Kemarau Biduk Cinta

Kemarau Biduk Cinta
Bulan & Raka Kembali Baikan


__ADS_3

Tangisan Raka yang terdengar sangat pilu, lagi-lagi menambah luka di dalam hati Bulan. Dia tidak menyangka, sebegitu sayangnya Raka sama Ayahnya sampai dia rela menyalahkan Bundanya sendiri.


Lantas, bagaimana bila nanti Raka harus tahu jika Ayahnya tidak bisa di selamatkan? Apakah selamanya Raka akan membenci Bundanya, atau Bulan bisa menghadapi kebencian Raka seorang diri tanpa adanya Samudra?


Entahlah, pikiran Bulan benar-benar sudah tidak bisa di jelaskan lagi. Rasanya dia ingin sekali memeluk suaminya dan mengatakan, bahwa dia tidak akan pernah kuat. Jika harus dibenci oleh anaknya sendiri, jikalau Samudra harus pergi akibat penyakit yang tidak di ketahuinya.


Melihat keadaan mulai memanas, Dzaky langsung berjongkok di hadapan Raka yang saat ini ada di pangkuan Opa Jerome.


"Raka, Sayang. Om tahu, saat ini Raka pasti sedang marah sama Bunda, karena Raka mengira kalau Ayah sakit itu penyebabnya Bunda 'kan?"


"Nah, bagaimana reaksi Raka kalau nanti dokter mengatakan Ayah Raka ini sakit karena penyakit, bukan karena Bunda. Apakah Raka enggak menyesal udah nyakitin hati Bunda, hem?"


"Harusnya di saat seperti ini Raka itu bisa menjadi penguat buat Bunda, Raka jadi superhero buat Bunda. Bukan malah Raka menyalahkan semuanya sama Bunda."


"Raka tahu tidak, Bunda itu sayang banget sama Ayah. Tidak mungkin Bunda mau nyakitin Ayah, mungkin aja tadi itu Bunda lagi kesel sama Ayah makannya Bunda bawa Raka pulang duluan tanpa Ayah. Cuman, bukan berarti Bunda jahat ya. Karena Raka pun kalau marah sama Bunda atau Ayah, pasti Raka tidak mau ngomong bukan? Nah, sama seperti Bunda sama Ayah."


"Cuman tanpa kalian sadari, penyakit Ayah disitu kambuh tepat di saat Bunda kesal sama Ayah. Jadi, yang Raka lihat itu seolah-olah karena Bunda, Ayah jadi sakit. Artinya, Raka disini sudah salah paham sama Bunda. Maka dari itu, Om mohon. Raka baikan ya sama Bunda, Raka harus minta maaf sama Bunda karena Raka tidak sengaja menyakiti hati Bunda."


"Kasihan loh, Bunda sampai nangis begitu hanya karena Raka. Kalau Ayah tahu pun, pasti Ayah akan sangat sedih. Bagaimana nanti kalau Ayah enggak mau sembuh, saat Ayah tahu kalau Raka marahin Bunda, hem? Apa Raka mau lihat Ayah sakit terus? Enggak, 'kan. Jadi, Raka harus bisa menerima kenyataan kalau semua ini terjadi atas izin Allah bukan karena Bunda. Paham?"


Baru kali ini asisten Dzaky, melihat atasannya bisa berbicara selembut itu kepada anak kecil. Apa lagi dia sangat tahu, bila Dzaky memang sedikit tidak suka dengan sosok anak kecil.


Namun, kali ini benar-benar terlihat berbeda. Bahkan Raka yang tadinya mengamuk karena tidak terima Bundanya telah menyakiti Ayahnya, sekarang malah menjadi sedikit tenang.

__ADS_1


Raka mendengarkan semua nasihat yang Dzaky berikan, sama persis seperti cara Ayahnya berbicara padanya. Kata-kata Dzaky tidak sampai membuat Raka pusing, serta mudah untuk dipahami oleh anak seusianya.


"La-laka enggak mau Ayah sakit, Laka mau Ayah sembuh. Cuman Bu-bunda ...."


Raka menghentikan perkataannya sebentar, sambil menoleh dan menatap Bundanya yang saat ini mulai berani menatap Raka. Padahal tadi Bulan tidak mau menatap Raka, karena Bulan tidak bisa melihat kebencian Raka padanya atas musibah yang di terima Ayahnya.


Bulan menghapus air matanya, lalu perlahan dia bangkit dan membuat Oma Dena menggeser tempat duduknya agar Bulan bisa mendekati anaknya yang ada dipangkuan Opa Jerome.


Sementara Dzaky, dia bangkit lalu berdiri serta sedikit menjauh dari mereka untuk memberikan ruang pada Bulan dan Raka.


Rasanya Dzaky benar-benar bahagia banget, baru kali ini dia bisa berbicara pada anak kecil hingga membuat kebencian di dalam hatinya mulai luntur.


"Ra-raka, ma-maafin Bunda. Bu-bunda tidak bermaksud membuat Ayah Raka sampai sakit seperti ini, Bunda juga tidak tahu apa yang terjadi sama Ayah. Raka 'kan tahu, Ayah kalau sakit tidak pernah mau berbicara sama Bunda ataupun Raka. Jadi, Bunda minta maaf kalau Bunda udah bikin Ayah sakit. Ma-maafin Bunda, Sayang. Maafin Bunda hiks ...."


"Ra-raka boleh kok marahin Bunda, Raka boleh pukul Bunda. Cuman Bunda mohon, jangan membenci Bunda, Bunda enggak mau Raka sampai menjauh dari Bunda. Karena itu membuat hati Bunda sakit banget, Nak. Sakit hiks ...."


Sampai akhirnya Raka memeluk Bulan cukup erat, membuat Bulan sedikit syok lalu membalas pelukan anaknya sambil keduanya menangis sesegukan di dalam pelukan masing-masing.


"Bunda maafin Laka, Laka udah jahat sama Bunda. Laka udah nyakitin Bunda, maafin Laka hiks ...."


"Laka cuman enggak mau Ayah sama Bunda sakit, tapi kejadian tadi membuat Laka bingung. Kenapa Bunda talik-talik Laka, teyus Bunda kenapa bawa Laka pelgi tanpa Ayah? Kenapa Bunda, apa salah Ayah. Kenapa Bunda malah-malah sama Ayah? Laka bingung hiks ...."


"Apa lagi pas Laka tahu Ayah jatuh, teyus Laka liat Ayah batuk kelual dalah. Itu buat Laka takut, Laka enggak mau kehilangan Ayah. Laka enggak mau sama kaya temen Laka yang ditinggal Ayahnya. Laka enggak mau, Bunda. Laka enggak mau hiks ...."

__ADS_1


"Laka mau punya Bunda sama Ayah yang lengkap, Laka enggak mau kalau cuman punya Bunda atau Ayah. Kalena Laka tahu, gimana sakitnya saat teman-teman Laka banyak yang meledek teman Laka yang tidak punya Ayah."


"Laka belusaha bantu teman Laka itu, tapi Laka tidak mau kaya dia. Laka anak baik, 'kan? Tapi, kenapa Allah enggak pelnah baik sama Laka. Kenapa Allah malah buat Ayah sakit, padahal Ayah baik banget sama Allah. Tapi, kenapa Allah jahat sama Ayah. Kenapa Bunda, kenapa hiks ...."


Perkataan Raka mampu menggetarkan hati mereka semuanya, mereka pun tidak ada yang mau bila anak sekecil Raka harus menjadi anak yatim. Mereka tidak siap bila semua itu terjadi pada Raka, mereka tidak mau sampai Raka di olok-olok oleh teman sebayanya ketika dia tidak memiliki seorang Ayah.


Disini hati seorang Ibu pun menjadi tidak tega, lantaran Bulan sendiri juga tidak mau ditinggal oleh suaminya. Makannya, dia berusaha untuk menyangkal semua itu, agar tidak membuat pikiran anak seusia Raka menjadi ketakutan.


"Tu-tuan nangis?" tanya asisten Dzaky, yang tidak sengaja melihat air mata menetes di wajahnya.


"Ti-tidak, sa-saya cuman kelilipan aja." sahut Dzaky langsung menghapus air matanya dan berusaha tetap berlihat baik-baik saja.


"Saya tidak bisa dibohongin, Tuan. Saya bukan Raka, jadi saya tahu bagaimana perasaan Tuan saat ini." ucap asistennya, sedikit berbisik.


"Entahlah, saya juga tidak tahu. Kenapa saat mendengar perkataan Raka, membuat hati saya sangat sakit. Bocah seusia dia seharusnya lagi menikmati kebahagiaan, belajar, bermain dan sebagainya. Bukan malah di tuntut untuk menjadi anak yang lebih dewasa dari usianya."


"Cuman saya bangga dengan sahabat saya. Dia berhasil mendidik anaknya sangat baik, sehingga Raka tumbuh menjadi anak yang penurut, baik dan juga begitu mencintai kedua orang tuanya."


Dzaky tersenyum melihat Bulan dan Raka sudah kembali berbaikan, walaupun hatinya sedikit teriris ketika Bulan dan Raka sangat mencintai sosok Samudra.


Begitu juga asisten Dzaky, dia pun tersenyum melihat Raka. Lalu, dia di minta oleh Dzaky untuk mengurus semua biaya rumah sakit saat suster datang untuk meminta mereka menyelesaikan administrasi.


Opa Jerome serta Oma Dena tersenyum bahagia ketika melihat pemandangan itu. Hati mereka pun mterasa lega, membuat Oma Dena pun ikut memeluk Bulan dan Raka.

__ADS_1


Sementara Opa Jerome hanya mengelus kepala cucunya sambil tersenyum. Mereka benar-benar bangga dengan sosok Samudra yang telah berhasil mendidik anak serta istrinya, untuk menjadi orang yang jauh lebih baik lagi.


...***Bersambung***...


__ADS_2