Kembalinya Sang Macan Asia

Kembalinya Sang Macan Asia
Kena Batunya


__ADS_3

Vana keluar dari kamar dan mencari kedalam kamar Savira, tetap tidak di temuin batang hidung sang adik.


"ZIDAN!!!!! teriak Vana mulai gusar. Ia berlari kearah tangga dan menaiki anak tangga dengan cepat, Semua kamar dan ruangan Vana jelajahi.


"ZIDANE....!!!!!


Sementara Vano, Dev dan Savira dalam perjalanan arah pulang ke Jakarta setelah menghadiri acara peresmian kantor cabang di kota Jogyakarta.


Setelah mendapat telepon dari sang Mommy, Vano meninggalkan acara pada jam sembilan malam, padahal ia berencana untuk menginap di hotel, karena urgent terpaksa harus meninggalkan acara sebelum selesai.


Mobil melintasi jalanan raya Jogyakarta, hujan semakin deras mengguyur wilayah sekitar.Tiga jam dalam perjalanan mobil sudah meninggalkan kota pariwisata itu.


"Kenapa berhenti!' tanya Vano


"Di depan jalanan banyak mobil putar balik."


"Ada apa..?!


"Aku akan cari tahu, akan turun dan melihat keadaan disana."


"Kak hujan sangat lebat, pakai payung biar gak kebahasaan." Savira memberikan payung pada Dev!


"Terima kasih Dek!


Dev turun dari mobil, berjalan untuk melihat keadaan yang menghalangi jalannya.


"Kak! Mommy dan Daddy sudah berangkat ke Jerman, aku belum sempat menemuinya."


"Mommy dan Daddy tidak bisa nunggu kita sampai pulang, keadaan Opa sangat kritis. Dad dan Mom hanya berpesan untuk menjaga kalian bertiga."


"Iya kak!


Tak berapa lama Dev membuka pintu dan masuk kedalam mobil. "Didepan ada longsor, jalanan dekat tebing ambruk. untuk sementara mobil tidak di perbolehkan lewat, karena berbahaya."


"Berarti kita harus putar balik, cepatlah cari jalan lain." perintah Vano


"Vir! kau sudah hubungi kak Vana? tanya Vano, menoleh pada Savira yang duduk di sampingnya.


"Sinyalnya sejak tadi nggak bisa masuk, mungkin pengaruh hujan lebat kak."


"Ya sudah, terus hubungi kak Vana, dia harus tahu kita masih berada di jalan."


Savira mengangguk cepat, seraya mengutak atik ponselnya.


Sementara itu Vana masih terus mencari keberadaan Zidan yang tiba-tiba hilang secara misterius.


"Aku harus mencari di kamar Mommy dan Daddy." Vana melangkahkan kakinya ke kamar kedua orangtuanya.


"Ceklek!

__ADS_1


"Zidane...!!


"Please Dek, jangan becanda!"


Vana terus mencari keberadaan Zidan ke-seluruh kamar Delena dan Reno, dari ruangan kamar mandi, ruangan ganti hingga sampai balkon tidak ditemukan sosok sang adik. "Ya Tuhan Dek, kau berada dimana?


Tanpa lelah Vana terus mencari kedalam kamar Vano, Namun tidak di temukan sosok Pria tanggung itu. Tiba-tiba telinganya mendengar suara benda jatuh di ruangan kerja sang Daddy.


"Suara apa itu?!


Vana yang penasaran melangkah kan kakinya menuju ruangan kerja Reno yang berada tak jauh dari kamar pribadinya.


"Ceklek!


"Krekkk....!


"Zii...! kamu ada dalam kah?!


"Zii...! keluar lah jangan bercanda, ini sudah malam. Kakak ngantuk mau istirahat, kau besok masih ujian kan?


Tidak ada jawaban dalam ruangan kerja Reno, Vana menghela nafas frustasi, ia sungguh kesal dan mulai lelah. Menjatuhkan tubuhnya di sofa dengan mata terpejam.


Tiba-tiba sebuah tangan menarik kakinya membuat Vana terkejut dan menendang orang tersebut, dengan cepat ia membuka matanya.


"Haaahhh....! seseorang memakai topeng scearm holloween mulai menakuti Vana. Vana yang dibuat kaget dan penasaran menarik topeng itu hingga terlepas.


"Aduh kakak perut Zii sakit! kenapa kakak tendang perut ku!"


"Itu salah kamu sendiri, kenapa isengin kakak! kamu ngerjain kakak ya. Dari tadi kak Vana mencari mu kemana-mana, kau malah asik mau nakutin kakak!


"Abis Zii bete nggak ada teman. Mommy dan Daddy udah pergi."


"Kan banyak pelayan di mansion ini, kalau bosen kau bisa ajak mereka bermain, ada pak Kardi, kang Jono yang bisa diajak mancing di danau."


Zidan terdiam dengan wajah tertunduk sedih. "Zii kangen sama Mommy, Zii nggak mau jauh dari Mommy."


"Ya ampun Zii, baru saja lima jam mommy dan Daddy pergi, sudah merasa kehilangan. jangan manja anak lelaki itu tidak boleh cengeng."


"Lihat tuh udah jam setengah satu, kakak cape sejak tadi mencari kamu. Ayo kita turun."


Mereka berdua berjalan keluar ruangan kerja sang Daddy dan turun melalui lift.


"Sekarang minum susunya dulu. ini sudah dingin." Zidane menerima gelas susu yang Vana buat, lalu meneguknya hingga habis.


"Sudah cuci kaki dan gosok gigi."


"Sudah kak!


"Sekarang tidurlah, jangan buat masalah lagi, sekali lagi kau kerjain kak Vana kaya tadi, akan kakak hukum dan kakak tidak akan percaya lagi."

__ADS_1


Zidane mengangguk cepat.


"Good night baby." Vana menyelimuti tubuh Zidan hingga batas dada, lalu mencium keningnya.


Vana menutup pintu kamar sang adik lalu berjalan kearah kamarnya yang terlahang kamar Savira.


Vana menjatuhkan tubuhnya keatas kasur empuk "Ahh! lelah juga."


"Sudah hampir jam satu, kenapa kak Vano belum sampai juga ya? bahkan nggak menghubungi aku." Vana membuka aplikasi warna hijau dan mencari chatan kakaknya. "Ada panggilan masuk dari kak Vano dua jam yang lalu?"


"Aku coba hubungi." berulang kali Vana menghubungi sang kakak, Savira dan Devan. Namun tidak ada yang tersambung.


"Kenapa ponsel mereka tidak ada yang aktif? aneh! decak Vana "Lebih baik aku tidur, rasanya sudah sangat mengantuk."


Vana mulai memejamkan matanya.


Didalam kamar, Zidan mulai merasakan keanehan. Ia seperti gelisah dan gusar, membalikkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri. Walau ia berusaha memejamkan mata, tapi tidak bisa membuatnya tenang.


Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh tak jauh dari tempat tidur Zidan, ia membuka matanya perlahan dan melihat jendela kamarnya sudah terbuka. Zidane terkejut dan beranjak dari ranjang memundurkan langkahnya kebelakang. Sosok seseorang memakai topeng berjalan mendekati Zidane dengan belati tajam di tangannya.


"Ja-ng-an!! pekik Zidan dengan suara tertahan.


"Kemarilah, ikut dengan ku!


Zidane gelengkan kepala "Tidak mau! jangan ganggu aku!"


"Kalau kau menolak, akan aku kuliti daging mu yang gempal itu!"


Mendengar ancaman yang ternyata seorang pria, membuat Zidane ketakutan, tanpa ia sadari celananya sudah basah dengan air pipisnya.


"Hahahaha... ternyata kau ngompol di celana." Pria itu terbahak seraya memainkan pisau di tangannya.


"Kak Va-na tolo-ng Zidan!" suara itu hampir tak terdengar karena ketakutan, bersamaan isak tangisannya.


Sebuah kelereng yang terjatuh, berada tak jauh dari kaki Zidane. Dengan perlahan zidan menggeser kakinya ke kiri tepat dimana kelereng itu berada. Melihat Pria bertopeng itu mulai lengah, Zidane menendang kelereng itu dan tepat mengenai keningnya.


"Aaaahhhkkk! pekiknya sambil memegangi keningnya yang sakit.


Dengan cepat Zidane membuka pintu kamar dan berlari keluar


"Brengsek! berani kau melukai aku! akan aku habisi bocah tengik!" serunya dan mengejar Zidane.


💜💜💜


@Maaf ya All, telat Up lagi. Kesibukan di real dengan memilki tiga anak harus bisa membagi waktu antara menulis, pekerjaan dan aktivitas di rumah.


@Terima kasih banyak bagi kalian yang masih setia membaca karya Bunda 🙏🥰


@Komentar kalian adalah semngat buat Bunda, bagi yang ingin memberikan masukan silakan, akan Bunda pertimbangan kan. Untuk kisah Nathan, sabar ya All, pasti akan bertemu dengan jantung hatinya. ikuti terus kisah Nathan dan Vana yang akan mengandung bawang 😭.

__ADS_1


__ADS_2