jangan bilang kalau kamu cemburu sama atasanku, iya? Wahh, kejadian langka nih ... Ternyata suamiku ini bisa cemburu juga ya. Uhh, jadi tambah sayang deh hehe ...."
Bulan langsung melendot di lengan suaminya sambil mencolek kecil dagu Samudra guna untuk menggodanya. Terlihat jelas wajah Samudra memerah menahan rasa malunya, cuman dia terlalu pintar untuk menyembunyikannya.
"Apa sih, Dek. Mana mungkin Mas cemburu, lagi pula kamu sudah menjadi istri Mas bertahun-tahun. Jadi apa yang harus di cemburuin? Aku cuman bingung aja, kenapa ada atasan sebaik itu?" tanya Samudra, menahan segala rasa malunya.
"Entahlah, Mas. Aku juga bingung, padahal kalau sama karyawan lainnya dia tidak sampai seperti itu loh, malahan banyak yang iri padaku. Termasuk asisten pribadinya sendiri." jawab Bulan, memeluk suaminya dari samping.
__ADS_1
"Itulah yang aku khawatirkan, dari semua cerita yang kamu ceritakan tentang atasanmu itu. Aku ngerasa kalau dia tuh kaya seseorang yang lagi diam-diam menaruh hati pada seorang wanita. Jadi apapun itu, dia selalu memproritaskan wanitanya. Walaupun banyak pandangan jelek yang terus menyudutkannya." sahut Samudra.
Bulan yang mendengar itu semua langsung melepaskan pelukannya dan menatap suaminya lekat-lekat. Bulan sendiri pun merasa seperti itu, hanya saja dia tetap berpikir positif.
Cuman, saat suaminya juga merasakan hal yang sama malah semakin membuat Bulan merasa tidak nyaman dengan perlakuan Dzaky padanya.
"Ma-maksud, Mas. A-atasanku itu me-menyukaiku, begitu?" tanya Bulan, terbata-bata.
"Sepertinya sih begitu. Apa lagi aku juga seorang pria, Dek. Jadi, aku pun bisa membaca dari sikapnya padamu. Cuman, kembali lagi. Selagi kamu tidak menanggapi ataupun membuka celah untuk dia masuk lebih dalam lagi, maka semua itu tidak akan terjadi. Paham 'kan apa yang aku bicarakan ini?"
Samudra berusaha memberikan kode keras kepada Bulan, sebab semua itu seperti warning bagi rumah tangga mereka. Jadi, bagaimanapun mereka harus saling menjaga dan juga melindungi satu sama lain, agar cinta mereka tidak sampai kandas hanya karena orang ketiga.
"Aku paham, Mas. Cuman ada satu yang harus Mas ketahui, kalau aku tidak akan pernah mengkhianatimu. Sekalipun ada seseorang yang akan mengadu domba kita, supaya rumah tangga kita hancur berantakan."
Bulan berbicara saat dia kembali mengingat tentang perkatakan seseorang yang telah mengancamnya. Sementara Samudra yang tidak mengerti maksud dari apa yang istrinya katakan, membuat dia sedikit heran sambil mengerutkan keningnya.
"Ma-maksudmu apa, Dek? Mas tidak paham, memangnya siapa yang mengadu domba kita?" tanyanya, penasaran.
Wajah Bulan seketika berubah menjadi tegang, dia bingung. Apa udah saatnya dia menceritakan semua itu, atau dia harus kembali menyembunyikannya? Sumpah, Bulan benar-benar bingung.
Dia berada di ambang ke dilemaan yang cukup berat. Satu sisi Bulan ingin sekali menceritakan soal pengancaman itu pada suaminya, cuman satu sisi lagi. Dia takut jika suaminya akan marah padanya, karena Bulan tidak sengaja melakukan semua itu pada atasannya.
Beberapa menit Bulan terdiam, membuat Samudra yang sedari tadi memperhatikan. Malah semakin percaya, kalau ada sesuatu yang sedang istrinya sembunyikan. Semua itu, terbukti dari cara Bulan yang seperti memberikan kode tertentu padanya.
__ADS_1
...***Bersambung***...