
Kemudian, mereka tertawa bersama saat mendengar perkataan cadel dari Raka. Sehingga Raka sendiri pun menjadi bingung, saat melihat mereka malah tertawa.
Selang beberapa detik Bulan menyamaratakan tinggi anaknya, kemudian menjelaskan kepada anaknya untuk membenarkan kalimatnya. Meskipun mereka tertawa bersama ketika melihat bocah kecil itu mencoba untuk menasihati orang tuanya, seakan-akan Raka malah terkesan sedang melucu bagaikan seorang pelawak.
Maklum ya, namanya anak kecil terkadang masih belepotan ketika berbicara dan juga daya ingatnya masih belum terlalu kuat.
"Oh jadi namanya duljan-- ehh, ma-makcudnya dulkaha gitu, Bunda?" ucap Raka, wajahnya terlihat polos.
"Ya, betul." sahut Bulan, sambil mencolek hidung Raka.
"Ishh, Bunda anti hidung Laka pecek tahu, hump dacal Bunda nyebelin!" pekik Raka, kesal. Lalu, dia meletakkan kedua tangannya di pinggang dalam mode marah, yang terkesan sangat lucu.
"Uluhh, uluhh ... Memang hidung Raka pesek, 'kan Raka itu miripnya sama Bunda. Wlee!" ledek Bulan, membuat Raka mengerutkan dahinya.
"Yakk, ndak mau! Pokokna hidung Laka itu miyip cama aya Ayah, ancung. Ndak mau aya Bunda yang pecek, aaa ... Ayah, Bundanya lece!"
Raka berhambur memeluk kaki Ayahnya, dengan cepat Samudra segera menggendong anaknya lalu mencolek hidung anaknya sambil berkata. "Ohh, jadi mau punya hidung kaya Ayah? Hem, boleh. Tapi, ada syaratnya!"
"Cayatna, apa Ayah?" tanya Raka menatap Ayahnya, matanya berkedip-kedip dengan sangat polos.
"Syaratnya, Raka harud cium Ayah dulu. Nah, nanti baru deh hidung Raka bisa kaya Ayah. Gimana, ma--"
"Muacch ...."
Belum selesai Samudra mengatakan, tiba-tiba anaknya langsung menyosor serta mencium pipinya sambil tersenyum menunjukkan sederetan gigi susunya.
Samudra yang merasa gemas, langsung membalas mencium wajah anaknya berulang kali. Sehingga membuatnya geli, saat kulit lembutnya terkena bulu-bulu halus di rahang Ayahnya.
"Hishh, Ayah deli tahu haha ...." Raka tertawa gemas sambil menjauhkan wajahnyan
__ADS_1
"Huaaa, masa cuman Ayah yang di cium sih. Terus Bunda enggak di cium juga, gitu? Huhh, ya sudah Bunda ngambek aja deh, hump!"
Bulan berpura-pura marah layaknya Raka, apa lagi ajah Bulan bahkan benar-benar sama persis seperti Raka ketika dia sedang mode mengambek.
Tanpa basa-basi lagi Samudra bergegas mendekatkan tubuh Raka agar dia bisa mencium Bundanya dari gendongan Ayahnya. Kemudian Bulan tersenyum bahagia, lalu mengelitiki anaknya sambil mencium pipinya.
Ibu Dara yang melihat kebahagiaan anak, menantu serta cucunya yang saat ini sedang bercanda bersama sambil lari-larian saling mengejar satu sama lain. Hanya bisa tertawa sambil berdoa, supaya kelak rumah tangga Samudra dan Bulan akan selalu baik-baik aja untuk selamanya.
...*...
...*...
Tepat di jam makan siang, Bulan dan Raka pergi ke sawah untuk membawakan bekal makan siang buat Samudra. Ini tumben sekali Bulan membawakan makanan, karena biasanya Samudra sendiri yang pulang hanya untuk sekedar makan dan kembali lagi.
Namun, entah mengapa hari ini terlihat beda. Samudra sendiri juga terkejut saat melihat kedatangan istri dan juga anaknya. Cuman, tidak apa-apa. Mungkin itu hanya kebetulan saja.
Bulan duduk bersama Samudra di saung kecil yang ada di sawah, lalu membuka sebuah rantang kecil yang berisikan menu sederhana. Yaiitu ada tempe, tahu, sayur asem, sambal dan juga ikan asin.
Setelah selesai makan, Bulan menatao suaminya dengan tatapan aneh. Kemudian dia mengatakan. "Mas, aku mau ngomong sesuatu boleh?"
"Hati-hati, Sayang. Awas ya jatuh ke sawah nanti kotor!" ucap Bulan kembali, sambil berteriak ketika melihat Raka yang hanya memberikan jempolnya pertanda dia baik-baik saja.
Kemudian Samudra menoleh kearah istrinya sambil berkata di dalam senyuman manisnya "Mau ngomong apa, Sayang? Ngomong aja, Mas akan dengerin kok. Cuman, kenapa wajahmu terlihat begitu serius? Apakah ini adalah obrolan yang tidak biasa?"
Samudra bertanya-tanya sambil mengerutkan dahinya, ketika dia melihat wajah istrinya sedikit berbeda. Seakan-akan apa yang akan Bulan katakan merupakan suatu perkataan yang begitu penting.
Dan, benar saja. Pirasat Samudra terjawab sudah, saat istrinya kembali menyampaikan sesuatu yang ingin dia sampaikan.
"Mas, bagaimana jika aku cari kerjaan? Hem, hitung-hitung untuk membantu keuangan keluarga kita, karena jujur aku tidak bisa mengandalkan uang darimu. Semua itu tidak akan pernah cukup, Mas!"
__ADS_1
"Coba deh, sekarang Mas lihat Raka. Semakin hari dia akan semakin tumbuh besar, jika kita tidak memiliki tabungan untuk pendidikannya. Bagaimana kita bisa menyekolahkan Raka setinggi mungkin?"
"Kamu tahu 'kan, Mas. Impianku itu, aku ingin sekali merasakan bagaimana rasanya kuliah seperti anak-anak muda pada umumnya. Cuman, aku sadar. Aku tidak mampu untuk sekolah setinggi itu, jadi aku mau impianku itu bisa di wujudkan sama Raka."
"Aku mau Raka yang melanjutkan impianku agar kelak dia bisa masuk ke universitas tinggi, sehingga nanti dia akan mudah untuk memiliki pekerjaan yang baik lebih dari kita. Dan satu lagi, dengan Raka punya kehidupan yang baik. Maka, dia akan memiliki masa depan yang indah. Tidak akan lagi dia merasakan hidup susah seperti kita, yang penuh dengan celaan tetangga."
"Kamu paham 'kan, Mas sama apa yang aku omongin barusan? Niatku bekerja hanya ingin memberikan yang terbaik buat Raka, itu aja tidak lebih. Aku kasihan, lihat Raka harus hidup menderita seperti ini. Kamu lihat, Mas. Anak seusia Raka, mereka selalu bisa makan enak setiap hari. Smentara anak kita?"
"Dia hanya bisa makan pakai tahu tempe, tanpa bisa merasakan nikmatnya makan ayam goseng ataupun daging rendang setiap harinya. Bahkan sebulan sekalipun, kita belum mampu untuk membelinya."
"Jikalau Raka bisa makan itu pun, pasti dia harus menunggu berbulan-bulan dulu, ya 'kan Mas? Itu juga kalau hasil panenmu tidak ada yang rusak, cuman jika kaya sekarang gini gimana? Kita bukannya untung malah rugi besar, Mas!"
Perkataan Bulan terdengar sangat lirih, penuh oleh kekecewaan takdir yang telah dia terima. Padahal dulu ketika dia baru saja hamil Raka, hidupnya sangatlah enak.
Banyak, impian-impian besar selalu terlintas didalam isi kepala Bulan. Cuman, saat mendengar kabar buruk itu benar-benar membuat Bulan terpukul dan sangat hancur.
Sebenarnya dia tidak ingin kembali berada di posisi ini, cuman mau bagaimana lagi. Bulan harus manut dengan suaminya, karena dia merupakan kepala rumah tangga. Jadi mau tidak mau, Bulan hatus menelan semuanya mentah-mentah, meski beberapa kali dia hampir saja menyerah dalam keadaan ini.
Samudra menatap istrinya yang saat ini sedang menundukkan wajahnya, layaknya orang yang lagi menutupi kesedihannya. Hanya saja dari nada serta isakan yang terdengar di telinganya, membuat Samudra langsung paham.
Saat ini istrinya sudah sangat-sangat berada di titik yang paling lelah, sehingga dia mengatakan semua itu tanpa memikirkan bagaimana keadaan Raka nantinya.
Apa lagi Raka masih begitu kecil, dan sangat-sangat membutuhkan kasih sayang orang tuanya yang lebih, terutama Bundanya. Jadi, rasanya berat sekali untuk menjawab setiap perkataan yang Bulan katakan beberapa menit lalu.
Samudra, menarik napasnya dalam-dalam. Dia mencoba menetralkan perasaannya agar tidak sampai salah dalam memberikan jawaban.
"Sayang, udah ya jangan nangis lagi. Ini di tempat umum loh, nanti malam kita teruskan lagi pembicaraan ini ya."
"Aku tahu, banget kok perasaanmu saat ini. Pasti hati dan pikiranmu sedang sama-sama kacau. Jadi sabar dulu ya, Dek. Aku cuman enggak mau, jika Raka ke sini secara tiba-tiba, terus melihat Bundanya nangis. Yang ada aku yang kena marah oleh penjagamu yang terlalu posesif itu."
__ADS_1
"Jadi----"
...***Bersambung***...