
"Aduh, Ayah Raka memang hebat ya. Berarti selama ini Raka bisa seperti ini karena Ayah, itu artinya Bunda enggak pernah nasihatin Raka ya. Uhh, kasihan. Bundamu memang begitu, makannya Ayahmu itu sebenarnya tidak beruntung mendapatkan Bundamu. Jadi kamu---"
Ucapan tetangga itu terhenti ketika Bulan yang awalnya terdiam mulai terpancing oleh perkataan mereka. Sampai akhirnya mereka berdebat dengan nada yang saling bersautan, dimana Raka yang tidak mengerti hanya bisa mencoba melerai Bundanya.
Untungnya tidak ada adegan jambak menjambak, hanya ada adu mulut saja. Raka yang tidak tega melihat Bundanya menangis, langsung memegang tangannya dan mendongak ke atas dalam keadaan wajahnya memberikan sebuah senyuman manis.
"Bunda angan angis ya, ata Ayah ail mata itu belhalga. Jadi ndak boyeh di keluarin cembalangan, ail mata itu cuman boyeh keluar caat Bunda bahagia. Otey?" ucap Raka mencoba membuat Bunda mengerti.
Bulan pun menganggukan kepalanya lalu memeluk anaknya serta menggendongnya. Kemudian mereka berpamitan, tak lupa untuk memberikan salam.
Cuman berjarak 50 meter, Raka meminta untuk Bulan menurunkan tubuh mungilnya itu karena Raka kasihan pada Bundanya yang terlihat berat ketika menggendongnya.
Lalu, Raka berjalan penuh senyuman. Akan tetapi, ketika Raka menatap Bulan yang masih bersedih langsung membawanya ke tempat duduk yang ada.
Di sana mereka duduk sambil melihat pemandangan yang sangat indah, karena letak desa itu sangatlah dekat dengan pegunungan dan juga bukit.
Raka berdiri di hadapan Bundanya, menghapus setiap bulir yang menetes sambil mengatakan sesuatu yang membuat Bulan tersenyum.
"Bunda ndak boyeh nangis ya, anti wajah cantiknya hilang loh. Bunda tahu tan, cetiap ada hujan pasti ada pelangi. Nah, jadi cetiap ujian yang tita telima pasti Allah sudah menyiapkan kebahagiaan yang indah buat tita anti."
"Bica aja cekarang tita miskin, ciapa tahu becok kita bica jadi olang kaya. Tan kita ndak tahu, Ayah celalu biyang gitu cama Laka. Kata Ayah, kita halus cemangat tidak boyeh dengelin kata oyang yang tidak baik."
"Laka uga ndak apa-apa alo kita miskin, yang penting Laka bica celalu baleng cama Bunda, Ayah, Nenek, dan uga Oma Opa hehe ..."
__ADS_1
"Buat apa Laka hidup aya laya, alo Bunda cama Ayah ndak ada Laka atan memilih jadi olang miskin acalkan tita bahagia bica cama-cama teyus. Bunda mau tan cama-cama teyus cama Laka cama Ayah? Bunda janji tan ndak ninggalin Laka cama Ayah?"
Perkataan Raka sangat berat untuk Bulan berikan jawabannya, dia belum tahu ke depannya akan seperti apa. Yang jelas saat ini Bulan hanya mau hidup anaknya selalu bahagia, tanpa harus merasakan penderitaan sama seperti dia ketika kecil sampai saat ini yang berada di dalam kehidupan yang sulit.
Bulan hanya tersenyum menghapus air matanya lalu dia berdiri menggandeng anaknya dan juga mengajaknya kembali berjalan menuju sawah Ayahnya.
Raka yang tidak mengerti arti dari senyuman Bundanya, cuman bisa mengikuti setiap langkah kakinya. Semua itu karena Raka terlalu senang ketika bertemu dengan Ayahnya yang sedang bekerja.
Siapa sangka sekarang Samudra sudah memiliki 5 orang yang mau bekerja membantunya mengurus sawah seluas 1,5 hektar itu.
Loh kok 1,5 hektar? Bukannya kemarin 1 hektar? Ya itulah hidup, Samudra menabung lahan agar dia bisa kembali menambah panenannya setiap 3 atau 4 bulan sekali. Supaya bisa menambah uang dapur istrinya, meski begitu Samudra juga sangat ingin membuat orang yang dia sayangi merasa bahagia dengan penghasilan yang dia inginkan.
Seketemunya Raka dengan Samudra, terlihat bahwa mereka seperti like father like soon. Anak dan Baoak sama saja, tidak bisa di bedakan. Wajah, nada bicara, sikap bahkan pemikirannya pun sangatlah mirip dengan Samudra.
Sudah tidak bisa di pungkiri lagi kalau mereka terlihat bagaikan pinang di belah dua. Samudra yang semakin dewasa tanpa terlihat menua, dan ada pula Samudra junior yang masih kecil, tetapi sudah terlihat dewasa.
Mereka tidak bisa seperti apa yang Samudra rasakan, karena kebanyakn anak serta istri dari mereka hanya bisa mementingkan dirinya sendiri.
...Flashback Off...
Samudra yang mendengar cerita anaknya dengan kata-kata yang sedikit berlipet, tetapi masih bisa ditanggapi membuat Samudra paham sama apa yang Bulan lakukan tadi.
Tangan Samudra mengelus kepala anaknya serta tersenyum, ketika melihat anak sekecil ini sudah berhasil menjadi anak yang jauh lebih baik dari apa yang Samudra bayangkan.
__ADS_1
Ternyata benar ya, apapun yang diajarkan orang tuanya sangat berpengaruh kepada anak. Apa yang harus di tanamkan sejak kecil itu akan berimbas ketika dia sudah dewasa. Jadi banyak-banyaklah menanam kebaikan pada diri anak sejak dini, sebelum kedepannya akan menyesal jika anak terlalu menyerap hal-hal negatif.
"Alhamdulillah anak Ayah ternyata sudah besar ya, teruslah jadi anak yang baik ya Sayang. Tegakkan kebenaran dan jangan pernah membalas apapun rasa sakit yang kamu terima, karena itu tidak akan pernah menghasilkan kebaikan. Paham?"
Meski Raka tidak begitu paham, tetapi dia mengangguk mengikuti kata hati kecilnya sendiri. Lalu Samudra memeluk serta mecium anaknya dengan perasaan bangga.
"Udah malam, Raka bobo ya sama Nenek. Kasihan Nenek, pasti lagi nungguin Raka di kamar. Jadi Raka temenin Nenek ya. Besok baru bobo lagi bareng Ayah sama Bunda, okay?" ucap Samudra.
"Otey, Ayah. Laka mau bobo cama Nenek, api Ayah temenin Bunda bobo ya. Kacian Bunda alo di tinggal, pasti Bunda cekalang agi cedih kalena Ayah ndak mau bobo cama Bunda. Jadi Laka mohon, Ayah temenin Bunda ya ya ya, mau ya!"
Samudra menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum membua Raka begitu bahagia dan reflek memeluk Ayahnya.
"Yeeyy, terima kasih Ayah. Ayah baik deh, ya cudah Laka ke kamal Nenek ya. Ayah janji ya buat Bunda ketawa lagi, otey?"
"Insyaallah, jagoan kecil Ayah yang tampan. Ya sudah bobo gih, jangan lupa baca doa biar enggak mimpi buruk."
"Ciap Ayah ganteng, dahh ... Acalammualaikum!"
Raka pergi dengan perasaan bahagia ketika Ayahnya tidak jadi pergi, dan memilih untuk menemani Bundanya seperti apa yang dia inginkan.
Sementara Samudra yang sudah paham apa yang harus dia lakukan, segera mungkin membuatkan teh manis untuk istrinya. Karena pasti Bulan sedang merasa sedih, sama kaya apa yang Raka rasakan.
Meskipun Raka terbilang mirip dengan Ayahnya, tetapi iaktan batin Raka terhadap Bulan sangatlah kuat. Dia seperi biasa merasakan apa yang Bulan rasakan, jadi mau sebohong apapun Bulan menjelaskan pada anaknya. Raka tetap tidak percaya jika Bundanya tidak bersedih saat mendapatkan ejekan dari tetangganya.
__ADS_1
Perlahan, setelah selesai membuatkan teh manis hangat. Dia segera membawanya ke dalam kamar sambil membuka pintu kamar secara perlahan, membuat Bulan terkejut dan secepat mungkin menghapus air matanya.
...***Bersambung***...